Pages

2/26/09

Journey To The Center Of The Java


Text and photo by Ayos Purwoaji

Aah weekend kemarin adalah sebuah akhir minggu yang luar biasa bagi saya! hahaha saya ngetrip ke Solo-Jogja selama beberapa hari! momennya sendiri kurang pas, yaitu saat hari kuliah aktif, dimana tugas sudah mulai menggunung. Tapi tekad di hati sudah bulat, apa boleh buat? Kebetulan saya hari jumatnya off, jadi ya harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Memang ada apa di Solo-Jogja? Ah pertanyaan bagus. Ada dua hal yang ingin saya lakukan di sana, pertama saya mau melakukan riset kecil tentang mainan tradisional, kedua kebetulan pada minggu itu juga dihelat sebuah acara akbar yang bernama KMDGI, sebuah ajang kumpul dan show off bareng mahasiswa desain grafis se-Indonesia! Faktanya adalah: saya ngidam dateng ke acara KMDGI ini sejak kelas satu SMA! saya jadi kepingin banget karena dulu saya suka sekali baca majalah Blank, majalah desain bikinan anak-anak ISI Jogja. Hanya saja sekarang majalah ini sudah kolaps. Padahal majalah itu menjadi influence saya selama SMA untuk masuk dunia desain. I love u Blank!

Sebenernya banyak penalaman yang ingin saya bagi. Karena jujur saja, buaanyak sekali pengalaman san pelajaran berharga yang saya dapat selama weekend kemarin. Tapi tentu saja semuanya ndak bisa dituliskan dalam catatan perjalan ringkas dalam blog ini. maaf yaa. Beberapa tempat yang saya kunjungi selama dua hari yang lalu meliputi pameran KMDGI di TBS Solo, selanjutnya saya juga ke acara Sekaten 2009 yang kebetulan kemarin juga dihelat, setalahnya saya pergi ke Jogja, berkeliling pasar Beringharjo dan riset di museum mainan anak Kolong Tangga. Mm di akhir perjalanan saya sempatkan mampir ke rumah mbah Bagyo, seorang penganut kejawen yang memberitahu saya ragam huruf Jawa Ngawi yang otentik. Hmm lengkap ya! seperti makan pecel pake saus salad dengan topping pancake diatasnya! hahaha...

Oh ya, saya mau memperkenalkan travelmate saya kali ini, namanya Arghaditya, namun jujur saja, saya lebih familiar memanggilnya Koplo. Dia adalah seorang bike traveler sejati, itulah mengapa perjalanan saya kali ini menggunakan motor butut saya. Koplo adalah seorang travelmate yang baik, saya banyak diberitahu rute jalan olehnya. Rencananya saya akan mengajaknya traveling lagi. Hehehe don't be hesitate plo!

Sekali lagi saya katakan; tidak rugi saya menempuh jarak ratusan kilo dari Surabaya dengan sepeda motor! karena memang KMDGI di Solo kali ini memberikan banyak ide bagi saya! atmosfer kegilaan pun saya rasakan sejak saya menginjakkan kaki pertama kali di areal Taman Budaya Solo. Sebuah kegilaan khas anak DKV, di beberapa venue di ruang terbuka pun mata saya dimanjakan oleh beberapa tampilan grafis dan karya instalasi yang kuat. Kesan itu tambah terasa ketika saya masuk ke ruang pamer yang ditempati berbagai stan kampus grafis di Indonesia.

Foto bareng anak DKV ITS

Berbagai stan dari tiap kampus pun tampaknya semua berusaha tampil maksimal -dan gila. Ada yang menampilkan grafiti printing di dinding, ada yang jual mainan dari clay-kain-dan kertas, ada juga yang menghadirkan replika warung koboi 1:1, ada juga yang majang WC, anak petra malah mindah kamar kosnya ke stan. semua keedanan grafis itu tumplek blek jadi satu. banyak hal yang bikin saya geleng-geleng kepala; blangkon custom, kaos batik yang kece, papertoys pattern, action figure pandawa yang detil, woodcut ramayana dan lain sebagainya. wuuah rasanya mau meledak kepala ini. idea is anywhere in KMDGI. sayangnya tidak semua gambar yang saya punya bisa tampil di sini...

