Pages

2/14/09

Light Trip to Oud Batavia

Text and photo: Winda Savitri
Research: Ayos Purwoaji



Jakarta emang g ada matinye

Sepenggal kalimat tak berstruktur, yang nyata-nyatanya emang epektip untuk menggambarkan keadaan ibu kota yang satu ini. Buktinya? Hwm, setelah dua pekan lalu berkunjung ke Jakarta, yang saya dapatkan masih sama aja. Soal macet, panas, penumpukan manusia dalam sebuah pusat perbelanjaan, kebiasaan bergaya hidup hi class yang tidak sehat, polusi udara yang membabi buta, perkembangan mode yang semakin nyaris tidak mungkin lagi untuk diikuti, Jakarta memang tidak pernah mati. Saya sendiri sangat menyukai komik yang dibuat oleh Benny dan Mice dalam menggambarkan ibukota dalam Lagak Jakarta-nya, mirip, klop! Monggo di pirsani sendiri. Interesting ;)

***
Habitus warga Jakarta yang notabene berasal dari berbagai daerah di pelosok tanah air, seakan terlihat semakin glamour saja. Contoh kecilnya saja, pusat perbelanjaan FX-Generation Plaza di daerah Senayan. Pada hari biasa, mal yang satu ini biasa beroperasi hingga pukul 1 dini hari, dan parahnya lagi pas weekend bisa sampai jam 3 dini hari! Shopping till drop –all nite long shop, or, just wasting time to hang out with someone. Sempet mikir juga sih, ini to yang disebut gaya hidup masa kini?

Tentunya. Anda sendiri yang bisa menjawabnya.

***
Tapi selalu ada yang unik. Ada yang membuat saya tertarik ketika berada di dalam mal dengan arsitektur yang canggih nan unik ini. Ada wahana baru yang memanjakan pengunjung dengan permainan seru yang bisa memacu adrenalin pada tingkat maksimum. Dialah, The Atmostfear!

Setelah berkenalan lebih jauh, wahana ini dirancang oleh sebuah perusahaan slider terkenal didunia ini, tepatnya di Jerman sana. Atmosfear akan ’memaksa’ kita untuk ikut meluncur bebas dalam terowongan kokoh berwarna silver, yang wujudnya berkelok-kelok dan tentunya sangat curam dan terjal, ketinggiannya saja dipatok mati mencapai 30 meter dengan panjang slidernya sekitar 72 meter (the one and only in Asia!), yang mana secara live bisa disaksikan langsung oleh para pengunjung lainnya dari seluruh penjuru gedung. Maklum, letak slidernya sendiri tepat ditengah-tengah mal. Dan, voila! Cukup 15 detik saja, Anda sudah sampai di lantai 1 dengan selamat.

Info:
Hari biasa Rp. 50.000
Weekend Rp. 75.000

Usia min. 15 tahun dan tinggi badan min.130 cm.

Selain Atmosfear, yang menarik dalam mal ini adalah, TOC; The Other Culture (toys and vinyl figure store and another stuff like clothes, bags, and many more). Wuah, yang dulunya cuman mupeng pas ngelihat beberapa karakternya disebuah majalah desain grafis –babyboss, akhirnya saya menemukan wujud aslinya di tempat ia bersarang. Hmm, so nice…
Tapi ada yang disayangkan, semua barangnya dibandrol dengan satuan dollar. Mampuuuuuus! Ya nabung dulu lah. Namun, saya juga sedikit bangga, karena salah satu graphic designer dari berbagai vinyl figure keren yang dipajang adalah orang Indonesia, aseli kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah.

Karya sang graphic designer asal Jateng ini bisa di akses di www.theyhatemydesign.net atawa untuk TOC-nya bisa di akses di www.theotherculture.com. Harap maklum, saya sendiri memang gila akan action figure dan hal-hal yang berbau-bau visual art. hehehe...

Next,
Jalan-jalanLah saya ke Kota Tua –Jakarta Kota. Saya menyebutnya daerah edukasi. Tempat pembelajaran banyak hal akan keragaman sisa-sisa peninggalan jaman kolonialisme. Menyenangkan. Museum-museum berjajar berdekatan disepanjang jalan. Sebut saja Museum Fatahilah, Museum Keramik, Museum Wayang, dan masih banyak lagi museum lainnya. Setidaknya dari ketiga museum yang saya sebutkan diatas, dua diantaranya berhasil saya abadikan. Selamat menikmati photoshoot saya :)

Sejarah kota Jakarta diperkirakan dimulai sekitar 3500 SM, sangat tua bukan? Diawali dengan terbentuknya pemukiman sejarah di sepanjang daerah aliran sungai Ciliwung purba. Seiring dengan perjalanan sejarah, maka berbagai kampung tumbuh di sepanjang aliran sungai itu. Pada zaman kolonial kampung-kampung kecil ini pun berkembang, mengingat pada masa itu pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan sentral yang dimiliki oleh VOC. Kampung-kampung ini ada yang bertahan sampai sekarang diantaranya adalah Kampung Bandan, Kampung Orang Cina (Pecinan), Kampung Luar Batang, Kampung Pekojan, Kampung Angke, Kampung Kebon Jeruk dan masih banyak lagi.

Pada 1972, Gubernur periode 1966-1977 ini mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 11 mengenai penetapan kawasan cagar budaya Kota Tua Jakarta. Blok taman Fatahillah, Pasar Ikan, dan Glodok ditetapkan sebagai zona konservasi. Arsip studi, penelitian, dokumentasi Kota Tua banyak dihasilkan dari berbagai lembaga riset, yang merekomendasikan strategi dan rencana revitalisasi kawasan Kota Tua.

Beberapa spot eksotis yang tidak boleh Anda lewatkan saat berada di Kota Tua Jakarta antara lain adalah: Museum Bahari yang dibangun pada tahun 1652, galangan tua VOC yang saat ini menjadi kafe dan restoran, Taman Fatahillah yang dikelilingi bangunan cagar budaya, Kali Besar yang dahulu bernama Groot Rivier merupakan urat nadi Batavia, Museum Sejarah Jakarta yang dahulu bernama gedung Staadhuis, Museum Wayang bekas De Oude Holandsche Kerk atau gereja lama Belanda, Museum Bank Mandiri atau dulunya Nederlandsche Handel Maatschappij, Museum Bank Indonesia yang dulunya Javasche Bank, dan yang terakhir adalah Museum Seni Rupa dan Keramik yang merupakan bekas Raad van Justitie atau balai pengadilan.

Ndak perlu bingung karena Hifatlobrain telah menyiapkan sebuah peta yang akan membantu Anda agar tidak tersesat dalam menyusuri pesona kota lama Jakarta.

Salah satu alternatif untuk menuju Kota Tua ini adalah, cukup menggunakan jasa angkutan umum kereta api. Kenapa? Karena kereta api listrik yang ditawarkan benar-benar nyaman. Kereta bekas kepemilikan Jepang ini dilengkapi dengan kursi seempuk sofa, ruang gerbong yang dingin semriwing akibat ulah si AC yang masih bekerja maksimal, pintu gerbong otomatis, tidak ada pengamen apalagi pedagang asongan (saat kereta sedang melaju), disediakan juga gerbong untuk si perokok yang dilengkapi dengan fan, dan tidak ketinggalan, yang terpenting! Tarifnya cuman Rp. 4500 saja.
(aksesoris unik dalam bentuk kaleng bertuliskan switch off your phone. (mungkin lho pake huruf kanji soalnya :p) untuk pegangan guna pengamanan penumpang disaat kita berdiri didalam gerbong). Oke segitu aja yaa, selamat jalan-jalan!

5 comments:

aklam said...

nicework! hehehhe

Anonymous said...

nice shoot

winda said...

tengkyuw :p

blackskin said...

Ayos, emang "Lo Brain" yang keren.
Jadi pingin ke Jakarta nih, insya'allah aq Juli magang di sono!

aklam said...

wah mas augene, yang nulis itu mbak winda, bukan saya. jai mbak winda yang lo brain...