Pages

8/22/07

Pameran Buat Maba

Haduuuh jadi ketua pameran buat maba Despro...
iyap benar, ini semua sesungguhnya hanya sebuah usaha kecil untuk merubah sistem pengkaderan yang salah. kita, anak desain, sesungguhnya membutuhkan pengkaderan dengan treatment khusus yang lebih pas! dan pengkaderan bagi anak desain yang sehat haruslah pengkaderan yang membuat maba itu terpancing untuk tersua berkarya, bukannya malah tertekan dan nantinya menutup diri!ini logo acaranya, mbuat cuman beberapa jam, konsep dipikirkan di WC tersayang. nama acaranya 1001 IDE, konsep logonya jelas; mau aku tampilin angka 1001, trus harus kebaca IDE, tapi bisa juga imagenya kalo diperhatikan seperti dua anak (maba) yang saling berpelukan.
maaf kalo logonya jelek, soale gak jago grafis... (pak menteri desain a.k.a mas gembol, tolongin gw doooong!)

8/19/07

Djatiroto: a Rigidity

Photographer: Winda Savitri
with her phone Sony Ericsson K510i

Dengan kamera mungil di hpnya winda mencoba menangkap rigiditas pabrik gula Djatiroto. Mesin-mesinnya yang besar dan dingin seakan menyampaikan sebuah sejarah tentang kerja keras dan pengorbanan. Silahkan dinikmati!

Jatiroto: Fakta Singkat

Research: Ayos Purwoaji
Image: www

-------------------------
Saat berkuasa Ratu Wilhelmina pernah berkunjung Jatiroto sebagai ungkapan syukur karena pabrik gula Dajtiroto memberikan keuntungan yang sangat besar, sekitar 20 persen setiap tahunnya, sehingga mampu menyelamatkan perekonomian Negeri Kincir Angin.

PG Djatiroto saat ini menduduki peringkat teratas dari 17 PG yang bernaung di bawah PTPN XI (PT Perkebunan Nusantara XI). Provinsi Jawa Timur yang menjadi wilayah kerja 33 PG dari 57 PG di Pulau Jawa selama ini menyumbang sekitar 50 persen produksi gula nasional. PG ini memiliki lahan hak guna usaha (HGU) lebih dari 6.000 hektar, di antaranya tanah sawah seluas 4.511 hektar. Tanah HGU inilah yang menopang PG dalam memenuhi kebutuhan bahan baku (tebu) sehingga pengaturan masa gilingnya bisa dilakukan dengan baik. Ditutupnya beberapa PG di Jawa terutama disebabkan kekurangan bahan baku karena mengandalkan pada pasokan tebu rakyat yang jumlahnya setiap tahun sangat fluktuatif.

Lokasi PG Djatiroto memang ideal. Iklimnya sangat cocok untuk tanaman tebu, suhu udara 25-27 derajat Celsius dengan kelembaban udara 70-83 persen. Lama penyinaran matahari 40-80 persen, tipe iklim C dan D dengan curah hujan 1.860 milimeter per tahun. Kondisi alam yang cocok untuk perkebunan tebu tersebut masih ditunjang dengan sistem pengairan yang baik dan debit air yang mencukupi. Saluran primer pengairan yang dibangun pada zaman Belanda dulu adalah Saluran Bondoyudo yang sebagian sejajar dengan jalan poros Lumajang-Jember dan ratusan kilometer jaringan sekunder serta tertiernya. Kebutuhan air bersih untuk giling dan keperluan lainnya juga tercukupi dari sumber yang dikenal sebagai Bron Gebouw di Desa Jatiroto Lor, kira-kira lima kilometer sebelah utara lokasi PG.

Dalam Suara PG Djatiroto (Edisi 2, 2003) disebutkan, rencana pendirian PG ini diputuskan tahun 1884. Pelaksanaan babat hutan dimulai tahun 1901, pembangunan pabrik tahun 1905, dan kegiatan giling pertama tahun 1910.Nama "Djatiroto" sebenarnya baru mulai dipakai tahun 1912 saat kapasitas giling ditingkatkan menjadi 2.400 TTH. Sejak berdiri sampai penggantian nama, pabrik ini menggunakan nama PG Ranupakis. Tidak dijelaskan alasan penggantian nama tersebut.

