Pages

12/27/08

Sinyal Dari Seliuk


Teks dan foto: Ayos Purwoaji*
___________________

Sebelum subuh kapal Berkah Rizki memasuki perairan pulau Seliuk, sebuah pulau kecil di baratdaya Belitung. Hanya saja Wak Sinrang, kapten kapal Berkah Rizki, tidak bisa menambatkan kapalnya di dermaga Seliuk pagi ini. Air surut di Seliuk memang keterlaluan, kapal bermuatan sedang milik Wak Sinrang tidak bisa menepi. Tapi Wak Sinrang tidak kehabisa
n akal, dia pun menelepon Maprawi, temannya yang penduduk asli Seliuk, untuk membongkar muatannya nanti setelah matahari terbit dengan jukung atau kapal kecil.

Kali ini KM Berkah Rizki membawa berbagai mebel, beras, dan minyak dari Jepara. Wak Sinrang rutin memasok kebutuhan penduduk Seliuk setiap bulannya. Tak terkecuali kebutuhan-kebutuhan pokok yang kadang susah ditemui warga Seliuk meskipun harus menyeberang ke pulau besar, sebutan warga Seliuk untuk Belitung. “Biasanya Maprawi yang kontak saya, s
aya cuman memasok apa yang dibutuhkan saja,” ujar Wak Sinrang datar. Maprawi juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual batang-batang kayu kelapa yang memang tumbuh subur di pulau Seliuk. Sinrang mengangkut gelondongan kayu kelapa saat kembali ke Jepara. Industri mebel dan ukir di Jepara banyak menggunakan kayu kelapa sebagai bahannya.

Wak Sinrang sudah melakukan kegiatan trading ini sejak belasan tahun yang lalu. Namun Sinrang men
gaku bahwa perkembangan komunikasi saat ini memberikan kemudahan untuk berhubungan dengan penduduk Seliuk, khususnya Maprawi. “Sebelumnya susah, apalagi saat musim badai tiba, bisa berbulan-bulan saya tidak datang ke Seliuk,” ungkap pelaut Bugis yang tinggal di Jepara ini.

***


Seliuk adalah pulau kecil. Dalam peta dunia Seliuk tidak masuk hitungan, di peta nasional saja biasanya Seliuk hanya digambarkan dengan noktah kecil di tengah laut, atau digambarkan menempel di bawah Belitung, bercampur dengan ribuan pulau lain yang mengitari pulaunya para Laskar Pelangi ini.

Pulau ini sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, salah satunya adalah hasil lautnya yang kaya. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa perairan di daerah Bangka B
elitung memiliki vegetasi yang sangat beragam. Bahkan jika pada musimnya, nelayan sekitar dengan mudahnya menangkap ubur-ubur yang melintas bergerombol. Tak heran sebagian penduduk Seliuk menjadikan nelayan sebagai mata pencahariannya.

Selain itu pulau Seliuk memiliki pemandangan yang cukup apik. Pantainy
a yang putih memanjang mengelilingi pulau dihiasi barisan pohon nyiur yang berdiri rapi di pinggirnya. Udaranya yang bersih dan bebas polusi menjadi tawaran menarik untuk meluangkan waktu menjelajahi pulau ini. Penduduk Seliuk pun sangat ramah kepada para pendatang. Setiap turis, untuk pertama kalinya pasti disapa oleh gapura sederhana berwarna kuning-hijau yang catnya sudah banyak mengelupas di sana-sini, gapura itu menyapa dengan hangat; Selamat Datang di Desa Pulau Seliu. Warga asli memang lebih suka menuliskannya dengan Seliu, tanpa ‘k’.

