Pages

2/14/14

Hutan dan Manusia


Teks dan foto Ayos Purwoaji

Saya tertegun, saat melihat ribuan hektar kebun kelapa sawit yang terhampar pada jalur antara Tebing Tinggi hingga Pematang Siantar. Tanaman ini memenuhi setiap jengkal tanah podsolit yang berbukit-bukit. Memberikan sebuah sensasi pemandangan seperti karpet bercorak monoton yang membosankan.

Hasan, sopir travel yang menemani saya saat itu, menceritakan bagaimana keluarganya juga memiliki sebidang tanah yang berubah menjadi ladang sawit. 

Suatu saat di pertengahan tahun 80-an, kisahnya, sebuah perusahaan datang menawarkan kontrak untuk menyewa tanah keluarga Hasan sebagai kebun sawit. Dorongan ekonomi membuat ayah Hasan dengan mudah menandatangani kontrak tersebut. Namun, puluhan tahun setelah kontrak tersebut diteken, menurut Hasan yang ada hanyalah ketimpangan belaka. Pemilik lahan menerima kompensasi yang amat sedikit bila dibandingkan dengan nilai produksi sawit yang dihasilkan. “Apalagi begitu kami tahu bahwa ini hanya produk mentah, dan kami harus membeli produk jadinya dengan harga yang lebih mahal,” kata Hasan.

Rencananya, Hasan mencoba meyakinkan keluarganya untuk membatalkan kontrak sewa penanaman kembali (replanting) yang akan diajukan perusahaan. “Lebih baik kami tanami tumbuhan lain yang bisa dikelola secara mandiri, tidak perlu tergantung pada perusahaan lagi,” ujar Hasan.   

Tidak dapat disangkal, bahwa sawit adalah aktor utama yang membuat hutan-hutan tropis di Sumatera kehilangan keragamannya. Sejak tahun 1911, jutaan hektar hutan alami Sumatera yang begitu kaya akan ragam hayati segera terganti oleh petak-petak sawit yang membujur rapi. Sebuah kehilangan yang menyakitkan.  




Agak ngeri sebetulnya jika melihat data deforestasi hutan di Indonesia. Menurut penelitian yang dipimpin oleh Matt Hansen dari University of Maryland, dilaporkan bahwa antara tahun 2000 hingga 2012 Indonesia kehilangan 15,8 juta hektar hutan -atau tiga kali luas Brunei Darussalam. Sedangkan menurut taksiran Greenpeace, sekitar 620.000ha hutan hilang setiap tahunnya.  

Dari jumlah tersebut, sebanyak 98 persen deforestasi terjadi di wilayah hutan berkerapatan tinggi yang ada di Sumatera dan Kalimantan, dimana konversi akibat hutan tanaman industri dan perkebunan sawit berkembang amat marak selama 20 tahun terakhir. 

Dampak dari pengundulan hutan secara masif ini tidak hanya dirasakan oleh satwa dan penduduk lokal yang tinggal di sekitarnya. Lambat disadari bahwa efek yang ditimbulkan ternyata jauh lebih besar hingga berdampak secara global. Contoh paling populer bisa jadi adalah kasus ekspor rutin kabut asap ke negara-negara tetangga. Namun yang belakangan terjadi, iklim beberapa negara Eropa juga ikut berubah seiring dengan laju deforestasi yang terjadi di Indonesia. 

Jawatan meteorologi Inggris baru-baru ini merilis data bahwa peningkatan suhu di Indonesia (karena deforestasi) menyebabkan badai dan banjir di Britania serta mengakibatkan suhu dingin yang berkepanjangan di Amerika Utara.

Fakta tersebut memberikan gambaran bahwa sesungguhnya iklim di dunia ini memiliki keterhubungan. Semacam butterfly effect. Jika paru-paru tropis yang berada di Indonesia hancur, dapat dipastikan iklim dunia juga akan terganggu. Maka sudah sewajarnya bila penyelamatan hutan di Indonesia menjadi kebutuhan mendesak yang musti jadi perhatian bagi seluruh manusia di planet ini. 

***

Manusia tidak mungkin lepas dari alam. Di antara keduanya terdapat hubungan yang saling mempengaruhi. Alam bukanlah obyek pasif yang bisa dieksploitasi habis-habisan oleh manusia. Bila keadaan sudah limbung, alam memiliki mekanisme rahasia untuk membuat segala sesuatunya kembali seimbang. Hal tersebut menjadi kepercayaan yang melekat kuat bagi penganut Hindu Dharma. Mereka begitu percaya karma dan filosofi Tri Hita Karana, yang salah satunya menganjurkan manusia untuk berbuat baik kepada alam.