Salah satu nama penting yang pernah ada dalam sejarah PG Djatiroto adalah Marinus Vertreg. Beliau adalah seorang ahli kimia pergulaan dan astronom terkemuka di akhir hidupnya.
Hal yang paling menarik saat mengingat Jatiroto adalah damnya yang fenomenal. Bahkan di e-bay dijual sebuah postcard bergambar dam Jatiroto lama bergamabar seperti ini:

Mengenai dam Jatiroto sebenarnya pernah dituliskan dalam sebuah buku tentang pengairan di Jawa yang berjudul Burgerlijke Openbare Werken, buku ini adalah salah satu koleksi ANRI Jatim, tapi maaf hasil riset terakhir tentang dam Jatiroto yang lengkap belom saya dapat. tapi seandainya ingin menyimak perjalanan sejarah (napak tilas) menarik yang dilakukan oleh cucu pembuat dam tersebut dapat dilihat di alamat ini:
http://esduren.multiply.com/journal/item/86

Makalah menarik dapat diunduh di internet mengenai sejarah perkebunan Jawa (HVA-Handelsvereniging Amsterdam-Trading Association Amsterdam) dengan judul Defeatism is Our Worst Enemy: Rehabilitation, reorientation, and Indonesianisasi at Internatio and HVA, 1945-1958 karangan J. van de Kerkhof. bisa digoogling kok.

Jatiroto: Sebuah catatan


Reportase: Winda Savitri
--------------------------

Wihiy! kurang lebih 30 hari sudah berkutat di kota kecil Jatiroto di kabupaten Lumajang, saya pun merasakan sejuta hiruk pikuk a smallville yang super sibuk ini! Komplit juga dengan nuansa tradisional yang masih sangat kenta. ebanyakan masyarakat Jatiroto sendiri memiliki darah campuran antara Jawa-Madura, Mungkin itu juga yang menyebabkan masyarakat Jatiroto memiliki culture yang unik. Awalnya pun saya bingung saat harus harus berkomunikasi dengan warga sekitar, untung saja ada teman saya yang asli Jatiroto siap menerjemahkan percakapan kami.

Kehidupan di Jatiroto sendiri termasuk padat, sebagian besar warga Jatiroto bekerja di PG Djatiroto yang melegenda itu. Pabrik gula yang merupakan kenang-kenangan dari Belanda ini mampu mencukupi hampir 80 persen kehidupan penduduk asli Jatiroto. Bahkan hingga tujuh turunan! Karena adanya parik ini sungguh sangat membawa berkah bagi masyarakat sekitarnya. Asetnya yang meliputi hektaran kebun tebu dan hasil bumi cukup untuk membuat warga Jatiroto hidup sentausa. Dan rata-rata setiap warga asli Jatiroto memiliki kurang lebih dua hektar tanah yang disewakan kepada PG Djatiroto, ini juga yang membuat banyak warga Jatiroto enggan untuk meninggalkan kampung halamannya.

Suasana alam di Jatiroto cukup mengasyikkan. Seandainya sempat merasakan pagi hari di Jatiroto, maka anda akan merasakan dinginya pagi alam desa, apalagi aroma tebu yang dibawa angin semakin menambah segar suasana. Pagi di Jatiroto dinginya berkisar 22-27 derajat celcius, dan bisa lebih dingin di saat-saat tertentu. Apalagi Jatiroto memiliki curah hujan yang cukup tinggi.

Masyarakat Jatiroto memiliki tradisi unik Ater-ater, tradisi mengirimkan makanan sebelum dan setelah seseorang memiliki hajat yang melibatkan orang kampung. Biasanya yang digunakan adalah rantang yang sampai bertingkat empat. Isinya pun beragam, jajan pasar, nasi, lauk pauk, hingga piring. Saking seringnya, dalam seminggu setiap penduduk biasanya menerima dua hingga empat kali ateran, wow hidup yang makmur bukan!

Sore hari di Jatiroto ditandai dengan berakhirnya deru mesin giling di pabrik gula, para pekerja pabrik pun bersama-sama pulang membawa sisa letih sehari. Tak jarang warga yang setelah bekerja di pabrik melanjutkan pekerjaan mencari rumput. Aktifitas pun berakhir. Tetapi hal semacam ini tidak akan ditemui pada masa giling (setelah panen) karena aktifitas pabrik ditingkatkan menjadi 24 jam dengan pekerja yang bergantian.

