Pages

7/29/07

Anti-Gaul


Saya sedikit tercengang setelah saya mengetahui penyelenggaraan Miss Arab World 2007 di sebuah Koran terbitan lokal. Mungkin modernisasi sudah sebegitu kuatnya, sehingga wajah perempuan Arab saat ini tak ubahnya seperti wajah perempuan Eropa. Kulit putih dan hidung bangir menjadi modal utama kecantikan mediteranian yang ditawarkan. Tercatat dari 17 peserta yang mewakili 14 negara hanya ada dua peserta yang berjilbab.


Saat menyempatkan diri surfing dari satu blog ke blog yang lain beberapa waktu yang lalu, saya juga mendapati sebuah statemen menarik dari seorang pemilik blog yang mengatakan dalam sebuah postingannya bahwa ia adalah sosok pemuda yang anti-tren. Dia mendeskripsikannya pilihannya ini sebagai sebuah keinginan untuk bertolak dari tren yang digariskan oleh para korporat yang produk-produknya selalu menggiurkan untuk dikenakan. Baginya lebih baik menciptakan sebuah tren sendiri sebagai sebuah antidot dan cara melawan tren kapital yang cukup ampuh.

Pemikiran anti-tren ini nampaknya sejalan dengan pemikiran beberapa teman yang mengungkapkan kegelisahannya mengenai pola hidup remaja Indonesia saat ini. Sebagai penggemar gending dan langgam Jawa ia mengatakan bahwa hegemoni budaya barat saat ini sudah cukup meresahkan, apalagi saat produk budaya Barat itu diberi label modern, maka di sanalah jutaan anak muda negeri ini akan membebek.

***
Tren, pastinya ada karena sebuah kebutuhan. Tapi sesungguhnya para korporat sadar bahwa kebutuhan itu dapat diciptakan, komunikasi visual pun tercipta sebagai ujung tombak kapitalis untuk menciptakan rasa ’aku-harus-beli’ itu. Bagi Milan Kundera, inilah yang ia sebut dengan imagology, sebuah pencitraan; cantik itu mesti putih pucat, rambut yang bagus itu haruslah yang brunette, mata yang menggoda itu pastilah yang biru seperti londo. Anak negeri pun berlomba-lomba untuk mencitrakan dirinya sendiri, mengkopi, memperbanyak diri. Konstruksi akan konsep ayu pun berubah, kulit sawo matang, rambut digelung, dan mata coklat-hitam itu haramjadah. Beberapa orang menyebut gejala itu sebagai poskolonialisme, kondisi masyarakat yang mabuk berat karena nilai-nilai.

Ujung-ujungnya, kita lupa diri, lupa siapa kita sebenarnya. Citra diri pun menjadi kabur, bertumpuk antara realitas dan bayang-bayang. Meminjam istilah Ben Andersen, kita pun menjadi sebuah masyarakat yang terbayang (imagined communities). Kita hidup diantara awang-awang, memproyeksi diri kita dari satu brand ke brand yang lain. Tanpa sadar kita sudah menerima hegemoni budaya ini dengan separuh tak sadar. Akhirnya kita menjadi orang lain, linglung.

Ini semua menyangkut identitas diri kita sebagai sebuah bangsa, sebagai sebuah pewaris kebudayaan tinggi yang diciptakan oleh jenius lokal beberapa abad yang lalu. Pewaris peradaban tua yang penuh dengan kearifan dan nilai yang transenden, sebuah citra anggun yang tidak akan kita temui pada budaya pop yang ditawarkan oleh media mainstream. Bisa jadi, anak muda bangsa bangsa ini lebih familiar dengan logat British dari Arctic Monkey, dan pakaian ready-to-wear dari Zara, dan tidak pernah tau kebesaran kisah langgam Jawa dan kekuatan Batik.

Jarang yang tahu kalau langgam Ketawang Puspawarna ciptaan Mangkunegara IV adalah lagu yang dipilih oleh NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) untuk dikirim ke angkasa luar, untuk memancing suara ke Planet Neptunus. Ketawang Puspawarna dinilai sebagai sebuah lagu dengan harmonisasi terbaik yang diciptakan manusia dan salah satu capaian tertinggi dalam sejarah musik manusia. Batik pun tidak kalah hebatnya, kain tulis lokal asli Jawa ini hampir diadopsi sebagai kain adati di seluruh dunia, tak terkecuali Malaysia, Thailand, India, sampai beberapa negara di Afrika. Bahkan batik pun telah dijadikan sebagai term internasional yang dapat ditemui di Oxford Dictionary dan dijadikan sebagai kain nasional Afrika Selatan, karena Nelson Mandela Sangat bangga memakai batik buatan Indonesia.

Belum lagi mengenai kisah kain songket yang dicipta dengan kesungguhan atau bahkan kisah para pengrajin kain di NTT yang harus membuat satu lembar kain selama tiga tahun. Masih banyak lagi sebenarnya kisah di balik produk budaya Nusantara bernilai tinggi yang kita miliki. Itu pun jika generasi muda kita masih bernyawa.

***
Seandainya bukan kita sebagai generasi muda yang memulai untuk mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa ini lalu siapa lagi? Mungkin kita bisa bergerak sedikit-demi sedikit. Mencoba untuk memahami budaya yang kita warisi. Kalau begitu; kenapa kita harus malu untuk mendengarkan musik tradisional? Mengapa kita harus malu jika memakai batik ke kampus? Mari kita mulai bersama-sama mencari identitas kita yang hilang.