Pada pertengahan Januari yang lalu, saya mengunjungi Danau Tamblingan di Singaraja, Bali Utara. Di sana, saya melihat bagaimana filosofi Tri Hita Karana dijalankan. Penduduk dari empat desa pakraman; Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umajero berbagi tugas untuk menjaga kesucian dan kelestarian ekosistem Danau Tamblingan. Termasuk di dalamnya hutan yang mengelilingi danau tersebut. Nilai budaya berumur ribuan tahun inilah yang menjaga Tamblingan dari kerusakan akibat wisata massal.



Pada hutan-hutan di sekeliling Tamblingan, sangat mudah untuk menemukan berbagai pohon berukuran raksasa. Seperti tak pernah ada penebangan yang disengaja di hutan ini. Bahkan pohon bunut berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh dalam belitan akar liana. Pada permukaan batangnya tumbuh karpet lumut yang tebal dan sekitarnya meruapkan aroma humus di sela-sela cahaya matahari yang kesulitan menerobos tajuk hutan. Rasanya, baru di sinilah saya dapat menghirup oksigen yang paling segar dalam hidup.

Seandainya saja kebijaksanaan tradisional seperti ini kembali dijalankan, bukan tidak mungkin bagi generasi saat ini mewariskan kepada generasi selanjutnya salah satu kekayaan terbaik bumi; hutan.[]

Bergabunglah dengan gerakan Protect Paradise yang diinisiasi oleh Greenpeace Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian hutan Indonesia!

9/2/13

Moment of Love

Halo apa kabarnya Lobrainers sekaliaaan! 

Maaf maaf maaf kami jarang update belakangan ini. Padahal kami ini ingin sekali posting macam-macam, bahkan beberapa artikel kontribusi juga masih menumpuk di desk kami. Ada yang menulis tentang Bali, ada yang menyumbang foto tentang Bromo dan Sumba, ada yang menulis opini tentang pariwisata dan lain sebagainya. Sekali lagi ampuni kami wahai Lobrainers sekalian yang budiman. 

Untuk itu, posting pertama di bulan September ini akan kami isi dengan highlight ringan saja ya. Berikut ini adalah beberapa berita yang pantas naik dalam postingan pembuka bulan: 

Pernikahan Kolega Hifatlobrain
Seperti kata Vina Panduwinata, "September ceria... September ceriaaa... milik kita berduaaa..." itu betul adanya. Bulan September sepertinya memiliki fengshui dan weton yang baik untuk memulai hidup baru. Maka kami ucapkan dua ucapan selamat kepada para kolega Hifatlobrain yang menikah dalam waktu lumayan dekat ini. 

 Mempelai wanita yang khilaf.

Yang pertama adalah Werdha Prasidha Wangsa. Dia adalah kameramen yang membantu beberapa produksi video Hifatlobrain. Baru saja ia menyelesaikan tugasnya sebagai kameraman di ekspedisi Ring Of Fire bagian Sumatera. Selama ekspedisi, tak bisa mungkir, hatinya justru jauh mengendap di Semarang. Tempat pacarnya berasal. Maka tanpa pikir panjang, setelah ekspedisi dilamarnya Ririn. Agar kehidupannya sebagai seorang pria makin lengkap dan enak. Ahiak. 

Syukron yang setelan wajahnya tak bisa santai.

Cerita lainnya datang dari kolega kami di Traveller Kaskus. Salah satu adminnya, Syukron, saat ini sudah tidak lajang lagi. Pada akhir Agustus lalu ia menikahi Wulan, pacarnya yang teramat pasrah dan setia. Jadi saat ini Syukron tidak bisa lagi #modus menyepik follower akun Traveller Kaskus yang berjumlah naujubilah itu. Dengan menikahnya Syukron ini semoga menjadi motivasi bagi pejalan lain bahwa mitos 'traveler dekil susah jodoh' itu sama sekali tidak valid.

Jadi selamat buat kalian berdua!  

Penghulu yang kebingungan.

Eh sebetulnya ada lagi kolega kami lainnya yang baru saja menikah, yaitu Vira Indohoy, tapi kejadiannya sudah agak lama sih. Hehehe. Meski begitu, doa kami juga terhatur untuk pasangan Vira dan Diyan. Semoga kalian bahagia sampai akhir! 

Masup Majalah Lagi

Bulan lalu Hifatlobrain masuk majalah Go Girl Magz edisi Agustus. Kami ditulis oleh seorang pembaca Go Girl bernama Savira Pratidina Lubis, dinominasikan bersama blog lainnya yang sangat keren seperti milik Agustinus Wibowo, Travel Junkie, Efenerr, dan Kinkin. Ya mereka adalah blog travel yang kami kagumi juga karena konsistensi dan konten yang bagus.