Malam hari pun tidak disia-siakan oleh para pemuda dan anak kecil, kegemaran mereka adalah mencari jamur Blotong. Dengan petromak di tangan kiri dan sekop di tangan kanan, malam-malam dingin mereka lalui dengan mengais tanah humus. Warna putihnya yang cerah sangat cocok dengan rasa jamur ini yang cukup lezat. Cukup dengan 5000 rupiah Anda pun dapat membawa pulang satu kantong penuh jamur, diolah apapun rasanya tetap mak nyus! O ya seandainya Anda tertarik membeli tahu campur di Jatiroto, maka yang Anda temui bukanlah tahu capur ala Lamongan yang berkuah, tetapi mungkin lebih menyerupai tahu tek Surabaya. Jangan sampai tertipu oleh namanya.

Malam hari di Jatiroto masih cukup ramai, apalagi jika menyempatkan diri ke alun-alun seandainya beruntung Anda akan bertemu dengan layar tancep yang rutin diputar masyarakat sana sebagai hiburan rakyat. Saat saya lihat pun filmnya cukup modern: King Kong. Layaknya bioskop outdoor, masyarakat sana sudah cukup nyaman dengan tikar dan koran. Apalagi ditemani kacang rebus yang masih panas.

Fenomena yang cukup umum di Jatiroto adalah nikah muda. Rata-rata masyarakat Jatiroto menikahkan anak di umurnya yang belum genap 20 tahun. Orang tua gadis yang berumur 18 tahun dan sudah dirasa cukup baligh harus siap menerima lelaki yang datang untuk meminang anak gadisnya. Pesta pernikahan pun dirayakan dengan suka cita. Sound yang memutar lagu dangdut melayu pun menggetarkan jalan-jalan aspal yang sudah mulai hancur karena ban truk. Biasanya pesta pernikahan dilaksanakan tiga hari-tiga malam.

Jatiroto, sebuah kota kecil sejak jaman londo ini membuat saya rindu. Rindu akan hangatnya alam desa. Rindu akan kehidupan guyub yang tidak saya dapatkan di Surabaya.

8/16/07

Sebuah Otokritik Kemerdekaan

Sebenernya ini bukan murni tulisan saya, cuma tulisan adik kelas yang mau masukin tulisan ke ITS Online, tapi karakter tulisannya kurang dari 400 biji, jadi aku tambahin di tengah (dibuka dan tutup oleh dua tanda ***) jelas banget kan perbedaannya:D
okeh, malam ini tanggal 16 Agustus, besok kemerdekaan. Dirgahayu!
---------------------------------------------------------------------Bulan Agustus adalah bulan yang bersejarah, terutama bagi bangsa Indonesia. Karena di bulan inilah Negara Indonesia diproklamirkan. Sekedar mengingat sejarah, kemerdekaan negara yang kita cintai ini diperoleh berkat inisiatif para pemuda-pemudi Indonesia, yang menculik Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dan memaksa keduanya sesegera mungkin memproklamirkan kemerdekaan NKRI di tengah-tengah kekosongan kekuasaan dari pendudukan Jepang.

Berkat dorongan dari para pemuda, akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kini, telah sampai waktunya untuk merayakan kemerdekaan tersebut, tepatnya pada tanggal 17 Agustus nanti, genap 62 tahun sudah usia NKRI. Namun, tak ada yang berbeda dari perayaan di tahun–tahun sebelumnya. Sebut saja, umbul- umbul yang telah banyak terpampang di jalan raya tak terkecuali di daerah perkampungan. Bahkan ada yang tidak segan–segan lagi untuk merogoh koceknya untuk sekedar menghias pekarangannnya sendiri. Tak sekedar hanya itu saja, lomba–lomba di perkampungan pun telah semarak diadakan. Seperti: lomba makan kerupuk, lomaba sepak bola yang diimprovisasi dengan kostum pemain perempuan hingga panjat pinang dan rakyat pun menyambutnya dengan gagap gempita.

Dari sekian banyak perayaan tentu saja yang utama adalah upacara kemerdekaan yang dilakukan hampir seluruh rakyat Indonesia di hari yang sakral itu, ini semua adalah usaha untuk mengenang seluruh perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan harta, jiwa, dan raganya untuk kemerdekaan RI. Rasa senang sudah pasti dimiliki setiap rakyat Indonesia, karena hidup dan tinggal di negara yang sudah merdeka dan bebas dari penjajah. Akan tetapi, pernahkah terlintas dalam pikiran kita sebuah pertanyaan besar; apakah benar, negara ini sudah merdeka seutuhnya?