Hanya saja tidak mudah untuk mencapai pulau Seliuk, transportasi menjadi
kendala utama. Seliuk is far away from anywhere, jalurnya pun hanya satu; lewat laut! Tidak ada alternatif yang lebih enak. Untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di Belitung saja penduduk Seliuk harus menyeberang menggunakan perahu motor tempel yang beroperasi dua kali sehari. Biasanya penduduk Seliuk pergi berbelanja ke Belitung menggunakan perahu pagi dan pulang dengan menumpang perahu yang sama pada sore harinya. Pada musim angin barat, resikonya pun menjadi berlipat-lipat. Maka diam di pulau selama musim badai merupakan pilihan yang tepat untuk selamat.

Perahu motor tempel

Karena merupakan tempat yang cukup susah dijangkau, maka Seliuk seringkali luput pula dari perhatian pemerintah. Segala janji dan planning pembangunan daerah pun hanya terjadi di tempat-tempat yang lebih populer saja, Tanjungpandan dan Manggar di pulau besar. Sedangkan di Seliuk, bahkan hampir tidak berubah dari keadaannya sepuluh tahun yang lalu.

***


Namun bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali di Seliuk. Salah satu yang jelas terlihat adalah pembangunan menara BTS milik PT Excelcomindo Pratama atau lebih familiar disebut XL sebagai salah satu operator telekomunikasi terkemuka di Indonesia. Mengapa pembangunan BTS ini terasa spesial? Berbeda dengan Jawa dimana menara BTS dipasang berderet dan mudah ditemui di tiap jengkalnya. Di Seliuk hanya ada satu BTS dan itu milik XL. Itu mengapa penduduk Seliuk menggunakan XL sebagai operator seluler mereka; karena meman
g hanya XL yang mampu menghasilkan suara jernih dengan sinyal penuh di sebuah pulau yang berada in the middle of nowhere seperti Seliuk.

...karena memang hanya XL yang mampu menghasilkan suara jernih dengan sinyal penuh di sebuah pulau yang berada in the middle of nowhere seperti Seliuk...

Penduduk Seliuk pun merasa diuntungkan dengan adanya pembangunan sarana komunikasi milik XL ini. Beberapa usaha kecil pun berkembang menjadi lebih besar, bahkan beberapa komoditas yang awalnya hanya untuk penduduk Seliuk pun kini menjadi salah satu produk daerah dan dapat dijual di beberapa tempat di pulau besar dan pulau kecil di sekitar Seliuk. Salah satu orang yang senang dengan adanya perangkat BTS ini adalah Maksun, pemuda asli Seliuk yang melanjutkan sekolah di Membalong. Komunikasinya dengan keluarga selalu lancar, dengan hape biasanya ia mengabarkan keadaannya di pulau besar kepada kedua orangtuanya di Seliuk. Maksun berujar, “Biasanya kalau sudah kangen telpon-telponan sama mamak, untungnya XL nggak mahal,”. Maksun merasa lebih diuntungkan lagi karena sebagian besar penduduk di pulau besar adalah pengguna XL. Di Belitung XL memang menjadi operator selular yang paling eksis.

Urang Seliu

Dibangunnya BTS milik XL di Seliuk sendiri seperti sebuah aksentuasi. Sebuah pembeda yang jelas. Sebuah penegasan bahwa XL telah menginjakkan kakinya di Seliuk, pulau yang awalnya bahkan tidak dilirik oleh peradaban. XL mewujudkan akses yang lebih luas dan cepat bagi masyrakat Seliuk untuk berhubungan dengan dunia luar. Seperti Maprawi yang bisa meningkatkan bisnis kecilnya dengan Sinrang. Sebuah bisnis kecil yang dipisahkan ribuan mil laut namun tetap lancar dengan adanya layanan telekomunikasi seluler yang mudah dan murah.


* Penulis adalah mahasiswa ITS Surabaya

Email: punyaku_3@yahoo.com

Note:
Foto kover adalah pulau seliuk tampak depan,
seluruh foto diambil pada 30 Juli 2008.

