Pages

8/14/08

Holiday Boredom: a Semarang Escapade

“Ini baru liburan, Yos! Aku sampai di Jawa Tengaaaaaaaah!”
(Komet, 1986-...)

Liburan panjang memang waktu yang baik untuk belajar dan menemukan hal baru. Apalagi saya ngiler setelah mbaca posting dari Gusti yang melakukan trip menyusuri Banyuwangi hingga mengagumi eksotisme Lombok. Uuugh!

Sebenarnya saya punya holiday plan ama Komet, kita mau city trip dari Surabaya sampe Semarang naik sepeda motor! Awalnya saya pesimis, ngeliat uang yang pas-pasan. tapi modal cekak bukan alasan untuk membatalkan perjalanan impian ini. Apalagi kami menambahkan sebuah tujuan lagi: Karimunjawa. Tujuan kami ke Karimunjawa mengkristal karena sering membaca artikel di milis Indobackpacker dan tayangan di beberapa stasiun tivi tentang Karimunjawa yang membuat kami kepingin berat!

Oke, segala sesuatunya dipersiapkan. Uang yang cuman empatratusribu perak pun kita masukin dompet dengan bangga. Motor butut Astrea Grand saya pun sudah diganti oli dan beberapa onderdilnya. Tas backpack saya pun penuh dengan pakaian dan beberapa buku. Siap perang! Hahaha

Berangkat pagi dari Surabaya, eh baru sampe Lamongan ban udah bocor, damn! Oke syukurnya tidak jauh dari lokasi bocor ada tukang tambal ban. Kita pun lanjut lagi, Semarang masih jauh. Sekitaran jam 10 kita udah sampe di Bojonegoro. Kota ini gersang dan panas nian. Komet pun memutuskan untuk mampir di rumah pakdhenya. Oke saya setuju. Kami pun melepas dahaga dan lapar, sajian sederhana mi goreng dan sayur asam di siang terik itu menjadi sangat enak dan lancar masuk mulut rakus kami. Komet juga banyak bercerita tentang masa kecilnya di Bojonegoro. Mm, meski kotanya panas banget, tapi air di Bojonegoro sangat dingin! Oh ya, jika diperhatikan bahasa jawa di Bojonegoro dialeknya unik, perpaduan jawa etan dan mataraman. Banyak frasa yang saya tidak paham. Komet juga manthuk-manthuk ae, entah paham-entah tidak. Hehehehe.

Oke dan perjalanan pun berlanjut. Setelah keluar dari Bojonegoro kita langsung disambut bengawan solo yang menjadi pembatas jawa timur dan jawa tengah. Selama hidupnya, baru kali ini Komet menginjakkan kaki di jawa tengah. Dia teriak-teriak bukan main dibawah jembatan di perbatasan Cepu. Seperti anak cewek yang diliatin kecoa. Loncat-loncat kegirangan. Hahaha.

Penambang pasir di bengawan solo

Semarang masih jauh. Kita lanjut lagi berjalan, Blora dan Purwodadi dengan hutan jatinya yang lebat dan panjang membuat nyali sedikit ciut. Apalagi hari sudah mulai gelap. Tapi sudah terlanjur basah, apapun yang terjadi kami harus sampai Semarang! Eh tapi siapa sangka, baru masuk hutan jati rimbun di Purwoadi ban motor kembali bocor, lagi-lagi ban belakang. Mampus, mana ada tambal ban di hutan kayak gini. Tapi akhirnya dikasi tau pengemudi truk kalo ada tambal ban di pintu masuk hutan. Saya pun ndorong motor yang naujubilah jauhnya. Mana perut udah laper lagi.

Jam setengah tujuh malam kita sampai di kota Purwodadi. Mau nginep di masjid agung eh pintunya di tutup. Melepas penat setelah sholat saya dan Komet pun liat dangdut dulu di alun-alun. Perut keroncongan gak karuan, tapi uang harus dihemat. Muter-muter cari Peta Semarang di semua toko buku di Purwodadi tapi hasilnya nihil. Tetapi akhirnya saya berhasil menghubungi keluarga saya di Gubug, sebuah kota kecamatan puluhan kilometer dari kota Purwodadi. Saya pun dipersilahkan mampir nginep. Menuju Gubug bukan suatu hal yang mudah dilakukan di malam hari. Kondisi jalan yang rusak berat dan banyak bolongan bertambah maknyus karena tidak ada penerangan selain mata batin kita yang jernih. Hehehehe. Mata saya yang mengemudi juga tinggal lima watt. Lelah, lapar dan bau badan jadi satu.

