Pages

10/4/09

Tour de Laweyan


Dear Hifatlobrainers,
Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi Laweyan, sebuah desa batik di Solo, Jawa Tengah. Laweyan adalah sebuah desa yang unik, kampung kuno ini juga sarat akan nuansa heritage, banyak bangunan kuno dan merupakan surga bagi para pecinta wisata sejarah. Selain itu, batik adalah daya tarik utama mengapa kita mengunjungi kampung ini. Batik adalah jantung dari kehidupan masyarakat Laweyan, batik menjadi sangat penting di sini.

Kali ini saya dan teman saya, Nuran Wibisono, akan membagikan ebook yang kami buat. Tidak seperti ebook kami yang pertama, Alone Longway From Home yang sarat cerita, ebook kami yang kedua ini mempunyai konten setengah kisah perjalanan, setengahnya lagi tourist guide. Memang tidak selengkap Lonely Planet, tapi kami punya sudut pandang yang lebih membumi.

Kali ini kami dibantu oleh dua featured contributors, yaitu Navan Satriaji dan Dini Sasmita, keduanya mahasiswa FE UGM yang suka jalan-jalan. Bahkan Dini membuatkan peta wisata khusus untuk memudahkan pembaca menyusuri Laweyan yang memiliki ratusan lorong kecil.

Semoga buku ini berkenan bagi IBPers semua. Semoga buku ini bisa membantu mengenal dan mencintai batik sebagai warisan budaya dunia aseli Indonesia. Selamat membaca!

Tour De Laweyan

9/10/09

Alone Longway From Home


Halo Hifatlobrainers semua! Apa kabar? Liburan panjang selalu menjadi momen yang menyenangkan, kemanakah kalian saat libur panjang kemarin? Beberapa orang memilih bekerja pada saat liburan, sebagian lagi mengisi liburan dengan menggoda gadis gang sebelah, sebagian yang lain memilih traveling mencari wawasan baru. Itu semua pilihan. Tapi alangkah baiknya jika selama liburan Anda melancong sambil bekerja dan beruntung karena mendapatkan kekasih selama perjalanan. Hahaha. Bagi Hifatlobrain, traveling itu sangat esensial, apalagi saat sekarang dimana negara tetangga main klaim budaya, maka traveling berkeliling Nusantara adalah cara paling menyenangkan untuk mengenal kekayaan negeri sendiri.

Postingan ini sebenarnya adalah postingan induk yang membawahi beberapa posting yang terangkum dalam tema Post-Holiday Report, laporan-laporan faktual saat liburan yang ditulis oleh beberapa kontributor Hifatlobrain. Postingan yang masuk dalam Post-Holiday Report antara lain adalah:

Polish Scout: Experiencing Indonesia
oleh Galih Setyo

Karimunjawa: What We Love About
oleh Dwi Putri

Klayar Revealed

oleh Ghagha

Fashionable Jember
oleh Efi Trisning

Life in Garbagepolis
oleh Mochammad Asim

Silahkan dibaca dan dinikmati. Sedangkan dari dapur Hifatlobrain sendiri saat liburan sudah menelurkan sebuah special report yang berjudul Bali Journal yang ditulis langsung oleh editor Hifatlobrain, Ayos Purwoaji. Serta dalam rangka memperingati dirgahayu Indonesia yang ke enampuluhempat, Hifatlobrain meluncurkan sebuah buku travel report yang berjudul Alone Longway From Home. Buku ini bercerita mengenai catatan perjalanan dari Jawa hingga Flores dengan cara backpacking. Ini sebagai ganti untuk mengisi kekosongan bulan Agustus yang terlewat tanpa posting satu pun. Karena bentuknya ebook maka buku ini bebas kalian unduh, gratis!

Ini link ebooknya:
http://www.ziddu.com/download/6088495/
AloneLongwayfromHome_web.pdf.html

Atau kalo lagi punya banyak waktu bisa baca langsung lewat iPaper di bawah ini.
Alone Longway From Home_web

Ada tiga alasan mengapa kami membuat ebook. Alasan pertama adalah karena ebook bisa memuat lebih banyak teks daripada blog. Sebetulnya blog bisa saja memuat tulisan panjang, tapi formatnya mulur ke bawah dan itu sangat tidak enak dibaca. Kedua, lay out ebook itu sangat bebas dan tidak monoton, halaman satu dan lainnya memiliki lay out yang beda. Variatif. Alasan terakhir dan yang paling esensial adalah karena ebook bisa menampilkan foto dalam format sangat besar, pembaca pun akan puas. Bayangkan jika di blog batasannya hanya sebesar 400x300 pixel.

Buku ini ditulis oleh Ayos Purwoaji dan Nuran Wibisono. Mereka melakukan sebuah perjalanan overland melintasi Bali, Lombok, Sumbawa, hingga Flores. Trip berat ini memakan waktu hampir tiga minggu, dalam perjalanannya mereka juga sempat mampir di dua pulau menarik, yaitu Pulau Moyo dan Pulau Komodo. Banyak hal terjadi dalam perjalanan mereka, mulai dari menemukan surga baru hingga terperangkap masuk dalam losmen jahanam bernama losmen Gembira di Labuan Bajo. Kisah-kisah unik yang didapat selama perjalanan ini ditulis dalam perspektif Hifatlobrain yang menarik. Istimewanya ebook setebal 42 halaman ini dipenuhi oleh berbagai foto indah sekelas National Geographic. Hehehe.

Selamat membaca!

Hifatlobrain

Polish Scout: Experiencing Indonesia

Text and photo Piotrek Zadrozny
Translation by Galih Setyo


________________________________________











Kontributor

Polish Scout Team
Mereka Piotrek, Lukas, Gosia, dan Eliza, tim dari Pramuka Polandia yang gemar
berpetualang. Puncak Kilimanjaro di Tanzania telah mereka taklukkan, Nepal dan India pun pernah mereka kunjungi. Tahun depan mereka berencana untuk mengunjungi Gunung Aconcagua di Chile, Amerika Selatan. Mereka suka dengan budaya, kehidupan dan teman yang baru. Pada tanggal 8-23 Agustus 2009 mereka memutuskan untuk menghabiskan liburan musim panas mereka di Indonesia yang menurut mereka jauh lebih murah jika berlibur ke Eropa Barat. Catatan beserta foto yang dimasukkan di sini ditulis oleh Piotrek Zadrozny.










Alih Bahasa
Galih Setyo adalah seorang penggiat alam bebas. Aktif di kegiatan kepanduan
dan menyukai trekking. Motto hidupnya seperti anak pandu di seluruh dunia; a scout protects nature, a scout is joyful! Sebagai seorang petualang dan fresh enjineer Galih bisa ditemui di blog pribadinya myscoutchemistry.wordpress.com.
________________________________________



Saat ini, di Polandia sedang musim gugur dengan mendung yang selalu bergelayut setiap hari. Bahkan, saat kami berangkat kerja pukul tujuh pagi hari, temperature mencapai 10°C. Walaupun demikian, tak menyurutkan niat kami untuk menceritakan petualangan kami di Indonesia dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Kisah petualangan ini akan terus hidup di benak kami untuk waktu yang lama, bagaimanapun petualangan ini sangat berkesan dengan berbagai alasan.