12/19/08

Ampel Afterhour

Text: Ayos Purwoaji
Photo: Ayos Purwoaji

feat. Zhuang Wubin
________________

Sejak dulu saya selalu percaya: Ampel itu mempesona! hal itu menjadi lebih kuat ketika beberapa waktu yang lalu teman saya, Zhuang Wubin, mengajak saya untuk hunting bareng di kawasan Ampel. Tampaknya dia juga menyukai kawasan tua ini. Kalo dulu saya pernah jalan ke ampel sama mas Fahmi suatu siang di hari Jumat, dimana peziarah dan pasar Ampel Suci sedang ramai-ramainya. Nah kali ini saya sama Wubin ke Ampel pas malam hari, saat para peziarah tak lagi banyak, dan pasar Ampel Suci sedang berkemas ingin pulang.

Wubin and the backbone,
dia gak suka difoto...


Ada banyak hal yang baru bagi saya. melihat para jamaah sedang pulang dari masjid, ibu penjual kurma yang sedang ditingkahi hujan, signage tua yang selalu menghadap ke arah yang sama. Ternyata Ampel yang tanpa hiruk pikuk itu juga bisa menjadi indah di lensa fix saya.

Begitu juga dengan beberapa orang yang sedang bermain gaple di pasar Ampel Suci. mereka asik berjudi. Wubin pun menyeletuk,"This is haraam!" ujarnya dengan logat Singlish yang kental. Saya tersenyum kecut. Saya juga sempat berbincang sedikit dengan mbah Rejo, seorang palmistry yang suka menebak nasib dari garis-garis tangan kliennya. "Kalo kesini hari Jumat Legi dik, pasti ramai!" ujar mbah Rejo.

Ya harus saya akui, Ampel di malam hari itu paradoks yang indah. Nuansa religius yang kental bercampur dengan aroma malam yang jahanam. Surga dan neraka lebur dibawah selimut hangat pengemis yang tidur di emperan.

monggo dinikmati photoshoot saya:)


nb:
- Foto kover saya ambil di depan sebah musholla kecil di perkampungan Ampel selepas Isya.
- Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumentasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!

Sarkam Coffee


Ahh sembari jalan-jalan ke Ampel, tak ada salahnya untuk mampir ke beberapa tempat kuliner yang asik nan endemik. Wubin sendiri memiliki dua tempat kuliner pilihan, yang satu adalah warung nasi kari yang katanya paling enak di Surabaya (Wubin version lhoo), satunya lagi warung kopi legendaris yang bikin Wubin ketagihan.

Namanya warung kopi Sarkam.

Singkatan dari 'pasar kambing'. karena memang letaknya di depan pasar kambing. ndak njelimet kok, di depan gang samping jalan raya. tanya orang Ampel pasti rata-rata tahu semua.

Warung kopi inilah yang mempertemukan saya dengan bang Asim. Seorang mahasiswa penggemar foto pula. Kebtulan ia mengenali Wubin karena pernah melihat eksibisi Wubin tahun lalu. Jadilah kita bercerita panjang lebar. Apalagi bang Asim membawa banyak teman. Malam pun jadi lebih hangat.

Kopi Sarkam sendiri cukup unik. Teksturnya keras. Apalagi kopinya kopi hasil selep yang masih kasar, kadang ada beberapa ampas yang mengapung, mirip coco granule. Disajikan dalam dua versi: gelas besar atau gelas kecil. Saya sendiri pilih yang kecil, harganya seribuan kalo ndak salah. Patut dicoba.

Warung Sarkam ini berdiri sejak limapuluh-an tahun yang lalu. Sekarang yang njaga cucu dari pendirinya. Dari dulu sampai sekarang masih tetap sama: selalu ramai setiap malam!

yaya, bagi para Hifatlobrainers penggemar kopi barangkali tak ada salahnya mencoba mampi ke warung kopinya orang Ampel ini. Ngopi dulu...men, biar adem. Hehehe.

nb:
kata-kata, "Ngopi dulu...men, biar adem" terdapat pada spanduk di depan warung kopi Sarkam. Kalo diperhatikan lucu juga, ambigu. Bukankah orang ngopi itu buat cari kehangatan ya? Ato warung kopi Sarkan juga menyediakan Birdy, kopi instan yang rasanya dingin itu? hehehe