Paperquiling toys

wall nya DKV ITS

wall nya unpas bandung

Barisan papertoys karya DKV ITS

Di KMDGI juga saya bis abertemu dengan mas Salim Sinkink. Dia adalah muse saya, inspirasi saya untuk masuk dunia desain. Sejak SMA saya begitu mengagumi karya-karya dia yang aneh dan 'beyond', saya pun rajin untuk menjadi copycatnya, meski saya tidak pernah bisa menyamainya, hehehe. Setelah beberapa saat ngobrol saya baru sadar kalo mas Salim baru saja punya anak. Hmm padahal sumpah, wajahnya tidak berubah sejak beberapa tahun yang lalu. Dulu mas Salim ini salah satu pemilik distro tertua di Solo, sekarang mas Salim sudah buka biro desain dengan nama DuaBendera. Sebisa mungkin saya bersilaturahmi ke kantornya suatu saat nanti.

Saya dan mas Salim Sinkink

Sausai muter-muter dan foto-foto di KMDGI, saya dan koplo memutuskan untuk pergi ke Sekaten. Sebuah acara eksibisi yang diselenggarakan oleh pihak keraton Solo. Setahun sekali biasanya diselenggarakan tiap awal tahun jawa. Beruntung saya dan koplo bisa ke sana. Banyak barang yang unik dan aneh yang dijual di sini. Saya pun tak lupa menjepret beberapa mainan tradisional yang dijual. Koplo sendiri asyik mengaduk-ngaduk pakaian di gerai babebo. Saya sendiri sudah tiga kali ini ke acara sekaten, namun saya akui sekaten kali ini tidak seasyik dulu. entah mengapa saya menrindukan suasana sekaten beberapa tahun yang lalu. Kalo sekaten jaman dulu saya dengan mudah menemukan barang-barang antik di setiap lorongnya, nah sekarang yang dijual malah barang-barang modern semua.


Di sekaten jugalah tempat saya bertemu dengan Mbah Bagyo. Orangnya tua, rambutnya putih menjuntai tak beraturan, bajunya hitam-hitam dengan aksen manik-manik sebagai kalungnya. Karena dandanannya yang unik itulah segera saya meminta izin kepada mbah bagyo untuk memotretnya. Beliau berkenan. setelah beberapa shoot saya pun ngobrol sama beliau. Saat saya tanya; lha mbah kerjanya apa? Sekejap mbah Bagyo menyahut; saya avonturir! jawaban ini mengagetkan saya karena avonturir adalah kata lain dari traveler! seakan mengetahui ketidakpercayaan saya mbah bagyo pun segera mengeluarkan paspor lawas miliknya. ternyata benar, ia adalah seorang traveler sejati! afrika, eropa, amerika dan asia sudah pernah ia jelajahi. Negara yang terakhir kali tertera di paspornya adalah Durban nun jauh di Afrika sana.

Mbah Bagyo the Old Avonturir

Setelah dari sekaten saya dan koplo langsung bertolak ke Jogja. Tujuan saya awalnya cuman ingin mengambil gambar ragam mainan daerah yang dijual di pasar beringharjo jogja. Namun tampaknya Tuhan memang mengerti perjuangan kedua makhluknya ini, ciee, ternyata kami memperoleh informasi menarik bahwa di jogja ada sebuah museum mainan anak tradisional yang koleksinya berasal dari berbagai negara di dunia.

