Pages

2/12/09

Anyer Gili Longway Beach


Text and photo by Ghagha

________________________________________________









Ghagha atau Rangga Aditya adalah seorang traveler akut. Perjalanan panj
angnya menyusuri Madura yang eksotis dan Pulau Sempu yang senyap membuatnya bertekad untuk lebih banyak traveling menjelajah Indonesia. Beberapa negara telah disinggahinya, pesona Paris dan suasana malam di Orchad Road pernah dirasakannya. Sangat mencintai musik dan film sebagaimana ia mencintai jempol kaki orang lain.
________________________________________________

Chapter I
Anyer, Banten


Di awal tahun 2009, saya beserta keluarga dgn keadaan full team pergi liburan tahun baru ke Anyer, Merak. Berkat kedatangan keluarga Fajans, kluarga kami menjadi lengkap. Karena mereka berdomilisi di Eropa tepatnya di Gex, France. Saya, Kiki, Mark, Mamaden, Om Peter dan kakek berangkat lebih dahulu ke Anyer sedangkan anggota keluarga yang lain datang menyusul. Sesampainya di Anyer cuacanya sangatlah panas, sungguh menyiksa, padahal musim sedang hujan. Kalo boleh saya gambarkan rasanya seperti jika Anda seorang kuli Bulog di Tanjung Perak yang sedang mengangkat karung goni dengan kaki penuh luka nanah, sangat tersiksa. Kiki dan Mark langsung menuju ke pantai yg saat itu sedang terik-teriknya. Cuih.. pasti nanti jadi hitam seperti teman saya, Ayos, jadi siang itu saya memilih diam di cottage.

Malamnya kami memutuskan untuk mencari makan malam, pastinya seafood lah, makan malam kami cukup enak walaupun banyak stok ikan yg habis, mungkin karena musim angin barat, nelayan pada males turun ke laut. Setelah kenyang maem, setibanya di cottage ada kejadian yang cukup psycho. Saat kakek ingin mengambil vitaminnya di atas televisi, ternyata kakek kaget dan berteriak-teriak histeris. Apa pasal? ternyata ada ular yg sedang bercokol di atas televisi disamping vitamin kakek! Percayalah kawan, itu bukan jenis ular yg dapat kita temukan di daerah pantai melainkan di hutan. WTF. Kami segera memanggil penjaga cottage yg segera membasmi ular tersebut. Setelah kejadian itu kami sekeluarga jadi was-was. Paranoid. Tapi bagaimanapun juga mata kami sudah lelah dan badan nggak mau kompromi untuk segera memeluk guling, kami memutuskan untuk tidur dan menabung tenaga untuk esok hari.

Esok paginya, sekitar jam sembilan, keluarga kami sudah lengkap; Keluarga besar Asmoeni bin Tabrani. Segera saya ajak sepupu saya, Yandra, dan keponakan saya, Aurel, bermain. Huhu.. they like two cute angels for me, mereka lahir di tahun yg sama. Sore harinya saya memutuskan mengambil beberapa gambar di pantai, pemandangan sunset sore itu cukup bagus, meski hari itu sangat ramai pengunjung.


Malamnya kita makan malam bersama dengan membakar ikan, cumi-cumi, udang dan tidak ketinggalan; pete! Selagi memasak para cucu bermain petasan yg dibelikan khusus oleh kakek. Bagi saya ini sangat ironi dengan kebudayaan Betawi. Kakek saya yg dua kali naik haji pasti tau bahwa membakar petasan sama saja dengan membakar uang, dan itu haram hukumnya. Namun tampaknya kakek menghiraukannya sejenak untuk melihat rona kebahagiaan di wajah para cucunya dengan percikan sinar-sinar api yang mengudara ke langit. What a wonderful night!

Pada hari ketiga saya berperan sebagai tukang foto bagi Mark dan Kiki yang sedang belajar surfing. Dengan gaya sok keren mereka meluncur dengan terbata-bata di atas surfboard. Tampaknya ini sekedar gaya-gayaan saja, mereka ingin foto-foto ini terupload dengan gagah sebagai foto profil di situs pertamanan yang mereka miliki. Facebook fever yang merajalela, hahaha.


