Pages

1/2/08

Ke Malang: Sebuah Napak Tilas

Teks dan Foto: AklamSebenernya saya dan Avic cuman sehari di Malang, tanggal 30 doang. Tapi banyak tempat yang kita kunjungi. Setelah pulang dari Sukopuro saya dan Avic berniat untuk mengunjungi pasar Tumpang, rute awal para pendaki sebelum memulai ekspedisi ke Semeru. Ternyata di pasarnya banyak andong dan jeep. Setelah ngobrol panjang lebar dengan salah satu pemilik andong saya baru tahu kalo di arel pasar tumpang ada sebuah candi kecil yang dinamakan Candi Jago. Kalo dibandingin sama Borobudur ya jauuuh. Nih Candi Jago cuman sepetak thok! Kecil. Tapi bagus, arsitekturnya mengingatkan saya pada kuil Mataharinya bangsa Maya di amerika kuno. Di samping kanan kirinya banyak artifak. Dari coraknya kelihatannya sangat Hindu. Ada yang seperti barong, ada yang serupa Syiva. Kebetulan pas liat-liat artifaknya ada ayam lewat. Nah pas banget! Namanya candi jago, trus ada ayamnya! Hahaha saya jepret saja…Setelah dari candi jago, saya lihat di pertigaan pasar tumpang yang signagenya ada tulisan; Candi Kidal 7 Km. Lah gimana ini Vic? Ayooooh budhaaal! Akhirnya saya berdua dengan Avic ke Candi Kidal. Golekane rada angel. Jadi harus jalan pelan-pelan. Tapi selam perjalanan dari pasar tumpang ke candi kidal, anda akan disuguhi oleh gusti Allah sebuah pemandangan yang subhanallah canggihnya! Nih saya capture satu. Lah kok ya kebetulan ada pak tani yang lagi kerja ma sapinya.Sampe di candi kidal, kesan pertama adalah; penataan candinya lebih bagus dari candi jago. Lebih rapih. Ada jalan setapak panjang yang menuntun kita ke pelataran candi kidal. Candi kidal sendiri adalah sebuah pengecualian. Jadi gini, sebenernya ada aturan tidak tertulis kalo kita mengunjungi candi itu harus dari kiri ke kanan. Melawan arah jarum jam. Mengapa? Kerena relief memang ditulisnya seperti itu. Mbaca relief itu seperti mbaca abjad romawi, dari kiri ke kanan. Sistem pembacaan ini namanya Prasawiya.Lah kalo candi kidal ini mbacanya dari kanan ke kiri. Kayak abjad arab. Sistem ini dinamakan system pembacaan Pradakcina. Dan di Indonesia, yang punya sistem pembacaan pradakcina hanya candi kidal saja. O ya, trus di keempat sisi candi kidal ada empat batu relief yang warnanya beda, agak putih gading. Kata mbah Rabun sih kalo hari sudah mulai gelap itu empat batu bisa nyala. Mengandung fosfor kali ya. Kelebihan candi kidal yang lain adalah, di badan candi kidal ada relief sebuah binatang mite yang dinamakan Garudia, sebuah burung yang mirip sekali sama lambang Unair. Konon, Garudia inilah yang menginspirasi Soekarno untuk membuat lambang negara kita, Garuda Pancasila. Itu semua kata mbah Rabun, kuncen komplek candi kidal. Mbah Kuncen sendiri sudah puluhan tahun menjaga candi kidal, sejak tahun 1955 katanya. Dia pun sempat dibayar duaribu perak perbulannya! Wah ya pantes aja banyak artifak sejarah yang pada ngilang! Saya pun sempat diberi ilmu perhitungan Jawa sama mbah Rabun. Dia mengatakan bahwa anak muda sekarang banyak yang sudah lupa sama sejarah. Sudah lupa sama budaya.

Satu hal yang mengagetkan saya. Saat sedang bercengkerama dengan mbah Rabun yang nyentrik ini, saya membuka-buka buku tamu. Saya liat asal para tamunya. Banyak bule yang dateng ternyata, tapi lebih banyak lagi bule gosong alias wisatawan lokal sahaja. Hehehe. Akhirnya pada satu baris saya tertegun, ada pengunjung dari Seattle, USA. Mataku pun aku seret ke deret nama. Sejenak terpaku karena yang tertulis di sana adalah ‘S. Mackinnon’. Hah! Yang bener aja! Asal tau aja, Mackinnon adalah penulis buku Wildlife of Indonesia yang sangar dan langka itu! Buku wajibnya para pecinta Indonesia. Saya dan hanif sangat mengagumi karyanya. Apalagi di dalemnya ada foto-foto indah Indonesia hasil karya Alain Compost! Hah Mackinnon. Desember pertengahan ia dateng. Dalam deret kesan ia hanya berujar satu kalimat,”Very interesting!”. Lemes langsung aku.

2 comments:

didut si tukang makan said...

bagus :D *ngirimodeon*

Anonymous said...

pemimpin sejati "lahir" dari alam. seberapa sering kamu berkunjung ke alam.