12/13/08

Chinese Moslem: a Tuban Chapter

Text: Ayos Purwoaji
featured research with Zhuang Wubin

________________________

Hola hifatlobrainer semua! Apa kabar dengan keluarga di rumah? istri tetangga masih sehat kan? Kalo tukang bakmi langgangan situ juga masih sering nongkrong di depan poskamling kan? Hmm ya ya dunia masih berjalan normal seperti layaknya hamster yang harus jalan di dalam turbin mainan. Trus apakah kemarin pas Idul Kurban sempet pulang ke rumah? Atau mungkin yang gak bisa pulang menyempatkan diri travelling karena holiday yang lumayan panjang.

Saya juga ndak bisa pulang kok. Kebetulan ada seorang teman dari Singapura yang dateng ke Indonesia buat riset tentang sejarah muslim tionghoa (chinese moslem) dan saya sedia untuk mengantarkannya menuju Tuban. Namanya Zhuang Wubin, dia penulis, fotografer, dan traveller juga. Wubin adalah freelance writer untuk beberapa media seperti Asian Wall Street Journal dan Visual Arts Magz. Orangnya kecil, nomongnya aneh ala Singlish plus ditambah logat mandarin, gayanya simple: kaos gratisan dari festival film internasional plus celana pendek selutut plus sendal jepit. Sebelum riset di Tuban, Wubin terlebih dulu mengunjungi Palembang, Bangka, Jakarta, Banten, Madura dan Surabaya. Ia memang fokus di kota-kota pesisir. Dari serangkaian risetnya ini ia sempat bertemu dengan beberapa tokoh muslim tionghoa terkemuka di Indonesia, antara lain: Anton Medan, Tan Mei Hwa, dan Abdurrahman Wahid.

Nama Gus Dur masuk karena dalam silsilahnya, Wahid Hasyim –kakek dari Gus Dur- masih memiliki darah tionghoa yang kental. Ndak heran di masa pemerintahannya Gus Dur membuka kembali ruang para warga tionghoa dan peranakan untuk kembali berkiprah dan menjadi pribumi, karena kita tahu pemerintahan Orde baru agak alergi sama segala sesuatu yang berbau tionghoa.

Dalam perjalanan empat hari ini saya mendapatkan banyak hal. Saya belajar banyak dari Wubin. Ia adalah guru dan teman diskusi yang baik –sekaligus menjengkelkan haha, soale kalo pas kumat bisa ngeyel ndak karuan. Wubin banyak mengajari saya tentang sejarah, arkeologi, nasionalisme, pluralitas, jurnalisme, fotografi, filsafat, konspirasi hingga isu dunia termutakhir. Ia banyak membaca buku bagus. Referensi saya dari Samuel Huntington dan Karen Amstrong pupus dimentahkannya. Wubin adalah penganut setia Noam Chomsky yang chaotic. Namun kami satu suara saat membahas Edward Said. Ia juga memberikan referensi riset sejarah yang menarik dari Denys Lombard dan Claudine Salmon yang runut dan detil.

Selama empat hari di Tuban, jangan harap saya menikmati liburan itu seperti turis. Saya harus siap berangkat jam tujuh pagi dan pulang larut malam. Mengikuti ritme kerja Wubin yang penuh passion itu. Menjadi penerjemah Wubin kadang bisa menjadi hal yang susah dilakukan, saya teringat betul ketika suatu malam Wubin berdiskusi panjang dengan salah satu pakar arkeolog Tuban, saya kebingungan mencari padanan kata yang pas untuk ‘pasang surut’. Pernah juga suatu saat ditolak mentah-mentah oleh narasumber yang sebenernya maknyus buat ditulis. Melakukan perjalanan panjang ke Rengel hanya untuk ngobrol satu jam. Hingga menggigil kehujanan saat ingin interview dengan seorang kyai di daerah Merakurak.

