Pages

1/30/08

Pak Harto: Selamat Jalan...

Waduuuuhakhirnya pak harto beristirahat dalam damai. saya sendiri tahu beritanya saat sedang makan di warung gudeg Yu Jum di selokan mataram jogja. warungnya kecil deket fakultas kehutanan dan MM UGM. gudegnya maknyuuuus tenan.

kaget juga sebetulnya, mengapa begitu cepat pak harto pulang. heboh sekali pas berita mendadak itu disiarkan. dari pemilik warung sampe pengamen ikut nonton tuh siaran, saya pun tak kalah kalap untuk ikut liat! segera setelahnya saya langsung berencana sama Om Wiek untuk berangkat ke solo keesokan harinya. mau ikut nganter gituuu.

pas di solo kita langsung menuju bandara, eh ternyata para warga udah berbaris dari pertigaan kertasura sampe depan adi sumarmo! mampuuuussss. mana traffic kaco banget, pak polisi diamana-mana. yawdah, aku dan om wiek akhirnya berhenti di depan SD Colomadu sahaja. nunggu. kepanasen sampe mampus.tapi demi mbah tercinta ya dikuat-kuatin deh, hehehe.

ini beberapa foto yang saya ambil.spesial foto: ini saya kasih judul 'Di Bawah Ketek Sang Mahapatih' yoopo ciamik soro yo! hahahhaa
Loh lha foto pak hartonya mana yos? hush! kamu ini ngaco, kita itu mbok ya berlaku seperti falsafah orang jawa: mikul dhuwur mendhem jero yang artinya cetak foto yang baik mestilah yang 300 dpi! hahahahahha

1/29/08

PakAR Fisika

Huuuuh liburan memang asyik untuk belajar. belajar apa saja. pastinya pun kalian punya banyak cerita, hal baru dan ilmu baru selama liburan yang amat singkat ini. liburan memang harus selalu diniatkan untuk ngangsu kaweruh.

begitu juga saya, beruntung sekali liburan yang saya habiskan di klaten saya bisa mendapat hal-hal baru. salah satunya adalah sebuah kopdar yang lama saya idamkan dengan blogger pemilik pakarfisika.wordpress.com. ya dialah Pak AR. dari beliau saya banyak belejar mentafakuri alam ini. belajar untuk menerima bahwa kita ini sangatlah kecil, namun juga sebaliknya, kita menyimpan kekuatan besar karena tubuh kita adalah kosmis (jagad kecil) itu sendiri. ya, hubungan antara makrokosmos yang menyelimuti dan mikrokosmos yang meledak-ledak haruslah serasi. saling mengisi kalo kata orang pacaran. hehehe.

sudah lama sebenernya saya tertarik dengan alam ini, tentang planet-planet yang subhanallah kerennya. apalagi gregetan saya memuncak ketika timbul polemik penentuan awal bulan tiap tahunnya! huh kenapa ya...

dan pada sosok Pak AR lah saya banyak belajar. beliau yang mengajari saya untuk selalu menngagumi langit malam (tentu saja jika sedang tidak hujan!), dan berpikir kemanakah kita akan menuju. hoho. tentu saya sangat menaruh hormat pada guru saya yang kocak ini. maturnuwun bos.

pas kopdar kemaren saya banyak diberi pengetahuan baru dan dikasi software2 menarik, selain stellarium yang sudah saya miliki, saya juga diberi software starrynight untuk ngelihat planet, accurate times untuk mengetahui awal bulan, dan cybersky. wah seneng banget rasanya. apalagi kebetulan pas kopdar kemaren kebetualn metrotv muter film IMAX: Cosmic Voyage kalo gak salah, sebuah kebetulan yang aneh bukan. anyway itu film bagus banget, grafisnya ciamik lho!
saat transfer data saya minta beberapa foto hasil jepretan pak AR yang tak kalah artistik, ini dia...

o ya, Pak AR juga salah satu anggota ICOP Project, sebuah proyek internasional untuk menghitung awal bulan hijriah.

ini situs ICOP
ini situs PakAR Fisika
selamat belajaaaarrr!

1/18/08

Tambak Wonorejo

Teks & foto : aklam

Wonorejo? siapa yang tahu nama daerah itu di surabaya? nama itu memang tidak sepopuler nDarmo, Rungkut, ato Pepelegi! hahahaha tapi sungguh daerah wonorejo adalah daerah yang maknyus!

Saya sendiri menghabiskan dua tahun waktu awal kuliah saya di wonorejo, udaranya yang masih relatif bersih dan hunian yang tenang membuat saya nyaman di sana. masih ingat sekali saya bagaimana saya menghabiskan masa awal kuliah saya di surabaya serumah dengan Hanif, Anto, Putra, Awan, Mas Fahmi, Eko, ma Mas Bayu... indah rasanya...

Nah di wonorejo ini ada areal tambak yang mungkin terluas di Surabaya. dibandingin sama areal tambak di keputih dan tambak Oso jelas tidak ada apa-apanya. pemandangannya pun cukup menggirahkan, saya bisa melihat landscape yang seperti afrika di sini. o ya satu lagi yang penting, kal kamu ke tambak wonorejo, dan kamu menikmatinya maka waktu seakan melambat, apalagi nyangkruk di warung bu Gendut yang menyediakan tahu goreng sebesar paving, dan goreng pisang yang panjang-panjang, disambi dengan segelas teh wuuuuiiih angles tenaaan hati ini...

kemaren saya sempat bernostalgia ma hanif, fajar, en lik, kita pergi motret kesana, mblusuk onak berduri, nyemplung lumpur, sampe mbrasak ke rumput-rumput untuk dapat foto burung yang bagus. ya, tambak wonorejo adalah salah satu tempat konservasi burung di surabaya. mengapa? karena setiap tahunnya burung-burung Australia yang migrasi pasti mampir di tambak wonorejo. juga habitat alami tambak wonorejo amatlah mendukung kehidupan burung-burung liar di surabaya...

info lengkapnya baca di sini, sini, dan sini.

oya kalo mau prewed disini juga bagus lho!

ini beberapa foto yang saya capture, monggo dinikmatiiii....

1/17/08

Al Gore

Saya selalu percaya dengan perkataan Einstein bahwa Tuhan tidak pernah bermain dadu. Ia menciptakan alam raya ini penuh perhitungan dan presisi tingkat tinggi. Sempurna. Selama jutaan tahun semesta pun berjalan dalam kuasa Tuhan yang eksak. Hingga equilibrium itu terganggu sejalan dengan penciptaan Adam dan anak cucunya. Alam pun goyah, bagi Churchill ini mungkin yang dia sebut dengan Period of Consequences. Siap?

Pantas saja film An Inconvenient Truth diganjar sebagai film terbaik tahun lalu. Melihat film itu saya seperti disodori sebuah buku tebal yang berisi fakta bahwa bumi sudah semakin tua -atau mungkin manusia yang selalu saja muda dan tidak pernah bijak. Saya melihat dengan takjub bahwa rangkaian tragedi yang datang silih berganti seperti banjir bandang dan puting beliung merupakan sebuah rangkaian kausalitas dari perbuatan manusia. Kejadian nahas lain seperti berkembangnya virus baru pun tak lepas dari kausal-kausal yang dimunculkan oleh manusia yang katanya makhluk paling waskita ini.

Film itu sendiri merupakan sebuah film dokumenter yang menampilkan Al Gore sebagai satu-satunya tokoh cerita, seperti one man show. Gaya presentasi Al Gore yang ciamik membuat kita faham apa yang disebut sebagai global warming lengkap dengan segala konsekuensinya dalam satusetengah jam saja. Tentu saja ia pun membuat kita merinding ketakutan. Bagaimana tidak, lha wong dalam sebuah slidenya ia mengatakan bahwa di masa depan bumi bisa menjadi tempat yang tidak lagi nyaman untuk ditinggali. Bencana dimana-mana, air meluber menenggelamkan kota, banyak penyakit baru yang berkembang, udara semakin panas, iklim pun datang tidak menentu. Semua data ini dapat diakses di situs climatecrisis.net dimana Al Gore yang memenangi Nobel Perdamaian tahun lalau ini sebagai pemarakarsanya.

Itu semua akibat pemakaian bahan bakar fosil yang melepaskan jutaan karbon ke atmosfir bumi. Bahkan dalam presentasinya, Al Gore yang pernah menjabat sebagai wakil presiden di era Clinton ini mengatakan bahwa panas bumi sekarang naik seratus persen, setelah 650 ribu tahun suhunya berada dalam grafik yang konstan. Kadar CO2 yang meningkat drastis dan penggundulan hutan menjadi kuncinya. Benarlah kata Emil Salim, pola pikir manusia yang ekonomis membuat alam semakin kritis.

Jayabaya dalam jangkanya menyebutkan bahwa di masa depan;
Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.
Lali kamanungsan. Lali kabecikan.

Klop! Di tangan manusia alam pun berubah menjadi gudang uang yang tidak habis dikuras. Tanpa memikirkan bahwa kelak kita meninggalkan warisan yang mengerikan bagi anak cucu kita.

***
Maraknya banjir di Jawa saat ini mengingatkan saya akan sebuah film lain yang bercerita tentang dahsyatnya alam, The Day After Tommorow. Film ini memvisualisasikan dengan dramatis bagaimana kota New York terendam oleh banjir, Manhattan pun berubah sebagai kolam raksasa. Apalagi peristiwa puting beliung yang di musim hujan selalu menumbangkan banyak pohon di Surabaya, saya teringat akan dahsyatnya film Twister. Apa memang benar masa depan akan berubah menjadi semenyeramkan itu? Duh Gusti!

Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk berubah. Berbenah. Berbuat sebisa mungkin untuk menjadikan masa depan sebagai masa depan yang nyaman. Menjadikan bumi sebagai tempat bermain yang aman bagi anak cucu kelak. Berdoa untuk yang terbaik di masa yang akan datang. Meskipun doa saja tidak cukup, dalam sebuah proverb Afrika Kuno disebutkan bahwa; when you pray, move your feet. Maka berdoa dan berbuatlah. Sekecil apapun itu.

ITS sendiri sebagai salah satu benteng teknokrat terkemuka alangkah baik kiranya jika mewacanakan hal ini terus menerus. Bisa jadi untuk menyambut maba tahun depan ITS dapat mengundang Al Gore sebagai keynote speaker. Green technology pun bisa menjadi issue yang dapat dikembangkan secara holistik di lingkungan ITS. Atau mungkin elemen mahasiswa bergerak untuk menanam ribuan pohon di areal kampus, diprakarsa oleh PLH Siklus dan BEM ITS. Menarik bukan?

Wallahu a'lam bisshawab.

Ayos Purwoaji
Mahasiswa Despro ITS
Artikel ini ditampilkan pada www.its.ac.id
Tontonlah Inconvenient Truth! uapik poool jeh!

Pers Kampus; Sebuah Catatan

Kata mahasiswa selalu saja dikait-kaitkan dengan termin perubahan sosial. Entah mengapa. Mungkin karena mahasiswa sejak zaman Soekarno selalu sama; energik, kritis, bersuara, dan bergerak. Dari mahasiswa pula lah diharapkan terjadi sebuah transformasi pemikiran besar-besaran di negeri ini.

Lalu bagaimana mereka mau merubah masyarakat jika tanpa kata, tanpa wacana, dan juga tanpa pena yang selalu bekerja?


Beberapa waktu yang lalu saya bertandang ke kantor Kompas Surabaya, bertemu dengan beberapa rekan wartawan. Kebetulan sekali saat itu bertepatan dengan hadirnya seorang pimpinan biro pelatihan dari Kompas Jakarta. Setelah ngobrol panjang lebar, bapak dengan rambut yang sudan memutih itu mengatakan; "Dik, setahu saya dari beberapa perguruan tinggi top di Indonesia hanya ITS yang tidak memiliki pers kampus, mengapa? Apa mungkin mahasiswa ITS sudah sebegitu sibuknya dengan diri masing-masing?" Hwarakadah! Terkejut saya dibuatnya. Sembari tersenyum kecut saya pun melengos. Secepatnya pamit pulang, meski di luar malam masih basah.

