Pages

8/12/07

Kupu-Kupu Dari Papua

Hai yos,
Saya dengan teman-teman baru balik dari Pulau Supiori, kalo ayos lihat di peta pulaunya ampir nyambung dengan Pulau Biak. Kampung saya di pulau itu yos. Perjalannnya menyenangkan skali, karena kita mengunjungi salah satu kampung yang belum pernah saya datangi.
Kalo ayos dah lihat keindahan alam Papua lewat film, lebih seru lagi kalo ayos lihat langsung dari dekat, passsssti lebih seru....
Selama survey, kita banyak dapat tambahan data kupu-kupu untuk melengkapi data kupu-kupu yang sudah ada sebelumnya di Pulau Biak dan sekitarnya.
Bruder Henk juga senang karena kita dapat jenis kupu-kupu Delias yang belum ada dikoleksinya selama melakukan survey kupu-kupu.
Besok pagi kita mau lanjutkan perjalanan ke Kepulauan Padaido, masih masuk daerah Biak juga. Yah, kalo ayos pernah dengar nama kepulauan itu, katanya sih kepulauan itu kaya akan keindahan alam bawah lautnya. Saya juga baru pertama kali mau menuju ke sana.
Kita rencana survey 1 minggu di sana, nanti tanggal 19 baru pulang ke Jayapura.
Ok yos, itu aja cerita singkat dari saya, nanti saya sambung lagi kalo dah balik ke Jayapura.

Salam,
Evie
itu adalah sebait surat elektronik yang ditulis oleh sahabat saya Evie Warikar. Saya bertemu dengan Evie pada pertengahan tahun lalu, saat Jurusan Biologi ITS mengadakan seminar nasional. Evie dan beberapa temannya yang datang dari universitas Cenderawasih turut hadir dalam acara tersebut. Saat itu-seingat saya-Evie mengenakan pakaian batik dengan corak khas Papua. Setelah melakukan wawancara untuk ITS Online saya baru tahu kalau dia adalah seorang entomolog (peneliti serangga), khususnya kupu-kupu. dari ceritanya juga saya baru tahu kalau Evie adalah seorang peneliti asuhan Bruder Henk, seorang entomolog terkenal yang mengabdikan diri untuk kupu-kupu papua. Saya sendiri tau Bruder Henk setelah membaca sebuah artikel di Kompas beberapa waktu sebelum bertemu Evie.meskipun masih muda, sahabat saya ini sungguh kaya akan pengalaman. saya jadi semakin iri dibuatnya, jujur sampai saat ini saya belun pernah beranjak dari Jawa, paling banter ke Madura dan Bali. evie sendiri sudah jauh menembus kedalaman papua, mungkin dia sudah hafal lekuk jalan di pegunungan cyclops sampe mamberamo, terakhir dia ekspedisi ke biak. dari surat-surat yang dikirimnya dia menggambarkan betapa indah negeri ini. sungguh, saya semakin iri, dan itu membuat saya berfantasi, kapan saya bisa mengunjungi tempat lain di nusantara, lalu mengagguminya dan saya pun bersyukur menjadi orang Indonesia. selama ini kita selalu disodori fakta mengenai bobrok dan buruknya negeri ini; gempa bumi, banjir, lumpur panas, korupsi, omongkosong politik, pembunuhan, perkosaan. semua membanjiri layar kaca, lha trus kapan kita (generasi muda) ini mau diajari untuk mencintai negeri ini.

bagi saya, mencintai itu harus dimulai dengan keindahan. sungguh, anak negeri ini butuh tayangan yang membangkitkan gelora cinta, tentu saja itu haruslah sebuah tayangan yang indah. contohnya saja iklan rumahku indonesiaku dan cahaya asa yang digarap dengan apik, tentu saja ini akan membangkitkan semangat keindonesiaan yang kita miliki. beberapa waktu yang lalu saya sempat browsing ke youtube dan menemukan beberapa video yang sangat unik dan menggetarkan, sayang rasanya jika video ini tidak dishare, apalagi mumpung evennya menyambut tujuhbelasan. ini link buat videonya; rayuan pulau kelapa, indonesia tanah pusaka, indonesia tanah air. dijamin, abis nonton ini pasti pada kagum ma indonesia, ya iyalah, lha wong indonesia itu subhanallah indahnya...

Bagi saya, berkenalan dengan evie mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah nasionalisme. selama ini kita melihat nasionalisme sebagai sesuatu yang absurd dan tidak mudah dimengerti oleh anak muda. tapi evie mengajarkan bahwa nasionalisme dapat berbentuk apa saja. bagi anak muda seperti evie, mungkin lebih enak duduk di lounge starbuck sembari menyeruput coffee-latte dan ditemani majalah harpers bazaar, mungkin juga lebih lengkap saat ditemani oleh pemutar musik digital:iPod yang tak henti-henti memutarkan lagi dari gigaan koleksinya. tapi evie memilih jalan yang tidak populer, bersama tim dia menyusuri jalan-jalan lembab hutan papua yang masih jauh dari polusi, bersahabat dengan alam dan menginventarisir kekayaan negeri sebagai surga yang hilang ini lalu menyiarkannya pada dunia.

untuk mengetahui lebih banyak mengenai kegiatan evie dan rekan-rekan dapat mengunjungi situs:
papua insect
versi indonesianya
satu film menarik yang dapat diputar dalam semangat menyambut tujuhbelasan saya rekomendasikan untuk menonton film Denias. semoga dapat menginspirasi!

5 comments:

Anonymous said...

wah..wah..wah..
beruntung kamu punya temen kayak Evie aku juga pengen kenalan ama dia. ada contact Number or apa kek gak?"
Di kedokteran hewan UGM aku udah lama cinta ama dunia konservasi. Aku sudah muak dengan aksi colong-cemolong satwa-satwa indah dari bumi Indonesia oleh orang Indonesia sendiri. "pemerintah juga tuh!"
Bidang yang aku sudah banyak tahu dan kenal dengan dedengkot2nya adalah dunia reptil dan primata. Kalau ditambah dunia insekta lebih seru tuh. Bahkan kalau Evie bisa nambah info tentang reptil-reptil eksotik di bumi papua aku akan seneng banget.

aklam said...

permisi mbak/mas anonymous:
sdri. evi warikar dapat anda hub dengan email: evi_warikar@yahoo.com
say kira evi akan senang sekali berkenalan dengan anda!
o ya, seandainya boleh tau nama anda siapa?
salam

Anonymous said...

Yos, it's me hendra, ur old friend who always love papua so much...

Ya begitulah papua. Banyak banget kekayaan alam yg belum diketahui publik. Setahuku di environmental department PT FI sdh beberapa buku diterbitkan mengenai berbagai flora n fauna. Tapi msh dalam bhs inggris. Kebetulan yg interest kebanyakan adalah expat.

Aku sendiri, jujur, lebih comfort tinggal di papua. Tingkat polusi dan populasi rendah (meski living cost-nya tinggi).

Gmn kalo ibukota Indonesia pindah ke papua ya? Mungkin ga akan ada lg gerakan separatis... (hus, jangan keras2 ngmong yg kaya gini, ntar ditangkap OPM lho...)

Yo wes ngono wae...

aklam said...

halo ndra, our friendship is never getting old boy! hehehe

eh yang buku terbitan env dept-nya FI kira-kira bisa kamu mintain gak ndra, aku tertarik nih, bahasa inggris yo ra popo, ntar cuman diliat gambarnya doang:) hehehe
jakarta dipindah ke papua? hmmm exciting to discuss...

Anonymous said...

Saya bahagia sekali sudah menjadi teman dia selama 2 tahun ini, karena kami menuntut ilmu di negara Der Panzer (Jerman).
Apa yg Ayos tuliskan adalah suatu kebenaran dan saya pribadi percaya dan yakin bahwa kelak Evie Lilly Warikar akan menjadi peneliti sukses yg berjiwa nasionalisme tinggi.
I willing to join the Papua Adventure expedition with her next year.
Harapan saya Ewa (panggilan Evie) tetap menjadi seorang Ewa berhati dan berwajah manis. Jangan lupakan masa2 indah kita di Goettingen.
Thanks Ayos....

salam,
Ratna