Selama riset di Tuban, Wubin memfokuskan kepada dua sosok figur muslim tionghoa yang cukup ‘sangar’ untuk ditulis. Pertama adalah Bu Lin, pemilik Mahkota jasa catering terbesar di Tuban. Orangnya masih energik di umurnya yang hampir 60 tahun, padahal bu Lin mengaku hanya tidur 2 jam setiap harinya. Gelenggeleng mode:ON. Meski giginya tinggal dua pasang di rahang atas, bu Lin adalah pribadi yang suka bercerita panjang lebar tentang hidupnya kepada orang lain. Bahkan saat menerima Wubin dan saya, dengan sigap ia menolak sekretarisnya sendiri saat ingin menyerahkan sebuah berkas. Bu Lin memang mewakili shio yang dimilikinya, ia adalah Naga.

Satunya lagi adalah pak Agung, seorang guru SMA dengan ayah aseli Taiwan. Pak Agung ini cerita hidupnya penuh warna. Ia orang yang sangat tersinggung kepada orang yang mengatainya dengan sebutan ‘cino’ atau ‘singkek’. Orangnya sangat nasionalis, ia pernah berujar bahwa ia hidup untuk Indonesia, ia pun siap mati untuk membela negeri ini. Orangnya gede namun sensitif sekali hatinya, setiap bertemu ibunya yang sudah tua ia pasti menciumi kaki ibunya sembari menangis sesenggukan. Wubin mengabadikan itu dengan kameranya. Nice shoot.

Bagi saya, memang sulit untuk merunut kembali sejarah yang sudah lama terserak. Apalagi kesadaran menjaga keberadaan relik sejarah dari masyarakat sangat kurang, tentu saja ini menjadi salah satu penghalang utama dalam riset kesejarahan ini. Salah satu contohnya saat Wubin dan saya ingin membuktikan keberadaan kota lama Tuban yang berdiri tujuhratusan tahun yang lalu, jauh sebelum Surabaya, jauh sebelum New York, jauh sebelum Queensland.

Sejatinya Tuban dahulu adalah kota pelabuhan internasional yang terkenal. Banyak kapal kargo dari luar negeri datang dan merapat. Saya bayangkan dulu Tuban adalah sebuah metropolitan, kota satelit dari Majapahit. Segala keagungan ini tertulis baik dalam Babad Tuban, catatan Tome Pirez, maupun catatan Ma Huang yang akurat. Namun apa yang tersisa saat ini? Bahkan secuil relik pun tidak dapat kami temukan!

potret muslim dari suku Hui

Persoalan lainnya adalah kiprah para muslim tionghoa di abad permulaan yang sering diabaikan. Padahal dalam catatan Ma Huang, masyarakat Majapahit yang terdidik dan beradab justru berasal dari etnis Cina yang dahulu banyak memeluk agama Islam. Dari para muslim tionghoa ini jugalah Islam bisa berkembang di tanah Jawa. Bahkan ada sinyalemen bahwa sebagain besar anggota Walisongo adalah etnis tionghoa. Eiits jangan kaget! Ya statement ini didasarkan pada riset yang dilakukan oleh Parlindungan Tuanku Rao. Sunan Bonang salah satunya. Bahkan dalam sejarah banyak pula etnis cina yang berpengaruh dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Salah satunya, di Situbondo ada kisah tentang Kyai Cekong Mas yang ditengarai memiliki darah cina.

***
Kembalinya dari perjalanan ini saya jadi banyak belajar. Bahwa ras itu bukan sebuah tembok kokoh yang memisahkan manusia ke dalam kotak-kotak nilai. Bagi saya kasta itu tidak ada (rodo chaos iki, melu-melu Wubin dengan paham Chomsky-nya, hahaha!). benarlah kata Pramoedya Ananta Toer –salah satu novelis yang saya kagumi: Bersikap adillah sejak dalam pikiran! Jadi mengapa hingga saat ini kita masih diskriminatif terhadap orang Tionghoa?