Err selain itu ada highlight apa lagi yaaa? Hmm kayaknya itu dulu deh masbro dan mbaksist sekalian. Semoga bulan September ini bisa kami penuhi lagi dengan postingan panjang penawar rindu! 

Salam hangat!
Hifatlobrain

5/29/13

The Almighty Travel Photographer

Photographer unknown

Setelah perayaan waisak kemarin, beredar foto-foto menarik yang menggambarkan hubungan antara fotografer dengan subyeknya. Dalam hal ini adalah fotografer wisata (turis) dan umat Buddha yang sedang melakukan ritual keagamaan (utamanya para biksu). Sebagian besar fotonya bernada nyinyir. Ada foto yang menggambarkan seorang biksu dikerubuti turis bak anak domba dikelilingi hyena. Secara artistik itu adalah foto yang menarik, karena warna jingga pakaian biksu menjadi empasis yang kuat secara visual. Namun sekaligus mengundang rasa miris karena imaji yang dihasilkan seakan-akan sang biksu adalah relik eksotis yang diperebutkan banyak orang.
  
Foto lainnya adalah karya Made Yudistira -kami unggah pada postingan berjudul Indeed sebelumnya- yang mengabadikan aksi seorang fotografer saat menyodorkan kamera di hadapan sekelompok umat Buddha yang sedang berdoa. Seakan tidak ada lagi batas etika yang membatasi keduanya. 

Tapi di antara berbagai foto yang beredar, tidak ada yang mampu mengalahkan foto di atas. Seorang cewek berbusana kasual menaiki stupa, mengambil posisi berhadapan dengan biksu yang sedang bersipuja di depannya. Sekilas saja, foto ini mengingatkan saya pada fragmen lukisan bertitel Perburuan karya Raden Saleh. Entah mengapa. Barangkali karena dua karya ini sama-sama menghadirkan elegi klasik tentang relasi kuasa dan penaklukan. Ada yang kuat ada yang lemah, ada yang menang ada yang kalah. Atau bisa jadi karena persamaan yang menarik bahwa hewan buas dan foto sama-sama didapat dengan cara berburu (hunting).

Perburuan sendiri mengandung unsur hasrat dan penaklukan. Berburu hewan eksotik seperti antelop misalnya, dikatakan sukses apabila si pemburu berhasil menembak jatuh hewan yang diinginkan, menyamak kulitnya untuk penghias interior, dan menyimpan kepala antelop sebagai bentuk pencapaian -atau pembuktian ras superior- yang dibanggakan. Pada taraf ideologis, kamera memiliki fungsi yang mirip dengan senapan buru. Kamera membantu penggunanya untuk membidik dan mengeksploitasi sebuah obyek yang dianggap eksotik. Mengabadikan imaji tentang obyek tersebut hingga menjadi sebuah realitas baru yang dapat dibentuk dan dikuasai.

Saya mencoba memahami turis cewek ini. Mengapa ia bersusah payah mengambil foto melalui sudut pandang tersebut? Apa gambar yang kira-kira ingin ia hasilkan?

Saya dapat membayangkan bahwa perayaan budaya seperti Waisak pasti ramai dan riuh karena dihadiri banyak orang. Hal ini merupakan petaka bagi setiap fotografer, karena kesempatan untuk menghasilkan gambar bersih tanpa ada gangguan elemen lain yang tidak dikehendaki menjadi sangat kecil. Apalagi dalam kondisi sesak berhimpit, tidak banyak sudut pandang yang bisa dieksplorasi. Pada kondisi seperti itu, maka seorang fotografer harus jeli memilih jenis lensa, sudut pandang pengambilan gambar, atau permainan komposisi melalui bentuk dan warna untuk menegaskan point of interest yang akan ditampilkan.

Nah, turis cewek dalam foto di atas tampaknya mengisolasi obyek dengan opsi pemilihan angle yang unik. Melalui sudut pandang mata burung seperti ini pengaturan komposisi lebih gampang dilakukan. Letak biksu dengan obyek lainnya pun mudah dipetakan secara visual.

Kreatifitas semacam ini tentu saja tidak salah dalam dunia fotografi. Apabila tujuannya untuk membuat foto yang indah secara estetika, maka usaha yang dilakukan turis cewek ini tidak bisa disalahkan. Secara teknik, ia benar. Tapi belum tentu benar bila dilihat dari kacamata yang lebih luas.