Ternyata bener, setelah mencari informasi kesana-kemari -sekalian dibantu bondan dan navan- kami pun menemukan museum yang namanya Museum Mainan Anak Kolong Tangga. koleksinya lengkap melintas nusantara dan berbagai belahan dunia lainnya. Awalnya saya yang udah bawa kamera ndak boleh ngambil gambar, akhirnya setelah sedikit nego dan sedikit kebetulan -ternyata salah satu volunteer yang njaga adalah kakak teman saya yang selama ini saya belom pernah ketemu dengannya! hahaha makasih mbak Marisa.

beberapa mainan koleksi museum

Yang saya tangkap, mainan tradisional itu memiliki daya untuk mencerdaskan anak yang memainkannya. Ada semacam efek interaksi positif antara kognisi dan kinestesi dari anak kecil dalam melakukan permainan-permainan seperti hulahoop, tangram, wayang potehi, atau bahkan masak-masakan. Sayangnya sekarang teknologi digital begtu mudah mengambil semuanya, bahkan mainan pun digital. Cukup layar lebar falt dengan joystick getar seorang anak akan tersihir untuk ndak keluar rumah seharian. meski permainan digital juga mencerdaskan namun jujur saja tak sepowerful mainan tradisional.

Bang Danu, Mas Arul, dan Saya

Selama perjalanan kemaren juga banyak hal tak terduga. Selain bertemu dengan mbak marisa, saya juga ketemu dengan blogger senior saya; mas Arul. Lebih shock lagi karena mas Arul ada bersama dengan kakak kelas saya yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa! oohhh god, thanks for this beatiful coincident!

Aah dua hari yang penuh pengalaman dan pelajaran. saya dan koplo cuman bisa takjub, banyak sekali hal yang bisa kita dapat. trip yang sangat menyenangkan, meski pas perjalanan pulang kita berdua nyungsep trotoar, hahahaha.

plo plo, mau traveling lagi ndak?

P.S:
judul posting ini saya ambil dari judul novel yang saya suka; "Journey to the Center of the Earth" karangan Jules Verne yang melegenda. Novel ini sudah dua kali diangkat dalam film layar lebar, yang terakhir pemeran utamanya Brendan Faser.

Hifatlobrain juga menghimpun beberapa kuliner pilihan selama trip Solo-Jogja ini. Silahkan lihat postingan di bawah yang berjudul "Central Java Culinary Experiences ala Traveler Kere"

Central Java Culinary Experiences ala Traveler Kere


text and photo: Ayos Purwoaji


Hmm rasanya akan sangat hambar jika kita melakukan trip namun tidak melakukan sebuah penjelajahan kuliner. Maka dari itu, saya pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan jelajah kuliner saat melakukan trip ke Solo-Jogja bersama koplo minggu lalu. posting ini saya buat terpisah dengan post diatas karena ini menyangkut masalah yang lebih spesifik, juga materinya banyak. kalo dijadiin satu takutnya pembaca hifatlobrain mblenger... hehehe

oke makanan pertama yang masuk ke perut saya selama trip ini adalah: Gudeg Ceker Bu Kardi di deket hotel Asia, Solo. Saya sendiri memang sudah lama mengidamkan makan gudeg ceker dan tengkleng khas solo, tapi kali ini yang terpenuhi baru gudeg cekernya, hmm ndak papa lah...

Rambud, Papay, Itank

Saya diajak nyangruk di warung Bu Kardi sama tiga teman saya yang berdomisili di Solo. Ada papay yang anak DKV UNS, ada itank yang memang hobi kelayapan malem2, dan kebetulan ada Rambud yang jauh-jauh dateng dari jawa barat. Sembari ngrikiti ceker kamu ngobrol panjang lebar tentang hidup. Sebuah malam yang hangat.

