Pages

12/13/08

Chinese Moslem: a Tuban Chapter

Text: Ayos Purwoaji
featured research with Zhuang Wubin

________________________

Hola hifatlobrainer semua! Apa kabar dengan keluarga di rumah? istri tetangga masih sehat kan? Kalo tukang bakmi langgangan situ juga masih sering nongkrong di depan poskamling kan? Hmm ya ya dunia masih berjalan normal seperti layaknya hamster yang harus jalan di dalam turbin mainan. Trus apakah kemarin pas Idul Kurban sempet pulang ke rumah? Atau mungkin yang gak bisa pulang menyempatkan diri travelling karena holiday yang lumayan panjang.

Saya juga ndak bisa pulang kok. Kebetulan ada seorang teman dari Singapura yang dateng ke Indonesia buat riset tentang sejarah muslim tionghoa (chinese moslem) dan saya sedia untuk mengantarkannya menuju Tuban. Namanya Zhuang Wubin, dia penulis, fotografer, dan traveller juga. Wubin adalah freelance writer untuk beberapa media seperti Asian Wall Street Journal dan Visual Arts Magz. Orangnya kecil, nomongnya aneh ala Singlish plus ditambah logat mandarin, gayanya simple: kaos gratisan dari festival film internasional plus celana pendek selutut plus sendal jepit. Sebelum riset di Tuban, Wubin terlebih dulu mengunjungi Palembang, Bangka, Jakarta, Banten, Madura dan Surabaya. Ia memang fokus di kota-kota pesisir. Dari serangkaian risetnya ini ia sempat bertemu dengan beberapa tokoh muslim tionghoa terkemuka di Indonesia, antara lain: Anton Medan, Tan Mei Hwa, dan Abdurrahman Wahid.

Nama Gus Dur masuk karena dalam silsilahnya, Wahid Hasyim –kakek dari Gus Dur- masih memiliki darah tionghoa yang kental. Ndak heran di masa pemerintahannya Gus Dur membuka kembali ruang para warga tionghoa dan peranakan untuk kembali berkiprah dan menjadi pribumi, karena kita tahu pemerintahan Orde baru agak alergi sama segala sesuatu yang berbau tionghoa.

Dalam perjalanan empat hari ini saya mendapatkan banyak hal. Saya belajar banyak dari Wubin. Ia adalah guru dan teman diskusi yang baik –sekaligus menjengkelkan haha, soale kalo pas kumat bisa ngeyel ndak karuan. Wubin banyak mengajari saya tentang sejarah, arkeologi, nasionalisme, pluralitas, jurnalisme, fotografi, filsafat, konspirasi hingga isu dunia termutakhir. Ia banyak membaca buku bagus. Referensi saya dari Samuel Huntington dan Karen Amstrong pupus dimentahkannya. Wubin adalah penganut setia Noam Chomsky yang chaotic. Namun kami satu suara saat membahas Edward Said. Ia juga memberikan referensi riset sejarah yang menarik dari Denys Lombard dan Claudine Salmon yang runut dan detil.

Selama empat hari di Tuban, jangan harap saya menikmati liburan itu seperti turis. Saya harus siap berangkat jam tujuh pagi dan pulang larut malam. Mengikuti ritme kerja Wubin yang penuh passion itu. Menjadi penerjemah Wubin kadang bisa menjadi hal yang susah dilakukan, saya teringat betul ketika suatu malam Wubin berdiskusi panjang dengan salah satu pakar arkeolog Tuban, saya kebingungan mencari padanan kata yang pas untuk ‘pasang surut’. Pernah juga suatu saat ditolak mentah-mentah oleh narasumber yang sebenernya maknyus buat ditulis. Melakukan perjalanan panjang ke Rengel hanya untuk ngobrol satu jam. Hingga menggigil kehujanan saat ingin interview dengan seorang kyai di daerah Merakurak.

