Pages

8/14/08

Belitong: a Blessed Island


“Aku pergi karena tugas, Aku pulang karena perlu mama!”
(mural simpel di dalam kapal Wak Sinrang)

Saya ingin ke Belitong sejak empat semester yang lalu. Setelah saya melihat foto-foto Arbain Rambey di Kompas Minggu. Kebetulan saya punya sahabat karib yan tinggal di sana. Keinginan itu bertambah kuat setelah saya baca novel Laskar Pelangi yang ciamik abisss. Enam bulan terakhir saya memang nabung mau kesana. Alhamdulillah akhirnya saat ini terwujud juga.

Saya naik kapal barang Wak Sinrang tiga hari dua malam lamanya. Floating in the middle of nowhere, dengan deru mesin yang bising (bunyinya seperti lima mesin selep padi around your head!), dan makanan ala kadarnya. Rute yang saya lalui bukan rute penumpang, ini adalah rute yang berat hanya ada enam kapal kargo dengan rute Karimunjawa-Belitong. Tapi imajinasi akan Belitong membuat saya hirau akan semuanya.

Naik kapal Wak Sinrang membuat saya sadar bahwa Indonesia ini negeri yang kaya. Saya juga banyak belajar dari Wak Sinrang. Dia adalah pelaut Bugis yang tangguh, pengalamannya merantau membuat wawasannya luas, Sinrang juga seorang pelaut yang bijak menurut saya. Saya diceritakan berbagai folklore kuno tentang lautan, bahkan Sinrang juga banyak bercerita tentang bajak laut di semenanjung malaka yang terkenal edan itu.

Setelah hari ketiga saya memasuki perairan pulau Seliuk. Pulau paling selatan dari Belitong. Di sekitar Belitong banyak pulau kecil nan eksotis. Salah satunya pulau Tikus yang bagus sekali buat prewed, atau pulau Belian tempat penangkaran kerang mutiara. Dari Seliuk ke Belitong masih puluhan mil, bisa ditempuh dalam beberapa jam. Perairan Belitong vegetasinya amat kaya, dari kapal saya bisa melihat puluhan ubur-ubur pergi melintas, anggun sekali.

Pelabuhan Tanjong Pandan adalah pelabuhan yang usianya berabad, mungkin digunakan sejak jaman Sriwijaya. Dermaganya dipenuhi perahu-perahu Phinisi raksasa, juga tanker dan kapal keruk milik PN Timah. Saat merapat saya girang bukan main, teriak-teriak kayak anak kecil kurang kerjaan. Saya seneng banget.

rumah adat Belitong, banyak ditemui di Tanjong Pandan

Di Belitong saya bermalam di rumah teman saya, Alex. Dia sendiri tidak ada di rumah, karena harus ambil semester pendek di Undip. Selama seminggu saya di Belitong saya berkeliling kota juga mencari objek landscape yang bagus. Sayangnya di Belitong apa-apa mahal. Karena langka, bensin eceran per liter dihargai limabelas ribu perak! Mana antrian di pom bensin juga menggila,what the hell... makanya saya cuma berkeliling jika motor teman saya nganggur. Jalan ke Belitong sebaiknya ditemani oleh seorang guide berpengalaman, selain karena di Belitong tidak ada angkutan umum, guide yang baik akan menunjukkan momen-momen puncak di Belitong. Kebetulan mas Gepeng -kakak Alex- mau menjadi guide saya seminggu. Saya pun diajak berkeliling kota dan mejelajahi eksotisme pantai di Belitong. Bahkan bapak Alex sangat excited mengantar saya hingga Manggar di Belitong Timur, di tempat bumi para Laskar Pelangi. Jangan lupa, pada malam minggu orang Belitong suka nganyau alias jalan-jalan sore, suasana di Tanjong Pandan pun bakal lebih rame dari biasanya, pada saat seperti ini sempatkan nongkrong di Begalor Cafe di pinggiran Tanjong Pendam.

Antrian bensin di Belitong, walopun ngantri dari
jam 2 malem sampe jam 11 siang juga belum tentu dapet!


Tanjong Tinggi Belitong hingga saat ini adalah pantai terbaik yang pernah saya kunjungi! Sangat eksotis. Pantainya dipenuhi pasir kuarsa yang putih, lautnya jernih nih, dan yang paling penting gundukan batuan mineral megalith yang indah. Aaah ingin rasanya berlama-lama di pantai ini. Pada hari kerja pantai ini sepi, momen terbaik untuk foto adalah diatas jam dua siang hingga sunset. Jika belom pernah ke Tanjong Tinggi, maka anda belom pernah ke Belitong!

Saya katakan Belitong adalah sebuah pulau yang terberkati (blessed island) karena tiga hal: panoramanya indah, tanahnya kaya, dan para gadisnya cantik-cantik! Hehehe gak heran Sandra Dewi lahir di sini.

Pada saat tertentu anda dapat bertemu dengan penambang timah tradisional,
jika beruntung dalam seminggu mereka bisa dapat 13 juta rupiah


Persaudaraan orang Jawa di Belitong sangat kental. Jika anda supel, bukan tidak mungkin mendapat suguhan soto babat atau mie ayam gratis di warung orang Jawa di Belitong. Hahaha.

Gangan, masakan khas Belitong

Sebenarnya saya masih ingin lebih lama mengeksplor Belitong, apalagi kapal Wak Sinrang masih juga berlabug di Tanjong Pandan. Tapi saya belom bayar SPP kuliah, walhasil saya terpaksa harus pulang dengan menggunakan Sriwijaya Air dari bandara Hanandjoeddin Belitong, ini juga berarti mengakhiri low cost-travelling saya, hik hik. Hmm melihat kepulauan Belitong dari atas maka anda akan mengerti makna dari istilah zamrud khatulistiwa.

Sampai di Cengkareng kebetulan ketemu mbak Winda –sang kontributor- yang akan kembali menuju Surabaya setelah ia puas berkeliling Bandung dan Bogor.

Foto-foto Belitung khusus saya tampilkan dalam sebuah fotolog di bawah. Seandainya ingin menikmati koleksi foto Belitong lebih jauh silahkan mampir ke galeri Picasa saya. Terimakasih!

Salam travelling!

2 comments:

Yoppi said...

ancrit km yos...

pengen wa...

sialan, kalo ga sibuk pasti kemaren aku ikut...


next time yos, nixe time...

yuk kita travelling lagi...

nando.gino said...

punya info kalo kargo dr jakarta gk ?