Pages

2/12/09

The Art of Dining with Fahmi Machda


Apa pentingnya sebuah makan malam bagi anda para Hifatlobrainer? barangkali sangat biasa. Tetapi makan malam bisa jadi adalah sebuah ritual yang sangat istimewa, seperti yang dipercaya oleh sahabat sekaligus guru saya, mas Fahmi.

"Sejak SD aku coba cari hal yang paling aku sukai. Aku coba untuk mencintai menulis. Aku mencoba untuk mencintai desain. Aku coba mencintai programming. Aku juga pernah mencoba untuk mencintai traveling. Semua itu tidak bertahan lama. Rata-rata aku menemukan kejenuhan setelah aku melakoninya selama beberapa saat. Tapi sekarang aku sudah menemukan hal yang paling aku sukai dan tidak pernah jenuh karenanya, ternyata hal yang paling aku sukai adalah makan malam," ujar Fahmi lugas.

Mengapa makan malam begitu penting baginya? Penggemar Bondan Winarno ini mengatakan bahwa makan malam adalah sebuah ritual yang hangat. Keluarga berkumpul karena makan malam. Deal-deal bisnis banyak yang dilakukan saat makan malam. Memberikan sesuatu kepada orang yang istimewa juga sering terjadi saat dinner. Hal-hal tadi tidak mungkin terjadi saat makan pagi dan siang.

Makan malam juga merupakan sebuah peristiwa yang selalu gegap gempita. Saat denyut kehidupan kota mulai melambat, saat semua lampu jalan menyala, saat penjual sate mengepakkan kipasnya, saat semua lampu kendaraan melintas, saat matahari berlalu digantikan dengan bulan yang ramah, saat aspal tidak lagi mengepulkan uap panas, saat komputer kantor dimatikan, saat file-file kerja ditinggalkan, saat adzan isya dikumandangkan, saat otak menyerahkan urusannya kepada hati.

Makan malam bagi Fahmi juga berarti untuk mencoba menajamkan indera perasa dengan mengapresiasi berbagai ragam penganan dan cuisine yang terhidang di atas meja. Saya sendiri tidak begitu peka, mungkin bandingan yang pas untuk mas Fahmi adalah bang Didut yang ahli kuliner:)

***
Ampel adalah salah satu surga kuliner di Surabaya. Mas Fahmi sangat suka dengan tempat ini. Dia hafal dimana tempat untuk menemukan jus kurma yang enak, juga tempat membeli kambing bakar dan kambing oven terlezat di Ampel. Saat malam itu saya diajak ke Ampel saya langsung mangguk-mangguk, setuju!

Ampel trip kali ini dimulai dari masjid Al Irsyad di perempatan Hotel Quds. Kata mas Fahmi sholat di masjid Al Irsyad beda, dan ternyata memang beda. Bacaan imam yang mendayu-dayu dan slow speed membuat saya rileks. Setelah sholat kami lanjutkan perjalanan menyusuri jalan di depan hotel Grand Kalimas. Saat jalan, sejenak perhatian saya tertuju sama penjual gorengan, ada yang unik. Dia menjual sebuah gorengan yang asing bagi saya, seperti biskuit goreng namun ditengahnya dilumuri cream durian dan pandan. uuh enak sekali rasanya! saya juga sempat membeli pisang molen, ada yang rasa nanas dan strawberry. huhu enak.

Molen dan gorengan durian yang maknyuss

Selanjutnya kami cari makan malam. Mas Fahmi yang memilihkan tempat, dia pilih warung di tengah pasar Ampel Suci. Sebuah kedai makanan Arab. Kami memesan nasi briani, kambing oven dan minumannya adalah teh susu. Paduan yang sempurna untuk sebuah makan malam! Nasi briani warung ini warnanya kuning mengkilat, diatasnya ditabur kismis sebagai aksen. Nasinya yang pulen saja sudah enak dimakan tanpa lauk apapun. Sedangkan kambing ovennya sendiri teksturnya rapuh. Kalo ditarik pake garpu dagingnya langsung ambrol. Juga enak jika dicocol dengan sambel bawang dan kecap sebagai pelengkapnya.

Nasi briani dan kambing oven

Tak kalah menariknya adalah teh susunya yang legit. Manis tapi tidak berlebihan. Kental dan hangat. Hmm enak. Ndak membuat tenggorokan seret. disajikan dalam gelas semi-besar membuat kenyangnya ganda. Sayangnya tekstur tehnya kalah dengan susu. rasa tehnya baru muncul belakangan, mungkin mengendap di lapisan terbawah.

ini teh, susu... hahaha

***
At least, pas pulang saya mikir. Bukan kepikiran rasa kambing oven yang masih nyangkut di kerongkongan, saya mikir tentang itu tadi lho, tentang seni makan malam. Saya cuman bisa geleng-geleng kepala, kok ya kepikiran menjadikan makan malam yang segitu biasanya sebagai sebuah state of the art. Bagaimana mungkin kita berkontemplasi lewat kuliner yang bagi saya semua rasanya sama. Mungkin memang lidah saya yang tebel dan tidak peka. Atau mungkin itu penanda jika jiwa saya memang tidak jernih dan jarang diasah. Gawat. Saya cuman bisa menggaruk-garuk kepala selama perjalanan pulang.

3 comments:

ceniser said...

salam alaikum
Im very surprised to read something starange about my friend from far far away. The English title is interesting, but unfortunatelly ı dont understand your language. Please would you tell me some about it?

fahmi said...

Salam Cumhur Abi. What amazing, you found this web-page so quickly. Let me help you to make you understand this article. You can open this http://translate.google.com, than copy & paste this url: http://hifatlobrain.blogspot.com/2009/02/art-of-dining-with-fahmi-machda.html in its box. than choose the language from Indonesian to Turkish or English. =). May it help you. Anyway, this article is written by my since-high-school best friend. He is really expert to make any articles like this one. I have learned so many things from him.

musim said...

wah, kalo makan malam dijadikan sebuah state of the art, bagaimana dengan minum kopi, di sarkam misalnya..hahaha..bisa kacau jadinya