Pertama-tama, Indonesia sangatlah unik karena keramahan orang-orangnya yang membuat kami merasa bahwa kalian adalah teman kami. Untuk segala keramahan, waktu dan perbincangan hangat sejak pertama di Yogyakarta yang membuat kami tahu bahwa petualangan ini akan sangat mengesankan. Walaupun kami menginap di Sekretariat Dewan Kerja Daerah (DKD) DI Yogyakarta, namun itulah sesuatu yang benar-benar kami cari, suasana lokal, bermain voli di malam hari, berbincang dengan orang lokal yang tak akan pernah kami temui jika kami menginap di hotel berbintang lengkap dengan AC. Persinggahan selanjutnya bahkan lebih mengesankan, terutama di Jember, di sekretariat Pramuka Univesitas Jember, dimana saat malam hari banyak orang bersliweran keluar-masuk ruangan tempat kami tidur.

Sekarang saatnya menceritakan pertemuan kami dengan beberapa Pramuka di Indonesia. Baik saat di Jogja, Surabaya, maupun di Jember semuanya sangat gila dan luar biasa. Walaupun kadang kami terhalang oleh bahasa, hal itu tak menghalangi perbincangan hangat kami, misalnya saat berjalan ke KFC di Jogja mungkin itu adalah hal yang biasa, namun berjalan kaki dengan mengobrol banyak hal selama perjalanan bukanlah hal biasa. Saat di Surabaya, penyambutan yang unexpectable kami terima dari teman-teman Pramuka ITS. Bagaimana tidak, kami sangat menikmati bermacam games tradisonal menarik yang disuguhkan. Misalnya game Walking On The Fire yang sangat menakjubkan, it’s outrageous moment. Mengajak kami untuk mengalahkan rasa takut kami. Tentunya akan kami bawa permainan tradisional Indonesia ini untuk teman-teman kami di Pramuka Polandia.

Tentang perjalanan kami di Indonesia, kami mulai dari Jogjakarta, sebuah kota yang nyaman, manis dan memorable. Malam hari, pada tanggal 8 September pesawat kami mendarat di Jogja. Kami ditemani oleh Wira Prasetya, lelaki kurus tinggi berkacamata anggota Pramuka UGM yang punya hobi hunting foto, dia adalah seorang arsitek. Dan saat ini, dia baru saja mengawali kuliah S2 di Teknik Lingkungan ITB. Selama dua hari, Wira mengantar kami berputar-putar Jogjakarta dan sekitarnya. Borobudur dan Prambanan menjadi tujuan kami. Benar-benar candi yang luar biasa, bukan hanya karena banyak orang lokal yang berfoto dengan kami, tapi kami juga sangat takjub dengan peradaban Indonesia di masa lampau. Zajebisty! Sangat bagus. Kami pun sempat mencicipi makanan tradisional Indonesia, sate kambing. Sampai sekarang pun kami masih merasakannya, walaupun kami masih belum yakin kalau itu benar-benar daging kambing. Itu bukan isi perut kambing kan? Hahaha.

Perjalanan kami lanjutkan ke Surabaya, 10 Agustus siang kami telah sampai di Stasiun Gubeng, Surabaya. Di kota Pahlawan ini kami disambut oleh Galih Setyo, seorang Pramuka ITS yang Oktober nanti akan diwisuda dari jurusan Kimia ITS setelah 6 tahun kuliah. Hoho what a long time bro! Begitu sampai di Surabaya, kami langsung menanyakan Galih dimana kami bisa menemukan european food karena perut kami masih belum bisa berkompromi dengan makanan Indonesia. Ya, ini mungkin efek samping setelah makan sate kambing di Jogja, hehehe. Maka meluncurlah kami ke Pronto, sebuah resto Italia dengan konsep all you can eat. Benar-benar makan malam yang mengesankan. Kami menemukan masakan Eropa dengan harga murah dan kami bisa ambil sepuasnya. Entah apakah Galih juga menganggapnya murah, maaf kalau harga makanan ini mengganggu isi dompetmu, sorry bro.

Malam itu, setelah makan malam dan pertemuan dengan Pramuka ITS, kami berjalan-jalan ke pasar tradisional Keputran, pusat sayuran terbesar di Surabaya dan beroperasi di malam hari. Pasar ini sungguh luar biasa, orang-orangnya, pekerjaan mereka, ekspresi, aroma dan atmosfer yang kami rasakan saat menjelajahi sisi pasar ini dengan jalan kaki. Saat pulang kami mencoba untuk melewati Jl. Irian Barat dengan jalan kaki pula. Jalan yang remang-remang dan banyak banci yang cukup menaikkan adrenalin hehehe, untunglah kami jalan beramai-ramai, kalau tidak bisa-bisa kami ditawari, gawat.

Keesokannya, kami melakukan Surabaya city tour bersama teman-teman Pramuka ITS dengan naik motor. Sungguh ini pengalaman yang mengesankan, karena di negara kami sangat jarang bepergian dengan naik motor. Tujuan city tour kali ini adalah Museum House of Sampoerna. Di sini, kami menikmati fasilitas Surabaya Heritage Trip dengan bus yang eyecatching, rutenya meliputi HoS - Penjara Kalisosok - Gedung Cerutu - Tugu Pahlawan - Gedung PTPN XI - HoS. Setelah puas menikmati Heritage Trip, kami masuk ke dalam museum yang mengumpulkan koleksi Liem Sien Ting, pendiri Sampoerna. Kami terperangah ketika mengetahui bahwa bagian belakang museum adalah pabrik pelintingan rokok Dji Sam Soe yang terkenal. Kami berkesempatan untuk menyaksikan bagaimana pekerja wanita melinting dan mengemas rokok dengan kecepatan tangan yang mencengangkan. Tak henti-hentinya kami geleng-geleng menyaksikan tangan mereka. Amazing!

Malam harinya, kami meninggalkan Surabaya menuju Bromo. Kami bergegas agar tak ketinggalan sunrise di Bromo yang konon merupakan salah satu sunrise terindah di muka bumi. Beruntung, Galih bersedia menjadi guide kami selama perjalanan ke Bromo hingga Kawah Ijen, perjalanan ini begitu menyenangkan. Jam empat pagi kami sudah sampai di Pos Penanjakan, Bromo, the best spot for sunrise. Kami akui, sunrise di sini benar-benar indah. Bromo bagaikan di bulan dan kami belum pernah melihat yang seperti ini. Awesome!