Thanks to:
Zhuang Wubin ilmunya, Werdha dan keluarga, pak Hari Ong atas inspirasinya, mas Hendra atas tumpangan mobilnya yang adem, mas Waluyohadi yang baik hati, mas Roni sejarawan sekaligus teman diskusi yang menarik, Kelenteng Kwan Sing Bio yang menyediakan makan dan kamar gratis, dan Novotel Surabaya yang mau menjaga motor saya selama empat hari tanpa bayar:)


All image is courtesy of
ZhengHe's photostream via flickr.com

Batik Baru ITS

Aah sebenernya postingan ini dah lama mau saya keluarkan, tapi berhubung sibuk (sok sibuk tepatnya, hahaha) maka baru bisa saya keluarkan sekarang.

Bagi anda civitas mahasiswa ITS, pasti beberapa minggu terakhir ini agak aneh kalo sholat jumat di masjid Manarul Ilmi ITS. Apa pasal? karena banyak pegawai ITS yang menggunakan seragam batik warna biru dongker nan seragam. Yap, sejurus dengan dies natalis ITS ke-48, pihak rektorat bekerja sama dengan jurusan Desain Produk Industri ITS mengeluarkan sebuah seri desain seragam batik yang katanya memiliki desain yang ITS banget!

Berhubung kami, para redaksi Hifatlobrain juga menggemari batik maka kami segera memperhatikan dengan seksama desain batik yang warnanya rada aneh itu. Hmm kami pun segera menemukan beberapa hal yang akan kami apresiasi. Sekali lagi ini adalah apresiasi, bukan sebuah kritisi apalagi antipati.
part 1

oke mari kita lihat bagian pertama, ada motif dengan gambar yang 'ITS banget!' yup ada gambar roda gerigi yang mewakili institusi dengan gambar bagian tengah nya adalah lambang tugu pahlawan dan bunga wijaya kusuma terlihat dari atas. seperti yang tertulis di rilis resmi dari rektorat:
roda gigi yang melambangkan kompetensi ITS dalam relung-relung IPTEKS, dijiwai oleh lima kelopak bunga wijaya kusuma yang melambangkan kesucian tekad dan berintikan bintang segi sebelas yang menggambarkan semangat kewiraan sepuluh Nopember.
terus daun-daun berkelopak tiga yang berserakan di sekitar lambang gerigi adalah visualisasi dari daun semanggi. mewakili semangat loka kesurabayaan yang kental. saya sangat setuju dengan bentuk ini, meski tampaknya terkesan terburu-buru dimasukkan sebagai elemen estetis, tanpa ada pengolahan pada bentuk dan form aslinya.

part 2

nah mari kita lihat ke bagian kedua, ada gambar melengkung kayak bentuk lele atau buah mangga. nah ini yang saya bingungkan, setahu saya motif ini bukanlah motif indonesia seperti motif parang, motif kawung, atau motif flores. setahu saya motif ini disebut motif paisley, asalnya dari India.

Motif paisley ini menjadi sangat terkenal pada tahun duaribu awal ketika sebuah rumah mode terkenal (seingat saya Chanel) menggunakan motif ini sebagai pattern pada handbag mereka. selanjutnya motif ini pun mewabah layaknya kolera dan virus H5N1.

motif ini awalnya adalah motif yang digunakan untuk mehndi (anak jaman sekarang suka menyebut ini dengan seni hena yang berasal dari Bangladesh), sebuah seni lukis tangan khas India, biasanya dilakukan pada para wanita sebelum pesta pernikahan.

pattern paisley ini sekarang sudah digunakan untuk bermacam aplikasi, salah satunya adalah sneaker dari Vans dan sarung bantal tenun ini.


jadi bagaimana menurut Anda mengenai batik 'aseli' ITS ini? hehehe
oke salam!

image:
google.com
Humas ITS

yang mau tahu kabar terupdate tentang batik Indonesia
klik http://batikindonesia.info