Pages

1/17/08

Pers Kampus; Sebuah Catatan

Kata mahasiswa selalu saja dikait-kaitkan dengan termin perubahan sosial. Entah mengapa. Mungkin karena mahasiswa sejak zaman Soekarno selalu sama; energik, kritis, bersuara, dan bergerak. Dari mahasiswa pula lah diharapkan terjadi sebuah transformasi pemikiran besar-besaran di negeri ini.

Lalu bagaimana mereka mau merubah masyarakat jika tanpa kata, tanpa wacana, dan juga tanpa pena yang selalu bekerja?


Beberapa waktu yang lalu saya bertandang ke kantor Kompas Surabaya, bertemu dengan beberapa rekan wartawan. Kebetulan sekali saat itu bertepatan dengan hadirnya seorang pimpinan biro pelatihan dari Kompas Jakarta. Setelah ngobrol panjang lebar, bapak dengan rambut yang sudan memutih itu mengatakan; "Dik, setahu saya dari beberapa perguruan tinggi top di Indonesia hanya ITS yang tidak memiliki pers kampus, mengapa? Apa mungkin mahasiswa ITS sudah sebegitu sibuknya dengan diri masing-masing?" Hwarakadah! Terkejut saya dibuatnya. Sembari tersenyum kecut saya pun melengos. Secepatnya pamit pulang, meski di luar malam masih basah.

***
Jurnalistik memang tidak populer di kalangan mahasiswa ITS. Ia masih kalah populer dibandingkan dengan saudara jauhnya, karya tulis ilmiah. Bisa jadi karya tulis ilmiah lebih populer karena ia bisa menjanjikan anda –katakanlah— sebuah kemenangan dan prestige tersendiri, bahkan jika cukup beruntung bisa kecipratan sedikit dana Dikti yang jutaan itu. Jurnalistik kebalikannya, ia tidak menjanjikan apa-apa memang, bahkan konon tulisannya yang sak iprit dan punch-nya yang bersifat straight hanya menjadi pekerjaan orang-orang kere. Bisa jadi.

Tetapi daripada urusan duit yang memang sangat subjektif itu, jurnalistik menawarkan kemungkinan-kemungkinan lain, aspek nurani salah satunya. Jurnalistik mendidik kita untuk lebih peka sosial, mengasah nurani kita untuk selalu getap terhadap perubahan yang terjadi. Terlebih lagi –menurut saya— iklim jurnalistik yang sehat di lingkungan kampus menjadi penanda sebuah kehidupan wacana kampus yang dinamis. Seandainya pers di sebuah kampus mati, jelaslah ia menjadi penanda betapa stagnan wacana yang ada di kampus tersebut. Mungkin karena itu pula mengapa pers kampus sempat dituding sebagai urat nadi pergerakan mahasiswa.

Dari alasan-alasan diatas, maka keberadaan pers dalam sebuah kehidupan kemahasiswaan menjadi penting. Selain menjadi pengembang wacana mahasiswa yang efektif keberadaan pers juga bertujuan sebagai media penampung aspirasi bagi mahasiswa. Pada level ini maka keberadaan pers kampus juga menjadi tolok ukur bagi budaya menulis yang berkembang di kalangan civitas kampus.

Menyedihkan jika kita dituding sebagai kampus yang miskin wacana, sebagai kampus yang mahasiswanya tidak memiliki kemampuan peka sosial. Pantas saja mahasiswa kita selalu kalah –atau mungkin budaya kita adalah budaya mengalah.

***
Percayalah bahwa jurnalistik dan menulis adalah sebuah pekerjaan hebat. Jurnalistik adalah pekerjaan para superhero, itu mengapa Clark Kent dan Peter Parker memilih berkerja sebagai kuli tinta. Saking hebatnya jurnalistik, saya jadi ingat sebuah kutipan terkenal dari seorang pakar literary journalism ternama, Bill Kovach, bahwa: Journalism is the closest thing I have to a religion. setuju.