Tak ada salahnya mencoba nasi gandul
khas Pati yang suedep ini. Maknyus pemirsaaa!


Sampai di Gubug saya mandi dan makan dengan kalap. Lalu tidur hingga keesokan harinya...

Setelah memfotokopi buku Butir-Butir Budaya Jawa karangan presiden Soeharto milik mendiang mbah kakung, kami pun pamit menuju Semarang. Om Titus juga membekali kami dengan sebuah peta sederhana kota Semarang bikinan dia sendiri yang praktis namun usefull. Thanks Om!

Akhirnya sampai di Semarang.

Masjid agung jawa tengah, campuran arsitektur rasa
Persia, Turki, Demak Islam, dan Jazirah Modern

The Mysterious Lawang Sewu,
cobain ruang bawah tanahnya deh!

Gereja Blenduk, di kompleks Kota Lama, deket staiun Tawang

Sebuah kota yang bagus. Dulu beberapa kali saya pernah ke Semarang, saya ngertinya tugu muda, simpang lima, ungaran, dan tahu gimbal serta teh poci. Tetapi perjalanan sama Komet memberi saya banyak hal. Kami mengunjungi Kota Lama, Gereja Blenduk, Stasiun Lawang, Klenteng Sampokong, Masjid Agung Semarang, dan tentu saja Lawang Sewu! Kikikik syerem bos, mana Lawang Sewu gelap bukan main, padahal hari masih sore. Setelah sholat maghrib dan isya kami nggelandang di masjid Isriati Simpang Lima, saya bertemu teman lama, Prama, yang sekarang jadi enterpreneur muda sukses dan makan malam gurami penyet yang murah di sekitaran Undip. Tapi bukan berarti perjalanan usai, malam ini juga kami lanjut ke Jepara melalui Demak.

Di Demak, sempat mampir ngopi di depan masjid agung, ngobrol ngalor ngidul ama bapak-bapak. Ternyata bapaknya juga traveller di masa mudanya dulu. Kita diberinya beberapa tips dan nasihat. Makasih pak!

Hmm akhirnya masuk di Jepara sekitar tengah malam, Jepara jam segitu seperti kota mati. Jalanan lempeng lurus-lurus, kayak gak berujung. Mana kita gak tahu arah, gak ada orang yang ditanyain. Tetapi memang sakti nian Komet, tanpa salah arah kita pun sampe di dermaga Kartini, salah satu akses nyebrang ke Karimunjawa.

Tapi kesusahan belum mau meninggalkan kami. Setelah menitipkan sepeda pada mas-mas penjaga angkringan, saya dan Komet mencari kapal nelayan yang bisa dipakai buat numpang ke Karimujawa. Duit yang ada di kantong tinggal 80 ribu, kalo naek ferry yang per orangnya 45 ribu bisa rugi bandar! Akhirnya ketemu sama Pak Man yang besok paginya mau berangkat menuju Karimunjawa jam 10 pagi.

Sembari menunggu pagi, saya dan Komet memutuskan untuk tidur di dermaga. Dinginnya angin laut di malam hari mencakar-cakar kulit, brrr. Gemeletuk, sendi-sendi jadi linu semua. Sweater tambahan yang saya bawa sama sekali tidak membantu. Oh my...Semoga mentari pagi bisa menghangatkan tubuh ringkih ini esok hari...

2 comments:

cakru said...

mau tanya niih, kalau ke karimunjawa, sepeda motor bisa ikutan nyebrang naik kapal fery ga? n jadwal kapalnya tuh tiap hari ada atau hanya pada hari2 tertentu aja???thanks infonya....

Ayos Purwoaji said...

Sepeda motor bisa naik ke kapal feri, tapi harga dan jadwalnya saya tidak tahu, karena sejak beberapa bulan lalu berubah. Makasih.