Pages

8/25/08

Me With Andrea


Hari minggu yang lalu saya disuruh mbantuin anak metro tv untuk pelaksanaan acara Satu Hati, Cerdaskan Bangsa di Surabaya. Acara ini pernah diadakan di Jakarta, dan diliput oleh mbak Kontributor.

Awalnya saya hanya disuruh mbantu nyusun rundown dan doorprize di stage. Acara ini menarik karena menghadirkan Maliq and D'Essenstials, Naff, dan Kick Andy off air. Sebelumnya saya dapat bocoran kalo nanti Kick Andy akan menampilkan Andrea Hirata. Saya pun bersiap membawa Laskar Pelangi untuk book signing sama Andrea.

Pas acara Kick Andy berlangsung juga ditampilkan para punggawa pendidikan yang namanya jarang disentuh dan tidak populer; Pak Candra, guru fisika kreatif. Pak Haji, pendiri sekolah gratis di Dolly. Didit Hape, ketua kelompok Sanggar Alang-alang. Mereka sangat inspiratif!

Setelah acara Kick Andy selesai, niat saya untuk book signing sama Andrea Hirata pupus. Melihat crowd yang langsung mengerubuti Andrea Hirata ingin minta tanda tangan dan foto bareng saya jadi ciut. Selain males, saya juga ndak begitu suka crowd yang uyel-uyelan gitu. Andrea yang hadir dengan kaos Rolling Stones itu pun tampak sabar meladeni penggemarnya yang ratusan itu.

huh saya pun keluar lewat pintu belakang. Sama temen saya, Rudi, berduaan milih nongkrong di trotoar ngeliatin Andy F Noya yang juga book signing ama penggemarnya -meski tidak sebanyak Andrea.

Saya duduk santai dan Rudi memainkan kamera lumix saya. Saya legowo jika tidak jadi foto dan book signing sama Andrea, aah mungkin belum rejeki saya.

Tiba-tiba di tengah semua keributan itu, Rudi dipanggil oleh manajer Pocari Sweat, sponsor utama acara Satu Hati Cerdaskan Bangsa.
"Hei kamu, ayo ikut saya fotoin Andrea!"
sedikit shock, Rudi pun serta merta menarik saya menuju tenda VVIP yan ber-AC dan banyak makanan itu -Rudi dengan rakusnya mencomot SoyJoy yang terhampar bebas di meja, hahaha.

Sampai di tenda VVIP sudah ada Andy F Noya, para bintang tamu pendukung acara, Arif Afandi -wakil Bambang DH, dan jajaran bos Pocari Sweat. Hati saya berdebar. Andrea sedang dipanggil.

Akhirnya Andrea datang, setelah selesai difoto bersama orang-orang penting itu saya pun mendekat berbekal spidol dan novel Laskar Pelangi.
"Mas Andrea, tolong tanda tangan doong..."
Dengan senyum Andrea menandatangani buku saya. Dalam kesempatan itu saya juga cerita jika saya liburan kemarin pergi ke Belitong. Andrea surprised. Kita pun bertukar cerita. Sebuah pengalaman yang unik dan sangat coincidental! hahaha thanks God!

ini blog Andrea Hirata

8/19/08

The Last Trip: Special Occasion

Report perjalanan singkat saya kali ini, kiranya menjadi cerita penutup untuk edisi liburan panjang Hifatlobrain –Desti(Nation). And here they are!

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Kawah Putih

Location:
Ciwideuy, Bandung Selatan – Jawa Barat.
(Dapat di tempuh +46 km, dari Kota Bandung)



Mungkin sudah banyak orang yang mengenal akan cerita dan eksotisme kawasan berkabut, yang menyuguhkan panorama magis, dibalik gunung terjal lagi bertebing nan curam ini. Tempat ini sering sekali digunakan untuk pembuatan video klip hingga lokasi prewedding. Pesona kawah belerang yang senantiasa mengepul, akibat sisa letusan gunung Patuha yang terjadi pada puluhan abad silam, menjadikan kawasan ini sebagai magnet alam yang menarik para wisatawan untuk singgah, sekedar menghilangkan penat dan membantu menciptakan sebuah inspirasi baru bagi para travellers freak dari berbagai penjuru bumi.

Terkesan berlebihan memang, namun pada kenyataannya selalu memaksa kedua mata ini untuk terus mawas, terjaga, bahkan terbelalak kagum dan tak henti-hentinya memuji keagungan Tuhan, subhanallah.

