Pages

5/15/08

Mencari Tuhan di Google

Di zaman yang penuh sesak dengan teknologi seperti saat ini, kemana lagi kita harus mencari Tuhan? Apakah Tuhan bersembunyi di balik desingan kabel komputer, atau Dia tersimpan dengan rapat di flashdisk 4 gigabyte, atau mungkin Tuhan terselip di tengan trilyunan situs di dalam jejaring internet? Bagaimana jika kita tanya saja kepada mbah Google?

Jika Anda memiliki waktu luang, sempatkanlah melihat halaman situs Google Zeitgeist. Di dalamnya terdapat ratusan query yang paling dicari manusia melalui situs search engine paling canggih di muka bumi: Google. Saat bulan Maret 2008 contohnya, kita bias tahu bahwa Sandra Dewi menjadi objek yang paling dicari orang Indonesia setelah Naruto. Sedangkan di Belanda, film Fitna adalah hal yang paling dicari saat itu.

Lalu apakah hal yang paling dicari sejak kemunculan Google sejak pertama kali diluncurkan? Jawabannya sungguh mencengangkan, dua query paling atas adalah: ‘who is God?’ dan ‘what is love?’. Dua hal itu adalah query yang paling dicari manusia sejak awal berdirinya Google. Menarik bukan?

tampilan Google Zeitgeist di halaman top of mind

Ternyata manusia tidak lagi mencari Tuhan di altar-altar suci pemujaan, tidak juga di masjid dan wihara. Manusia di abad digital ini mencari hakikat Tuhan dan cinta di dalam bilyunan kode biner yang berjalin kelindan menjadi sebuah sistem internet yang menggurita. Manusia modern menemukan Tuhan dan cinta mereka di dalam pdf, exe, mp3, atau wma. Superb!

***
Fakta yang terungkap melalui Google Zeitgeist merupakan suatu hal yang patut kita syukuri. Di tengah maraknya liberalisasi dan sekularisasi agama, banyak manusia yang berbondong-bondong mendatangi Tuhan. Bahkan di tengah maraknya anarkisme dan tayangan kekerasan, orang malah beramai-ramai mencari cinta. Semua itu terjadi tanpa disadari.

Maka benarlah bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak hanya berupa raga, tetapi juga jiwa. Tuhan tidak pernah alfa meniupkan fitrah nurani pada manusia, ciptaannya yang katanya paripurna. Fitrah menuntun manusia untuk menghadapi dunia yang kata Ronggowarsito semakin edan ini, sekaligus membantu manusia mencari hakikat penciptaannya. Manusia mulai mencari Tuhan.

James Redfield sudah meramalkan hal ini dalam bukunya yang terkenal, The Celestine Prophecy. Ia meramalkan bahwa di suatu masa akan terjadi sebuah transformasi besar dalam diri manusia. Transformasi yang akan membawa manusia memasuki tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Perubahan besar itu akan terjadi pada tataran spiritual. Klop!

Transformasi spiritual ini tampaknya benar-benar terjadi saat ini. Hal ini ditandai dengan maraknya pemikiran tentang kecerdasan yang terintegrasi, spirtual quotient, spiritual healing, kecerdasan kuantum, dan sebagainya. Bahkan pemikiran-pemikiran transformatif ini makin subur dengan banyaknya pelatihan-pelatihan spiritual yang selalu-ramai-peminat. Luar biasa.

Saya pikir manusia memang sedang berada pada titik balik yang paling transformatif setelah Renaissance di abad pertengahan dan bangkitnya Revolusi Industri. Manusia saat ini benar-benar merindukan Tuhan.

***
Mencari Tuhan adalah pekerjaan yang harus dan akan selalu dilakukan oleh setiap manusia. Itu mengapa filsafat Perenialisme tidak pernah sepi peminat. Bahkan salah satu kisah yang paling terkenal di kalangan perenialis adalah kisah Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhannya dengan filosofi berpikir yang rasionalis-positivistik.

Pertanyaannya adalah; jika Nabi Ibrahim hidup di abad ini, bagaimana Ia akan mencari Tuhannya? Bukan pertanyaan yang mudah bukan. Tetapi sejatinya saya setuju dengan para pencari Tuhan modern yang mencobanya dengan Google. Mudah, murah, dan tersedia 24 jam. Selamat mencoba!

Ayos Purwoaji
Penulis adalah mahasiswa Despro ITS

_________________________________________________
note:
tulisan ini juga dimuat di halaman opini www.its.ac.id
saya sendiri yang merubah logo Google menjadi Godgle, yaaa iseng abis...
hahahahha

5/5/08

Twentyone or Something...

Baru sadar, besok aku ulang tahun...
malam ini masih di kantor, mengirim beberapa email, ngedit berita, dan memperbaiki desain adv buat ITS online.
nanti malam juga harus menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang melambai-lambai ingin dikerjakan.
beberapa hari ini ndak pulang kos, lama-lama kasihan juga hanif.
ditemani komputer yang berdesing dan hape yang ndak aktif aku coba merangkai postingan ndak mutu ini.
ingin rasanya kurebahkan kepalaku dalam sujud panjang yang syahdu.
mengingat kembali segala nikmat yang ada, dan mensyukuri ke-ada-an-Nya.
selama ini sudah banyak salah yang aku tapaki.
banyak kecewa yang aku torehkan.
daripada sibuk copy-paste jadi orang lain.
sudah saatnya kembali menjadi diri sendiri.
mmm, ya allah yang maha membolak-balikkan hati berilah aku petunjuk.

akhirnya, selamat ulang tahun yos...


pria yang tampak muda ini jujur saja sudah tua.
sekali lagi S.U.D.A.H.T.U.A

Tuban Hideaway

Hello my men! wah wah long weekend pada kemana neh? bagai para mahasiswa seperti saya, mungkin pada pulang ke kampung halaman, sungkem bapak-ibu, makan tidur, minta uang, lalu pulang lagi ke surabaya. oh oh, nista sekali perbuatan kalian anak muda. hehehehe.

oke, jadinya long weekend kemaren saya ndak ada rencana travelling, cuma ada kerjaan yang harus diselesaikan di Tuban. sama werdha, saya harus nyablon puluhan kaos pesanan di studio sablon dia di Palang, Tuban. Ya sudah, berangkatlah saya bersepeda dengan werdha. melewati gresik, lamongan, hingga akhirnya tiba di Tuban.

Karena tidak diniati untuk travelling, ya saya pun tidak banyak meluangkan waktu untuk motret tempat-tempat menarik di Tuban. padahal ada banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi di Tuban: masjid agung, gua akbar, makan sunan bonang, dan yang paling menarik; pondok pesantren bawah tanah! hahaha manstap tuh, yaaa nexttime harus difoto tuh pesantrennya.

Tapi bukan berarti saya tidak kemana-mana, saya sempat mempir sebentar ke pantai kelapa di daerah panyuran. saya mengira Panyuran itu berasal dari kata pe-nyiur-an, perkelapaan. ya karena memang di pantainya banyak kelapa.karena baru kedua kalinya ke tuban, saya pun tidak mau menyia-nyiakan waktu saya untuk pergi ke kelenteng Kwan Sing Bio. kelenteng ini lebih besar dari kelenteng Boen Bio di Surabaya. luas sekali, di dalamnya ada istana apung dengan jembatan cinta, katanya juga mau dibangun pagoda yang jadi bangunan paling tinggi se-tuban raya. Semua foto saya ambil dengan kamera poket Samsung Digimax S500 punya mbak Kontributor. Saya mau buktiken kalo pake kamera poket juga bisa dapet gambar yang ciamik. monggo dinikmati.kalo ke Tuban, jangan lupa makan rujak terasi. huuuh sungguh sangar rasanya. nikmat niaan. rasanya kayak nano-nano, asem, manis, gurih, dan asin semua jadi satu! maknyuuuuus.
Pulangnya hampir mau mampir ke pantai ujung pangkah di gresik, tapi werdha keburu mau pulang. hmm yawdah, mungkin lain kali. tapi sempet ambil gambar sunset di daerah tambak di Sidayu, Gresik. o ya, semarang itu ternyata cuma empat jam dari tuban -lewat rembang, juwana, pati, kudus, lalu semarang- mmm ya next destination mungkin! hahaha
salam travelling!

note:
judul Tuban Hideaway sebetulnya saya comot dari lagu Dave Koz yang berjudul 'Cuban Hideaway. hahaha maap bang dave! trus gambar kover posting diatas saya ambil ketika ada mbak-mbak yang sedang merenung di pinggir pantai, diambil dengan metode candid. maaf ya mbaak.