Sedihnya, kebahagiaan semacam ini hanya berlangsung dalam sekejap dan hanya menjadi euforia. Karena setelah itu, kita semua akan bertemu lagi dengan masalah–masalah yang sedang menghantui negara ini dan rakyat pun meronta–ronta untuk segera dicarikan solusinya. Seperti kasus lumpur panas Lapindo, masalah TKI dan penganggurannya, kemiskinan yang terus merajalela, biaya pendidikan yang terus melambung tinggi, dan biaya pengobatan yang semakin mencekik.

***
Saya percaya perjuangan selalu saja dimulai dari generasi muda. Contoh yang paling gamblang tentu saja peristiwa proklamasi yang dimulai dari peristiwa Rengasdengklok. Seandainya saja Ir. Soekarno tetap menuruti kata kaum tua yang menghendaki lain bisa jadi kemerdakaan Indonesia tidak dirayakan pada tanggal 17 Agustus, bahkan mungkin tidak sama sekali.

Sayangnya semangat itu memudar kini, jiwa muda yang bergejolak menentang tirani sekarang sudah tidak terdengar gaungnya lagi. Bisa jadi para pemuda pemudi negeri ini sudah cukup nyaman meringkuk di balik selimut hangat kemerdekaan. Atau mungkin sibuk berasyik masyuk dengan segala macam fasilitas dan teknologi yang melemahkan. Banyak pemuda di negeri ini tanpa sadar telah menafikkan realitas sosial di sekitarnya; mendandani diri sampai silap dan emoh menoleh keadaan masyarakat di sekelilingnya. Nampaknya mereka tidak pernah paham bagaimana negeri ini dibentuk, tentu saja dengan darah dan air mata moyang mereka. Padahal jauh-jauh hari Pramoedya Ananta Toer bertuah dalam novel tetraloginya, Jejak langkah; "Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya”.

Sungguh negeri ini membutuhkan sosok pemuda yang kokoh dan sadar akan tanggung jawabnya. Pemuda yang di dalam dirinya tertanam identitas diri sebagai orang Indonesia yang kuat. Tidak hanya slogan semata. Sosok muda yang segar dan mampu memberikan nafas baru perubahan pada segala problem bangsa yang menghadang. Sosok muda yang dinanti sebagai satrio piningit yang membebaskan.

Saya jadi ingat sosok seorang teman dari FTK ITS yang selalu berusaha melewatkan upacara kemerdekaan setiap tahun di Istana Merdeka walau hanya di luar pagarnya saja. Meskipun jauh hari sebelumnya ia harus rela berlapar untuk menebus tiket ekonomi ke Jakarta nanti. Saat ditanya dia hanya beralasan,”Lebih enak upacara di Istana, lebih menggetarkan!” ujarnya. Bisa jadi di pundak kecilnyalah masa depan negeri ini dititipkan.
***

Sudah 62 tahun negara ini merdeka. Kalau diibaratkan dengan umur manusia, 62 tahun telah dikategorikan sebagai yang cukup sepuh dan jika dipaksakan untuk bekerja maka hasilnya pun tidak dapat maksimal. Akan tetapi, jika diibaratkan dengan gaung seekor singa, semakin berumur singa itu maka gaungnya pun akan semakin terdengar dari kejauhan. Besar harapan di seluruh hati rakyat Indonesia tentunya, semoga Indonesia tidak seperti manusia yang sudah sepuh akan tetapi Indonesia dapat menjadi seekor singa yang gaungnya terus terdengar hingga sepanjang masa. Dirgahayu!

Siti Makatur Rohmah
Mahasiswa Biologi ITS
editing+nambah sitik di tengah: Ayos Purwoaji:)

8/12/07

Kupu-Kupu Dari Papua

Hai yos,
Saya dengan teman-teman baru balik dari Pulau Supiori, kalo ayos lihat di peta pulaunya ampir nyambung dengan Pulau Biak. Kampung saya di pulau itu yos. Perjalannnya menyenangkan skali, karena kita mengunjungi salah satu kampung yang belum pernah saya datangi.
Kalo ayos dah lihat keindahan alam Papua lewat film, lebih seru lagi kalo ayos lihat langsung dari dekat, passsssti lebih seru....
Selama survey, kita banyak dapat tambahan data kupu-kupu untuk melengkapi data kupu-kupu yang sudah ada sebelumnya di Pulau Biak dan sekitarnya.
Bruder Henk juga senang karena kita dapat jenis kupu-kupu Delias yang belum ada dikoleksinya selama melakukan survey kupu-kupu.
Besok pagi kita mau lanjutkan perjalanan ke Kepulauan Padaido, masih masuk daerah Biak juga. Yah, kalo ayos pernah dengar nama kepulauan itu, katanya sih kepulauan itu kaya akan keindahan alam bawah lautnya. Saya juga baru pertama kali mau menuju ke sana.
Kita rencana survey 1 minggu di sana, nanti tanggal 19 baru pulang ke Jayapura.
Ok yos, itu aja cerita singkat dari saya, nanti saya sambung lagi kalo dah balik ke Jayapura.