Bagi anda para penggemar travelling, jika ke Bandung sempatkan untuk mampir Kawah putih karena merupakan salah satu kawasan wisata alam yang fenomenal dan tentunya wajib hukumnya untuk dikunjungi! hehehehe


Tempat kedua yang saya kunjungi selama trip liburan kali ini adalah Danau Batu Cinta. dinamakan seperti itu bukannya tanpa alasan, ada mitos penduduk yang menyelimuti keberadaan nama danau ini. Kisah cinta klasik yang melegenda di antara Dewi Rengganis dengan Pangeran Raden Indrajaya, menjadikan Danau Situ Patengan menjadi museum cinta abadi, lagi saksi bisu akan kebenaran kisah tersebut.

Location:
Situ Pantengan, Rancabali, Bandung Selatan – Jawa Barat.
(+1 km dari kawasan wisata Kawah Putih)

Konon kabarnya, jika sepasang kekasih yang sedianya mau menyebrangi danau Situ Patenggan (biasa disebut) dengan sebuah perahu, lalu mengelilingi pulau asmara yang persis terletak ditengah danau tersebut, kemudian menyentuh batu cintanya, niscaya jadilah sepasang kekasih tersebut menjadi langgeng, setia sehidup-semati.
Ciee… huhuw, romantis sekali bukan?

Situ Patengan sendiri berasal dari bahasa sunda, yang berarti ‘Danau pencarian’.
Situ Patengan merupakan danau alam yang memiliki luas, kurang lebih sekitar 60 hektar. Dan disekelilingnya, di pagari oleh panorama kebun teh yang sangat indah nan asri. Hmm...tenang dan hening sekali suasananya.

Untuk culinary report-nya, saya akan menampilkan makanan yang cukup dikenal oleh orang Bogor, Maccaroni Panggang!



Location:
Maccaroni Panggang Restaurant
Jl.Salak no. 24, Bogor – Jawa Barat.

Dari Bandung, keesokan harinya saya menyempatkan diri untuk mampir ke kota hujan, Bogor. Sesampainya disana, suasana kota nampak mendung, macet, dan pastinya padat merayap. Maklumlah malam mingguan. Banyak warga sekitar yang berniat pelesir, jalan-jalan sore, dan menghabiskan malam dipusat kota. Hmm, tak mau kalah, sangat tepat tentunya jika suasana yang mendukung ini diisi dengan kegiatan santai sore disebuah café yang cukup cozy dan tentunya maknyus pula hidangannya. Siapakah dia? Huhu! Si Maccaroni Panggang! -biasa orang Bogor bilang MP.

Penganan yang satu ini tampak luarnya saja sudah menggoda iman, sama seperti kata pak Bondan Winarno, rasanya pun seenak bentuknya…hmmmm,top markotop lah, hehehe…Soal rasa memang relatif sih. Bagi penyuka pasta, tak ada salahnya jika tempat ini dapat dijadikan sebagai referensi culinary trip Anda. pokoknya maknyuss pemirsa! hehehe

Selanjutnya saya berada di Jakarta saja, Welcome to Monas!
Kali ini -lagi-lagi- saya dengan sengaja menyempatkan diri untuk hadir dalam acara akbar, program peduli anak negeri, disilang Monas, Jakarta. acaranya Metro TV ama pocari sweat , SATU HATI CERDASKAN BANGSA, Silang Monas, Jakarta Pusat. Acara ini yang mengusung tema pendidikan ini, menawarkan acara Fun Bike, Fun Walk, Bazaar buku hingga live concert bagi warga sekitar. Sangat menghibur lah… Apalagi ditambah dengan semaraknya acara Talk Show–off air Kick Andy yang dipandu langsung oleh Andy F. Noya. Siiiipppp!

Andy F. Noya feat. Pak Mahmud, kepala sekolah yg juga seorang pemulung,
dimana kisah hidupnya didokumentasikan dalam ajang
EAGLE AWARDS DOCUMENTARY COMPETITION 2007
dan pernah juga di tayangkan di Metro TV


Dengan dimeriahkan oleh beberapa artis ibukota, tak kurang dari ribuan warga sekitar berbondong-bondong untuk hadir, turut serta dalam memeriahkan dan menyemarakkan acara tersebut. Sebut saja beberapa artis ibukota yang ditampil dalam acara tersebut, misalnya Si RonaldDisko, Maliq D’essential, Alexa dan beberapa band lokal lainnya. Hoho, Cuaca yang cukup terik, nampaknya tak menyurutkan semangat para warga untuk tetap bersemangat dalam berpartisipasi.