Dalam sebuah ritual keagamaan, ada tata krama dan kepatutan yang harus dipahami. Saya pernah mengikuti ritual kirab Makco yang diadakan oleh komunitas Konghucu Surabaya. Peristiwa ini sangat langka karena lebih dari setengah abad kirab ini tidak pernah dipraktekkan akibat represi rezim Orde Baru. Namun di tengah jalan upacara ini gagal. Iring-iringan patung Dewi Makco tak bisa masuk ke Klenteng Hok Tek Hian karena ada beberapa penonton mbeling yang melihat jalannya upacara dari lantai dua. Posisi manusia yang berada di atas patung dewa adalah pamali. Nah, pengetahuan seperti ini yang sebaiknya menjadi bekal, tidak hanya bagi fotografer perjalanan, tapi juga pelancong pada umumnya.          

Saya tidak mahir mengurai tanda-petanda pada sebuah foto melalui kajian semiotika yang canggih. Namun, foto di atas memiliki beberapa pola yang dengan mudah ditangkap sebagai simbol universal. Secara posisi, si cewek yang berada di atas melambangkan otoritas yang lebih kuat daripada biksu yang bersimpuh di bawah. Nilai berdasar oposisi biner seperti ini memang sungguh naif, seperti tangan kanan lebih baik dari tangan kiri, pria lebih kuat daripada wanita, atau posisi atas lebih mulia dari bawah. Namun dalam kajian visual tampaknya nilai seperti ini masih relevan digunakan sebagai salah satu pisau analisis.

Posisi yang idiosinkratis semacam ini menjadikan pembacaan hubungan turis-biksu dapat dikembangkan ke dalam benturan relasi baru yang lebih luas. Apalagi jika memperhatikan atribut yang melekat pada keduanya; wanita-pria, modern-tradisi, materialisme-idealisme, liberal-konservatif, profan-sakral, dan seterusnya.  

Gestur si cewek yang merentangkan pijakan -sebagai usaha menyetabilkan posisi kamera- dan biksu yang menangkupkan tangan untuk berdoa, sangat mungkin mewakili relasi imajiner antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Coba letakkan seorang rentenir dan penghutang jatuh tempo pada posisi yang sama, maka Anda akan melihat relasi kuasa yang tak jauh berbeda. Bagi saya sendiri, secara semiotis foto ini istimewa. Begitu kaya simbol dan makna. Framingnya begitu ciamik. Rupanya sang fotografer mengamalkan ajaran eyang Henri Cartier-Bresson untuk menekan shutter di saat yang tepat (decisive moment).  

Eh, omong-omong kenapa saya malah membahas semiotika foto ya, hahaha! Sok tau deh saya. Maaf ya. Padahal kan bila menyangkut Waisak 2013 di sebagian blog lain justru membahas tentang etika fotografer; bagaimana mengembangkan empati terhadap obyek foto, bagaimana menempatkan diri pada sebuah destinasi, bagaimana tata krama seorang fotografer perjalanan agar penduduk lokal tak terintimidasi, bagaimana menghasilkan foto yang tidak saja indah tapi juga jujur dan memberikan nilai, and so forth...

Tentu saya sepakat bahwa pada prinsipnya seorang fotografer tidak saja dituntut untuk menghasilkan foto yang indah belaka, tapi juga harus baik. Baik yang saya maksud di sini terdapat dalam bingkai etika tentu saja. Etika sendiri memang subuah diskursus yang rumit. Tidak ada tolok ukur yang tepat saat membahas etika, karena nilai yang dipahami setiap manusia tentu saja berbeda-beda. Namun saya percaya bahwa pemahaman tentang etika dimulai dari pengetahuan. Oleh sebab itu, seorang fotografer perjalanan sepatutnya memperkaya diri dengan banyak membaca dan rajin melakukan riset sederhana. Terutama sebelum terjun ke lapangan.

Saya menuliskan catatan ini semata-mata karena kagum dengan hasil jepretan di atas. Sayangnya sejauh ini saya tidak mampu menemukan siapa fotografernya. Maka, tanpa bermaksud melanggar hak cipta, saya tulis saja fotografernya Unknown. Akan segera saya ubah bila sudah tahu siapa pembuatnya. Pun saya mendapatkan foto ini di internet dalam resolusi yang sangat rendah. Saya menduga foto di atas adalah hasil repro dari foto yang asli.

Maka kepada para sidang pembaca Lobrainers sekalian, bila ada yang sekiranya tahu atau mengenal fotografernya, silahkan kabari kami melalui kolom komentar di posting ini. Tabik! []