Gudeg ceker Bu Kardi

Rasa Gudeg Bu Kardi sendiri menurut saya cukup layak untuk diposting, meski kalo soal rasa masih harus bersain dengan gudeg Yu Jum di Jogja. Yang khas dari Bu Kardi ini adalah cekernya -dimana di warung Yu Jum tidak disediakan. Bu Kardi mengolah cekernya ini dengan cara diopor, hingga lunak sekali. Padahal biasanya ceker yang disajikan dengan gudeg itu dimasak kecap dan aloot sekali, tapi di tangan Bu Kardi semua jadi beda.

Masih di Solo. Saat berjalan-jalan di areal sekaten dengan koplo, mata saya tertuju pada jejeran makanan coklat yang kelihatannya terasa legit sekali. Yup! itu adalah jenang klopo yang hanya dimasak saat ada sekaten. Meski bertekstur keras, makanan rakyat ini punya rasa manis yang sangat khas. apalagi adanya potongan kelapa muda di dalamnya membuat renyah bunyi dan rasanya jadi gurih. unik juga dimakan sebagai teman pas muter-muter sekaten :)

Jenang Klopo khas Sekaten

Sesampainya di Jogja, setelah janjian dengan sahabat saya, Bondan, saya pun dimampirkan di sebuah warung kopi yang cukup enak buat nyangkruk di daerah Jakal Jogja. Namanya warung kopi Ning Ratri. Selalu penuh setiap malam, bahkan untuk mendapatkan tempat saja susahnya minta ampyun. Dari segi rasa sih sebenernya tidak terlalu istimewa, namun suasanya dan tempatnya yang ramai bikin orang jadi happy. Apalagi atmosfer jogja yang ndagel bisa bikin ngakak orang-orang yang lagi nongkrong. Makasih bondiy dah mau menemani saya ngobrol hingga larut...

Bondan

Kopi Ning Ratri, Jakal Jogja

Esoknya, setelah capek muter-muter pasar beringharjo dan museum kolong tangga, saya dianterin mbak marisa untuk cari maem siang. Saya pun diajaknya ke sebuah warung pecel di ujung jalan malioboro. pecelnya cukup enak saya pikir, apalagi ditemani oleh tempe bacem dan ote-ote, huuu sippp... Navan, adik saya bahkan harus nambah saking ketagihan.

Mbak Marisa, mbaknya Yonara

Pecel Pojok Malioboro

***
harga dari makanan-makanan di atas adalah:

Gudeg Ceker Bu Kardi
Nasi Gudeg 1 porsi + ceker satu piring + es teh = 7500 perak

Jenang Klopo Sekatenan/potong
= 500 perak

Segelas Kopi Ning Ratri
= Gratis! (dibayari Bondan, hehehe, tapi regone pironan Ndan?)

Pecel Pojok Malioboro

Nasi pecel 1 porsi + tempe bacem + ote-ote udang + es teh = 6000 perak

gimana? murah meriah tho? hehehe yawislah itu dulu laporan kuliner saya dari trip Solo-Jogja. Maturtengkyu. Salam kuliner selalu.

Thanks to:
Itank-Papay-Rambud-Fajar Bulis buat referensi bu Kardinya, Bondan yang udah nemenin ngobrol semalaman di ning Ratri, mbak Marisa atas pertemuannya yang tidak terduga dan pecelnya yang top markotop, dan terakhir buat my lovely brother, Nabun sang kotakcoklat...

2/14/09

Light Trip to Oud Batavia

Text and photo: Winda Savitri
Research: Ayos Purwoaji



Jakarta emang g ada matinye

Sepenggal kalimat tak berstruktur, yang nyata-nyatanya emang epektip untuk menggambarkan keadaan ibu kota yang satu ini. Buktinya? Hwm, setelah dua pekan lalu berkunjung ke Jakarta, yang saya dapatkan masih sama aja. Soal macet, panas, penumpukan manusia dalam sebuah pusat perbelanjaan, kebiasaan bergaya hidup hi class yang tidak sehat, polusi udara yang membabi buta, perkembangan mode yang semakin nyaris tidak mungkin lagi untuk diikuti, Jakarta memang tidak pernah mati. Saya sendiri sangat menyukai komik yang dibuat oleh Benny dan Mice dalam menggambarkan ibukota dalam Lagak Jakarta-nya, mirip, klop! Monggo di pirsani sendiri. Interesting ;)

