Pages

8/14/08

Karimunjawa: Diving.Harvesting.Hening

“Hey nak, jangan berhenti sebelum berhasiiil!”
(diucapkan oleh pak imam masjid Kemujan dari jauh)

Perjalanan dari Jepara ke Karimunjawa butuh waktu delapan jam. Tubuh yang ditampar-tampar angin dermaga semalam masih menyisakan kantuk dan lelah. Di kapal pun belom tentu bisa tidur. Suara mesinnya yang menderu-deru dan goyangan kapal yang lebih maknyus dari dewi persik membuat mata ini sulit terpejam, salah-salah bisa muntah akibat mabuk laut. Komet menggelepar, mencoba tahan dari mabuk laut. Saya sendiri lebih suka ngobrol dengan Pak Man sang kapten kapal.

Pak Man sendiri unik, pria asli Makassar ini memiliki tubuh kecil dan ringkih. Matanya juga sudah mulai kotor tidak jernih lagi. Tapi jika kau suruh dia bercerita tentang masa kecilnya, maka ia akan bergolak. Menderu. Dia bercerita katanya ia berpetualang sejak kelas 4 SD! Ia berpetualang sejak tahu ibunya nikah lagi, Pak Man muda takut sekali dengan ayah tirinya. Ia pun mulai menggelandang, berkali-kali dipungut dan diasuh oleh nelayan-nelayan. Ia punya bapak angkat mulai dari orang Bugis, Sasak, sampai orang Osing di Banyuwangi. Kacccooo!

Sunset di Kemujan

Setelah berjalan enam jam di ufuk barat laut menyembul gunung Karimun yang gagah. Saya pikir udah dekat, eh ternyata masih puluhan mil! Oh ya, pernah tau orang sholat di atap kapal? Hmm syahdu nian, apalagi saat sunset. Rasanya beda.

Tidak hanya pantai,
Gunung Karimun juga mempesona

Kami merapat di pelabuhan Kemujan selepas maghrib, suasana hening sekali, beda banget ma Surabaya. Pulau Kemujan sendiri masih berada di kepulauan Karimunjawa, meski bukan main island-nya. Komet pertama kali turun, dia melongo liat ke langit, wups tuh langit bertabur bintang! Milkyway aja kelihatan jelas las! Subhanallah.

Awalnya saya dan Komet ingin benar-benar nggembel, tidur dari masjid ke masjid, lha gimana, uang dikantong cekak sekali, “anggarannya” tinggal 50 ribu! Meski di dompet saya ada selembar limapuluhribu juga. Tetapi Tuhan berkehendak lain, alhamdulillah saya dipertemukan dengan mas Januar, orang asli Kemujan yang memiliki penginapan untuk mahasiswa, jadi murah meriah. Pertemuan itu tidak sengaja, padahal baru beberapa hari yang lalu saya membaca tentang mas Januar di milis tetapi tidak ada contact personnya. Ajaib!

Rumah yang saya tinggali milik bu Pupek, bulik dari mas Januar. Mereka orang Bugis, mereka ramah-ramah. Heran saya, dulu saya pikir orang Bugis itu keras-keras, ternyata pikiran saya selama ini salah. Sehari-hari mereka pakai bahasa campuran Bugis-Jawa, saya jadi paham sedikit dialek mereka, kalo mangreng itu artinya makan, sebuah frasa yang paling saya ingat hahaha! Mereka biasanya mengucap kemujan dengan kmojan dan karimun dengan kerimon. Bu Pupek sendiri jago masak, sejak hari pertama kami disuguhi berbagai aneka seafood olahannya, tentu saja nikmat. Mm bu Pupek punya makanan andalan, namanya bolu gula merah, warnanya coklat muda, legiiit sekali! Komet sampai ketagihan.


Komet di depan resor Indonoor

Burung Camar (Anous stolidus)

Meski tidak ada listrik (listrik hanya tersedia jam 6 sore hingga 10 malam), tetapi pulau Kemujan memiliki pemandangan yang superb! Apalagi kalo melihatnya dari Pondok Indonor, resor kecil lepas pantai punya keluarga bu Pupek. Resor kecil ini berada 500an meter di tengah laut, untuk kesana harus pakai jukung atau perahu kecil. Di Indonor kita bisa diving atau snorkeling, pantainya dangkal, bisa lihat terumbu karang dan ikan, ini salah satu spot diving yang bagus bagi pemula seperti saya, hehehe. Dari Indonor juga bisa lihat pesisir Kemujan yang dihiasi gunung Karimun. Top markotop!

Sepanjang hari saya dan komet hanya jalan-jalan dan memotret. Di Kemujan ada bandara kecil yang mengangkut turis mancanegara. Suatu hari setelah memotret bandara dan danau di sebelahnya saya bersua dengan imam masjid Kemujan. Dia hafal saya, karena jamaah dia bertambah satu, item-jelek lagi. Saya pun mampir kerumahnya dengan Komet. Setelah berbincang tentang sejarah Kemujan saya pamit pulang. Belum jauh keluar dari pekarangan rumahnya, tiba-tiba pak imam masjid berteriak memanggil kami, “Hey nak, jangan berhenti sebelum berhasiiil!”. Saya tersenyum, ndak tahu apa maksudnya, tapi saya dan Komet tiba-tiba merinding. Bungah dan haru rasanya.
Jenis kapal yang dipakai masyarakat Karimun

Tiga hari di Kemujan Komet harus pulang, ia mengejar ferry ke Jepara hari Kamis. Sedangkan saya masih tetap tinggal di Kemujan, kebetulan ada kesempatan bagi saya untuk ke Belitong, dan intuisi saya mendukung. Kami berpisah. Selama lima hari menunggu kapal kargo milik Wak Sinrang –adik bu Pupek- yang akan berangkat ke Belitong, saya membantu memanen rumput laut warga sekitar dan menanamnya, very interesting! Setelah seminggu lebih saya di Kemujan kulit saya pun melepuh karena dibakar matahari sepanjang hari, tambah hitam itu pasti. Tetapi saya tak sabar untuk menunggu hari itu, hari dimana saya berlayar menuju Belitong menaiki kapal Wak Sinrang...

9 comments:

Yoppi said...

met...

masyaallah... perutmu met...


hihihihi....

inikinibelitung said...

Ass....sudah lihat semua pantai di Belitong belum?masih banyak pantai yg belum banyak diketahui orang.Pantai itu belum punya nama n masih asli yg teletak di desa tanjong Kelumpang.coba aja?

Anonymous said...

Malem Mas Aklam,

perkenalkan nama saya Reza, arek suroboy yg skrg tinggal di Ibukota demi sesuap nasi.. dua hari lagi sy mo Karimun Jawa, nah bs bagi info2nya ga? gmn caranya kesana..naek apa? ada kenalan disana ga? dsb..

reza said...

Ass..

perkenalkan saya Reza, arek suroboyo yang skrg kebetulan di Ibukota demi mengejar cita2..
boleh bagi info ttg Karimun Jawa?? 2 hari lagi sy berencana kesana..

aklam said...

@ reza:
salam kenal mas reza!
kalo menurut saya mending mas ke pulau kemojan saja, cari yang namanya bu pupek, orang sepulau tau semua rumahnya. dia orangnya baik, rumahnya juga sering dipake nginep anak mahasiswa. sayangnya no hapenya saya lupa.

kalo di pulau karimunnya saya ndak ada kenalan, cuman salah satu yang terkenal namanya bu ester, dia punya warung nasi. anyway kalo di karimun udah banyak losmen mas, tinggal pilih aja. kalo belom naik sih harganya sekitar 60-90 ribu semalem.

have a nice trip mas reza!

namirasy said...

mas .
pengen tau dong akses ke karimun jawa gmana?
biayanya kira2 brapa ya?
saya dr bandung ni.ada rncana mau k karimun jawa .
atau masnya ada alternatif pantai lain yang bagus tapi murah
hhe.
maklum
msih mahasiswa.

terimakasih ya mas .

aklam said...

Halo myo, kalo sarankan jangan ke karimunjawa pas musim hujan, karena ombak sedang besar. waktu terbaik untuk berkunjung adalah sekitar bulan april-juli. rute paling mungkin dengan budget paling minim untuk wanita seperti kamu adalah; cari bis ekonomi dari cicaheum menuju semarang aau pake kereta ekonomi juga oke. sampe semarang cari bis lanjutan ke terminal jepara. sampe terminal jepara kamu bisa jalan ke pelabuhan karena sangat dekat. nah sampe di pelabuhan ada beberaa pilihan. paling murah adalah pake kapal nelayan, kamu cuma bayar 20rb aja, kalo mau naik ferry kamu bayar 45rb. kapal cepat 70-90 rb. saya sarankan kamu pake ferry aja. sampe di karimun nanti udah banyak homestay kok tinggal pilih.

untuk lebih lengkapnya kamu bisa kirim email saya di punyaku_3@yahoo.com. nanti saya kasih info lebih detil. thanks!

Anonymous said...

Selamat malam mas Aklam

saya mau nanya ttg best spot buat nginep di Karimun tp dgn harga miring

coz mau planning menuju Karimun sekitar 3 bln lg

gmna mncapai tmpt yg mas referensikan ya?

mohon bantuannya untuk info2 lainnya yg mgkn bisa membantu para newbie menuju Karimun

aklam said...

buat mas anonymous:
silahkan kirim email ke saya, nanti saya kasih kontaknya mas januar, pemilik penginapan yang murah dan alternatif lainnya.

email saya di punyaku_3@yahoo.com