Ayos Purwoaji
Mahasiswa Desain Produk Industri ITS

*dikopi dari opini untuk ITS Online

7/23/07

Ke Jember, Ke Banyuwangi

Hoho apa kabar semuanya? Okeh, lama nggak ngeblog neh, makanya liburan diniatin untuk ngepost blog minimal tiga buah lah! Ngisin-isini, masak punya blog tapi dibiarin mangkrak…
Oke, lagi-lagi tentang liburan. Walopun liburan kali ini benar-benar beda, ya kebanyakan isinya cuma pergulatan batin dengan pikiranku sendiri. Bingung mau ngapain, amanah banyak, janji terbengkalai (sifat jelek yang gak pernah ilang), mengecewakan beberapa orang, dan berakhir dengan degkuran panjang di ranjang empuk (walopun planning liburan yang lumayan banyak; mbaca novel, nulis blog, buat grafis, menyiram bunga, mengaji, menyantuni fakir miskin, menyambangi tunasusila lho?!). Ya, Jember itu selalu melenakan, selalu membuat kantuk berkuasa. Hoaahem...Tapi, tentu saja, tidak setiap harinya aku habiskan dengan meringkuk di kasur empuk, liburan ini sempet diajak bapak ke rumah sodara di Banyuwangi, dan berdua aja! Wow itu kesempatan yang langka bukan. Dan kali ini akan saya ceritakan kisah saya: (sebelumnya, foto di bawah ini diambil di sebuah warung lalapan enak di daerah Garahan, perbatasan Jember-Banyuwangi. Murah banget tapi enak cing! Sumpah, yang belom pernah mampir seyogyanya mampir, namanya warung Sederhana. Mm, Garahan bukan cuman terkenal pecelnya bo)Okeh, jadi kalo anda sekalian sedang ke Jember dan ingin ke Banyuwangi, maka anda pasti akan melewati gunung Kumitir. Seperti kalo mau ke Situbondo lewat Arak-arak, maka jalan terjal nan curam juga menghiasi perjalanan anda ke Banyuwangi. Di Kumitir tidak hanya ada jalan terjal yang akan menakuti para sopir truk yang masih lajang, tetapi juga ada pemandangan asyik di sepanjang jalan; salah satunya para joki gunung.Joki gunung adalah sebutan saya untuk menggambarkan pekerjaan mereka; melambaikan tangan kepada para pengendara dan memberi tanda bahwa tidak ada kendaraan yang berlawanan dari balik tebing. Pekerjaan mereka cukup mudah, tetapi tentu saja penghasilan mereka dapatkan juga tidak menentu. Saya sendiri ndak tahu, dimana kira-kira rumah mereka, padahal jarak hunian setelah lepas dari Jember paling dekat dengan jalan itu mungkin belasan bahkan puluhan kilometer.Para joki gunung juga bukan melulu orang tua, tidak jarang mereka adalah remaja dan anak kecil, atau mungkin orang tua yang mengajak anak kecilnya untuk menjadi joki gunung. Ini ada beberapa gambar yang berhasil saya ambil dari atas mobil, cukup sulit sebenarnya mendapatkan momen yang lebih humanis, trus resolusi sengaja saya kecilin biar bandwithnya ndak terlalu banyak, tapi yaa sudahlah, nikmati saja sajian sederhana ini:) hehehe...Kebetulan sodara saya itu kerjanya di perkebunan, ’anu’ anak lelakinya selesai disunat beberapa saat yang lalu. Sebenarnya lingkungan perkebunan bukanlah hal yang asing bagi saya, secara orang tua saya bekerja sebagai peneliti yang dekat dengan kebun, kebun jugalah yang mempertemukan saya dengan Indari (sobat kecil), dan pakde saya ada yang menjadi ADM (administrateur) atawa pemimpin sebuah perkebunan, sejujurnya perkebunan bagi saya adalah hal yang sangat menarik. Jika anda menyempatkan diri berkunjung ke sebuah perkebunan, maka nuansa masa lampau yang berbau kolonial akan langsung menyapa anda. Ya, itu karena sebagian besar perkebunan di tanah Jawa ini adalah peninggalan londo. Kesan itu menjadi semakin kuat karena sistem feodal yang dipakai oleh para londo itu masih digunakan sampe sekarang.
Saya melihat kehidupan pakde saya seperti raja yang dikelilingi oleh pegawai pribumi bergaji rendah, sangat diagungkan, mereka pun akan siap kapanpun untuk memaksa pipi mereka yang tirus-kurus untuk menyunggingkan senyum dan membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Pakde saya yang berbadan tambun itu pun semakin gagah dibuatnya, hohoho.
Perkebunan di zaman kolonial, menurut sahibul hikayat memiliki banyak cerita. Dari sejarahnya sendiri perkebunan di tanah Jawa ini dimulai karena VOC tertarik dengan gagasan van den Bosch mengenai sistem tanam paksa (cultuur stelsel) di tahun 1830. Pulau Jawa bagi belanda adalah mutiara hijau karena tanahnya yang subur, gemah ripah loh jinawi. Pembukaan terusan Suez pada 1869 membuat pemerintah VOC semakin gencar melaksanakan sistem yang menyengsarakan rakyat ini, bahkan untuk mengamankan modal besar yang ditanam para cukong, VOC menerbitkan Agrarische Wet di tahun 1870 (yang faktanya hukum Agrarische Wet buatan kolonial yang memberatkan rakyat itu masih digunakan pemerintah indo sebagai Hak Guna Usaha yang membatasi rakyat sampai sekarang). Untuk lebih jelasnya baca bukunya Satono Kartodiharjo mengenai Sejarah Perkebunan di Indonesia, lumayan buat nambah resensi.
Mmm, bosen ya denger sejarahnya, yowes kalo gitu saya akan berbicara mengenai budaya yang berkembang. Awalnya, perkebunan yang terkenal di pulau Jawa ini berada di Banyuwangi. Banyaknya tanah perkebunan yang luas di Banyuwangi saat ini menyisakan nafas kebesaran perkebunan di masa lalu. Pekerja pribumi pun banyak didatangkan Belanda untuk menggarap tanah perkebunan yang luar biasa luasnya itu. Penduduk Madura, yang mendominasi pekerja kebun Belanda, akhirnya harus bersanding hidup dengan suku Osing yang merupakan suku asli orang Banyuwangi.
Perkembangan perkebunan di Banyuwangi yang pesat memaksa para pekerja itu berhijrah ke Jember yang saat itu masih relatif sepi dan sedang direncanakan untuk dibangun perkebunan tembakau yang tumbuhannya cocok dengan topografi Jember. Seiring berjalannya waktu, rupanya Jember sebagai kota yang molek nan rupawan (ceileee, yang nulis kali...) membuat banyak orang berbondong-bondong bermigrasi ke Jember. Akhirnya terjadilah percampuran budaya antara masyarakat madura yang merupakan sisa-sisa pekerja dari Banyuwangi, Hoakiau yang mayoritas pedagang dari Surabaya, dan pendatang lain dari nusantara. Tidak seperti Banyuwangi yang masih memiliki suku asli (Osing) dan budaya asli (bahasa Osing dan tari gandrung), maka di Jember yang menjadi melting pot bagi banyak orang dengan pelbagai budaya tidak memiliki budaya yang khas, bahkan hingga hari ini! Tari labako yang diagungkan sebagai tari khas Jember pun sebenarnya merupakan salah kaprah pendidikan yang fatal. Tari yang menggambarkan kehidupan para petani tembakau (labako) itu sebenarnya diciptakan oleh seniman tari besar Bagong Kusudiarjo pada dasawarsa 1970, pun karena diminta oleh bupati Jember saat itu.
Awalnya, para pekerja perkebunan dari Banyuwangi yang datang ke Jember mencoba mengembangkan sebuah kesenian sebagai wujud aktualisasi rasa estetis mereka. Kesenian yang berupa pertunjukan itu dinamakan Can-Macanan Kadhu’, bercerita tentang harimau yang sedang bertarung. Tapi ironisnya, kesenian itu saat ini hilang, bahkan belum tentu anak muda Jember sekarang mengetahui keberadaan seni yang menggabungkan antara seni tari dan magis itu. Lha terus gimana masa depan kesenian Jember? Kadang malu rasanya, sebagai anak muda Jember ndak tau sejarah tempat tinggalnya sendiri. Padahal, seperti yang saya baca di Sejarah Kota-kota di Indonesia, terbitan Unair kalo ndak salah, dulunya Jember adalah polis yang cukup besar di masa kolonial, setara dengan kota niaga Surabaya. Kota Jember yang unik ini berhasil merayu para pendatang untuk mengadu nasibnya (koyok Jakarta ae yo!). tapi sebenernya riset saya mengenai sejarah Jember ini sangatlah belum lengkap dan valid. Mudah-mudahan jika mas Andreas Harsono mampir membaca postingan ini mau memberikan sedikit tambahan remah sejarah, khususnya sejarah Hoakiau perantauan:) hehehe...
Oya, setelah membaca postingan ini bisa lanjut melihat posting photoblogku yang judulnya Anak-Anak Gula Merah. Trus semoga proyekku ama Winda untuk nulis bareng tentang sejarah Pabrik Gula Jatiroto dalam bentuk investigative reporting dan galeri fotonya bisa kelar, lumayan buat ngisi blog, hehehe. Amien.

Anak-Anak Gula Merah

Ndak seperti postingan di atas yang rada membosankan, postingan ini cuman mau memamerkan koleksi fotoku mengenai pabrik gula merah yang ada di perkebunan pakde. Katanya industri tradisional ini sudah lama, entah sejak zaman londo juga atau tidak. Sengaja aku beri judul ’anak-anak gula merah’ karena banyak momen yang tertangkap lensa turut melibatkan wajah polos anak-anak di dalamnya. Sebenernya mau dibikin dengan bentuk photo essay, tapi ternyata fragmennya kurang lengkap. Enjoy it!






7/5/07

Mata

Ini cuman tebak-tebakan konyol ama Winda di kantin kampus pada siang hari:
Ayos (A): Win, kenapa kedua mata kita itu diciptakan untuk tidak saling melihat? kenapa harus ada barrier berupa batang hidung di antaranya?
Winda (W): Yaa ndak tau...
A: (dengan nada sok filosofis ngomong:) Hmm bisa jadi, jika kedua mata kita diciptakan untuk bisa saling melihat, mereka akan jatuh hati, antara satu dengan yang lainnya...

Hahaha, yah ini sebenernya cuman anekdot, sama seperti;
Kenapa bumi tidak diciptakan datar?
Karena jika Tuhan menciptakan bumi yang datar dan Ia mengizinkan matahari dan bulan untuk bertemu pada satu titik maka bisa jadi bulan akan terbakar oleh cinta matahari padanya... (opo ae sih sakjane postingan iki! gak jelas....)

Nope! tapi yakinlah, segala sesuatu yang dihadirkan oleh sang Maha Kreatif ini sudah sangat diperhitungkan, dan akan selalu harmonis dengan bentuknya yang didesain dengan sebaik-baik bentuk...