***
Jurnalistik memang tidak populer di kalangan mahasiswa ITS. Ia masih kalah populer dibandingkan dengan saudara jauhnya, karya tulis ilmiah. Bisa jadi karya tulis ilmiah lebih populer karena ia bisa menjanjikan anda –katakanlah— sebuah kemenangan dan prestige tersendiri, bahkan jika cukup beruntung bisa kecipratan sedikit dana Dikti yang jutaan itu. Jurnalistik kebalikannya, ia tidak menjanjikan apa-apa memang, bahkan konon tulisannya yang sak iprit dan punch-nya yang bersifat straight hanya menjadi pekerjaan orang-orang kere. Bisa jadi.

Tetapi daripada urusan duit yang memang sangat subjektif itu, jurnalistik menawarkan kemungkinan-kemungkinan lain, aspek nurani salah satunya. Jurnalistik mendidik kita untuk lebih peka sosial, mengasah nurani kita untuk selalu getap terhadap perubahan yang terjadi. Terlebih lagi –menurut saya— iklim jurnalistik yang sehat di lingkungan kampus menjadi penanda sebuah kehidupan wacana kampus yang dinamis. Seandainya pers di sebuah kampus mati, jelaslah ia menjadi penanda betapa stagnan wacana yang ada di kampus tersebut. Mungkin karena itu pula mengapa pers kampus sempat dituding sebagai urat nadi pergerakan mahasiswa.

Dari alasan-alasan diatas, maka keberadaan pers dalam sebuah kehidupan kemahasiswaan menjadi penting. Selain menjadi pengembang wacana mahasiswa yang efektif keberadaan pers juga bertujuan sebagai media penampung aspirasi bagi mahasiswa. Pada level ini maka keberadaan pers kampus juga menjadi tolok ukur bagi budaya menulis yang berkembang di kalangan civitas kampus.

Menyedihkan jika kita dituding sebagai kampus yang miskin wacana, sebagai kampus yang mahasiswanya tidak memiliki kemampuan peka sosial. Pantas saja mahasiswa kita selalu kalah –atau mungkin budaya kita adalah budaya mengalah.

***
Percayalah bahwa jurnalistik dan menulis adalah sebuah pekerjaan hebat. Jurnalistik adalah pekerjaan para superhero, itu mengapa Clark Kent dan Peter Parker memilih berkerja sebagai kuli tinta. Saking hebatnya jurnalistik, saya jadi ingat sebuah kutipan terkenal dari seorang pakar literary journalism ternama, Bill Kovach, bahwa: Journalism is the closest thing I have to a religion. setuju.

Ayos Purwoaji
Pemerhati media dan jurnalistik
sebuah artikel yang dimuat di www.its.ac.id
gambar adalh ekspresi mahasiswa saat Soeharto lengser, diambil oleh James Nachtwey

1/5/08

Film Baru: Kosan Break!

Sebenernya ini akibat sindrom dari film seri di TV yang judulnya Prison Break. Seorang terdakwa hukuman mati yang semua kesalahannya adalah fitnah konspirasi tingkat tinggi. Adiknya, Michael Scofield *gw banget tuh! bwahahaha* berusaha menyelamatkan kakaknya. untuk itu ia juga berkorban untuk masuk penjara atas perampokan bank ethok-ethokan. Untuk menghafal seluruh denah penjara maka ia mentato seluruh tubuhnya dengan gambar teknik penjara tersebut! eh tuh tapi tukang tatonya tetep pake jarum ato pake rotring ya? hahaha *desperate ngulang gartek yang nyusahin pol!*
Akhirnya saya beranikan diri untuk ngomong ma hanip, nip aku mau gaya kayak skotplit, fotoin aku dong. maka dengan sigap gempita *bhs indo pas SD jarang masuk* memotret saya seperti gartek itu sendiri. tampak atas-tampak depan-tampak samping. untung gak pake gambar potongan ma detil part! trus dia mengarahkan saya untuk tampak belakang saja. alasannya simple: muka saya tidak cukup bagus untu dipotret! bajinnduullll!

tapi ga papa, tampak belakang juga udah bagus kok, secara trisep-bisep saya masih bisa terkaver. lumayan keliatan lah hasil fitnessnya! hahahaha.