***
Habitus warga Jakarta yang notabene berasal dari berbagai daerah di pelosok tanah air, seakan terlihat semakin glamour saja. Contoh kecilnya saja, pusat perbelanjaan FX-Generation Plaza di daerah Senayan. Pada hari biasa, mal yang satu ini biasa beroperasi hingga pukul 1 dini hari, dan parahnya lagi pas weekend bisa sampai jam 3 dini hari! Shopping till drop –all nite long shop, or, just wasting time to hang out with someone. Sempet mikir juga sih, ini to yang disebut gaya hidup masa kini?

Tentunya. Anda sendiri yang bisa menjawabnya.

***
Tapi selalu ada yang unik. Ada yang membuat saya tertarik ketika berada di dalam mal dengan arsitektur yang canggih nan unik ini. Ada wahana baru yang memanjakan pengunjung dengan permainan seru yang bisa memacu adrenalin pada tingkat maksimum. Dialah, The Atmostfear!

Setelah berkenalan lebih jauh, wahana ini dirancang oleh sebuah perusahaan slider terkenal didunia ini, tepatnya di Jerman sana. Atmosfear akan ’memaksa’ kita untuk ikut meluncur bebas dalam terowongan kokoh berwarna silver, yang wujudnya berkelok-kelok dan tentunya sangat curam dan terjal, ketinggiannya saja dipatok mati mencapai 30 meter dengan panjang slidernya sekitar 72 meter (the one and only in Asia!), yang mana secara live bisa disaksikan langsung oleh para pengunjung lainnya dari seluruh penjuru gedung. Maklum, letak slidernya sendiri tepat ditengah-tengah mal. Dan, voila! Cukup 15 detik saja, Anda sudah sampai di lantai 1 dengan selamat.

Info:
Hari biasa Rp. 50.000
Weekend Rp. 75.000

Usia min. 15 tahun dan tinggi badan min.130 cm.

Selain Atmosfear, yang menarik dalam mal ini adalah, TOC; The Other Culture (toys and vinyl figure store and another stuff like clothes, bags, and many more). Wuah, yang dulunya cuman mupeng pas ngelihat beberapa karakternya disebuah majalah desain grafis –babyboss, akhirnya saya menemukan wujud aslinya di tempat ia bersarang. Hmm, so nice…
Tapi ada yang disayangkan, semua barangnya dibandrol dengan satuan dollar. Mampuuuuuus! Ya nabung dulu lah. Namun, saya juga sedikit bangga, karena salah satu graphic designer dari berbagai vinyl figure keren yang dipajang adalah orang Indonesia, aseli kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah.

Karya sang graphic designer asal Jateng ini bisa di akses di www.theyhatemydesign.net atawa untuk TOC-nya bisa di akses di www.theotherculture.com. Harap maklum, saya sendiri memang gila akan action figure dan hal-hal yang berbau-bau visual art. hehehe...

Next,
Jalan-jalanLah saya ke Kota Tua –Jakarta Kota. Saya menyebutnya daerah edukasi. Tempat pembelajaran banyak hal akan keragaman sisa-sisa peninggalan jaman kolonialisme. Menyenangkan. Museum-museum berjajar berdekatan disepanjang jalan. Sebut saja Museum Fatahilah, Museum Keramik, Museum Wayang, dan masih banyak lagi museum lainnya. Setidaknya dari ketiga museum yang saya sebutkan diatas, dua diantaranya berhasil saya abadikan. Selamat menikmati photoshoot saya :)

Sejarah kota Jakarta diperkirakan dimulai sekitar 3500 SM, sangat tua bukan? Diawali dengan terbentuknya pemukiman sejarah di sepanjang daerah aliran sungai Ciliwung purba. Seiring dengan perjalanan sejarah, maka berbagai kampung tumbuh di sepanjang aliran sungai itu. Pada zaman kolonial kampung-kampung kecil ini pun berkembang, mengingat pada masa itu pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan sentral yang dimiliki oleh VOC. Kampung-kampung ini ada yang bertahan sampai sekarang diantaranya adalah Kampung Bandan, Kampung Orang Cina (Pecinan), Kampung Luar Batang, Kampung Pekojan, Kampung Angke, Kampung Kebon Jeruk dan masih banyak lagi.

Pada 1972, Gubernur periode 1966-1977 ini mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 11 mengenai penetapan kawasan cagar budaya Kota Tua Jakarta. Blok taman Fatahillah, Pasar Ikan, dan Glodok ditetapkan sebagai zona konservasi. Arsip studi, penelitian, dokumentasi Kota Tua banyak dihasilkan dari berbagai lembaga riset, yang merekomendasikan strategi dan rencana revitalisasi kawasan Kota Tua.

Beberapa spot eksotis yang tidak boleh Anda lewatkan saat berada di Kota Tua Jakarta antara lain adalah: Museum Bahari yang dibangun pada tahun 1652, galangan tua VOC yang saat ini menjadi kafe dan restoran, Taman Fatahillah yang dikelilingi bangunan cagar budaya, Kali Besar yang dahulu bernama Groot Rivier merupakan urat nadi Batavia, Museum Sejarah Jakarta yang dahulu bernama gedung Staadhuis, Museum Wayang bekas De Oude Holandsche Kerk atau gereja lama Belanda, Museum Bank Mandiri atau dulunya Nederlandsche Handel Maatschappij, Museum Bank Indonesia yang dulunya Javasche Bank, dan yang terakhir adalah Museum Seni Rupa dan Keramik yang merupakan bekas Raad van Justitie atau balai pengadilan.

Ndak perlu bingung karena Hifatlobrain telah menyiapkan sebuah peta yang akan membantu Anda agar tidak tersesat dalam menyusuri pesona kota lama Jakarta.

Salah satu alternatif untuk menuju Kota Tua ini adalah, cukup menggunakan jasa angkutan umum kereta api. Kenapa? Karena kereta api listrik yang ditawarkan benar-benar nyaman. Kereta bekas kepemilikan Jepang ini dilengkapi dengan kursi seempuk sofa, ruang gerbong yang dingin semriwing akibat ulah si AC yang masih bekerja maksimal, pintu gerbong otomatis, tidak ada pengamen apalagi pedagang asongan (saat kereta sedang melaju), disediakan juga gerbong untuk si perokok yang dilengkapi dengan fan, dan tidak ketinggalan, yang terpenting! Tarifnya cuman Rp. 4500 saja.
(aksesoris unik dalam bentuk kaleng bertuliskan switch off your phone. (mungkin lho pake huruf kanji soalnya :p) untuk pegangan guna pengamanan penumpang disaat kita berdiri didalam gerbong). Oke segitu aja yaa, selamat jalan-jalan!

2/12/09

Anyer Gili Longway Beach


Text and photo by Ghagha

________________________________________________









Ghagha atau Rangga Aditya adalah seorang traveler akut. Perjalanan panj
angnya menyusuri Madura yang eksotis dan Pulau Sempu yang senyap membuatnya bertekad untuk lebih banyak traveling menjelajah Indonesia. Beberapa negara telah disinggahinya, pesona Paris dan suasana malam di Orchad Road pernah dirasakannya. Sangat mencintai musik dan film sebagaimana ia mencintai jempol kaki orang lain.
________________________________________________

