Pages

11/26/07

Sebuah Cinta yang Biasa

Oke saya mau cerita:
Saya punya langganan kuliner tahu campur di bibir pasar Keputran. Penjualnya seorang ibu paruh baya yang gendut, saya lupa namanya. Suaminya berjualan es campur di sebelahnya persis. Suaminya kurus. Mereka buka biasanya ketika rembulan muncul dari horison. Bahkan hingga larut malam, menemani para pedagang berjualan di pasar sayur. Ibu gendut ini berasal dari Malang, suaminya juga, sewaktu kecil mereka adalah tetangga. Istilah orang Jawa peknggo, dipek tonggo, dinikahi oleh tetangga sendiri.

Biasanya saya nongkrong di tempat ini sama Ruli. Setelah makan tahu campur, lalu kita menyeruput es campur perlahan ditemani potongan-potongan martabak manis keju yang dibeli di sebelahnya sambil ngobrol tentang apa saja. Jujur saja, saya sering mengamati kedua orang tua ini. Saat menunggu pelanggan, biasanya mereka duduk bareng di dipan bambu sederhana di belakang rombong mereka. Bercengkerama berdua. Kadang sang suami merebahkan kepalanya yang sudah banyak ditumbuhi uban di paha istrinya yang gemuk. Kadang saya lihat mereka juga guyon, entah guyon apa, mungkin mereka banyak menertawakan hidup. Selalu begitu. Kadang anaknya datang membawa es batu atau rajangan ketela pesanan ibunya.

Atau mungkin cerita tentang seorang bapak yang mudik tahun ini. Saya tahu karena ini adalah salah satu contoh pemudik sepeda motor yang mudah kita temui di jalur-jalur mudik, salah satunya jalur selatan Kediri-Madiun-Ngawi-Sragen. Salah satunya adalah profil seorang bapak yang dengan GL Pro-nya yang sudah tidak lagi baru. Bapak muda itu ingin mengajak seluruh keluarganya untuk berziarah ke kampung halaman di hari fitri. Bukan perkara yang mudah. Anak tertua, yang umurnya masih sekitar kelas dua esde, duduk di atas tangki bensin, tubuhnya yang ringkih harus menahan terpaan angin yang keras sepanjang perjalanan. Bapak mengemudi. Di belakang ada ibu yang tabah duduk bersandarkan kardus Indomie yang isinya baju. Ibu itu menggendong anak mereka yang kecil, yang terlelap dalam buaian. Keluarga sederhana ini harus menembus hutan gersang di Ngawi, atau menghadapi kemacetan yang selalu terjadi di pintu masuk kota Solo.

Tampaknya mereka-mereka ini acuh dengan hidup yang cukup keras ini. Bagi mereka bisa berbagi cerita sembari ditingkahi dinginnya malam sudah cukup. Mereka punya cinta. Cinta yang biasa.

Kadang aneh juga, saat cinta divisualisasikan dengan mentereng ala sinetron. Pertemuan pangeran dan putri dari dua dinasti kekayaan yang berbeda yang pada akhirnya banyak diterpa masalah yang seakan tak kunjung henti. Cukup absurd bagi saya.

Saya sendiri percaya, ada cinta yang biasa. Cinta yang bisa diraih oleh siapaapun. Cinta yang cuman butuh dipan kecil untuk bercerita. Cinta yang cuman butuh sepeda motor butut. Cinta yang cuman butuh kelokan jalan sepi. Cinta yang hinggap di sweater gelap. Cinta yang menclok di celana pendek coklat khaki. Cinta yang terikat bersama gelungan kecil rambut. Cinta yang mengkristal di antara desingan CPU. Cinta yang terjadi di kabel-kabel elektronik. Cinta yang hanyut dalam rasa nasi uduk. Cinta yang legit seperti sirup Marjan merah manis. Cinta yang cuman butuh sebuah pengakuan tulus. Cinta yang cuman butuh kepercayaan.

Saya jadi teringat sebuah sajak favorit saya. Sajak yang digubah oleh Sapardi Djoko Damono:

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

PS: foto diatas adalah foto bung Tomo dan istrinya yang sempat dimuat di Jawa Pos beberapa waktu yang lalu. Entah mengapa saya suka sekali dengan foto ini. Mengingatkan saya akan entah apa itu. Ketawa istrinya yang sederhana dan raut muka bung Tomo yang bersahaja membuat foto ini bernilai, bagi saya.

6 comments:

Anonymous said...

Mereka yang tiba-tiba hinggap, kemudian menjalar, dan tak lama, perlahan pupus.. termakan emosi sesaat..apakah bisa disebut cinta biasa? Sesederhana itukah cinta?

the_goeh said...

Weehh..terinspirasi hal2 kuliner semua ya postingan kali ini..
sajak Sapardi memang bikin mleleh...

Cinta..cinta..kayaknya berat ya..Mas *baca komen yg di atas*

ariw said...

heh.. kamu!! gendut!!
cinta ki isine bolpen iku tho? biasane warnane item po biru

Mita said...

Cintaaaaa...!
Rasyaaaaa...!

Halah!
Pusing kali ngobrolin cinta.
Maklum... lagi patah hati. (lhooo??!! khakhakhak!)

apa saja said...

aku suka eyang sapardi^^
tulisanmu boleh juga..

Anonymous said...

kamu ada dalam separuh mimpi saya*.hwe.