Ya..ya.. sudah berbekal sepatu kets, satu botol air minum dan tekad bulat serta semangat 45 untuk turut serta dalam olahraga masal ini, nyatanya malah batal ikutan olah raganya! GyaHaaa kacau!.... padahal jadwal telah disusun rapi sebelumnya. Gara-gara dateng telat pada saat reconfirm sebagai peserta fun walk, jam 7 pagi. Rupanya, perjalanan dari Bekasi telah banyak menyita waktu. Dan, yang terjadi adalah Fun WaLk sendiri ‘ajah’ mengelilingi kompleks monas hingga istana negara! hwaduw, yoweslah…agak kecewa juga sih, tapi dari sinilah saya menemukan walk of fame-nya para presiden dari jaman Pak Karno sampai Pak SBY. Hm, terbayarlah sudah penderitaan panjang dihari itu :)...

kaki pak SBY lebih gemuk dan lebih dalam
melesak ke tanah, overweight! hehehe


nonton konser, nonton talk show, and that’s was fun...
Yap, Well done!

NB: Ternyata rangkaian acara Satu Hati akan berlangsung juga diSurabaya
pada tanggal 24 Agustus nanti di Taman Surya, (sekedar informasi).
Hm, Masih mengusung MaliQ pastinya. Ya..ya.. Berminat?

8/17/08

Like Sunday, Like Monday


Merdeka! hehehe, tujuhbelasan tahun ini aku pikir sangat unik. Jatuhnya tepat hari minggu, akibatnya hari minggu pun serasa hari senin! bapak-ibu PNS pada pake baju batik ijo kebesarannya, anak-anak sekolah pun tergopoh-gopoh gak mau telat upacara, sementara yang lain sibuk eh para mahasiswa masih enak ngorok di kos. hahaha busy sunday bukan!

aku udah feeling ini pasti bakal crowded. nah, setelah subuh saya pun mulai beraksi, ditemani travelmate saya yang selalu setia: lumix dan astrea grand! saya pun muter-muter surabaya yang sepagi itu sudah sibuk luar biasa. jalan-jalan arteri pun di blokir dipindah arah. di sekitaran tugu pahlawan bahkan udah gak karuan, macet tak terkira.

barangkali hari senin tanggal 18 agustus nanti malah seperti hari minggu, lengang di jalan-jalan. atau lebih milih hangout ke malang sama keluarga. kontras sekali. like sunday, like monday lah! hahaha

pelajaran moral:
"jangan jadikan hari minggu seperti hari senin,
tapi jadikanlah hari senin seperti hari minggu!"


hahahaha...

8/14/08

orangkecil photoshoot

"Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah!" (anonym)

Aah sebentar lagi tujuhbelas agustus, hari kelahiran rupublik ini. Saya mengumpulkan beberapa keadaan dan tingkah polah wong cilik yang saya temui dalam perjalanan-perjalanan saya. beberapa foto diambil di Jakarta, Surabaya, Jember dan Cepu.

apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka?

selamat menikmati!
hifatlobrain
_____________________________________________________________________



desti(Nation)

Hohoho halo hifatlobrainers! Apa kabar? Lama sudah tidak ada postingan baru di blog ini. Tetapi masa suram itu akan segera berakhir sodara-sodara, liburan panjang membawa semangat baru dan segepok cerita yang akan kembali memenuhi halaman-halaman blog ini.

Posting ini sesungguhnya hanya sebagai sebuah mukkadimah yang akan membuka cerita panjang liburan kali ini. Postingan liburan akan menjadi satu paket cerita menarik yang dirangkum dalam tema desti(Nation).

Ragam ceritanya sebagai berikut:
Holiday Boredom: a Semarang Escapade
Karimunjawa: Diving.Harvesting.Hening
Belitong: a Blessed Island

dan sebuah fotolog keindahan Belitong:
Billiton Paradiso

Mengapa desti(Nation)? Aah karena perjalanan liburan saya kali ini menambah rasa cinta saya terhadap negeri indah ini. Hehehe. Nanti akan diceritakan bagaimana saya begitu menggilai Orde Baru, asyiknya menanam rumput laut dan mengayuh sampan, juga mempelajari kehidupan bahari yang luar biasa kaya.

Oke saya akan menjelaskan trip route saya dulu. Ini dia listnya:
Saya berangkat dari Surabaya-Gresik-Lamongan-Babat-Bojonegoro-Cepu-Blora-
Purwodadi-Grobogan-Gubug-Semarang-Demak-Jepara-
Pulau Kemujan-Pulau Karimunjawa-Pulau Batu-Pulau Seliuk-
Pulau Belian-Belitung-Tanjong Pandan-Manggar-Jakarta-
Bekasi-Cilacap-Semarang-Solo-Jember-dan berakhir kembali di Surabaya.

Saya bukan backpacker sejati seperti Nuran yang dengan santainya ia mengatakan liburan ini berada di Kepulauan Derawan, Kalimantan! Saya hanya low-budget-traveller. Hehehe. Oh ya, dengan bangga saya akan memperkenalkan travelmate saya: Komet! Yaya dia adalah seorang travelmate yang baik. Saya banyak belajar dari dia.

ini foto Komet, buat yang naksir bisa PM saya, hihihi

Akhir kata, saya ingin mengucapkan selamat menikmati!

Weworo:
- gambar bendera diatas saya foto dari bendera di atas kapal wak sinrang
- oh ya, dalam rangka liburan, nanti akan ada special report dari mbak Winda yang mengulas tentang eksotisme Kawah Putih, Bogor culinary trip dan berbagai laporan menarik ala hifatlobrain!

Holiday Boredom: a Semarang Escapade

“Ini baru liburan, Yos! Aku sampai di Jawa Tengaaaaaaaah!”
(Komet, 1986-...)

Liburan panjang memang waktu yang baik untuk belajar dan menemukan hal baru. Apalagi saya ngiler setelah mbaca posting dari Gusti yang melakukan trip menyusuri Banyuwangi hingga mengagumi eksotisme Lombok. Uuugh!

Sebenarnya saya punya holiday plan ama Komet, kita mau city trip dari Surabaya sampe Semarang naik sepeda motor! Awalnya saya pesimis, ngeliat uang yang pas-pasan. tapi modal cekak bukan alasan untuk membatalkan perjalanan impian ini. Apalagi kami menambahkan sebuah tujuan lagi: Karimunjawa. Tujuan kami ke Karimunjawa mengkristal karena sering membaca artikel di milis Indobackpacker dan tayangan di beberapa stasiun tivi tentang Karimunjawa yang membuat kami kepingin berat!

Oke, segala sesuatunya dipersiapkan. Uang yang cuman empatratusribu perak pun kita masukin dompet dengan bangga. Motor butut Astrea Grand saya pun sudah diganti oli dan beberapa onderdilnya. Tas backpack saya pun penuh dengan pakaian dan beberapa buku. Siap perang! Hahaha

Berangkat pagi dari Surabaya, eh baru sampe Lamongan ban udah bocor, damn! Oke syukurnya tidak jauh dari lokasi bocor ada tukang tambal ban. Kita pun lanjut lagi, Semarang masih jauh. Sekitaran jam 10 kita udah sampe di Bojonegoro. Kota ini gersang dan panas nian. Komet pun memutuskan untuk mampir di rumah pakdhenya. Oke saya setuju. Kami pun melepas dahaga dan lapar, sajian sederhana mi goreng dan sayur asam di siang terik itu menjadi sangat enak dan lancar masuk mulut rakus kami. Komet juga banyak bercerita tentang masa kecilnya di Bojonegoro. Mm, meski kotanya panas banget, tapi air di Bojonegoro sangat dingin! Oh ya, jika diperhatikan bahasa jawa di Bojonegoro dialeknya unik, perpaduan jawa etan dan mataraman. Banyak frasa yang saya tidak paham. Komet juga manthuk-manthuk ae, entah paham-entah tidak. Hehehehe.

Oke dan perjalanan pun berlanjut. Setelah keluar dari Bojonegoro kita langsung disambut bengawan solo yang menjadi pembatas jawa timur dan jawa tengah. Selama hidupnya, baru kali ini Komet menginjakkan kaki di jawa tengah. Dia teriak-teriak bukan main dibawah jembatan di perbatasan Cepu. Seperti anak cewek yang diliatin kecoa. Loncat-loncat kegirangan. Hahaha.

Penambang pasir di bengawan solo

Semarang masih jauh. Kita lanjut lagi berjalan, Blora dan Purwodadi dengan hutan jatinya yang lebat dan panjang membuat nyali sedikit ciut. Apalagi hari sudah mulai gelap. Tapi sudah terlanjur basah, apapun yang terjadi kami harus sampai Semarang! Eh tapi siapa sangka, baru masuk hutan jati rimbun di Purwoadi ban motor kembali bocor, lagi-lagi ban belakang. Mampus, mana ada tambal ban di hutan kayak gini. Tapi akhirnya dikasi tau pengemudi truk kalo ada tambal ban di pintu masuk hutan. Saya pun ndorong motor yang naujubilah jauhnya. Mana perut udah laper lagi.

Jam setengah tujuh malam kita sampai di kota Purwodadi. Mau nginep di masjid agung eh pintunya di tutup. Melepas penat setelah sholat saya dan Komet pun liat dangdut dulu di alun-alun. Perut keroncongan gak karuan, tapi uang harus dihemat. Muter-muter cari Peta Semarang di semua toko buku di Purwodadi tapi hasilnya nihil. Tetapi akhirnya saya berhasil menghubungi keluarga saya di Gubug, sebuah kota kecamatan puluhan kilometer dari kota Purwodadi. Saya pun dipersilahkan mampir nginep. Menuju Gubug bukan suatu hal yang mudah dilakukan di malam hari. Kondisi jalan yang rusak berat dan banyak bolongan bertambah maknyus karena tidak ada penerangan selain mata batin kita yang jernih. Hehehehe. Mata saya yang mengemudi juga tinggal lima watt. Lelah, lapar dan bau badan jadi satu.

Tak ada salahnya mencoba nasi gandul
khas Pati yang suedep ini. Maknyus pemirsaaa!


Sampai di Gubug saya mandi dan makan dengan kalap. Lalu tidur hingga keesokan harinya...

Setelah memfotokopi buku Butir-Butir Budaya Jawa karangan presiden Soeharto milik mendiang mbah kakung, kami pun pamit menuju Semarang. Om Titus juga membekali kami dengan sebuah peta sederhana kota Semarang bikinan dia sendiri yang praktis namun usefull. Thanks Om!

Akhirnya sampai di Semarang.

Masjid agung jawa tengah, campuran arsitektur rasa
Persia, Turki, Demak Islam, dan Jazirah Modern

The Mysterious Lawang Sewu,
cobain ruang bawah tanahnya deh!

Gereja Blenduk, di kompleks Kota Lama, deket staiun Tawang

Sebuah kota yang bagus. Dulu beberapa kali saya pernah ke Semarang, saya ngertinya tugu muda, simpang lima, ungaran, dan tahu gimbal serta teh poci. Tetapi perjalanan sama Komet memberi saya banyak hal. Kami mengunjungi Kota Lama, Gereja Blenduk, Stasiun Lawang, Klenteng Sampokong, Masjid Agung Semarang, dan tentu saja Lawang Sewu! Kikikik syerem bos, mana Lawang Sewu gelap bukan main, padahal hari masih sore. Setelah sholat maghrib dan isya kami nggelandang di masjid Isriati Simpang Lima, saya bertemu teman lama, Prama, yang sekarang jadi enterpreneur muda sukses dan makan malam gurami penyet yang murah di sekitaran Undip. Tapi bukan berarti perjalanan usai, malam ini juga kami lanjut ke Jepara melalui Demak.

Di Demak, sempat mampir ngopi di depan masjid agung, ngobrol ngalor ngidul ama bapak-bapak. Ternyata bapaknya juga traveller di masa mudanya dulu. Kita diberinya beberapa tips dan nasihat. Makasih pak!

Hmm akhirnya masuk di Jepara sekitar tengah malam, Jepara jam segitu seperti kota mati. Jalanan lempeng lurus-lurus, kayak gak berujung. Mana kita gak tahu arah, gak ada orang yang ditanyain. Tetapi memang sakti nian Komet, tanpa salah arah kita pun sampe di dermaga Kartini, salah satu akses nyebrang ke Karimunjawa.

Tapi kesusahan belum mau meninggalkan kami. Setelah menitipkan sepeda pada mas-mas penjaga angkringan, saya dan Komet mencari kapal nelayan yang bisa dipakai buat numpang ke Karimujawa. Duit yang ada di kantong tinggal 80 ribu, kalo naek ferry yang per orangnya 45 ribu bisa rugi bandar! Akhirnya ketemu sama Pak Man yang besok paginya mau berangkat menuju Karimunjawa jam 10 pagi.

Sembari menunggu pagi, saya dan Komet memutuskan untuk tidur di dermaga. Dinginnya angin laut di malam hari mencakar-cakar kulit, brrr. Gemeletuk, sendi-sendi jadi linu semua. Sweater tambahan yang saya bawa sama sekali tidak membantu. Oh my...Semoga mentari pagi bisa menghangatkan tubuh ringkih ini esok hari...

Karimunjawa: Diving.Harvesting.Hening

“Hey nak, jangan berhenti sebelum berhasiiil!”
(diucapkan oleh pak imam masjid Kemujan dari jauh)

Perjalanan dari Jepara ke Karimunjawa butuh waktu delapan jam. Tubuh yang ditampar-tampar angin dermaga semalam masih menyisakan kantuk dan lelah. Di kapal pun belom tentu bisa tidur. Suara mesinnya yang menderu-deru dan goyangan kapal yang lebih maknyus dari dewi persik membuat mata ini sulit terpejam, salah-salah bisa muntah akibat mabuk laut. Komet menggelepar, mencoba tahan dari mabuk laut. Saya sendiri lebih suka ngobrol dengan Pak Man sang kapten kapal.

Pak Man sendiri unik, pria asli Makassar ini memiliki tubuh kecil dan ringkih. Matanya juga sudah mulai kotor tidak jernih lagi. Tapi jika kau suruh dia bercerita tentang masa kecilnya, maka ia akan bergolak. Menderu. Dia bercerita katanya ia berpetualang sejak kelas 4 SD! Ia berpetualang sejak tahu ibunya nikah lagi, Pak Man muda takut sekali dengan ayah tirinya. Ia pun mulai menggelandang, berkali-kali dipungut dan diasuh oleh nelayan-nelayan. Ia punya bapak angkat mulai dari orang Bugis, Sasak, sampai orang Osing di Banyuwangi. Kacccooo!

Sunset di Kemujan

Setelah berjalan enam jam di ufuk barat laut menyembul gunung Karimun yang gagah. Saya pikir udah dekat, eh ternyata masih puluhan mil! Oh ya, pernah tau orang sholat di atap kapal? Hmm syahdu nian, apalagi saat sunset. Rasanya beda.

Tidak hanya pantai,
Gunung Karimun juga mempesona

Kami merapat di pelabuhan Kemujan selepas maghrib, suasana hening sekali, beda banget ma Surabaya. Pulau Kemujan sendiri masih berada di kepulauan Karimunjawa, meski bukan main island-nya. Komet pertama kali turun, dia melongo liat ke langit, wups tuh langit bertabur bintang! Milkyway aja kelihatan jelas las! Subhanallah.

Awalnya saya dan Komet ingin benar-benar nggembel, tidur dari masjid ke masjid, lha gimana, uang dikantong cekak sekali, “anggarannya” tinggal 50 ribu! Meski di dompet saya ada selembar limapuluhribu juga. Tetapi Tuhan berkehendak lain, alhamdulillah saya dipertemukan dengan mas Januar, orang asli Kemujan yang memiliki penginapan untuk mahasiswa, jadi murah meriah. Pertemuan itu tidak sengaja, padahal baru beberapa hari yang lalu saya membaca tentang mas Januar di milis tetapi tidak ada contact personnya. Ajaib!

Rumah yang saya tinggali milik bu Pupek, bulik dari mas Januar. Mereka orang Bugis, mereka ramah-ramah. Heran saya, dulu saya pikir orang Bugis itu keras-keras, ternyata pikiran saya selama ini salah. Sehari-hari mereka pakai bahasa campuran Bugis-Jawa, saya jadi paham sedikit dialek mereka, kalo mangreng itu artinya makan, sebuah frasa yang paling saya ingat hahaha! Mereka biasanya mengucap kemujan dengan kmojan dan karimun dengan kerimon. Bu Pupek sendiri jago masak, sejak hari pertama kami disuguhi berbagai aneka seafood olahannya, tentu saja nikmat. Mm bu Pupek punya makanan andalan, namanya bolu gula merah, warnanya coklat muda, legiiit sekali! Komet sampai ketagihan.