Ayos Purwoaji
Pemerhati media dan jurnalistik
sebuah artikel yang dimuat di www.its.ac.id
gambar adalh ekspresi mahasiswa saat Soeharto lengser, diambil oleh James Nachtwey

4 comments:

eb0y said...

salam persma!!!
ane boleh tanya2 tho?
abis nulis ne artikel apa langkah selanjutny dr ini,,,
apa mulai berkelompok nenbangun UKM pers its?
dan selama ini jika persma di its tidak ada,sekarang mas berkecimpuk di dunia pers na bagaimana?


salam kenal
dr org yg bru masuk dunia pers

aklam said...

halo eboy!
nah langkah selanjutnya ya saya serahkan sama temen-temen mahasiswa ITS yang masih peduli sama jurnaliastik, seperti eboy salah satunya...
apa nanti mau membuat sebuah media baru, atau mngkin membuat selebaran alternatif, atau hanya membuat weblog yang murah meriah, itu terserah saja... soalnya sekarang jamannya citizen journalistic kok hehehe...

saya saat ini bergabung dalam keredaksian its online.

keep in touch ya!

Mita said...

Halu, Om Gembul!

Jadi inget beberapa hari yang lalu temen2 LPM 1.0 kumpul2 rencananya mo ngobrolin masa depan.
Tapi, akhirnya gak terealisasi.Abis bingung juga nyocokin jadwal & nyari tempat yang cocok buat diskusi serius macam begituan.

Gimana yah?
Mahasiswa ITS tuh emang terkesan SO alias Setudi Oreyentet banget.
Yah, kalo boleh berpendapat ya? Banyak faktor sebenernya.

1: Sistem pendidikan ITS (dan kliatannya di kampus laen juga) yang BERAT. SKSnya sebejibun harus diselesein, jam kuliah yang padet, beban tugas yang buanyak, dan sederet hal2 akademis yang menumpuk. Walhasil, cuman tugas-kuliah aja yg mahasiswa pikirin.
2: Kebijakan2 ITS sekarang cenderung seperti kembali ke masa lalu, semacam NKK/BKK (bener gak, istilahnya?). Saya dpt bocoran dr temen2 LPM yg kebetulan anak LM juga, kalo ITS skrg menggiring mahasiswanya biar gak terlalu mencurahkan perhatiannya pada kegiatan2 organisasi. Kami jadi kesulitan untuk sekedar kumpul2/rapat di sekretariat kami di SCC karena peraturan yang diberlakukan. Peraturannya itu, SCC hanya boleh digunakan sebelum pukul 17.00.
Aneh kan? Padahal total jenderal kegiatan akademis mahasiswa ITS rata2 selesai pada pkl 16.00. Belum sholat, makan, dan aktivitas lain yang biasanya belum sempat dilakukan seusai kuliah. Blom sempet apa2, jam 5 sore SCC udah tutup.
Nah... masalahnya namanya adalah SCC.
S= Student
C= Community
C= Centre
Lha kalo SCC-nya aja sepi... gimana mo organisasi? Jam 5 udah ditutup. Di sisi lain, SCC adalah representasi dari keaktifan mahasiswa di kampus yang bersangkutan. Bisa dibayangin kan, CENTRE dari komunitas mahasiswa sebuah kampus aja aksesnya dibatasi.

Apa yah? Kontradiktif sekali.

But... jurnalistik bagi saya adalah media untuk beropini dan mengopinikan sebuah wacana.
So... selama kita bisa berlindung di balik tameng wajah buruk demokrasi...
...saya bisa melawan dengan tulisan...

Gyehehehe... ;)

Anonymous said...

asalkan jurnalis itu punya akhlaq dan orientasi yang bagus, insAllah pasti akan berguna.
media memang "Raja" di masa ini. tapi ingat ada sang Maha Raja. unutk itu, tiap kata, dan tulisan ayo dibuat sedemikian rupa sehingga bisa memberi manfaat bagi dunia ini.
intinya jangan cuma bisa "memprovokasi" saja, tapi tawarkan solusi.
maaf ya, semoga bermanfaat dan menjadi renungan bagi kaum jurnalis seiring dengan kebebasan pers untuk mengaktualisasikan dirinya.
go pers amanah!!!