Kenapa namanya Kosan Break? karena saya ingin menyelamatkan diri saya dari kosan saya sekarang. tentu saja saya tidak mau lulus lama dan terpenjara di kosan saya sampe kakek-kakek. saya harus secepatnya keluar. ndang lulus, ndang rabi! hehehehe. trus lambang-lambang yang ada di tato saya sebenernya penuh dengan arti tersembunyi seperti davinci kod! hahaha ndak ding, itu gambar meaningless kok. Ada pohon, ada semar, bahkan ada logo ITS Online! trus ada kembang di bawah ketek agar ketek saya semerbak sepanjang hari. Oya yang gambar di center itu gambar saya sendiri pas masih semester 2. tentang nelayan yang melawan ombak gede. pake gaya jepang terinspirasi ma lukisan ombaknya Hokusai Kanagawa gitu deh, tapi ada aksen hawaiinya. yo wes, dah malem nih. sugeng enjang *ya selamat pagi, lha wong dah jam 1 malem kok*.

NB: yang seneng silahkan didonlot! hahahahaha

1/4/08

The Last Dayak

Hah, kemaren pas googling nemu data kayak ginian! diperkirakan hutan di Borneo tahun 2020 cuman tinggal 30 persennya! bajindul tenan po ra? tren perkiraan ini dirilis oleh mongabay (sebuah badan konservasi hutan tropis) beberapa waktu yang lalu. wah kaaccco banget. inget UNFCCC dong! dah pada climate change nih!
Apa dong pendapatmu sebagai anak muda bangsa ini? saya pikir mungkin menanam tanaman kecil di beranda kamar bisa berarti besar bagi bumi ini, apalagi kalo kamu nandur anthurium! hahahaha tapi bener loh, nanem tumbuhan aku pikir sangat berpengaruh sama pembentukan kepribadian kita, saya percaya itu!

Saya masih inget, suatu saat ketemu sama seorang teman yang getol sekali belajar filsafat. dengan bertelanjang dada, sore itu dengan asyiknya ia menyiram tanaman baru yang tumbuh di depan kosnya. tumben sekali pikir saya. biasanya sih ia doyan ngendon di kamar, ditemani tumpukan bukunya yang sudah meribu. menulis di depan komputer usangnya, mencurahkan pemikiran eksentriknya. atau sekedar nyangkruk di kedai kopi semalam suntuk sambil mulutnya tak henti mengunyah goreng pisang.

Sore itu ia terlihat beda. wajahnya lebih cerah. sembari menyiram, saya lihat ia pun berdendang. kedengarannya nidji, ah entahlah. saya pun menyapa. ia tersenyum. saya pun bertanya; sedang apa kamu? dengan tersenyum ia menjawab; aku sedang belajar Yin Yang. saya tertegun. lama menatapnya.

ya, save the tree, save the earth, save the dayak children! jangan sampe kita mendengar kompas atau tempo beberapa tahun lagi menulisa sebuah feature yang berjudul "Guyau: The Last Dayak"...

