Pages

8/19/07

Jatiroto: Sebuah catatan


Reportase: Winda Savitri
--------------------------

Wihiy! kurang lebih 30 hari sudah berkutat di kota kecil Jatiroto di kabupaten Lumajang, saya pun merasakan sejuta hiruk pikuk a smallville yang super sibuk ini! Komplit juga dengan nuansa tradisional yang masih sangat kenta. ebanyakan masyarakat Jatiroto sendiri memiliki darah campuran antara Jawa-Madura, Mungkin itu juga yang menyebabkan masyarakat Jatiroto memiliki culture yang unik. Awalnya pun saya bingung saat harus harus berkomunikasi dengan warga sekitar, untung saja ada teman saya yang asli Jatiroto siap menerjemahkan percakapan kami.

Kehidupan di Jatiroto sendiri termasuk padat, sebagian besar warga Jatiroto bekerja di PG Djatiroto yang melegenda itu. Pabrik gula yang merupakan kenang-kenangan dari Belanda ini mampu mencukupi hampir 80 persen kehidupan penduduk asli Jatiroto. Bahkan hingga tujuh turunan! Karena adanya parik ini sungguh sangat membawa berkah bagi masyarakat sekitarnya. Asetnya yang meliputi hektaran kebun tebu dan hasil bumi cukup untuk membuat warga Jatiroto hidup sentausa. Dan rata-rata setiap warga asli Jatiroto memiliki kurang lebih dua hektar tanah yang disewakan kepada PG Djatiroto, ini juga yang membuat banyak warga Jatiroto enggan untuk meninggalkan kampung halamannya.

Suasana alam di Jatiroto cukup mengasyikkan. Seandainya sempat merasakan pagi hari di Jatiroto, maka anda akan merasakan dinginya pagi alam desa, apalagi aroma tebu yang dibawa angin semakin menambah segar suasana. Pagi di Jatiroto dinginya berkisar 22-27 derajat celcius, dan bisa lebih dingin di saat-saat tertentu. Apalagi Jatiroto memiliki curah hujan yang cukup tinggi.

Masyarakat Jatiroto memiliki tradisi unik Ater-ater, tradisi mengirimkan makanan sebelum dan setelah seseorang memiliki hajat yang melibatkan orang kampung. Biasanya yang digunakan adalah rantang yang sampai bertingkat empat. Isinya pun beragam, jajan pasar, nasi, lauk pauk, hingga piring. Saking seringnya, dalam seminggu setiap penduduk biasanya menerima dua hingga empat kali ateran, wow hidup yang makmur bukan!

Sore hari di Jatiroto ditandai dengan berakhirnya deru mesin giling di pabrik gula, para pekerja pabrik pun bersama-sama pulang membawa sisa letih sehari. Tak jarang warga yang setelah bekerja di pabrik melanjutkan pekerjaan mencari rumput. Aktifitas pun berakhir. Tetapi hal semacam ini tidak akan ditemui pada masa giling (setelah panen) karena aktifitas pabrik ditingkatkan menjadi 24 jam dengan pekerja yang bergantian.

Malam hari pun tidak disia-siakan oleh para pemuda dan anak kecil, kegemaran mereka adalah mencari jamur Blotong. Dengan petromak di tangan kiri dan sekop di tangan kanan, malam-malam dingin mereka lalui dengan mengais tanah humus. Warna putihnya yang cerah sangat cocok dengan rasa jamur ini yang cukup lezat. Cukup dengan 5000 rupiah Anda pun dapat membawa pulang satu kantong penuh jamur, diolah apapun rasanya tetap mak nyus! O ya seandainya Anda tertarik membeli tahu campur di Jatiroto, maka yang Anda temui bukanlah tahu capur ala Lamongan yang berkuah, tetapi mungkin lebih menyerupai tahu tek Surabaya. Jangan sampai tertipu oleh namanya.

Malam hari di Jatiroto masih cukup ramai, apalagi jika menyempatkan diri ke alun-alun seandainya beruntung Anda akan bertemu dengan layar tancep yang rutin diputar masyarakat sana sebagai hiburan rakyat. Saat saya lihat pun filmnya cukup modern: King Kong. Layaknya bioskop outdoor, masyarakat sana sudah cukup nyaman dengan tikar dan koran. Apalagi ditemani kacang rebus yang masih panas.

Fenomena yang cukup umum di Jatiroto adalah nikah muda. Rata-rata masyarakat Jatiroto menikahkan anak di umurnya yang belum genap 20 tahun. Orang tua gadis yang berumur 18 tahun dan sudah dirasa cukup baligh harus siap menerima lelaki yang datang untuk meminang anak gadisnya. Pesta pernikahan pun dirayakan dengan suka cita. Sound yang memutar lagu dangdut melayu pun menggetarkan jalan-jalan aspal yang sudah mulai hancur karena ban truk. Biasanya pesta pernikahan dilaksanakan tiga hari-tiga malam.

Jatiroto, sebuah kota kecil sejak jaman londo ini membuat saya rindu. Rindu akan hangatnya alam desa. Rindu akan kehidupan guyub yang tidak saya dapatkan di Surabaya.

18 comments:

Anonymous said...

mabak enak ya di jatiroto...saya anak asli jatiroto...tp lagi merantau,dah 2 tahun saya tidak merasakan indah,segar dan hiruk pikuknya suasana pagi di jatiroto....kangen pengen pulang..makasih dah nulis tentang jatiroto..an664me@yahoo.com

revo zone said...

Nice...menyenangkan membaca tulisan tentang Jatiroto. 30 tahun lalu, saya lahir disana, hingga beranjak remaja dan pindah ke Surabaya, sampai akhirnya sekarang terdampar di tengah hutan belantara beton Jakarta. Thanks atas memori nostalgianya....

revolusi.riza@trans7.co.id

winda said...

Yup,,Sama-sama mas...
seneng jg baca komentarnya :)
trimakasih banyak...

Yudie said...

mbak Winda, thanks utk tulisannya tentang Jatiroto... bener2 Smallville bagi saya..
Saya lahir, tumbuh, sekolah dan besar di Jatiroto... sekarang saya jauh di Jakarta...tapi Jatiroto tetep dihati saya, dan saya bangga sebagai orang asli Jatiroto... thanks mbak Winda..

heryes said...

mmm.. nice.. yup, bener-bener nice. mengenang masa lalu dan sejuta atmosfir yang menyelimutinya, makasih ya atas nostalgianya. i miss my smallvile jatiroto.. :) h@inggih.com

winda said...

wah, senang bisa berbagi cerita mas :)
secara tidak langsung turut mensukseskan program pulang kampung, hehey...

Pelatihan Gender said...

Waduh Mbak Aku Bener-bener "gak karuan" perasaan membaca tentang kampung halamanku tercinta. cerita itu tambah seru kalau kuliner khas Jatiroto ada seperti nasi jagung, pastel dan lumpurnya soponyono. dan lebih seru lagi kalau diceritain sungai bondoyudo dengan pesonanya... salam semua buat temen temen Jatiroroto di perantauan. Dari Wahyudi arek kaliboto Lor Di Sukabumi Jawa Barat Matur nuhun ya Mbak.

Pelatihan Gender said...

Mbak waktu aku baca tentang jatiroto wah rasanya "gak karuan" langsung teringat masa masa kecil di kampung halamanku. matur nuwun. salam untuk temen temen dari Wahyudi arek Kaliboto Lor yang sekarang mukim Di sukabumi Jabar.

henggar said...

Ikut seneng n ikut nimbrung gpp kan... tulisannya its ike,cuman kirain jatiroto wonogiri...
Salam ya buat teman2 jatiroto di jatim,kita sama2 dari jatiroto namun beda tempat hehe

Anonymous said...

Djatiroto.....

sebagian masa kecil saya (s/d 3 thn ) ada disitu...Bangga punya kampung halaman Djatiroto.

cerita papa : Pernah bekas ADM Belanda yang cinta banget sama Djatiroto mbelain datang (sekitar akhir tahun 60'an) hanya menyakinkan bahwa bondoyudo canal masih terpelihara baik. (sampai sekarang khan..!)

Terimakasih telah menulis tentang Djatiroto.....(jadi teringat papa & mama yang sangat bangga dengan Djatiroto)

Mbak Winda, keep on writing, ya....

winda said...

wah, trimakasih banyak untuk semangatnya :)

badrun said...

aku merindukanmu Jatirotoku....

Sangat merindukanmu...

badrunagni@gmail.com

DS said...

mbak WINDA, kok bisa kesasar ke JATIROTO ? eniwe, tulisan anda menggugah banyak kenangan orang orang yg pernah tinggal di Jatiroto ... termasuk saya ..... saya gak pernah tinggal lama di Jatiroto, hanya setiap libur sekolah menengok orang tua yang bekerja di pabrik gula disana .... very nostalgic ...

NUR ABDUL said...

salam kenal mbak winda
saya jadi kangen dengan jatiroto, saya lahir dan besar kota gula itu, memang gak bisa dilupain apalagi suasana waktu malam nongkrongin alun-alun, karna mak saya jualan nasi goreng yang kata orang jatiroto nasgornya mak saya melegenda "WARUNG DALOE" Pengennya sih suamiku dapat kerja di pg jatiroto biar saya bisa menetap lagi dijatiroto dan juga bisa merawat bapakku yang pensiunan satpam pg jatiroto.iim batam

Zainur Rohman said...

Thanks tulisanya ya Mbak..
Saya Zainur Rohman asal Kaliboto Lor, Jatiroto yang tahun 1983 lulus dari SMPN 1 Jatiroto.
Alhamdulillah.. aku dibesarkan di Kota kecil yang ramah ini..
sejak lulus SMA Rojopolo, aku hijrah ke Kalimantan, kini aku di Samarinda -KALTIM

Salam untuk semua pemilik kenangan indah Jatroto.

Alfan Junaidi said...

Saya terharu sekali membaca postingan ini.....
oh ya,saya memang lahir di Malang,namun sejak usia satu bulan alias msh bayi saya diboyong oleh ortu ke Jatiroto,tepatnya Desa Kaliboto Dusun Curahwedi.Maka masa kecil sampai dewasa pun saya lalui disana,sampe2 saya ngerasa Jatiroto lah tanah kelahiran saya.
Saat ini aku tinggal di Malang,namun Jatiroto tak pernah hilang di hati saya,aku selalu rindu kota tercinta Jatiroto
Salam hangat tuk anak2 Jatiroto semua ya...

anggreni pratiwi said...

mbak winda, saya mahasiswa sejarah dari salah satu universitas di malang. saya ingin melakukan penelitian untuk tugas akhir saya tentang pabrik gula di jatiroto. kajiannya masih belum saya tentukan, karena masih dalam proses mencari problem topik. yang ingin saya tanyakan, apakah ada masalah sosial yang fenomenal yang terjadi antara buruh dengan PG.Jatiroto selama perkembangan pabrik? mohon bantuannya mbak,, terima kasih.

anggreni pratiwi said...

mbak winda, pernahkah di PG.Jatiroto terjadi sebuah konflik antara buruh pabrik dengan pabrik? atau masalah sosial lain yang fenomenal mengenai buruh pabrik selama perkembangan PG.Jatiroto? mohon bantuannya. terima kasih