Pages

3/4/08

Menanam Cinta Menuai Makna

Berbicara tentang cinta selalu menyulitkan saya. Tidak saja karena kata-kata cinta bagaikan mantra di telinga saya –yang terdengar begitu mistis dan sakral- tetapi karena memang begitu banyaknya arti cinta yang harus saya mengerti. Mengerti cinta ternyata tidak semudah memecah cangkang telur lalu kita menyeruput sarinya, untuk mengerti cinta ternyata butuh usaha lebih. Tepatnya usaha berlebih untuk membuka hati dan melapangkan pikiran. Ya, karena ternyata cinta tidak sesederhana itu, cinta itu sendiri adalah entitas yang lebih dari apapun, cinta adalah penciptaan itu sendiri!

Sejak zaman dahulu orang sudah berusaha untuk mendefinisikan arti cinta. Para filsuf Yunani pun bahkan sudah membuat sebuah kategori-kategori cinta. Maka darinya kita kenal istilah-istilah seperti eross dan agape. Ada juga istilah cinta platonis dan masokis. Gampangnya, eross dan agape adalah perwujudan cinta jasmaniah kepada hidung yang bangir lah, kepada tubuh yang sintal lah, kepada rambut yang brunnete lah. Bedanya, cinta eross lebih kepada pemenuhan jasadiah, itu mengapa kita sering mendengar kata erotika, dimana perwujudan cinta yang dilandasi oleh hasrat (desire) belaka. Masokis adalah perwujudan cinta deorang devian, perwujudan cinta yang berangkat dari kesakitan. Perwujudan cinta yng berasal dari siksaan. Sebuah cinta yang salah.

Adapun cinta platonis memiliki tingkatan yang lebih tinggi. Cinta ini diwujudkan kepada sesuatu yang tidak-kasat-mata. Sesuatu yang tiada namun ada. Sebuah cinta spiritual dari manusia-manusia pencari kebenaran. Sebuah kerinduan dari hamba-hamba kepada Tuhannya. Cinta yang bersemi dari hati yang paling dalam. Cinta yang mewujud lantaran fitrahnya sebagai manusia yang sejak awal mengakui adanya kekuatan yang almighty.

***
Anda pernah mendapat insight? Saat mendesain Anda semacam mendapatkan ide segar nan brilian yang datang secara tiba-tiba. Cespleng! Atau mungkin seperti kata SAM Design: AHA!

Insight atau wawasan adalah sebuah pengetahuan murni yang tiba-tiba datang dan menyergap otak kita. Cara kerjanya hampir sama dengan nuzulnya wahyu pada beberapa Nabi terdahulu. Meskipun kata insight sendiri berasal dari Barat, namun rasionalitas Barat sendiri tidak akan pernah paham darimana insight itu berasal. Hal itu karena pola berpikir orang Barat yang memiliki pola pikir Newtonian dan sangat positifistik; harus ada api sebelum asap. Harus ada aksi sebelum reaksi. Harus ada sebab sebelum akibat.

Beruntunglah kita sebagai orang Timur yang biasa dengan hal-hal yang insightful. Seperti kata Siddharta, dimana kosong tidak selamanya kosong. Bisa jadi kosong adalah isi, dan isi adalah kosong. Bisa jadi segala yang ada berasal dari yang tiada.

Bagi para desainer, bisa jadi insight adalah wujud cinta Tuhan kepada manusia. Ia –dengan cara yang misterius- telah membagi sedikit ilmunya kepada manusia. Makhluk ciptannya yang dilengkapi receiver yang berupa akal. Ya, akal sendiri sejatinya tidak lebih dari penerima pesan-pesan ilahiah. Jadi, jika Anda merasa akal Anda mampu melakukan apapun dan merubah apapun maka seyogyanyalah Anda bertadabbur dan banyak-banyaklah travelling.

Seni dan desain sendiri menurut hemat saya adalah perwujudan cinta manusia terhadap sang pencipta. Jika kita belajar sejarah, seni dan lagu banyak berkembang sejak manusia telah mengakui bahwa ada eksistensi yang lebih besar daripada dirinya. Ia adalah sang Mahapencipta, Ia adalah keindahan itu sendiri. Ia sang Desainer Agung yang telah menghamparkan langit dengan taburan gemintang, Ia yang meninggikan gunung dan mengeluarkan air dari tiap porinya. Ia yang mengarsiteki pulau Sempu, Cuban Rondo, Kenjeran, dan Pasir Putih. Ia pula yang merancang Grand Canyon, Ranu Kumbolo, dan Niagara.

Akhirnya manusia pun dengan segenap rasa cintanya berkreasi dan mencipta. Manusia pun membangun sifat pencipta yang ada dalam dirinya. Manusia pun mulai membuat lagu-lagu untuk sesembahan dan ekspresi cinta (itu mengapa music seringkali memabukkan), manusia pun mulai membangun masjid-masjid yang megah untuk meniru kemegahanNya, manusia pun mulai bersenandung melalui rangkaian dzikir yang indah, manusia juga mulai melukis untuk mengabadikan ciptaanNya.

Jadi benarlah jika desain itu adalah perwujudan cinta yan paling hakiki pada awalnya! Jika masih ragu, coba tanyakan kepada Michelangelo apa yang melatari ia membuat patung Pieta dan Musa selain kekagumannya kepada sang Pencipta. Coba tanyakan kepada Ravi Shankar apa yang mendorong ia menciptakan gubahan Tabla Dhwani yang indah sekaligus mistis itu. Coba tanyakan kepada AD Pirous yang terkenal dengan kaligrafi yang estetikanya tak lagi diragukan. Semua itu semata-mata karena cinta manusia kepada sang Pencipta. Tidak akan ada yang pernah mengalahkan masterpiece yang diwujudkan karena rasa cinta kepada sang Pencipta, saya percaya itu!

***
MencintaiNya tidak lagi menjadi pakasaan bagi manusia yang berakal. Pun jika ia memilih tak bertuhan maka kita sepatutnya menguji sejauh mana nalarnya bekerja. MencintaiNya adalah sebuah oase bagi manusia yang senantiasa berpikir. Berserah diri padaNya merupakan sebuah pencapaian tertinggi yang mampu mendatangkan wawasan dan ide-ide yang insightful!

Akhirnya saya pun hanya bisa meresume kembali ingatan saya akan ayat-ayat Allah yang sudah saya hafal sejak esde. Aah ada satu yang selalu membuat saya tergetar: “Bacalah atas nama Tuhanmu yang menciptakan!”. Menciptakan. Pencipta. Indah. Seni. Desain. Desainer. Kita!

Wallahu a’lam bis shawaab.

Ayos Purwoaji
Sacharossa, 4:18

1 comment:

ghosty1st said...

cinta. sayangnya tak ada yang abadi di dunia ini termasuk kata "cinta".
cinta memang sebuah misteri. tak ada yang tahu kapan dia datang, kapan dia pergi. satu hal yang aku yakini, ketika aku mencintai seseorang, pasti itu karena titipan Nya. cinta itu bukan milikku tapi milikNya. hanya Dia yang sanggup menanam dan mencabut "cinta" dalam jiwaku.

banyak kejahatan berkedok "cinta". lalu cinta itu yang seperti apa?. masih adakah cinta itu?
atau Tuhan sudah malas meninitipkan cintaNya lagi?.