Pages

1/31/07

Maria Eva

Nama penyanyi dangdut kontroversial Maria Eva mengingatkan saya pada dua wanita agung yang pernah hidup di muka bumi; Bunda Maria dan Siti Hawa. Keduanya wanita yang luar biasa, yang satu dituduh melacurkan diri dengan melahirkan anak tanpa ayah, yang satu disalahkan karena dinilai menjadi penyebab manusia ‘jatuh’ dari nirwana ke dunia yang fana.

Tentu saja melahirkan Isa, yang kelak ditakdirkan menjadi seorang penyelamat bangsanya, tidak pernah dicita-citakan Bunda Maria sebelumnya, apalagi dalam keadaan tanpa ayah. Maria seorang wanita sederhana itu akhirnya harus menikmati berbagai cercaan yang meluncur dari kaumnya sendiri. Sakit memang, karena dia dituduh melacurkan diri.

Mengingat kisah Maria yang akhirnya menjadi wanita perawan suci seumur hidupnya membuat saya miris. Penelitian partisipatif yang dilakukan oleh Iip Wijayanto beberapa tahun lalu menerangkan bahwa sembilan puluh persen lebih mahasiswi di Jogja tidak lagi perawan, membuat perasaan miris itu semakin menjadi-jadi. Bukankah sekarang zaman sudah berubah? Bukankah pemikiran sudah semakin modern? Bisa jadi keperawanan sudah tidak lagi penting saat ini.
***
Perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa sebenarnya bermula dari sesuatu yang sepele. Pacaran, berkunjung ke kos, mencari waktu aman, lalu hwarakadah jadilah! Tidak perlu kasur spring bed, tikar lusuh yang ditingkahi baju kotor di sudut ruangan khas kos-kosan mahasiswa sudah cukup. Tidak perlu semalaman, sepuluh menit juga sudah lebih. Gejala itulah yang saya rasakan saat berkunjung ke sebuah kos di daerah Gebang.

Sore itu, sama seperti sore-sore becek musim hujan, saya berniat mampir ke kos seorang kenalan untuk mengembalikan sebuah buku yang saya pinjam. Kos itu cukup besar, cat putih dan pagar yang tinggi semakin menambah kesan angkuh kebesaran bangunannya. Ternyata di halaman depan kos itu terdapat lobby dengan kursi kayu yang cukup apik, ya cukuplah untuk berkunjung pacaran. Di lobby yang cukup luas itu sudah ada dua orang pasangan yang berasyik masyuk satu sama lain. Pelukan penghangat badan menjadi pembenar ditengah hujan yang semakin lebat mengguyur.

Tidak hanya itu, di sudut kos yang besar itu saya juga melihat beberapa lelaki yang melenggang dengan bebasnya (bahkan bertelanjang dada dengan handuk tersampir di pundaknya) di tengah areal yang berjudul “Kos Putri” di depan pagarnya itu. Keterkejutan saya membuat saya urung memencet tombol interkom yang berada tepat di depan hidung saya. Saya pun ngacir. Tentu saja sambil mikir.
***
Akhirnya saya teringat akan seorang rekan yang pernah menulis email bahwa manusia jatuh ke dunia karena Hawa yang tidak dapat menjaga nafsunya untuk mencicipi lezatnya buah khuldi. Bagi rekan saya, itu semua bermula dari perilaku Siti Hawa yang tidak dapat menjaga pandangannya. Satu pakem yang masih relevan; dari mata turun ke hati.

Saya sendiri yang sudah melihat film Virgin masih berpendapat bahwa keperawanan itu masih penting, hingga hari ini. Titik. Walaupun sulit untuk melaksanakannya. Walaupun batas antara perawan dan tidak perawan hanyalah setipis selaput dara. Walaupun dalam kata keperawanan ada kata rawan. Karena selalu saja ada bahaya yang mengintai.

*diambil dari opini dengan judul yang sama untuk ITS Online*

No comments: