Pages

2/26/09

Journey To The Center Of The Java


Text and photo by Ayos Purwoaji

Aah weekend kemarin adalah sebuah akhir minggu yang luar biasa bagi saya! hahaha saya ngetrip ke Solo-Jogja selama beberapa hari! momennya sendiri kurang pas, yaitu saat hari kuliah aktif, dimana tugas sudah mulai menggunung. Tapi tekad di hati sudah bulat, apa boleh buat? Kebetulan saya hari jumatnya off, jadi ya harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Memang ada apa di Solo-Jogja? Ah pertanyaan bagus. Ada dua hal yang ingin saya lakukan di sana, pertama saya mau melakukan riset kecil tentang mainan tradisional, kedua kebetulan pada minggu itu juga dihelat sebuah acara akbar yang bernama KMDGI, sebuah ajang kumpul dan show off bareng mahasiswa desain grafis se-Indonesia! Faktanya adalah: saya ngidam dateng ke acara KMDGI ini sejak kelas satu SMA! saya jadi kepingin banget karena dulu saya suka sekali baca majalah Blank, majalah desain bikinan anak-anak ISI Jogja. Hanya saja sekarang majalah ini sudah kolaps. Padahal majalah itu menjadi influence saya selama SMA untuk masuk dunia desain. I love u Blank!

Sebenernya banyak penalaman yang ingin saya bagi. Karena jujur saja, buaanyak sekali pengalaman san pelajaran berharga yang saya dapat selama weekend kemarin. Tapi tentu saja semuanya ndak bisa dituliskan dalam catatan perjalan ringkas dalam blog ini. maaf yaa. Beberapa tempat yang saya kunjungi selama dua hari yang lalu meliputi pameran KMDGI di TBS Solo, selanjutnya saya juga ke acara Sekaten 2009 yang kebetulan kemarin juga dihelat, setalahnya saya pergi ke Jogja, berkeliling pasar Beringharjo dan riset di museum mainan anak Kolong Tangga. Mm di akhir perjalanan saya sempatkan mampir ke rumah mbah Bagyo, seorang penganut kejawen yang memberitahu saya ragam huruf Jawa Ngawi yang otentik. Hmm lengkap ya! seperti makan pecel pake saus salad dengan topping pancake diatasnya! hahaha...

Oh ya, saya mau memperkenalkan travelmate saya kali ini, namanya Arghaditya, namun jujur saja, saya lebih familiar memanggilnya Koplo. Dia adalah seorang bike traveler sejati, itulah mengapa perjalanan saya kali ini menggunakan motor butut saya. Koplo adalah seorang travelmate yang baik, saya banyak diberitahu rute jalan olehnya. Rencananya saya akan mengajaknya traveling lagi. Hehehe don't be hesitate plo!

Sekali lagi saya katakan; tidak rugi saya menempuh jarak ratusan kilo dari Surabaya dengan sepeda motor! karena memang KMDGI di Solo kali ini memberikan banyak ide bagi saya! atmosfer kegilaan pun saya rasakan sejak saya menginjakkan kaki pertama kali di areal Taman Budaya Solo. Sebuah kegilaan khas anak DKV, di beberapa venue di ruang terbuka pun mata saya dimanjakan oleh beberapa tampilan grafis dan karya instalasi yang kuat. Kesan itu tambah terasa ketika saya masuk ke ruang pamer yang ditempati berbagai stan kampus grafis di Indonesia.

Foto bareng anak DKV ITS

Berbagai stan dari tiap kampus pun tampaknya semua berusaha tampil maksimal -dan gila. Ada yang menampilkan grafiti printing di dinding, ada yang jual mainan dari clay-kain-dan kertas, ada juga yang menghadirkan replika warung koboi 1:1, ada juga yang majang WC, anak petra malah mindah kamar kosnya ke stan. semua keedanan grafis itu tumplek blek jadi satu. banyak hal yang bikin saya geleng-geleng kepala; blangkon custom, kaos batik yang kece, papertoys pattern, action figure pandawa yang detil, woodcut ramayana dan lain sebagainya. wuuah rasanya mau meledak kepala ini. idea is anywhere in KMDGI. sayangnya tidak semua gambar yang saya punya bisa tampil di sini...

Paperquiling toys

wall nya DKV ITS

wall nya unpas bandung

Barisan papertoys karya DKV ITS

Di KMDGI juga saya bis abertemu dengan mas Salim Sinkink. Dia adalah muse saya, inspirasi saya untuk masuk dunia desain. Sejak SMA saya begitu mengagumi karya-karya dia yang aneh dan 'beyond', saya pun rajin untuk menjadi copycatnya, meski saya tidak pernah bisa menyamainya, hehehe. Setelah beberapa saat ngobrol saya baru sadar kalo mas Salim baru saja punya anak. Hmm padahal sumpah, wajahnya tidak berubah sejak beberapa tahun yang lalu. Dulu mas Salim ini salah satu pemilik distro tertua di Solo, sekarang mas Salim sudah buka biro desain dengan nama DuaBendera. Sebisa mungkin saya bersilaturahmi ke kantornya suatu saat nanti.

Saya dan mas Salim Sinkink

Sausai muter-muter dan foto-foto di KMDGI, saya dan koplo memutuskan untuk pergi ke Sekaten. Sebuah acara eksibisi yang diselenggarakan oleh pihak keraton Solo. Setahun sekali biasanya diselenggarakan tiap awal tahun jawa. Beruntung saya dan koplo bisa ke sana. Banyak barang yang unik dan aneh yang dijual di sini. Saya pun tak lupa menjepret beberapa mainan tradisional yang dijual. Koplo sendiri asyik mengaduk-ngaduk pakaian di gerai babebo. Saya sendiri sudah tiga kali ini ke acara sekaten, namun saya akui sekaten kali ini tidak seasyik dulu. entah mengapa saya menrindukan suasana sekaten beberapa tahun yang lalu. Kalo sekaten jaman dulu saya dengan mudah menemukan barang-barang antik di setiap lorongnya, nah sekarang yang dijual malah barang-barang modern semua.


Di sekaten jugalah tempat saya bertemu dengan Mbah Bagyo. Orangnya tua, rambutnya putih menjuntai tak beraturan, bajunya hitam-hitam dengan aksen manik-manik sebagai kalungnya. Karena dandanannya yang unik itulah segera saya meminta izin kepada mbah bagyo untuk memotretnya. Beliau berkenan. setelah beberapa shoot saya pun ngobrol sama beliau. Saat saya tanya; lha mbah kerjanya apa? Sekejap mbah Bagyo menyahut; saya avonturir! jawaban ini mengagetkan saya karena avonturir adalah kata lain dari traveler! seakan mengetahui ketidakpercayaan saya mbah bagyo pun segera mengeluarkan paspor lawas miliknya. ternyata benar, ia adalah seorang traveler sejati! afrika, eropa, amerika dan asia sudah pernah ia jelajahi. Negara yang terakhir kali tertera di paspornya adalah Durban nun jauh di Afrika sana.

Mbah Bagyo the Old Avonturir

Setelah dari sekaten saya dan koplo langsung bertolak ke Jogja. Tujuan saya awalnya cuman ingin mengambil gambar ragam mainan daerah yang dijual di pasar beringharjo jogja. Namun tampaknya Tuhan memang mengerti perjuangan kedua makhluknya ini, ciee, ternyata kami memperoleh informasi menarik bahwa di jogja ada sebuah museum mainan anak tradisional yang koleksinya berasal dari berbagai negara di dunia.

Ternyata bener, setelah mencari informasi kesana-kemari -sekalian dibantu bondan dan navan- kami pun menemukan museum yang namanya Museum Mainan Anak Kolong Tangga. koleksinya lengkap melintas nusantara dan berbagai belahan dunia lainnya. Awalnya saya yang udah bawa kamera ndak boleh ngambil gambar, akhirnya setelah sedikit nego dan sedikit kebetulan -ternyata salah satu volunteer yang njaga adalah kakak teman saya yang selama ini saya belom pernah ketemu dengannya! hahaha makasih mbak Marisa.

beberapa mainan koleksi museum

Yang saya tangkap, mainan tradisional itu memiliki daya untuk mencerdaskan anak yang memainkannya. Ada semacam efek interaksi positif antara kognisi dan kinestesi dari anak kecil dalam melakukan permainan-permainan seperti hulahoop, tangram, wayang potehi, atau bahkan masak-masakan. Sayangnya sekarang teknologi digital begtu mudah mengambil semuanya, bahkan mainan pun digital. Cukup layar lebar falt dengan joystick getar seorang anak akan tersihir untuk ndak keluar rumah seharian. meski permainan digital juga mencerdaskan namun jujur saja tak sepowerful mainan tradisional.

Bang Danu, Mas Arul, dan Saya

Selama perjalanan kemaren juga banyak hal tak terduga. Selain bertemu dengan mbak marisa, saya juga ketemu dengan blogger senior saya; mas Arul. Lebih shock lagi karena mas Arul ada bersama dengan kakak kelas saya yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa! oohhh god, thanks for this beatiful coincident!

Aah dua hari yang penuh pengalaman dan pelajaran. saya dan koplo cuman bisa takjub, banyak sekali hal yang bisa kita dapat. trip yang sangat menyenangkan, meski pas perjalanan pulang kita berdua nyungsep trotoar, hahahaha.

plo plo, mau traveling lagi ndak?

P.S:
judul posting ini saya ambil dari judul novel yang saya suka; "Journey to the Center of the Earth" karangan Jules Verne yang melegenda. Novel ini sudah dua kali diangkat dalam film layar lebar, yang terakhir pemeran utamanya Brendan Faser.

Hifatlobrain juga menghimpun beberapa kuliner pilihan selama trip Solo-Jogja ini. Silahkan lihat postingan di bawah yang berjudul "Central Java Culinary Experiences ala Traveler Kere"

5 comments:

anaksemeru said...

sialan lu nyos..
dtunggu2 dMagnet, eh malah kluyuran...g ngajk2 meneh.
sialan lg...postingan lu super makyus...
gw aj blom apa2
dol...kpn2 ngjk gw dongk!
klo pas g ada kerjaan, hehehe...
inilah sulitnya mahasiswa multiguna, ya kerja ya kuli ah...
brekedes bgt pokonya liputan lu...
gw tggu...postingan yg ciamik lg
sukses boz!?

aRgha said...

mas editor,..
tlg dong nama koplo diganti aja ama aRgha..

soalnya takut ntar penggemar2 saya bingung..siapa itu koplo, siapa itu aRgha..

hahahahahha...

next trip is okay..tapi malez klo kmu sok-sokan kuat nyetir, nanti jadinya "numplek" di jalan lagi..

hahahahahaha..

nuran said...

iyo yos... kata avonturir dulu dipopulerkan ama si gola gong, sang nabi traveler-ku...

aku pengen nulis maneh

Winoto said...

sip mas

aklam said...

@anaksemeru
hoho maaf mymen, saya gak tahu kalo kamu bisa ikut, soale biasanya kamu sibuk luarbiasa :)

@argha
beno koplo ae, lebih sexy!

@nuran
iya gola gong sering menuliskan traveler dengan avonturir, ayo dul nuliso maneh!

@winoto
maturtengkyu...