Komet di depan resor Indonoor

Burung Camar (Anous stolidus)

Meski tidak ada listrik (listrik hanya tersedia jam 6 sore hingga 10 malam), tetapi pulau Kemujan memiliki pemandangan yang superb! Apalagi kalo melihatnya dari Pondok Indonor, resor kecil lepas pantai punya keluarga bu Pupek. Resor kecil ini berada 500an meter di tengah laut, untuk kesana harus pakai jukung atau perahu kecil. Di Indonor kita bisa diving atau snorkeling, pantainya dangkal, bisa lihat terumbu karang dan ikan, ini salah satu spot diving yang bagus bagi pemula seperti saya, hehehe. Dari Indonor juga bisa lihat pesisir Kemujan yang dihiasi gunung Karimun. Top markotop!

Sepanjang hari saya dan komet hanya jalan-jalan dan memotret. Di Kemujan ada bandara kecil yang mengangkut turis mancanegara. Suatu hari setelah memotret bandara dan danau di sebelahnya saya bersua dengan imam masjid Kemujan. Dia hafal saya, karena jamaah dia bertambah satu, item-jelek lagi. Saya pun mampir kerumahnya dengan Komet. Setelah berbincang tentang sejarah Kemujan saya pamit pulang. Belum jauh keluar dari pekarangan rumahnya, tiba-tiba pak imam masjid berteriak memanggil kami, “Hey nak, jangan berhenti sebelum berhasiiil!”. Saya tersenyum, ndak tahu apa maksudnya, tapi saya dan Komet tiba-tiba merinding. Bungah dan haru rasanya.
Jenis kapal yang dipakai masyarakat Karimun

Tiga hari di Kemujan Komet harus pulang, ia mengejar ferry ke Jepara hari Kamis. Sedangkan saya masih tetap tinggal di Kemujan, kebetulan ada kesempatan bagi saya untuk ke Belitong, dan intuisi saya mendukung. Kami berpisah. Selama lima hari menunggu kapal kargo milik Wak Sinrang –adik bu Pupek- yang akan berangkat ke Belitong, saya membantu memanen rumput laut warga sekitar dan menanamnya, very interesting! Setelah seminggu lebih saya di Kemujan kulit saya pun melepuh karena dibakar matahari sepanjang hari, tambah hitam itu pasti. Tetapi saya tak sabar untuk menunggu hari itu, hari dimana saya berlayar menuju Belitong menaiki kapal Wak Sinrang...

Belitong: a Blessed Island


“Aku pergi karena tugas, Aku pulang karena perlu mama!”
(mural simpel di dalam kapal Wak Sinrang)

Saya ingin ke Belitong sejak empat semester yang lalu. Setelah saya melihat foto-foto Arbain Rambey di Kompas Minggu. Kebetulan saya punya sahabat karib yan tinggal di sana. Keinginan itu bertambah kuat setelah saya baca novel Laskar Pelangi yang ciamik abisss. Enam bulan terakhir saya memang nabung mau kesana. Alhamdulillah akhirnya saat ini terwujud juga.

Saya naik kapal barang Wak Sinrang tiga hari dua malam lamanya. Floating in the middle of nowhere, dengan deru mesin yang bising (bunyinya seperti lima mesin selep padi around your head!), dan makanan ala kadarnya. Rute yang saya lalui bukan rute penumpang, ini adalah rute yang berat hanya ada enam kapal kargo dengan rute Karimunjawa-Belitong. Tapi imajinasi akan Belitong membuat saya hirau akan semuanya.

Naik kapal Wak Sinrang membuat saya sadar bahwa Indonesia ini negeri yang kaya. Saya juga banyak belajar dari Wak Sinrang. Dia adalah pelaut Bugis yang tangguh, pengalamannya merantau membuat wawasannya luas, Sinrang juga seorang pelaut yang bijak menurut saya. Saya diceritakan berbagai folklore kuno tentang lautan, bahkan Sinrang juga banyak bercerita tentang bajak laut di semenanjung malaka yang terkenal edan itu.

Setelah hari ketiga saya memasuki perairan pulau Seliuk. Pulau paling selatan dari Belitong. Di sekitar Belitong banyak pulau kecil nan eksotis. Salah satunya pulau Tikus yang bagus sekali buat prewed, atau pulau Belian tempat penangkaran kerang mutiara. Dari Seliuk ke Belitong masih puluhan mil, bisa ditempuh dalam beberapa jam. Perairan Belitong vegetasinya amat kaya, dari kapal saya bisa melihat puluhan ubur-ubur pergi melintas, anggun sekali.