Chapter I
Anyer, Banten


Di awal tahun 2009, saya beserta keluarga dgn keadaan full team pergi liburan tahun baru ke Anyer, Merak. Berkat kedatangan keluarga Fajans, kluarga kami menjadi lengkap. Karena mereka berdomilisi di Eropa tepatnya di Gex, France. Saya, Kiki, Mark, Mamaden, Om Peter dan kakek berangkat lebih dahulu ke Anyer sedangkan anggota keluarga yang lain datang menyusul. Sesampainya di Anyer cuacanya sangatlah panas, sungguh menyiksa, padahal musim sedang hujan. Kalo boleh saya gambarkan rasanya seperti jika Anda seorang kuli Bulog di Tanjung Perak yang sedang mengangkat karung goni dengan kaki penuh luka nanah, sangat tersiksa. Kiki dan Mark langsung menuju ke pantai yg saat itu sedang terik-teriknya. Cuih.. pasti nanti jadi hitam seperti teman saya, Ayos, jadi siang itu saya memilih diam di cottage.

Malamnya kami memutuskan untuk mencari makan malam, pastinya seafood lah, makan malam kami cukup enak walaupun banyak stok ikan yg habis, mungkin karena musim angin barat, nelayan pada males turun ke laut. Setelah kenyang maem, setibanya di cottage ada kejadian yang cukup psycho. Saat kakek ingin mengambil vitaminnya di atas televisi, ternyata kakek kaget dan berteriak-teriak histeris. Apa pasal? ternyata ada ular yg sedang bercokol di atas televisi disamping vitamin kakek! Percayalah kawan, itu bukan jenis ular yg dapat kita temukan di daerah pantai melainkan di hutan. WTF. Kami segera memanggil penjaga cottage yg segera membasmi ular tersebut. Setelah kejadian itu kami sekeluarga jadi was-was. Paranoid. Tapi bagaimanapun juga mata kami sudah lelah dan badan nggak mau kompromi untuk segera memeluk guling, kami memutuskan untuk tidur dan menabung tenaga untuk esok hari.

Esok paginya, sekitar jam sembilan, keluarga kami sudah lengkap; Keluarga besar Asmoeni bin Tabrani. Segera saya ajak sepupu saya, Yandra, dan keponakan saya, Aurel, bermain. Huhu.. they like two cute angels for me, mereka lahir di tahun yg sama. Sore harinya saya memutuskan mengambil beberapa gambar di pantai, pemandangan sunset sore itu cukup bagus, meski hari itu sangat ramai pengunjung.


Malamnya kita makan malam bersama dengan membakar ikan, cumi-cumi, udang dan tidak ketinggalan; pete! Selagi memasak para cucu bermain petasan yg dibelikan khusus oleh kakek. Bagi saya ini sangat ironi dengan kebudayaan Betawi. Kakek saya yg dua kali naik haji pasti tau bahwa membakar petasan sama saja dengan membakar uang, dan itu haram hukumnya. Namun tampaknya kakek menghiraukannya sejenak untuk melihat rona kebahagiaan di wajah para cucunya dengan percikan sinar-sinar api yang mengudara ke langit. What a wonderful night!

Pada hari ketiga saya berperan sebagai tukang foto bagi Mark dan Kiki yang sedang belajar surfing. Dengan gaya sok keren mereka meluncur dengan terbata-bata di atas surfboard. Tampaknya ini sekedar gaya-gayaan saja, mereka ingin foto-foto ini terupload dengan gagah sebagai foto profil di situs pertamanan yang mereka miliki. Facebook fever yang merajalela, hahaha.


Sebelum tengah hari kita sudah harus check out dari cottage. Sebelum pulang kami menyempatkan diri berfoto-foto dahulu sebagai kenang-kenangan dan langsung meluncur ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta saya dan Mark harus packing lagi karena besok kita sudah harus check in di bandara jam 3, penerbangan menuju mataram. And now the wilderness came out…

Chapter II
Gili Trawangan, Lombok


Gili trawangan adalah surga bagi para turis mancanegara, sangat indah tiada bandingannya. Sejujurnya hanya saya satu-satunya turis yang berasal dari Indonesia. Hahaha.. weird huh! Kami memutuskan tinggal di Villa Ombak, rate kamarnya $87/night. Mahal sekali untuk saya yang merupakan turis local, tetapi murah sekali bagi Mark dengan lembaran euronya hahahaha.


Keindahan gili didukung oleh warga sekitar yang melarang kendaraan bermesin melintas di pulau ini. Di sana hanya ada rental sepeda angin dan delman. Sungguh tenang dan nyaman dengan keadaan bebas polusi dan bebas aurat. Unfortunately no photo allowed ya ohhoho!
Fasilitas wisata pelepas stress di Gili Trawangan sangatlah lengkap. Mulai dari diving, snorkeling, underwater photography, Komodo Island - Mt. Rinjani roadtrip, candle light dine set dan masih banyak lagi. Highly recommended bagi anda yang memiliki rencana honeymoon untuk memadu kasih satu sama lain. This island is sooo goddamn good for you to spent at least a week!

Tempat favorit saya selama di Lombok: Rudy’s Bar & Sama Sama’s Bar

Setiap malam di Gili saya habiskan di dua bar ini, terutama Rudy’s Bar. Mereka mempunyai bartender-bartender yang sangat ramah. Ada Henry Asep dan Danni, mereka bartender yg menjadi kawan kami. “Baik ramah pada para pengunjung” adalah moto Rudy’s Bar, pantas saja saya merasa menjadi raja di sini. Danni sendiri pandai berbahasa Inggris, Prancis, Russia, dan Jepang, sedangkan Henry Asep sangat pandai meracik Mushroom. Thanks to you guys! Sepupu saya, Mark, sempat berkenalan dengan Sydney Mei-ruf Wong. Dia berasal dari Milwaukee, Amerika. Sydney sendiri berdarah setengah Chinese dan Amerika. Sydney yang cantik dan ramah, dia juga sangat mencintai Indonesia bahkan sejak kunjungan yang pertama. Sydney sempet bilang sama saya, ”I told you Gha, Indonesia is the most beautiful country”. Bangga rasanya jadi orang Indonesia. Hehehe.


Di Sama Sama’s Bar sendiri menyajikan live music dengan memainkan musik-musik dari Bob Marley, Blind Melon, Aerosmith, dan Souljah. Nuansa lagu pantai dan sedikit rasa psychedelic sangat terasa di Sama Sama. Pengunjung yang hadir pun cukup seru, bahkan mas van Geerten, si satpam londho, juga asyik ikut berjoget ria. Mark pun sangat menikmati setiap malam di Gili, ia selalu pulang ke cottage dalam keadaan tipsy hahahahaha… you’re my favourite cousin, white ass!



Puas setelah 5 hari 4 malam di Gili Trawangan kita pun meneruskan trip ini ke Pulau Dewata.

Chapter III
Sanur, Bali



Di Bali kami tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, karena Bali dalam keadaan banjir. Tapi bukan berarti tidak ada hal istimewa yang kamu dapatkan, di Bali kami mencoba makanan khas Bali yang legendaris yaitu bebek betutu. Kami juga melihat beberapa pura yang ada di Bali, belanja untuk oleh-oleh orang di rumah dan mengunjungi puri lukisan. Bagi saya Bali adalah Bali. Masih tetap mempesona.



P.S:
Terima kasih kepada Allah SWT yang menciptakan banyak pantai indah di buminya
yang biru ini, untuk Ayos yg ngepush saya untuk nulis di hifatlobrain. It was fun bro, Mark… you’re my favorite cousin, Mamaden and Om Peter… for paid all Mark n Me activities. How much money do you have? Sydney… we’ll waiting you in the next trip, and my family of course. Miss u all guys. See u next trip!