Pages

8/19/07

Jatiroto: Fakta Singkat

Research: Ayos Purwoaji
Image: www

-------------------------
Saat berkuasa Ratu Wilhelmina pernah berkunjung Jatiroto sebagai ungkapan syukur karena pabrik gula Dajtiroto memberikan keuntungan yang sangat besar, sekitar 20 persen setiap tahunnya, sehingga mampu menyelamatkan perekonomian Negeri Kincir Angin.

PG Djatiroto saat ini menduduki peringkat teratas dari 17 PG yang bernaung di bawah PTPN XI (PT Perkebunan Nusantara XI). Provinsi Jawa Timur yang menjadi wilayah kerja 33 PG dari 57 PG di Pulau Jawa selama ini menyumbang sekitar 50 persen produksi gula nasional. PG ini memiliki lahan hak guna usaha (HGU) lebih dari 6.000 hektar, di antaranya tanah sawah seluas 4.511 hektar. Tanah HGU inilah yang menopang PG dalam memenuhi kebutuhan bahan baku (tebu) sehingga pengaturan masa gilingnya bisa dilakukan dengan baik. Ditutupnya beberapa PG di Jawa terutama disebabkan kekurangan bahan baku karena mengandalkan pada pasokan tebu rakyat yang jumlahnya setiap tahun sangat fluktuatif.

Lokasi PG Djatiroto memang ideal. Iklimnya sangat cocok untuk tanaman tebu, suhu udara 25-27 derajat Celsius dengan kelembaban udara 70-83 persen. Lama penyinaran matahari 40-80 persen, tipe iklim C dan D dengan curah hujan 1.860 milimeter per tahun. Kondisi alam yang cocok untuk perkebunan tebu tersebut masih ditunjang dengan sistem pengairan yang baik dan debit air yang mencukupi. Saluran primer pengairan yang dibangun pada zaman Belanda dulu adalah Saluran Bondoyudo yang sebagian sejajar dengan jalan poros Lumajang-Jember dan ratusan kilometer jaringan sekunder serta tertiernya. Kebutuhan air bersih untuk giling dan keperluan lainnya juga tercukupi dari sumber yang dikenal sebagai Bron Gebouw di Desa Jatiroto Lor, kira-kira lima kilometer sebelah utara lokasi PG.

Dalam Suara PG Djatiroto (Edisi 2, 2003) disebutkan, rencana pendirian PG ini diputuskan tahun 1884. Pelaksanaan babat hutan dimulai tahun 1901, pembangunan pabrik tahun 1905, dan kegiatan giling pertama tahun 1910.Nama "Djatiroto" sebenarnya baru mulai dipakai tahun 1912 saat kapasitas giling ditingkatkan menjadi 2.400 TTH. Sejak berdiri sampai penggantian nama, pabrik ini menggunakan nama PG Ranupakis. Tidak dijelaskan alasan penggantian nama tersebut.

Salah satu nama penting yang pernah ada dalam sejarah PG Djatiroto adalah Marinus Vertreg. Beliau adalah seorang ahli kimia pergulaan dan astronom terkemuka di akhir hidupnya.
Hal yang paling menarik saat mengingat Jatiroto adalah damnya yang fenomenal. Bahkan di e-bay dijual sebuah postcard bergambar dam Jatiroto lama bergamabar seperti ini:

Mengenai dam Jatiroto sebenarnya pernah dituliskan dalam sebuah buku tentang pengairan di Jawa yang berjudul Burgerlijke Openbare Werken, buku ini adalah salah satu koleksi ANRI Jatim, tapi maaf hasil riset terakhir tentang dam Jatiroto yang lengkap belom saya dapat. tapi seandainya ingin menyimak perjalanan sejarah (napak tilas) menarik yang dilakukan oleh cucu pembuat dam tersebut dapat dilihat di alamat ini:
http://esduren.multiply.com/journal/item/86

Makalah menarik dapat diunduh di internet mengenai sejarah perkebunan Jawa (HVA-Handelsvereniging Amsterdam-Trading Association Amsterdam) dengan judul Defeatism is Our Worst Enemy: Rehabilitation, reorientation, and Indonesianisasi at Internatio and HVA, 1945-1958 karangan J. van de Kerkhof. bisa digoogling kok.

4 comments:

SMS said...

Terimakasih......... telah menuliskan catatan tentang "Jatiroto" tempat dmn aku memulai perjalanan hidup.... merangkak, berjalan, dan berlari...... menantang hidup....

MARTHOCENDOL said...

ku punya fotonya PG Jatiroto tempo doeloe silakan kunjungi ku di
hamparan pasir semeru
moga bermanfaat

MARTHOCENDOL said...

ku punya foto jaman dulunya
di
sini moga bermanfaat

MARTHOCENDOL said...

foto jaman dulunya coba liat di hamparan pasirsemeru.blogspot.com