Pages

1/26/07

Ziarah

Ziarah, atau perjalanan napak tilas selalu saja menarik. Tidak saja bagi kaum saat ini yang mempelajari kaum terdahulu, tetapi juga bagi kaum akan datang yang mencari hikmah dari kehidupan kaum masa kini. Ziarah tidak saja memerlukan persiapan jasad, jauh lebih penting adalah persiapan ruhani. Karena ziarah adalah sebuah cerita tentang pengorbanan.

Bahkan Borobudur yang gagah itupun di tiap lekuknya menceritakan elegi cinta Rama-Shinta yang ironis nan melegenda. Seperti itu juga Study Comparative BEM ITS saat ini. Mengambil rute Jakarta-Bogor-Semarang mengingatkan saya pada cerita tentang Teto dan Atik pada novel Burung-Burung Manyar-nya Romo Mangun. Atau saat menyusuri punggung Jawa di Pantura, ingatan saya melayang pada moyang yang membangunnya dari Anyer hingga Panarukan di bawah lars kulit Daendels. Sungguhpun saat ini saya sedang berziarah, saya berziarah tentang apapun. Bahkan bagi sejarah yang saya tuliskan sendiri.

Seringkali kita berbuat pilihkasih terhadap sejarah. Tidak semua pena mampu menulis sejarah, hanya sejarah yang gilang gemilanglah yang dinubuatkan. Konon kita adalah bangsa yang instan. Bangsa yang melihat segala sesuatu cespleng langsung hasil, tanpa proses, seperti mie bungkus. Padahal sebenarnya sejarah adalah kumpulan proses yang dialektis. Mengalahkan dan dikalahkan adalah epos yang membingkai kisahnya.

Sastrawan besar Mesir, Nagouib Mahfouz, berhasil memotret gejala ini dengan baik. Saat obsesi dengan Barat menjadi sangat besar, yang terjadi adalah imitasi yang dilakukan serentak dan sekejap. Menjadi “keliatan bule” adalah kata yang menyihir dan magis, semua-muanya ditiru, mulai dari ujung batok sampai ujung jempolan. Tanpa menengok kembali ke belakang dan mencoba menggali kearifan lokal, maka sekonyong-konyong “manusia instan” seperti ini hanya seperti padi tanpa isi. Kopong.
"
Selayaknya dalam sekian tahun hidup kita, mencoba menyisakan sedikit waktu untuk diam sejenak, menarik nafas masa lalu, menengok kebelakang, menjelaskan setiap arti hidup. Lalu kembali melesat. Perlu diingat, tidak setiap jalan yang dilalui itu mulus seperti jalan yang di-aspal hotmix. Tetapi juga kadang berkerikil dan berkerakal. Namun itulah proses.
"
Begitupun sejarah. Tidak selamanya sejarah itu indah. Pernah juga suatu saat sejarah berlalu dengan sangat kelam dan memihak pada pihak yang menang. Tetapi itupun tetap harus ditulis. Sebagai wanawisata pemikiran generasi yang akan datang.

***
Saat itu bis merapat sebentar di Cirebon, sekedar untuk mampir makan. Di ujung restoran para sopir kembali berkelakar, kembali ngakak. Bercerita bahwa pelacuran di utara pulau Jawa inipun sudah ada sejak zaman Londo. Hingga berlanjut saat ini di bawah remang warung pinggir jalan sembari diiringi dangdut Garut. Pak sopir juga bilang, ”Para garong yang biasanya mbegal juga sering nongkrong bareng kok,” ya itulah hidup.

*diambil dar opini dengan judul yang sama untuk ITS Online*

No comments: