Pages

7/23/07

Ke Jember, Ke Banyuwangi

Hoho apa kabar semuanya? Okeh, lama nggak ngeblog neh, makanya liburan diniatin untuk ngepost blog minimal tiga buah lah! Ngisin-isini, masak punya blog tapi dibiarin mangkrak…
Oke, lagi-lagi tentang liburan. Walopun liburan kali ini benar-benar beda, ya kebanyakan isinya cuma pergulatan batin dengan pikiranku sendiri. Bingung mau ngapain, amanah banyak, janji terbengkalai (sifat jelek yang gak pernah ilang), mengecewakan beberapa orang, dan berakhir dengan degkuran panjang di ranjang empuk (walopun planning liburan yang lumayan banyak; mbaca novel, nulis blog, buat grafis, menyiram bunga, mengaji, menyantuni fakir miskin, menyambangi tunasusila lho?!). Ya, Jember itu selalu melenakan, selalu membuat kantuk berkuasa. Hoaahem...Tapi, tentu saja, tidak setiap harinya aku habiskan dengan meringkuk di kasur empuk, liburan ini sempet diajak bapak ke rumah sodara di Banyuwangi, dan berdua aja! Wow itu kesempatan yang langka bukan. Dan kali ini akan saya ceritakan kisah saya: (sebelumnya, foto di bawah ini diambil di sebuah warung lalapan enak di daerah Garahan, perbatasan Jember-Banyuwangi. Murah banget tapi enak cing! Sumpah, yang belom pernah mampir seyogyanya mampir, namanya warung Sederhana. Mm, Garahan bukan cuman terkenal pecelnya bo)Okeh, jadi kalo anda sekalian sedang ke Jember dan ingin ke Banyuwangi, maka anda pasti akan melewati gunung Kumitir. Seperti kalo mau ke Situbondo lewat Arak-arak, maka jalan terjal nan curam juga menghiasi perjalanan anda ke Banyuwangi. Di Kumitir tidak hanya ada jalan terjal yang akan menakuti para sopir truk yang masih lajang, tetapi juga ada pemandangan asyik di sepanjang jalan; salah satunya para joki gunung.Joki gunung adalah sebutan saya untuk menggambarkan pekerjaan mereka; melambaikan tangan kepada para pengendara dan memberi tanda bahwa tidak ada kendaraan yang berlawanan dari balik tebing. Pekerjaan mereka cukup mudah, tetapi tentu saja penghasilan mereka dapatkan juga tidak menentu. Saya sendiri ndak tahu, dimana kira-kira rumah mereka, padahal jarak hunian setelah lepas dari Jember paling dekat dengan jalan itu mungkin belasan bahkan puluhan kilometer.Para joki gunung juga bukan melulu orang tua, tidak jarang mereka adalah remaja dan anak kecil, atau mungkin orang tua yang mengajak anak kecilnya untuk menjadi joki gunung. Ini ada beberapa gambar yang berhasil saya ambil dari atas mobil, cukup sulit sebenarnya mendapatkan momen yang lebih humanis, trus resolusi sengaja saya kecilin biar bandwithnya ndak terlalu banyak, tapi yaa sudahlah, nikmati saja sajian sederhana ini:) hehehe...Kebetulan sodara saya itu kerjanya di perkebunan, ’anu’ anak lelakinya selesai disunat beberapa saat yang lalu. Sebenarnya lingkungan perkebunan bukanlah hal yang asing bagi saya, secara orang tua saya bekerja sebagai peneliti yang dekat dengan kebun, kebun jugalah yang mempertemukan saya dengan Indari (sobat kecil), dan pakde saya ada yang menjadi ADM (administrateur) atawa pemimpin sebuah perkebunan, sejujurnya perkebunan bagi saya adalah hal yang sangat menarik. Jika anda menyempatkan diri berkunjung ke sebuah perkebunan, maka nuansa masa lampau yang berbau kolonial akan langsung menyapa anda. Ya, itu karena sebagian besar perkebunan di tanah Jawa ini adalah peninggalan londo. Kesan itu menjadi semakin kuat karena sistem feodal yang dipakai oleh para londo itu masih digunakan sampe sekarang.
Saya melihat kehidupan pakde saya seperti raja yang dikelilingi oleh pegawai pribumi bergaji rendah, sangat diagungkan, mereka pun akan siap kapanpun untuk memaksa pipi mereka yang tirus-kurus untuk menyunggingkan senyum dan membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Pakde saya yang berbadan tambun itu pun semakin gagah dibuatnya, hohoho.
Perkebunan di zaman kolonial, menurut sahibul hikayat memiliki banyak cerita. Dari sejarahnya sendiri perkebunan di tanah Jawa ini dimulai karena VOC tertarik dengan gagasan van den Bosch mengenai sistem tanam paksa (cultuur stelsel) di tahun 1830. Pulau Jawa bagi belanda adalah mutiara hijau karena tanahnya yang subur, gemah ripah loh jinawi. Pembukaan terusan Suez pada 1869 membuat pemerintah VOC semakin gencar melaksanakan sistem yang menyengsarakan rakyat ini, bahkan untuk mengamankan modal besar yang ditanam para cukong, VOC menerbitkan Agrarische Wet di tahun 1870 (yang faktanya hukum Agrarische Wet buatan kolonial yang memberatkan rakyat itu masih digunakan pemerintah indo sebagai Hak Guna Usaha yang membatasi rakyat sampai sekarang). Untuk lebih jelasnya baca bukunya Satono Kartodiharjo mengenai Sejarah Perkebunan di Indonesia, lumayan buat nambah resensi.
Mmm, bosen ya denger sejarahnya, yowes kalo gitu saya akan berbicara mengenai budaya yang berkembang. Awalnya, perkebunan yang terkenal di pulau Jawa ini berada di Banyuwangi. Banyaknya tanah perkebunan yang luas di Banyuwangi saat ini menyisakan nafas kebesaran perkebunan di masa lalu. Pekerja pribumi pun banyak didatangkan Belanda untuk menggarap tanah perkebunan yang luar biasa luasnya itu. Penduduk Madura, yang mendominasi pekerja kebun Belanda, akhirnya harus bersanding hidup dengan suku Osing yang merupakan suku asli orang Banyuwangi.
Perkembangan perkebunan di Banyuwangi yang pesat memaksa para pekerja itu berhijrah ke Jember yang saat itu masih relatif sepi dan sedang direncanakan untuk dibangun perkebunan tembakau yang tumbuhannya cocok dengan topografi Jember. Seiring berjalannya waktu, rupanya Jember sebagai kota yang molek nan rupawan (ceileee, yang nulis kali...) membuat banyak orang berbondong-bondong bermigrasi ke Jember. Akhirnya terjadilah percampuran budaya antara masyarakat madura yang merupakan sisa-sisa pekerja dari Banyuwangi, Hoakiau yang mayoritas pedagang dari Surabaya, dan pendatang lain dari nusantara. Tidak seperti Banyuwangi yang masih memiliki suku asli (Osing) dan budaya asli (bahasa Osing dan tari gandrung), maka di Jember yang menjadi melting pot bagi banyak orang dengan pelbagai budaya tidak memiliki budaya yang khas, bahkan hingga hari ini! Tari labako yang diagungkan sebagai tari khas Jember pun sebenarnya merupakan salah kaprah pendidikan yang fatal. Tari yang menggambarkan kehidupan para petani tembakau (labako) itu sebenarnya diciptakan oleh seniman tari besar Bagong Kusudiarjo pada dasawarsa 1970, pun karena diminta oleh bupati Jember saat itu.
Awalnya, para pekerja perkebunan dari Banyuwangi yang datang ke Jember mencoba mengembangkan sebuah kesenian sebagai wujud aktualisasi rasa estetis mereka. Kesenian yang berupa pertunjukan itu dinamakan Can-Macanan Kadhu’, bercerita tentang harimau yang sedang bertarung. Tapi ironisnya, kesenian itu saat ini hilang, bahkan belum tentu anak muda Jember sekarang mengetahui keberadaan seni yang menggabungkan antara seni tari dan magis itu. Lha terus gimana masa depan kesenian Jember? Kadang malu rasanya, sebagai anak muda Jember ndak tau sejarah tempat tinggalnya sendiri. Padahal, seperti yang saya baca di Sejarah Kota-kota di Indonesia, terbitan Unair kalo ndak salah, dulunya Jember adalah polis yang cukup besar di masa kolonial, setara dengan kota niaga Surabaya. Kota Jember yang unik ini berhasil merayu para pendatang untuk mengadu nasibnya (koyok Jakarta ae yo!). tapi sebenernya riset saya mengenai sejarah Jember ini sangatlah belum lengkap dan valid. Mudah-mudahan jika mas Andreas Harsono mampir membaca postingan ini mau memberikan sedikit tambahan remah sejarah, khususnya sejarah Hoakiau perantauan:) hehehe...
Oya, setelah membaca postingan ini bisa lanjut melihat posting photoblogku yang judulnya Anak-Anak Gula Merah. Trus semoga proyekku ama Winda untuk nulis bareng tentang sejarah Pabrik Gula Jatiroto dalam bentuk investigative reporting dan galeri fotonya bisa kelar, lumayan buat ngisi blog, hehehe. Amien.

4 comments:

Andreas Harsono said...

Dear Ayos,

Saya setuju bahwa pertumbuhan kota Jember perlu ditulis dengan lebih serius. Ketika kecil, saya sering pergi ke daerah sekitar Kalisat, Ambulu, Balung dan sebagainya. Saya punya kesan, daerah-daerah itu cukup maju dulunya. Kalisat misalnya, punya rel-rel kereta api dan rumah sakit zaman Hindia Belanda, yang cukup besar.

Dari bacaan saya, yang tak seberapa, Jember tampaknya mulai tumbuh sebagai daerah urban pada 1850an ketika George Birnie, seorang warga negara Kerajaan Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa. Birnie mendatangkan pekerja dari daerah sekitar Blitar dan Pulau Madura.

Menurut seorang buyutnya, novelis Alfred Birney, George Birnie menikah dengan Rabina, perempuan Jawa, dan mengirim anak-anaknya ke negeri Belanda untuk studi. Salah satu di antaranya adalah Willem Birnie, kakek Alfred Birney, yang kini dikenal sebagai novelis dengan banyak tema pencarian identitas diri Hindia Belanda.

Menurut guru saya, Jacoba Jasina Maria Vink, keluarga Birnie ini memiliki Landbouw Maatschapij Oud Djember. George Birnie juga menanam kopi, coklat, kelapa dan sebagainya. Kehadiran Birnie memancing pengusaha lain ikut membuka perkebunan. Pada 1950an, perkebunan-perkebunan ini disita pemerintah Indonesia dan dijadikan perkebunan negara.

Kita hari ini masih bisa melihat perusahaan dan perkebunan Birnie ini dari perusahaan perkebunan negara dan kebun-kebun tembakau di Jember dan sekitarnya. Saya beberapa kali pergi ke Kalibaru dan bertemu dengan keturunan orang-orang yang dulu ikut perkebunan. Mereka bisa jadi sumber buat riset yang serius soal pertumbuhan Jember. Terima kasih.

indari said...

Ingat joki gunung jadi ingat eyangku niyh. Lho?! Bayangin aja, masak setiap ada joki gunung melambai, eyangku selalu minta mobil untuk diberhentikan. Aduh eyang.. Shodaqaoh sih penting banget, tapi kl setiap joki disamperin kapan nyampenya..
Menanggapi tulisan Raden Mas Ayos Purwoaji tentang perkebunan. Emang kita ketemu di kebun?! Kebun anggur kali..Ehmm.. tapi emang bener banget kata kamu Yos, tinggal disana laiknya berada di zaman kolonial. Kayakna budaya itu masih ada juga tuh smp sekarang. Walhasil aku merasakan gimana sih jadi putri seorang raja..hehehe..
Sejarah perkebunan, wah aku malah baru tw. Kalo di FE ada mata kuliah sejarah pemikiran ekonomi. Nah kayaknya km cocok mengampu mata kuliah sejarah pemikiran perkebunan, hehehe.. ohya ditunggu juga sejarah pemikiran pabrik gulanya ya.. Good Luck ^_^

aklam said...

maturnuwun kepada mas andreas harsono yang telah melengkapi tulisan saya "yang tidak seberapa" ini. sekaligus juga menjadi siliaturahmi pemikiran. sekali lagi terima kasih bang!

untuk indari juga maturnuwun sanget, hahaha, iya in kamu dulu kayak putri raja di kerajaan far-far away! hahaha ayo kapan bernoltalgia mengenang keindahan zaman kolonial dulu:) itu bener mbahmu selalu berhenti di setiap tikungan? wah kaccaaaooo!

Anonymous said...

Menanggapi tulisan Raden Mas Ayos Purwoaji tentang perkebunan; Saya Gumeno, baru empat tahun kebelakang ini bersama beberapa kawan kemudian 'berupaya' menjadi Pendamping Buruh/ Pekerja Perkebunan diJember. saya juga sependapat jika anda atau siapapun bisa menulis, mewacanakan hal-hal berkait pertumbuhan kota Jember. Apalagi sekedar napak tilas era keemasan perkebunan di Jember khususnya. Emang betul, kondisi geografis Jember yang subur, gemah ripah loh jinawi sangat cocok sebagai daerah industrialisasi perkebunan. Kita disini gak pengen mbahas itu. Tapi 'hanya' sedikit komen soal feodalisme yang sempat sampeyan singgung dan ternyata sampeyan menikmatinya.... Oalah dasar... bagian dari penindas buruh/ pekerja perkebunan tetap saja penindas! Tapi, yo..heran, gitu bangga!