Pelabuhan Tanjong Pandan adalah pelabuhan yang usianya berabad, mungkin digunakan sejak jaman Sriwijaya. Dermaganya dipenuhi perahu-perahu Phinisi raksasa, juga tanker dan kapal keruk milik PN Timah. Saat merapat saya girang bukan main, teriak-teriak kayak anak kecil kurang kerjaan. Saya seneng banget.

rumah adat Belitong, banyak ditemui di Tanjong Pandan

Di Belitong saya bermalam di rumah teman saya, Alex. Dia sendiri tidak ada di rumah, karena harus ambil semester pendek di Undip. Selama seminggu saya di Belitong saya berkeliling kota juga mencari objek landscape yang bagus. Sayangnya di Belitong apa-apa mahal. Karena langka, bensin eceran per liter dihargai limabelas ribu perak! Mana antrian di pom bensin juga menggila,what the hell... makanya saya cuma berkeliling jika motor teman saya nganggur. Jalan ke Belitong sebaiknya ditemani oleh seorang guide berpengalaman, selain karena di Belitong tidak ada angkutan umum, guide yang baik akan menunjukkan momen-momen puncak di Belitong. Kebetulan mas Gepeng -kakak Alex- mau menjadi guide saya seminggu. Saya pun diajak berkeliling kota dan mejelajahi eksotisme pantai di Belitong. Bahkan bapak Alex sangat excited mengantar saya hingga Manggar di Belitong Timur, di tempat bumi para Laskar Pelangi. Jangan lupa, pada malam minggu orang Belitong suka nganyau alias jalan-jalan sore, suasana di Tanjong Pandan pun bakal lebih rame dari biasanya, pada saat seperti ini sempatkan nongkrong di Begalor Cafe di pinggiran Tanjong Pendam.

Antrian bensin di Belitong, walopun ngantri dari
jam 2 malem sampe jam 11 siang juga belum tentu dapet!


Tanjong Tinggi Belitong hingga saat ini adalah pantai terbaik yang pernah saya kunjungi! Sangat eksotis. Pantainya dipenuhi pasir kuarsa yang putih, lautnya jernih nih, dan yang paling penting gundukan batuan mineral megalith yang indah. Aaah ingin rasanya berlama-lama di pantai ini. Pada hari kerja pantai ini sepi, momen terbaik untuk foto adalah diatas jam dua siang hingga sunset. Jika belom pernah ke Tanjong Tinggi, maka anda belom pernah ke Belitong!

Saya katakan Belitong adalah sebuah pulau yang terberkati (blessed island) karena tiga hal: panoramanya indah, tanahnya kaya, dan para gadisnya cantik-cantik! Hehehe gak heran Sandra Dewi lahir di sini.

Pada saat tertentu anda dapat bertemu dengan penambang timah tradisional,
jika beruntung dalam seminggu mereka bisa dapat 13 juta rupiah


Persaudaraan orang Jawa di Belitong sangat kental. Jika anda supel, bukan tidak mungkin mendapat suguhan soto babat atau mie ayam gratis di warung orang Jawa di Belitong. Hahaha.

Gangan, masakan khas Belitong

Sebenarnya saya masih ingin lebih lama mengeksplor Belitong, apalagi kapal Wak Sinrang masih juga berlabug di Tanjong Pandan. Tapi saya belom bayar SPP kuliah, walhasil saya terpaksa harus pulang dengan menggunakan Sriwijaya Air dari bandara Hanandjoeddin Belitong, ini juga berarti mengakhiri low cost-travelling saya, hik hik. Hmm melihat kepulauan Belitong dari atas maka anda akan mengerti makna dari istilah zamrud khatulistiwa.

Sampai di Cengkareng kebetulan ketemu mbak Winda –sang kontributor- yang akan kembali menuju Surabaya setelah ia puas berkeliling Bandung dan Bogor.

Foto-foto Belitung khusus saya tampilkan dalam sebuah fotolog di bawah. Seandainya ingin menikmati koleksi foto Belitong lebih jauh silahkan mampir ke galeri Picasa saya. Terimakasih!

Salam travelling!

Billiton Paradiso

________________________000______________________
Ini beberapa koleksi foto-foto di Belitong. Banyak spot hunting yang bisa dijelajahi.
Selamat menikmati!
________________________000______________________


Sunrise di Pulau Seliuk


Tanjung Tinggi Panoramic


Senja di Tanjung Binga


Pantai Lalang, Manggar


Tanjong Kelayang