Selepas dari Bromo, kami menuju Kawah Ijen di Bondowoso, namun karena khawatir terlalu malam sampai Kawah Ijen, kami memutuskan menginap di Sekretariat Pramuka Universitas Jember. Benar-benar momen yang tak terlupakan karena disini kami memasak. Kami menyebut momen ini “Galih’s Cooking Show” dan kami sempat mengabadikannya dengan handycam. Masakannya merupakan makanan ternikmat selama di Indonesia. Walaupun kami memasak di dapur yang kondisinya sangat menyedihkan, namun acara memasak kali ini sangat istimewa dan kami akan mengingatnya untuk waktu yang lama. Mengapa? Karena ini nyata dan tidak dibuat-buat seperti untuk turis-turis kulit putih yang biasanya mengunjungi Indonesia. Namun, kali ini saya akan menuliskan sebagai makanan internasional karena kami memasak kentang goreng, corned beef, pasta spaghetti dengan sedikit sayuran dan ini lebih tampak sebagai masakan internasional. Terimakasih Galih, mungkin tanpamu kami tidak akan pernah merasakan makanan ringan dari Indonesia dan hanya memakan hamburger McD atau ayam goreng KFC hanya karena khawatir dengan kondisi perut kami.

Keesokan harinya, tanggal 13 Agustus, kami menuju Kawah Ijen bersama teman-teman dari Pramuka Universitas Jember dan baru sampai di Pos Pendakian Paltuding siang harinya. Kawah Ijen benar-benar menakjubkan. Kami sungguh salut dengan pekerja pengambil belerang yang tiap kali naik turun membawa beban sekitar 80 kilogram. Selepas Ijen, kami langsung menuju Pelabuhan Ketapang untuk menyeberang ke Bali dan kami sampai disana malam hari. Setelah sampai di Gilimanuk, kami menyewa taksi ke Lovina. Karena terlalu malam, biaya taksi agak sedikit mahal, tetapi tak jadi soal karena kami tak ingin kehilangan waktu untuk perjalanan selanjutnya. Kami hanya menginap sehari di Lovina dan hanya berjalan-jalan di sekitar pusat keramaian. Keesokan harinya kami menyewa dua skuter dan menuju Ubud, kami mendengar bahwa Ubud adalah pusat kerajinan. Selama perjalanan ke Ubud, kami menjumpai dua pura dan mata air panas. Saat perjalanan, hujan turun sangat deras dan ini cukup mengherankan bagi kami. Di Ubud, kami tidak bisa menemukan satu penginapan pun karena semuanya penuh dengan turis asing. Setelah dua jam, kami hanya mengunjungi Monkey Forest dan hari mulai malam. Keesokannya, kami kembali ke Lovina dengan mengunjungi Pura Besakih lebih dulu.

Besoknya, kami memulai perjalanan panjang ke Gili Meno. Dan ini tidak mudah seperti saat di Jawa bersama Galih dan Wira, karena semua orang mendapatkan banyak uang dari kami sehingga kami harus menawar untuk mendapatkan harga yang bagus. Di Gili, kami tiba pukul 6 malam, sehingga tidak ada kamar yang bisa disewa dan kami tidur di emperan sebuah restoran. Esok paginya baru kami menyewa dua bungalow dan memulai liburan kami di surga. Kami berenang dengan penyu besar, melihat batu koral dan mencoba scuba diving. Kami menghabiskan liburan di surga ini selama empat hari. Malam keempat, kami meninggalkan pulau dan menuju Desa Senaru –pos awal pendakian ke Rinjani. Kami memilih ke Rinjani karena kami dengar jika Rinjani sedang mengeluarkan lahar dan sangat menakjubkan. Dalam enam jam pendakian, kami mencapai titik tertinggi yang paling memungkinkan untuk melihat keluarnya lahar di Rinjani, sebuah fenomena yang jarang terjadi.

Esoknya, kami kembali ke Kuta, Bali dan tiba pukul dua pagi, tentu semua orang di hotel sedang tidur. Kami pun menghabiskan malam di gerai McD yang buka duapuluhempat jam. Beruntung, kami segera menemukan penginapan keesokan harinya. Di Kuta kami menikamti momen terakhir di Indonesia, terakhir kali mandi di laut dan merupakan kesempatan terakhir untuk mencoba durian yang rasanya sangat menakutkan. Kami masih heran bagaimana kalian bisa memakannya.

Indonesia sangat menakjubkan. Tak ada salahnya jika kami menulis tentang Muslim. Kami kagum dengan ketaatan kalian pada Tuhan. Kalian bisa bermain dan terlibat dengan semua aktivitas namun masih bisa menemukan waktu dalam sehari untuk berdoa kepadaNya. Kami belajar dari kalian. Begitu juga dengan orang Buddha dan Hindu, begitu banyak tempat untuk mereka berdoa tidak seperti di Eropa. Orang Indonesia dengan segala keramahan dan sikap bersahabat membuat kami terkesan. Setiap orang selalu siap menolong, mereka selalu menunjukkan pada kami jalan yang benar tanpa memperlakukan kami sebagai mesin uang seperti yang kami jumpai di Nepal dan India. Selain itu, kami rasa di Indonesia tak ada orang yang tak bekerja, setiap orang punya hal yang dikerjakan. Beberapa menjual sesuatu di jalan, menjual batik, lukisan, bahkan ada yang sekedar menutupi jok sepeda motor dengan kardus agar tak terkena sinar matahari. Dengan kata lain, setiap orang mengerjakan sesuatu dan tidak hanya duduk termangu.

Pada akhirnya, kami juga ingin menuliskan kekecewaan terbesar kami. Kuta merupakan kekecewaan kami. Mengapa? Karena Kuta terlalu Eropa dan sunguh disana tak ada sesuatu yang terasa Indonesia bahkan Asia. Faktanya, terlalu banyak hal yang Eropa daripada Indonesia yang kami rasakan di Kuta. Itu sungguh bukan tempat kami. Bagaimanapun, perjalanan ini penuh kejutan, perbedaan budaya, perbedaan agama, bahkan makanan. Semuanya adalah apa yang kita cari. Terima kasih untuk semuanya, semoga travel report ini bisa menggambarkan perasaan kami tentang Indonesia. Terimalah salam hangat dari kami untuk semua Pramuka dan orang-orang yang kami temui. Kami akan sangat merindukan Indonesia. Czuwaj and it was zajebisty. And please come to Poland, Dobra?

Untuk melihat koleksi foto Piotrek Zadrozny saat mengunjungi Indonesia bisa dilihat di gallery Picasa miliknya:
http://picasaweb.google.com/zadrapz/Indonezja2009#

Karimunjawa: What We Love About

Text and photo by Dwi Putri

________________________________________________










Kontributor

Dwi Putri adalah seorang traveler dan hiker. Suka membaca buku, khususnya travel
novel. Terobsesi dengan Trinity dengan Naked Travelernya. Sedang menyukai lomografi, dan seorang movie freak sejati. Sebelumnya Putri pernah membagikan pengalamannya yang luar biasa saat traveling ke Kawah Ijen untuk Hifatlobrain.
________________________________________________

Traveling ke Karimunjawa terdengar impossible buat saya. Pertama karena budget yang pernah saya baca nominalnya ‘wah’ banget dan beresiko bikin migrain kalo kebanyakan dipikirin. Kedua, sebagai anak cewek pasti saya susah dapet ijin dari orang tua kalo ndak ada saudara yang ikutan.

Sampai suatu hari saya ngobrol sama Skan (baca: Seken), temen kuliah saya yang ternyata juga kepingin ke Karimunjawa. Sejak itu kami serius nyusun jadwal dan anggaran, kami sepakat berangkat minggu kedua Agustus. Saya pun mulai menyusun alasan untuk meluluhkan hati orang tua dan dosen saya. Alhamdulillah, kami berdua sama-sama sidang cepat dan dinyatakan lulus sesuai rencana.

Rencana awalnya kami satu rombongan sebelas orang, tapi ternayata pada hari H hanya empat orang yang masih teguh memendam rasa travelingnya; Saya, Skan, Yeye, dan Manna. Kami berempat adalah wonderwomen yang buta arah, kami merasa misi ini semakin impossible. Untunglah ada GPS di hape Yeye dan Skan sampe rela pinjem atlas ke adeknya. Hahaha whatever, the show must go on with or without you, boys!

Terakhir kali saya menginjakkan kaki di terminal Bungurasih adalah saat kelas 6 SD. Saya sendiri adalah fans berat kereta api dan susah berpaling ke alat transportasi lain. Apalagi terminal Bungurasih adalah berarti copet dan preman di mata saya. Haha gomen. Just kidding. Malem itu kami nyampe Bungur jam tujuh malam, dan menunggu satu setengah jam untuk bus satu-satunya yang langsung menuju Jepara yaitu Bus Indonesia.

Ketika bus sudah di depan mata, ternyata di dalam sudah banyak makhluk yang duduk manis di kursi. Oh no! Saya tidak terlalu suka plan B; naik Bus jurusan Semarang dan turun di Trengguli, Kudus, which is cuman sebuah pinggiran jalan raya tempat menunggu bus kecil menuju Jepara karena diperkirakan kami akan celingukan di Trengguli jam tiga pagi! Untungnya ada dua wanita yang tiba-tiba batal naek bus, jadi saya dan Manna bisa dapet tempat, pas! Empat kursi kosong! Ini adalah hikmah dari tujuh teman saya yang batal ikut. Hehe we love you, God!

Harus diakui, terminal Jepara begitu sederhana dan sangat sepi. Apalagi kebanyakan penumpang sudah turun di jalan sebelumnya dan waktu baru menunjukkan pukul empat pagi. No angkot, no becak, only us, dan bus indonesia. Bapak kernet bus keliatannya ga tega, lalu menyuruh kami istirahat di mushola sambil menunggu subuh. Mushollanya sendiri serem, gelap, dan mojok lagi. Untung saja ada bapak becak yang tiba-tiba datang dan menawarkan jasanya.

”Monggo pun, penjenengan sedaya... cekap...”

Hahaha, si Bapak separo baya itu mungkin mantan anggota Srimulat! Kami berempat dengan bawaan yang lumayan berat disuruh naek dalam satu becak! Karena kami niat liburan, bukan melakukan pembunuhan, akhirnya si Bapak nyerah juga dan mencarikan satu becak lagi untuk kami. Sip, berangkatlah kami menuju Pelabuhan Kartini. Deket sebenernya, tapi saya tidak menganjurkan untuk jalan kaki.

Kami sholat subuh di musholla taman Kartini di sebelah pelabuhan Kartini, jadi konsepnya kayak Taman Ria Kenjeran gitu tapi dengan tambahan pelabuhan. Di sini mushollanya ndak seram seperti di terminal, terang benderang, walaupun di sekililingnya banyak pepohonan tinggi dan besar yang bikin saya ndak berani nengok ke atas. Krik. Krik.

Pelabuhan Kartini adalah sebuah pelabuhan mini. Hanya ada dua jalur jalan; menuju kapal cepat Kartini atau kapal ferry Muria. Pagi itu saya cukup dibuat terpana karena banyak orang-orang keren yang mau nyebrang, ini Jepara apa Sutos sih? Banyak bule ganteng setipe Robert Pattinson. Malah ada yang 99% mirip Hiro Nakamura-nya Heroes, tapi ternyata produk pribumi, hahaha. Ada juga rombongan bus dari Jakarta yang lagi sarapan KFC. Dapet KFC dari mana tuh orang-orang?

Kami sendiri sarapan di sebuah warung sederhana yang lodehnya uenaaakkk banget, murah lagi, sampai saya berjanji saat pulang dari Karimunjawa saya pingin makan lodeh ini lagi di sini. Loket Ferry dibuka sekitar pukul setengah delapan. Selembar tiket ekonomi dihargai 28500. And here we goes Karimun.

Kenyataannya, antusiasme kami menaiki kapal Muria yang bermotto Bangga Menyatukan Nusantara ini, tidak berlangsung lama. Kapal meninggalkan pelabuhan Kartini pukul sembilan tepat, dan satu-dua jam kemudian, kami dilanda kebosanan tingkat internasional. Kami memang sudah minum antimo satu jam sebelum kapal berangkat, dan sesuai dengan mekanisme kerjanya, dimenhidrinat ini sudah mulai memblokade sistem saraf pusat, memaksa kami ngantuk. Sementara tidur dengan posisi duduk di kursi biru kaku adalah bukan pilihan yang menyenangkan. Saya malah ngiri sama orang-orang yang keleleran beralaskan koran karena ndak kebagian kursi. Paling tidak posisi tidur mereka normal.

Kadang kami terbangun, mencari alternatif posisi lain, menggeser pantat yang mulai kaku, atau mendengarkan celoteh Bapak mantan kapten KM Muria, yang sudah berumur tapi rokoknya tetep ngejoss. Beliau duduk di sebelah Yeye dan berbagi cerita tentang gugusan pulau-pulau yang kami tunjukkan dari brosur Karimunjawa. Betapa karimun sudah mulai kotor karena membludaknya wisatawan kata si Bapak, bahkan ada pulau yang biasa dibuat dugem sama bule.

Di depan kami juga duduk seorang polisi hutan yang ternyata kenal dengan Bu Pupek, pemilik rumah tempat kami menginap nanti. Tidak berapa lama, secara tidak sengaja kami bertemu dengan Mas Januar, keponakan Bu Pupek yang kebetulan juga sedang di dalam ferry. Nantinya Mas Januar ini yang akan mengantar kami ke rumah Bu Pupek. Enam jam yang bikin kami mati gaya, betapa Karimun itu sangat jauh ternyata. Sampai saya sempet berhalusinasi liat lumba-lumba lewat dan membuat tiga teman saya terbangun sia-sia, hahaha. Saya sarankan kalo Anda punya uang lebih, bolehlah naik kapal cepat Kartini, wuzzzz tinggal tidur bangun-bangun pasti dah nyampe Karimunjawa. Tapi saya jamin ndak bakal ada cerita seru yang dibawa pulang kalo cuman nyebrang dua jam saja.

Pukul tiga sore kapal mulai merapat di pelabuhan Karimunjawa. Antusiasme kami mulai menjalar datang lagi. Dari pelabuhan ini, kami masih harus menempuh setengah jam perjalanan untuk sampai ke Kemujan. Ini merupakan pengalaman pertama saya naik pickup bersama tumpukan beras. Awalnya kami disarankan Mas Januar duduk di bagian depan saja, tapi males ah, kapan lagi bisa ngerasain sensasi syuting video klip I’m yours-nya Jason Mraz kayak gini, pokoknya seru banget lah!

Awalnya kami memang rencana menginap di Karimun. Tapi setelah menghubungi beberapa hotel, ternyata full-booked sampe akhir Agustus. Tarif per malam hotel di Karimun juga ndak cocok sama budget kami yang kere ini. Yasudah, berbekal informasi dari pemilik Hifatlobrain, kami disaranin ke pulau sebelahnya saja; Pulau Kemujan, dimana biaya penginapan dan makan lebih murah.

Sesampainya di rumah panggung Bu Pupek, kami ngobrol, sholat, dan ngemil jajanan yang sudah disiapkan. Sorenya kami jalan-jalan di bibir pantai Kemujan yang sepi dan mulai berwarna oranye karna refleksi sunset. Pukul tujuh malam kami sudah tertidur, capek campur senang karena ndak nyangka bisa nyampe sejauh ini.


***
Keesokan paginya, kami sudah disuguhi roti anget pake isi gula ijo yang uenaknya ngalahin breadtalk! Haha serius, Bu Pupek memang jago banget bikin kue. Pagi itu kami ngobrol dengan adik Bu Pupek, beliau menceritakan tentang usaha tani rumput laut yang sedang dirintis warga Desa Kemujan. Beliau juga mempersilahkan kami mampir di resort apung milik keluarga dan dipinjami alat snorkle gratis, makasih banyak, Om. Wejangan terakhirnya adalah; jangan buang sampah sembarangan, karena terumbu karang sudah banyak yang mati dan rusak. Saya pun kembali teringat tugas bombastis kuliah kimia lingkungan mengenai coral bleaching.

Kemudian kami dipertemukan pada Pak Mis dan Pak Pren yang akan menemani kami buat islands hopping. Pak Mis, orang Jawa yang kalem dan polos, tetapi sekali nyeletuk bikin kami ketawa ngakak. Kalo Pak Pren a.k.a Pak Mindo, beliau orang asli Jepara yang omongannya ngelantur dan wajahnya mirip banget sama Tukul.

Saya kira hanya Pak Pren dan Pak Mis yang menemani, ternyata ada satu bintang tamu lagi. Well, awalnya saya agak serem melihat si Mas yang rambutnya mirip Sujiwo Tejo itu. Tapi setelah berkenalan dengan Mas Ambon, ternyata gayanya mengingatkan kami sama Jack Sparrow yang slengekan. Mas Ambon diutus langsung oleh adik Bu Pupek untuk jadi guide kami. Mas Ambon ini tau persis seluk beluk kepulauan Karimunjawa, nama-nama biota laut yang kami temukan pas snorkeling, plus sejarah Sunan Nyamplungan. Satu lagi, Mas Ambon membawa senjata utama buat mengabadikan kenangan snorkeling yaitu kamera underwater yang boleh kami pinjam sesuka hati! Hoho, assssiik.

Yap, island hopping dimulai dengan menyusuri ladang rumput laut yang membentang luas. Pak Mis sangat terlatih menghindari untaian ladang rumput laut agar kapal tidak menabrak dan merusaknya. Kata Mas Ambon, usaha rumput laut ini baru tiga tahun berjalan, sebenarnya tidak terlalu menguntungkan, yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Heran juga, padahal katanya rata-rata dua ton rumput laut yang ditanam bisa menghasilkan tujuh ton pada saat panen di hari keempatpuluhlima. Mungkin karena harga jualnya rendah. Saya jadi teringat seaweed skin care dari The Body Shop yang dipatok 30 USD per paketnya, padahal palingan ekstrak rumput lautnya juga cuman sedikit persen. That’s why bisnis kosmetik dari bahan alam adalah bisnis yang begitu menggiurkan. Slurrp.

Limabelas menit berlayar, ombak mulai heboh menggoyang kapal kecil ini. Mas Ambon bilang perairan di Karimunjawa malah tenang pada musim peralihan yaitu Oktober-November. Konon, setiap tanggal 17 Agustus ombak di kepulauan Karimunjawa selalu meninggi seakan ikut merayakan hiruk pikuk dirgahayu Indonesia. Great, kami datang pada saat yang tepat.

Setelah hampir satu jam berlayar, sampai juga kami di Pulau Tengah. Di sini kami sibuk snorkeling, dan memotret koral. Take nothing but picture, kata Mas Ambon. Jujur saja di sini banyak koral cantik yang mati, malah banyak tergeletak di pasir pantai, sangat menggoda untuk dibawa pulang sebetulnya.

Tidak ada watersport di Pulau Tengah ini. Tapi kalau memang pingin main jet ski dan watersport lain mending ke Pulau Menyawakan, satu-satunya pulau yang fasilitasnya lengkap karena yang punya pulau itu adalah warga negara asing. Sudah pasti mahal, dollar-minded. Menurut saya sih, diving dan snorkeling adalah kegiatan yang wajib di lakukan di Karimun, coret saja aktivitas bananaboat dari itinerary Anda daripada semakin banyak duit yang keluar.

Namun ada yang luput dari anggaran kami. Ternyata di tiap pulau berlaku hukum sandar-bayar. Lumayan, parkir satu kapal sama dengan parkir tigapuluh motor di Tunjungan Plaza. Untungnya kami cuman punya rencana untuk mengunjungi dua pulau, kalo lebih dari itu, bisa-bisa kami bangkrut di parkiran.

Pulau kedua merupakan pulau yang lebih saya sukai. Namanya Pulau Cilik, kondisi sesuai namanya. Jalan mengitari pulau ini ndak sampe satu jam. Pulaunya sangat bersih, pasirnya putih dan empuk, warna terumbunya benar-benar terlihat jelas saking beningnya air laut. Berasa menjadi Chuck Noland, pegawai FedEx yang terdampar di film Cast Away.

Di sana kami dan bapak penjaga pulau sempet makan kelapa muda sampai kembung, Pak Pren memanjatkannya untuk kami. Rombongan tour sebelah pada ngiri ngeliat kami pesta kelapa hingga akhirnya seorang cowok datang menanyakan berapa harga per buah kelapa.
“Limabelas ribu mas, tapi manjat sendiri ya,” kata si Bapak Penjaga Pulau dengan sadisnya. Si cowok melongo, kemudian kembali ke peradabannya. Haha kasihan juga, tapi memang ini guna koneksi orang dalam, agar birokrasi lebih lancar dan dikasih gratisan.

Meninggalkan Pulau Cilik, kapal dihentikan di tengah laut karena Pak Mis dan Pak Pren pengen banget mancing. Kapal pun digoyang ombak yang lumayan tinggi, membuat saya dan Skan mual mendadak. Padahal Skan suka banget mancing, tapi mual-muntah mengalihkan dunianya sebagai fisherwomen. Saya sendiri ngiri liat Mas Ambon asik tiduran di ujung kapal, ndak bereaksi meski kapal meleyat meleyot kayak mau ngguling. Hal ini juga yang bikin saya ndak pernah beli takjil es kelapa pada puasa Ramadhan ini, karena saya masih keinget sensasi mual yang rasanya ndak banget itu.

Tempat ketiga yang kami tuju adalah resort Indonor. Rumah apung sederhana ini membangkitkan kembali hasrat snorkeling kami. Kebetulan di Pulau Cilik tadi kami ndak snorkeling karena sibuk menjemur badan saking ademnya air laut. Kami pun langsung menceburkan diri ke air yang laut yang ndak sampe semeter itu. Kami pun bisa menemukan rombongan Nemo celingukan diantara anemon laut. Huaaa!

Sore hari kami pun balik ke rumah Bu Pupek. Kulit kami juga sudah pada beautifully-gosong, badan sudah capek, tapi hati kami puas luar biasa. Walaupun begitu kami masih penasaran sama pulau Gundul, sayangnya kami ndak bisa kesana karena ombak terlalu tinggi. Kata Mas Ambon, pulau Gundul itu tempat sasaran latihan tembak Marinir, separo bukit batunya sudah hancur karena terlalu sering ditembaki. Sebenernya tidak ada apapun di pulau ini, kapal juga ndak bisa bersandar karena memang pantainya berupa tebing-tebing besar. Tapi Pak Pren sangat antusias saat bercerita tentang pulau Gundul, bikin kami kepikiran pengen ke sana, yasudah someday we’ll go there!

***
Hari ketiga, 17 Agustus 2009, it’s time to say good bye. Kami naik KM Muria lagi, meski hampir ketinggalan kapal karena kami ndak tahu kalo kapal berangkat jam delapan pagi dari Karimun, kirain jam sembilan. Sampai di loket juga hampir kehabisan tiket, saya pun langsung pasang tampang memelas pada Pak Petugas Penjaga Loket, akhirnya dapat! Kami pun berlari menuju ferry kayak seleb dikejar paparazzi, sampe lupa bilang makasi ke Mas Aris, driver pickupnya.

Kursi biru kaku juga udah pada laku semua, terpaksa kami ke dek tiga, dek paling atas tanpa atap. Impian saya buat tidur dengan posisi normal tercapai sudah, jadi pindang bersama penumpang bule. Tapi berita buruknya sodara-sodara, enam jam terpapar matahari langsung sukses membuat wajah kami makin eksotis, hahaha. Pada pukul 10 tepat para penumpang diajak mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan dan bel kapalpun berbunyi keras di tengah laut, selamat hari lahir, Indonesia.

Menuju Surabaya kembali kami memutuskan untuk memutar lewat Semarang dulu, sebenarnya nongkrong di Kudus nunggu bus lewat juga bisa, tapi hari itu long weekend. Kami ndak mau gambling lagi kayak di ferry tadi. Dari Jepara kami naik bus kecil dengan tarif sebelas ribu per orang menuju Semarang.

Don’t judge a book by its cover, ternyata berlaku juga buat bus yang kami tumpangi. Kata Skan, walopun busnya ekonomi tapi casing-nya bagus, gambar anime jepang sangat mudah menggaet kami berempat yang memang maniak komik. Tapi ternyata casing tidak menentukan kualitas pelayanan, satu jam berjalan kami diberhentikan di pom bensin dan dipaksa oper ke bus lain, penumpang pada protes tapi si Driver diem aja. Setelah capek protes, kami masuk juga ke bus laen yang katanya bus terakhir ke Semarang itu. No seat for us! Walopun banyak yang berdiri dan sudah umpel-umpelan gitu, si kenek masih aja masukin penumpang.

Sampe di depan terminal kami ndak perlu masuk ke terminal karena di depan sudah ada bus Patas Jawa Indah yang menuju Surabaya. Lima menit setelah duduk nyaman, Skan mulai kasak-kusuk sibuk mengecek keuangan yang makin tipis di dompet. Karena setelah dinikmatin baru terasa kalo busnya kok enak banget, AC-nya pas, ada pijakan kaki di bawah, dan TV juga hidup memutar sinetron Indosiar yang layak mendapat award sebagai most sucking dubbed TV series! Skan takut kalo bus ini ternyata bus premium dengan harga selangit. Skan pun menjadi semakin tegang begitu dia melihat kenek lagi bagi-bagi tiket.

Haha, ternyata apa yang ditakutkan Skan salah, harga tiketnya murah meriah, lebih mahal bus Indonesia malah. Padahal busnya nyaman sekali, bahkan selama perjalanan pulang, Pak Sopir menyuguhkan sealbum full Ebiet G. Ade yang bikin saya inget bapak dan abang saya yang suka nyanyi-nyanyi di rumah. Saya pun mendadak homesick.

Akhir kata, harus saya akui kalo traveling itu addictive: meet someone new, feel something new. Alhamdulillah, matur sembah nuwun Gusti Allah untuk segala keberuntungan selama empat hari itu, saya pun sadar kalo Indonesia emang dahsyat cantiknya.

Special thanks to:
Skan for being my first travel mate, seneng ketemu temen satu visi kayak kamu di kelas. Manna for being our photographer, aku selalu waspada melihat tas Kappa-mu, deg-degan karena gadget yang kamu bawa buanyak banget. Yeye, kamulah artis sesungguhnya hehe, jatuh, kecebur dan hampir menggulingkan perahu jukung full digicam, ow yeah you rroocks! Really proud of you, girls! Terima kasih banyak.



Related post
Karimunjawa: Diving.Harvesting.Hening
http://hifatlobrain.blogspot.com/2008/08/karimunjawa-divingharvestinghening.html

Klayar Revealed

Text and photo by Ghagha

________________________________________________










Kontributor

Ghagha atau Rangga Aditya adalah seorang traveler akut. Perjalanan panjangnya menyusuri Madura yang eksotis dan Pulau Sempu yang senyap membuatnya bertekad untuk lebih banyak tra
veling menjelajah Indonesia. Beberapa negara telah disinggahinya, pesona Paris dan suasana malam di Orchad Road pernah dirasakannya. Sangat mencintai musik dan film, juga keripik usus Cak Bud. Sebelumnya ia pernah menuliskan kisah perjalanannya ke Anyer dan Gili untuk Hifatlobrain.
________________________________________________

Awal 2009 saya datang ke Jogja untuk bertemu teman-teman, sekaligus saya berencana untuk mengadakan sebuah farewell party. Atas rekomendasi seorang teman yang kuliah di Solo kami pun berencana untuk melakukan sebuah trip ke pantai-pantai di Pacitan yang sedang naik daun di forum-forum traveling di internet. Berbekal keteguhan hati dan sikap yang tawaddhu akhirnya kami bertujuh berangkat dengan mengunakan sebuah mobil menembus daerah sekitaran Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri yang berhutan lebat. Kami berangkat dari Pleburan, Jogja, jam 12 malam, berharap bisa menikmati indahnya sunrise di pantai pada saat yang tepat. Awalnya sih kami enjoy saja, perjalanan yang mulus itu kami lewati dengan canda tawa. Kami bertujuh memang punya sederet masalah kejiwaan yang kronis.

Tapi kegilaan itu tidak bertahan lama. Di daerah Wonogiri segala kengerian itu bermula, kami melihat sebuah benda teronggok di tengah jalan. malam yang gelap gulita sedikit menyulitkan kami untuk mengidentifikasi benda apakah itu. Tapi memang kecepatan mobil mendadak kami kurangi agar kami bisa melihat dengan jelas benda apakah yang merintang jalan kami. Akhirnya semakin kita mendekat semakin jelas benda apakah itu, yang pasti benda ini bukanlah benda yang kalian harap temukan selama perjalanan. Ada yang tahu benda apakah itu? Ah jawaban kalian tidak ada yang benar, ternyata benda itu adalah seonggok mayat manusia penuh darah yang terhempas di tengah jalan! Fuckkkk! Kami bertujuh cuman bisa melongo melihat mayat segar tersebut. Sepertinya itu adalah korban hit and run yang nahas. Shittt! Adrenalin di dalam darah kami pun naik, bergumul dengan rasa takut seperti jika Anda adalah Manohara ketika disilet sang suami. Can you imagine that? Sebenarnya kamera digital sudah stand by di tangan saya, tapi saya tidak punya keberanian untuk mengambil gambar jasad tersebut. Sepertinya ndak lucu jika saya terngiang muka bapak yg nahas itu selama saya hidup.

Masih shock dengan kejadian tersebut, akhirnya sekali lagi kami teguhkan sikap untuk melanjutkan perjalanan. Setelahnya perjalanan mulus-mulus aja, tapi canda kami surut seiring pemikiran parno kami atas kejadian tadi. Sekitar jam empat pagi akirnya kita sampai di pantai Teleng Ria Pacitan, karena matahari masih belum terbit, keadaan gelap gulita membimbing kami dalam ketiadaan. Hahaha. Karena saat itu gelap kami pun bertanya-tanya apakah pantai ini cukup indah atau tidak. Akhirnya kami pun mengutus dua hulubalang untuk melihat-lihat daerah pantai. Ternyata pantainya kotor dan banyak sampah yang bertebaran di bibir pantai. Memang pantai ini adalah pantai yang touristy, dimana orang banyak yang melakukan rekreasi di hari libur. Akhirnya kami putuskan untuk mencari daerah yang bersih untuk tidur dan beristirahat karena kami tidak tahu kalau perjalanan ini bisa begitu melelahkan. Akhirnya kita menemukan sebuah pendopo yang berlantaikan ubin, kami tidur disana kurang dari dua jam bersama kru sound system di pendopo yang tampaknya akan dipakai untuk acara dangdutan siang nanti. Kami pun dibangunkan oleh suara cengeng dari Krisna Mukti dan Ridho Rhoma dalam balutan nada khas dangdut, sebuah cara yang salah untuk memulai hari. Arrrgggghhh!

Kami bangun dengan malas dan bersiap-siap pergi ke pantai berikutnya. Kami pun menyusuri daerah-daerah yang jarang terjamah oleh turis, dari jalan setapak yang hanya cukup dilewati satu mobil saja hingga tanjakan curam yang mengharuskan kami semua turun kecuali yang nyetir karena kondisi jalanan bukan aspal melainkan bebatuan dan kerikil tajam yang sangat mudah membuat ban tergelincir. Kami mulai curiga, jangan-jangan kami tersesat, lha ini kok cari pantai Klayar susahnya minta ampun. Kami pun terus menyusuri jalan dan bertanya kepada orang yang lewat. Ternyata kami menembus jalan yang tidak umum, jadi wajar saja kalo lama sekali menuju Klayar. Setelah beberapa kali tanya dan jauh berjalan kami pun menemukan jalan yang beraspal, kami pun cukup lega karena tampaknya kami sudah mengambil jalan yang benar. Selang 20 menit akhirnya kami pun tiba di Pantai Klayar, tujuan kami yg sebenarnya. Subhanallah, tidak salah pantai ini jadi the next big thing buat para traveler seperti kami. Pantainya sendiri sangat sepi dengan pasir yang relatif bersih. Scenery pantai ini unik, penuh batu cadas yang menyerupai patung-patung raksasa yang indah akibat digerus air selama ribuan tahun. Airnya bagus, tone birunya sangat cantik. Membuat kami betah berlama-lama tinggal di sini.

Selama tiga jam lebih hanya kami pengunjung pantai tersebut. Sangat sepi dan Pantai Klayar seperti milik kami bertujuh saja. Dari laut sampai bebatuan karang yang bertumpukan kami hinggapi sampai puas. Tapi romantisme itu tidak bertahan lama, hingga akhirnya alien-alien itu datang. Alien yang saya maksud adalah manusia dengan motor knalpot ronder, berbaju merah black id dan celana coklat bermotif kotak-kotak 7/8, memakai topi hitam blink 182, dan sepatu adidas putih bergaris empat. Karena hari juga sudah memanas, maka kami pun memutuskan mencari makan dekat pantai. Menunya sangat praktis, hanya ada mi ayam dan mi goreng yang menjadi sangat enak bagi kami yang berperut kosong. Sudah kenyang kami akirnya pergi meninggalkan pantai Klayar dan menuju sebuah situs lokal di dekat pantai yaitu sebuah goa mineral. Cukup menarik walaupun hanya beberapa dari kami saja yang turun karena sebagian dari kami sudah letih dan matahari semakin ganas menguras tenaga kami. Tidak lama kami berdiam di gua mineral karena kami harus pulang menuju Jogja.

Sore hari kami sempatkan singgah di solo karena lapar telah memanggil. Akhirnya kami singgah di Rumah Makan Bebek Pak Slamet yang dibanggakan oleh supir kami. Honestly, if you want the best taste of duck cooking in Indonesia please check Surabaya. Jam delapan malam kami kembali ke Jogja dan berakhirlah perjalanan singkat kami yang meninggalkan banyak kenangan.