Selama riset di Tuban, Wubin memfokuskan kepada dua sosok figur muslim tionghoa yang cukup ‘sangar’ untuk ditulis. Pertama adalah Bu Lin, pemilik Mahkota jasa catering terbesar di Tuban. Orangnya masih energik di umurnya yang hampir 60 tahun, padahal bu Lin mengaku hanya tidur 2 jam setiap harinya. Gelenggeleng mode:ON. Meski giginya tinggal dua pasang di rahang atas, bu Lin adalah pribadi yang suka bercerita panjang lebar tentang hidupnya kepada orang lain. Bahkan saat menerima Wubin dan saya, dengan sigap ia menolak sekretarisnya sendiri saat ingin menyerahkan sebuah berkas. Bu Lin memang mewakili shio yang dimilikinya, ia adalah Naga.

Satunya lagi adalah pak Agung, seorang guru SMA dengan ayah aseli Taiwan. Pak Agung ini cerita hidupnya penuh warna. Ia orang yang sangat tersinggung kepada orang yang mengatainya dengan sebutan ‘cino’ atau ‘singkek’. Orangnya sangat nasionalis, ia pernah berujar bahwa ia hidup untuk Indonesia, ia pun siap mati untuk membela negeri ini. Orangnya gede namun sensitif sekali hatinya, setiap bertemu ibunya yang sudah tua ia pasti menciumi kaki ibunya sembari menangis sesenggukan. Wubin mengabadikan itu dengan kameranya. Nice shoot.

Bagi saya, memang sulit untuk merunut kembali sejarah yang sudah lama terserak. Apalagi kesadaran menjaga keberadaan relik sejarah dari masyarakat sangat kurang, tentu saja ini menjadi salah satu penghalang utama dalam riset kesejarahan ini. Salah satu contohnya saat Wubin dan saya ingin membuktikan keberadaan kota lama Tuban yang berdiri tujuhratusan tahun yang lalu, jauh sebelum Surabaya, jauh sebelum New York, jauh sebelum Queensland.

Sejatinya Tuban dahulu adalah kota pelabuhan internasional yang terkenal. Banyak kapal kargo dari luar negeri datang dan merapat. Saya bayangkan dulu Tuban adalah sebuah metropolitan, kota satelit dari Majapahit. Segala keagungan ini tertulis baik dalam Babad Tuban, catatan Tome Pirez, maupun catatan Ma Huang yang akurat. Namun apa yang tersisa saat ini? Bahkan secuil relik pun tidak dapat kami temukan!

potret muslim dari suku Hui

Persoalan lainnya adalah kiprah para muslim tionghoa di abad permulaan yang sering diabaikan. Padahal dalam catatan Ma Huang, masyarakat Majapahit yang terdidik dan beradab justru berasal dari etnis Cina yang dahulu banyak memeluk agama Islam. Dari para muslim tionghoa ini jugalah Islam bisa berkembang di tanah Jawa. Bahkan ada sinyalemen bahwa sebagain besar anggota Walisongo adalah etnis tionghoa. Eiits jangan kaget! Ya statement ini didasarkan pada riset yang dilakukan oleh Parlindungan Tuanku Rao. Sunan Bonang salah satunya. Bahkan dalam sejarah banyak pula etnis cina yang berpengaruh dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Salah satunya, di Situbondo ada kisah tentang Kyai Cekong Mas yang ditengarai memiliki darah cina.

***
Kembalinya dari perjalanan ini saya jadi banyak belajar. Bahwa ras itu bukan sebuah tembok kokoh yang memisahkan manusia ke dalam kotak-kotak nilai. Bagi saya kasta itu tidak ada (rodo chaos iki, melu-melu Wubin dengan paham Chomsky-nya, hahaha!). benarlah kata Pramoedya Ananta Toer –salah satu novelis yang saya kagumi: Bersikap adillah sejak dalam pikiran! Jadi mengapa hingga saat ini kita masih diskriminatif terhadap orang Tionghoa?