Salam,
Evie
itu adalah sebait surat elektronik yang ditulis oleh sahabat saya Evie Warikar. Saya bertemu dengan Evie pada pertengahan tahun lalu, saat Jurusan Biologi ITS mengadakan seminar nasional. Evie dan beberapa temannya yang datang dari universitas Cenderawasih turut hadir dalam acara tersebut. Saat itu-seingat saya-Evie mengenakan pakaian batik dengan corak khas Papua. Setelah melakukan wawancara untuk ITS Online saya baru tahu kalau dia adalah seorang entomolog (peneliti serangga), khususnya kupu-kupu. dari ceritanya juga saya baru tahu kalau Evie adalah seorang peneliti asuhan Bruder Henk, seorang entomolog terkenal yang mengabdikan diri untuk kupu-kupu papua. Saya sendiri tau Bruder Henk setelah membaca sebuah artikel di Kompas beberapa waktu sebelum bertemu Evie.meskipun masih muda, sahabat saya ini sungguh kaya akan pengalaman. saya jadi semakin iri dibuatnya, jujur sampai saat ini saya belun pernah beranjak dari Jawa, paling banter ke Madura dan Bali. evie sendiri sudah jauh menembus kedalaman papua, mungkin dia sudah hafal lekuk jalan di pegunungan cyclops sampe mamberamo, terakhir dia ekspedisi ke biak. dari surat-surat yang dikirimnya dia menggambarkan betapa indah negeri ini. sungguh, saya semakin iri, dan itu membuat saya berfantasi, kapan saya bisa mengunjungi tempat lain di nusantara, lalu mengagguminya dan saya pun bersyukur menjadi orang Indonesia. selama ini kita selalu disodori fakta mengenai bobrok dan buruknya negeri ini; gempa bumi, banjir, lumpur panas, korupsi, omongkosong politik, pembunuhan, perkosaan. semua membanjiri layar kaca, lha trus kapan kita (generasi muda) ini mau diajari untuk mencintai negeri ini.

bagi saya, mencintai itu harus dimulai dengan keindahan. sungguh, anak negeri ini butuh tayangan yang membangkitkan gelora cinta, tentu saja itu haruslah sebuah tayangan yang indah. contohnya saja iklan rumahku indonesiaku dan cahaya asa yang digarap dengan apik, tentu saja ini akan membangkitkan semangat keindonesiaan yang kita miliki. beberapa waktu yang lalu saya sempat browsing ke youtube dan menemukan beberapa video yang sangat unik dan menggetarkan, sayang rasanya jika video ini tidak dishare, apalagi mumpung evennya menyambut tujuhbelasan. ini link buat videonya; rayuan pulau kelapa, indonesia tanah pusaka, indonesia tanah air. dijamin, abis nonton ini pasti pada kagum ma indonesia, ya iyalah, lha wong indonesia itu subhanallah indahnya...

Bagi saya, berkenalan dengan evie mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah nasionalisme. selama ini kita melihat nasionalisme sebagai sesuatu yang absurd dan tidak mudah dimengerti oleh anak muda. tapi evie mengajarkan bahwa nasionalisme dapat berbentuk apa saja. bagi anak muda seperti evie, mungkin lebih enak duduk di lounge starbuck sembari menyeruput coffee-latte dan ditemani majalah harpers bazaar, mungkin juga lebih lengkap saat ditemani oleh pemutar musik digital:iPod yang tak henti-henti memutarkan lagi dari gigaan koleksinya. tapi evie memilih jalan yang tidak populer, bersama tim dia menyusuri jalan-jalan lembab hutan papua yang masih jauh dari polusi, bersahabat dengan alam dan menginventarisir kekayaan negeri sebagai surga yang hilang ini lalu menyiarkannya pada dunia.

untuk mengetahui lebih banyak mengenai kegiatan evie dan rekan-rekan dapat mengunjungi situs:
papua insect
versi indonesianya
satu film menarik yang dapat diputar dalam semangat menyambut tujuhbelasan saya rekomendasikan untuk menonton film Denias. semoga dapat menginspirasi!