Fashionable Jember

Text & photo by Efi Trisning

_____________________________________________










Kontributor

Efi Trisning, seorang mahasiswi semester akhir di Teknik Kimia ITS. Memiliki jiwa enterpreneur dan sukses mengembangkan beberapa buah bisnis, salah satunya adalah usaha aksesoris w
anita dengan label Eve Accesories. Wanita mungil ini juga seorang koki yang baik dan traveler nekat. Suatu saat ia pernah melakukan short trip ke Lampung seorang diri, sebuah perjalanan yang tidak mungkin dilakukan oleh wanita normal.
_____________________________________________

Halo Hifatlobrainer, untuk pertamakalinya saya menulis untuk blog ini, setelah sebelumnya hanya menjadi silent reader bermacam-macam cerita asyik yang disuguhkan para kontributor setia blog ini. Kali ini saya akan membagi perjalanan saya saat mudik liburan ke Jember beberapa waktu lalu. Kebetulan saya pulang saat di Jember diadakan sebuah acara besar dengan grand theme Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ), sebuah program tourism yang gencar digalakkan oleh pemerintah kota dalam beberapa tahun terakhir.

Awalnya perjalanan saya dimulai saat saya menghadiri resepsi pernikahan teman lama. Saya pergi berdua bersama seorang sahabat kecil saya. Selesai menghadiri resepsi, saat pulang kami pun mampir ke alun-alun jember, hehehe lama sekali saya tidak mengnjungi alun-alun, rindu sekali rasanya. Alun-alun yang menjadi pusat kota pun saat ini bersolek lebih manis. Banyak hal yang yang berubah, menjadi semakin ramai saja. Saat sedang asyik berputar mengelilingi alun-alun, ditengah perjalanan akses jalan ditutup total, terpaksa kami berdua berjalan kaki mengelilingi alun-alun.

Bulan Agustus memang puncak dari segalanya, begitu juga keramaian di alun-alun ini bertambah berkali lipat di bulan Agustus. Wuihh saya lihat ribuan orang berkumpul memadati dan memenuhi ruang kosong yang tersisa. Di alun-alun diselenggarakan banyak acara, mulai dari festival jajanan, pesta rakyat, pertunjukan, atraksi kembang api, dan orkes dangdut yang aduhaai. Semua disuguhkan ditempat ini. Pada sisi lain saya melihat banyak spanduk yang bertuliskan “JFC, 2 Agustus” dipasang berputar mengelilingi alun-alun yang luas itu. Wah ini acara tahunan yang paling heboh di Jember, sayangnya saya belum pernah nonton sebelumnya. Kali ini saya harus nonton! saya bela-belain ndak pulang ke Surabaya walau hape saya selalu berdering, sebuah pertanda panggilan darurat oleh dosen tercinta.

Esoknya, saat hari H, saya kembali ke alun-alun. Kali ini saya bertemu dengan seorang karyawan telekomunikasi di Surabaya. Dia sangat amat penasaran dengan event JFC, dia bahkan rela memesan tiket kereta Mutiara Timur untuk hadir di acara ini. Hahaha hidup ini penuh perjuangan dan pengorbanan, saya sepakat itu. Ternyata JFC jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya; ribuan orang berkumpul berderet sepanjang jalan 3.6 km dari alun-alun Kota Jember hingga GOR Kaliwates, penuh sesak dan tentu saja panasss, semua akses jalan ditutup, ratusan orang berseragam ijo siap menjaga keamanan dan ketertiban, pedagang kakilima pada sumringah jajanan mereka laris manis. Subhanallah, pantas saja banyak wartawan media internasional yang datang kemari, seperti Reuters dan Associated Press. Acara ini memang luar biasa besar dan penuh gegap gempita.

Kali ini, JFC yang sudah menginjak tahun ke delapan mengangkat tema World Unity. Entah apa yang melatarbelakangi pemilihan tema itu. Tapi sejak tahun pertama, yang saya tahu sih tema-tema yang disuguhkan sangat humanis dan punya pesan tersendiri. Menurut kabar yang saya dapatkan, acara ini diikuti oleh 600 model dengan balutan busana yang menurut saya super aneh! Bayankan saja, busana-busana yang dipakai oleh model-model amatir itu bukan couture yang didesain oleh Elie Saab atau Christian Lacroix, tapi itu murni bikinan mereka sendiri. Konon mereka bekerja keras untuk itu, mengumpulkan uang, beli bahan, menggunting pola, menjahitnya, dan menambah detail aksesoris. Berbulan-bulan mereka mengerjakannya. Namun saya akui mereka berhasil membuat saya terpesona. Kegilaan ini ternyata begitu dekat, di Jember, sebuah kota kecil di ujung timur Jawa saya merasakan atmosfer yang sama sekali berbeda. Sebuah nuansa kreativitas yang asing, membuat saya seperti terbang ke Rio de Jeneiro.

Diawali dengan rombongan marching band yang unik. Seluruh anggota marching band ini dibalut dengan busana merah dan putih, panampilan mereka membuat jiwa patriotisme saya muncul tanpa permisi. Patriotisme itu kembali hadir ketika beberapa model memperagakan busana-busana yang mengangkat kekayaan khasanah bangsa Indonesia, meraka mengenakan busana yang bercirikan khas Minangkabau yang dikombinsikan dengan sesuatu yang unik, meski mempesona menurut saya sih bajunya malah terlihat aneh. Hehehe. Keanehan itu tidak berhenti sampai disitu, dibelakangnya serombongan model berjalan dengan baju penuh sayuran! Ohhh wortel, tomat, salad, strawberry, hingga terong! Sesi ketiga ini memang mengambil tema Upper Ground yang inspirasi fesyennya berasal dari kekayaan alam yang muncul dari perut bumi. Warna hijau mengusai sesi ini, saya merasa menjadi seorang vegetarian.

Seruan untuk menyayangi hewan muncul pada defile selanjutnya yang mengambil tema Animal Plants. Pada sesi ini busana yang dikenakan memiliki banyak elemen hewan dan tumbuhan. Selanjutnya defile-defile besar bergantian; Off Life adalah rombongan yang menenakan busana yang menggambarkan tentang ketersisihan dan defile Hard Soft yang membawakan tema paradoks dalam busana mereka. Putih-hitam, dingin-panas, keras-lembut. Ada seorang peraga yang jalan dengan mengenakan busa yang aneh dan gila; bawahan model army look sedangkan atas adalah baju rumbai dengan aksesoris suntikan. Hahaha. Ediaaan.

Tiga rombongan terakhir adalah defile bertema Container yang bercerita tentang globalisasi, Techno Earth yang ingin menyampaikan batas antara modern dan tradisional, serta Rythm yang mengangkat musik sebagai isu utama busana mereka. Kegilaan pun masih berlanjut, ada seorang wanita yang menggunakan sanggul dari gedhek atau anyaman bambu, ada pula sosok model yang menggantung alat-alat musik di tubuh mereka. Ahh JFC ternyata memang bisa membawa suasanya hati yang berbeda, melihat segala kegilaan da kreativitas ini saya jadi lega, meski udara panas tak kunjung reda.