1/2/08

Ke Sukopuro, Ke Cuban Jahe

Teks dan Foto: Aklam


Hmm mayfren, sebelum membaca postingan ini lebih lanjut, saya ucapkan selamat dulu: selamat taun baru yak! Semoga kita bisa lebih baik dari taun sebelumnya. Allahumma Amien.
Wokeh, postingan pertama saya di tahun 2008 ini adalah pengalaman saya ke malang terakhir kali. Biasanya sih kalo ke malang saya cuman ke tempat-tempat hiburan mainstream. Tapi kali ini tidak. Tentunya jauh lebih seru! Berawal dari ajakan teman saya Avic yang ingin meluangkan akhir taunnya di Malang, dan akhirnya saya iya-kan. Berbekal kamera dan sepeda butut saya, kami berdua berangkat ke Malang. Melewati mambunya Lapindo dan panasnya Pandaan kami berdua punya satu tujuan: rumahnya si Hafid, teman karib Avic.
Hafid dan Avic

Rumah Hafid ada di desa Sukopuro, deket pasar Tumpang, letaknya di kaki gunung Semeru. Jauh dari kota. Awalnya kita ngobrol, hingga akhirnya Hafid membocorkan sebuah rahasia bahwa di desanya ada air terjun yang tidak banyak orang yang tau. Namanya Cuban Jahe. Kalo sering ke Malang, biasanya Anda sudah terbiasa dengan nama-nama seperti Cuban Rondo, Cuban Talun, atau Cuban Rais. Tapi kalo Cuban Jahe? Nah pasti belom tau kan! Padahal ini air terjun cukup maknyus bagi saya. Mungkin tidak sesangar Grojogan Sewu di Karanganyar, tapi jarangnya orang yang pernah ke Cuban Jahe membuat kawasan ini masih jauh dari ‘polusi orang’ hehehe. Landscapenya menarik, dihiasi batu cadas di atas dan batu hitam-licin di bawahnya. Airnya cukup tinggi, dan jangan diragukan lagi; jernih bo! Batu cadasnya kalo sore ketimpa cahaya matahari, warnanya jadi keemasan, kalo ampir maghrip malah jadi kayak terbakar, merah. Woooh subhanallah manstapnya.Tapi jujur aja, jalan ke Cuban Jahe dari Sukopuro tidaklah mudah, apalagi Anda harus melewati beberapa bukit untuk menemukan air terjun ini. Tapi justru di situlah tantangannya. Bahkan motor butut saya sempat terperosok jatuh karena licinnya medan. Walhasil spion baru saya patah lagi! Huhuhu.
Makam para gerilyawan

Tapi ada yang menarik, selama perjalanan ke Cuban Jahe, anda akan menemukan sebuah komplek makam pahlawan kecil. Syahdan, dulu Cuban Jahe adalah tempat mandinya para gerilyawan. Biasa jadi ini karena tempat Cuban Jahe yang memang njelimet puoll. Nah, suatu hari Kumpeni dateng, tau kalo yang mandi di sana para gerilyawan, diberondonglah mereka para pahlawan bangsa dengan sadisnya. Mungkin saat memergoki, pemmpin Kumpeni bilang gini: “Heh kowe para inlander, mau menyerah ato tak bedil?”. Hehehe. Katanya sih tiap Agustusan kuburan pahlawan ini selalu rame dikunjungi.pemandangannya bagus banget!

Tapi jujur perjalanan ini sangat berarti bagi saya. Apalagi selama perjalanan saya disuguhi berbagai landscape menarik. Apalagi desa si Hafid ternyata ada industri susu sapi, pagi-pagi saja setelah bangun pun saya disuguhi segalas susu murni panas, huuuh maknyuuus bikin hati saya jadi tambah angrem saja...

Ke Malang: Sebuah Napak Tilas

Teks dan Foto: AklamSebenernya saya dan Avic cuman sehari di Malang, tanggal 30 doang. Tapi banyak tempat yang kita kunjungi. Setelah pulang dari Sukopuro saya dan Avic berniat untuk mengunjungi pasar Tumpang, rute awal para pendaki sebelum memulai ekspedisi ke Semeru. Ternyata di pasarnya banyak andong dan jeep. Setelah ngobrol panjang lebar dengan salah satu pemilik andong saya baru tahu kalo di arel pasar tumpang ada sebuah candi kecil yang dinamakan Candi Jago. Kalo dibandingin sama Borobudur ya jauuuh. Nih Candi Jago cuman sepetak thok! Kecil. Tapi bagus, arsitekturnya mengingatkan saya pada kuil Mataharinya bangsa Maya di amerika kuno. Di samping kanan kirinya banyak artifak. Dari coraknya kelihatannya sangat Hindu. Ada yang seperti barong, ada yang serupa Syiva. Kebetulan pas liat-liat artifaknya ada ayam lewat. Nah pas banget! Namanya candi jago, trus ada ayamnya! Hahaha saya jepret saja…Setelah dari candi jago, saya lihat di pertigaan pasar tumpang yang signagenya ada tulisan; Candi Kidal 7 Km. Lah gimana ini Vic? Ayooooh budhaaal! Akhirnya saya berdua dengan Avic ke Candi Kidal. Golekane rada angel. Jadi harus jalan pelan-pelan. Tapi selam perjalanan dari pasar tumpang ke candi kidal, anda akan disuguhi oleh gusti Allah sebuah pemandangan yang subhanallah canggihnya! Nih saya capture satu. Lah kok ya kebetulan ada pak tani yang lagi kerja ma sapinya.Sampe di candi kidal, kesan pertama adalah; penataan candinya lebih bagus dari candi jago. Lebih rapih. Ada jalan setapak panjang yang menuntun kita ke pelataran candi kidal. Candi kidal sendiri adalah sebuah pengecualian. Jadi gini, sebenernya ada aturan tidak tertulis kalo kita mengunjungi candi itu harus dari kiri ke kanan. Melawan arah jarum jam. Mengapa? Kerena relief memang ditulisnya seperti itu. Mbaca relief itu seperti mbaca abjad romawi, dari kiri ke kanan. Sistem pembacaan ini namanya Prasawiya.Lah kalo candi kidal ini mbacanya dari kanan ke kiri. Kayak abjad arab. Sistem ini dinamakan system pembacaan Pradakcina. Dan di Indonesia, yang punya sistem pembacaan pradakcina hanya candi kidal saja. O ya, trus di keempat sisi candi kidal ada empat batu relief yang warnanya beda, agak putih gading. Kata mbah Rabun sih kalo hari sudah mulai gelap itu empat batu bisa nyala. Mengandung fosfor kali ya. Kelebihan candi kidal yang lain adalah, di badan candi kidal ada relief sebuah binatang mite yang dinamakan Garudia, sebuah burung yang mirip sekali sama lambang Unair. Konon, Garudia inilah yang menginspirasi Soekarno untuk membuat lambang negara kita, Garuda Pancasila. Itu semua kata mbah Rabun, kuncen komplek candi kidal. Mbah Kuncen sendiri sudah puluhan tahun menjaga candi kidal, sejak tahun 1955 katanya. Dia pun sempat dibayar duaribu perak perbulannya! Wah ya pantes aja banyak artifak sejarah yang pada ngilang! Saya pun sempat diberi ilmu perhitungan Jawa sama mbah Rabun. Dia mengatakan bahwa anak muda sekarang banyak yang sudah lupa sama sejarah. Sudah lupa sama budaya.

Satu hal yang mengagetkan saya. Saat sedang bercengkerama dengan mbah Rabun yang nyentrik ini, saya membuka-buka buku tamu. Saya liat asal para tamunya. Banyak bule yang dateng ternyata, tapi lebih banyak lagi bule gosong alias wisatawan lokal sahaja. Hehehe. Akhirnya pada satu baris saya tertegun, ada pengunjung dari Seattle, USA. Mataku pun aku seret ke deret nama. Sejenak terpaku karena yang tertulis di sana adalah ‘S. Mackinnon’. Hah! Yang bener aja! Asal tau aja, Mackinnon adalah penulis buku Wildlife of Indonesia yang sangar dan langka itu! Buku wajibnya para pecinta Indonesia. Saya dan hanif sangat mengagumi karyanya. Apalagi di dalemnya ada foto-foto indah Indonesia hasil karya Alain Compost! Hah Mackinnon. Desember pertengahan ia dateng. Dalam deret kesan ia hanya berujar satu kalimat,”Very interesting!”. Lemes langsung aku.