Thanks to:
Zhuang Wubin ilmunya, Werdha dan keluarga, pak Hari Ong atas inspirasinya, mas Hendra atas tumpangan mobilnya yang adem, mas Waluyohadi yang baik hati, mas Roni sejarawan sekaligus teman diskusi yang menarik, Kelenteng Kwan Sing Bio yang menyediakan makan dan kamar gratis, dan Novotel Surabaya yang mau menjaga motor saya selama empat hari tanpa bayar:)


All image is courtesy of
ZhengHe's photostream via flickr.com

8 comments:

fajjar_nuggraha said...

mas bahasa inggrisnya pasang surut
mungkin high and down...(ngawur and sok tau:mode on)
hahahahahhaha
bang ayoz riset mu dan teman dari negri singa mancur kali top bgt banget...
Ini nunjukin kalau budaya kita memang kaya...
tetap semangat mas...

"in KOMET we TRUST" said...

wow nice trip Yos, very2 worth it. tw kyk gini serunya mending aku ngikut ajakan kamu kemaren,, dr pd dirumah "mabok daging" waktu Qurban... haha btw next trip aku pasti hadir Gan...

the ARTwork said...

Hemmm.....

Ngiri mode: ON lagi... :(


Tapi beneran....
si Wubin iku ceurewet puolll!!!!
Seneng ngomong... sampe gak bisa nyela... haha!

But basically I'm a good-listener, kok...jadi yho gak masyalah...

Wah Mas... lain kali aku perlu diskusi denganmu gimana caranya meriset nih...

I'm keeping my obsessions though....

musim said...

up n down kali yos, hahaha...biasa sifat sok tau ku sering kambuh, padahal klo soal basa inggris mah..little-little sih I can, yo opo, kapan ngeposting kopi sarkam-e, tak enteni lo cak,hehehe..sukses yo

aklam said...

@ fajjar & musim
mm, mungkin bahasa inggirnya pasang surut itu: up down stream... yoopo, setuju ta? hehehe

@artika
hehehe iya dia cerewet, banyak ide di kepalanya. btw, dia suka boneka yang kamu kasih:)

@komet
iyo, jaremu koen yo melu, aaah dasar, kamu lebih mementingkan lemak dan gelambir perutmu itu. sangat hifatlobrain...

pyut said...

yos, yang ini oke bangettt....

check ur mail yah! mo sharing dikit ttg chinese moslem jg...

aklam said...

mm, ini ada message dari pyut di FS, sengaja saya postingkan untuk memperpanas topik chinese moslem. yang ngerasa chinese moslem silahkan absen! hehehe

pyut said:
"yos, aku interest banget ma postingan barumu...
chinese moslem ya? just like my mother ;)

cuman aku ga pernah nanya banyak si, leluhurku tuh dateng dari mana...?
Aku bingung ae,, yg d Tuban tuh mreka muslim sejak lahir yah?? ato gimana si? apa baru jadi muslim sejak dateng ke indo?

soalnya kalo kluwarga ibuku tuh dari awal emang bukan muslim,,
ibuku muslim pas merit ama bapakku,, omku (adek ibuku) muslim pas merit juga,, nenekku muslim pas aku kelas 6 esde...

hehe, kebanyakan kasus yg takliat mreka muslim karena cinta ;)
cinta sama Allah jg pada akhirnya :)

dulu, ada temen bpkku yang pengen ngajak ibuku ngeliat kampung muslim di Cina, ngeliat tanah leluhur critanya...

ada organisasinya jg kyke yos, PITI namanya. yg masih aktif kyke bapak ibunya nia babahong,kalo ibuku ga pernah ikutan, cuman pernah tau aja..

sayangnya, aku ga kebagian cina-nya ibuku... kalo ibuku mo panas2an di sby, kulitnya tetep bening2 aja ;D
kalo aku ke kampus wae repot pake sarung tangan ma kaos kaki....

well, keep on good working yap!"

aklam said...

@ pyut:
makasih pyut dah mau berbagi disini...