Sebelum tengah hari kita sudah harus check out dari cottage. Sebelum pulang kami menyempatkan diri berfoto-foto dahulu sebagai kenang-kenangan dan langsung meluncur ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta saya dan Mark harus packing lagi karena besok kita sudah harus check in di bandara jam 3, penerbangan menuju mataram. And now the wilderness came out…

Chapter II
Gili Trawangan, Lombok


Gili trawangan adalah surga bagi para turis mancanegara, sangat indah tiada bandingannya. Sejujurnya hanya saya satu-satunya turis yang berasal dari Indonesia. Hahaha.. weird huh! Kami memutuskan tinggal di Villa Ombak, rate kamarnya $87/night. Mahal sekali untuk saya yang merupakan turis local, tetapi murah sekali bagi Mark dengan lembaran euronya hahahaha.


Keindahan gili didukung oleh warga sekitar yang melarang kendaraan bermesin melintas di pulau ini. Di sana hanya ada rental sepeda angin dan delman. Sungguh tenang dan nyaman dengan keadaan bebas polusi dan bebas aurat. Unfortunately no photo allowed ya ohhoho!
Fasilitas wisata pelepas stress di Gili Trawangan sangatlah lengkap. Mulai dari diving, snorkeling, underwater photography, Komodo Island - Mt. Rinjani roadtrip, candle light dine set dan masih banyak lagi. Highly recommended bagi anda yang memiliki rencana honeymoon untuk memadu kasih satu sama lain. This island is sooo goddamn good for you to spent at least a week!

Tempat favorit saya selama di Lombok: Rudy’s Bar & Sama Sama’s Bar

Setiap malam di Gili saya habiskan di dua bar ini, terutama Rudy’s Bar. Mereka mempunyai bartender-bartender yang sangat ramah. Ada Henry Asep dan Danni, mereka bartender yg menjadi kawan kami. “Baik ramah pada para pengunjung” adalah moto Rudy’s Bar, pantas saja saya merasa menjadi raja di sini. Danni sendiri pandai berbahasa Inggris, Prancis, Russia, dan Jepang, sedangkan Henry Asep sangat pandai meracik Mushroom. Thanks to you guys! Sepupu saya, Mark, sempat berkenalan dengan Sydney Mei-ruf Wong. Dia berasal dari Milwaukee, Amerika. Sydney sendiri berdarah setengah Chinese dan Amerika. Sydney yang cantik dan ramah, dia juga sangat mencintai Indonesia bahkan sejak kunjungan yang pertama. Sydney sempet bilang sama saya, ”I told you Gha, Indonesia is the most beautiful country”. Bangga rasanya jadi orang Indonesia. Hehehe.


Di Sama Sama’s Bar sendiri menyajikan live music dengan memainkan musik-musik dari Bob Marley, Blind Melon, Aerosmith, dan Souljah. Nuansa lagu pantai dan sedikit rasa psychedelic sangat terasa di Sama Sama. Pengunjung yang hadir pun cukup seru, bahkan mas van Geerten, si satpam londho, juga asyik ikut berjoget ria. Mark pun sangat menikmati setiap malam di Gili, ia selalu pulang ke cottage dalam keadaan tipsy hahahahaha… you’re my favourite cousin, white ass!



Puas setelah 5 hari 4 malam di Gili Trawangan kita pun meneruskan trip ini ke Pulau Dewata.

Chapter III
Sanur, Bali



Di Bali kami tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, karena Bali dalam keadaan banjir. Tapi bukan berarti tidak ada hal istimewa yang kamu dapatkan, di Bali kami mencoba makanan khas Bali yang legendaris yaitu bebek betutu. Kami juga melihat beberapa pura yang ada di Bali, belanja untuk oleh-oleh orang di rumah dan mengunjungi puri lukisan. Bagi saya Bali adalah Bali. Masih tetap mempesona.



P.S:
Terima kasih kepada Allah SWT yang menciptakan banyak pantai indah di buminya
yang biru ini, untuk Ayos yg ngepush saya untuk nulis di hifatlobrain. It was fun bro, Mark… you’re my favorite cousin, Mamaden and Om Peter… for paid all Mark n Me activities. How much money do you have? Sydney… we’ll waiting you in the next trip, and my family of course. Miss u all guys. See u next trip!

2 comments:

Yoppi Ari said...

Bravo ga...!!

Aku menunggu hasil jepretannya.
Share it, oke.... ;)

aklam said...

Yop abis ini ghagha mau menuliskan pengalamannya ke sebuah pantai, gak tau namanya tapi fotone maknyus pool, kita tunggu saja!