Pages

2/12/09

Slumdog Millionaire


Tampaknya saya harus mulai nabung untuk pergi ke India!

Sudah pernah liat film Slumdog Millionaire? ini film sangat bagus, memotret realitas kota mumbai dengan sangat cantik. Sutradaranya, Danny Boyle, t
ampaknya melakukan interpretasi maksimal dari novel aslinya, Q and A karya Vikas Swarup. Intinya, film sebagus ini sayang untuk dilewatkan. Pantas saja film yang dibintangi Dev patel dan Freida Pinto ini banyak memenangkan penghargaan festival film internasional, terakhir kali yang saya baca di JawaPos film ini menang Writers Guild Award yang cukup prestisius.

Film ini memang layak diapresiasi, tidak seperti film India lain yang melankolis nan picisan film ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Tampaknya film S
lumdog Millionaire ini merupakan titik balik perfilman India kedepan. Jika konsisten maka saya pun tak segan-segan untuk menjadi salah satu penikmat film India -yang dulu sungguh-sungguh saya benci. Dalam film ini sudut-sudut kota Mumbai diekspose dengan maksimal, ya perkampungannya, ya kumuh-kumuhnya, ya para kehidupannya, ya kekejamannya. Sudut pengambilan gambarnya unik, ada beberapa angle yang bikin saya geleng-geleng. Tone gambarnya juga cocok untuk menampilkan kehidupan India yang warna-warni. Saya bingung, apa memang di Danny Boyle yang sip atau memang Mumbai sudah indah dari sononya?


Saya sih maunya membandingkan film Slumdog Millionaire ini dengan film Sepuluh yang sekarang lagi diputer di jaringan bioskop 21. Tapi saya belom sempet nonton. Katanya sih film Sepuluh besutan Henry Riady -cucu dari James Riady- ini menceritakan kehidupan anak jalanan d rimba Jakarta. Apakah sebagus Slumdog Millionaire? hmm saya belum tahu.


Lepas dari itu saya juga harus menyampaikan salut kepada Vikas Swarup yang jeli meramu cerita dalam Q and A. Fragmen-fragmen cerita yang terpisah disatukan dengan berbagai pertanyaan kuis Who Wants To Be Millionaire yang harus dijawab Jamal yang menjadi tokoh sentral novel ini. Vikas cukup jeli meramu cerita 'bias' menjadi luar biasa, plotnya naik turun, mungkin suatu saat saya harus membaca novel ini.


Buku lain tentang Mumbai yang saya tunggu untuk terbit di Indonesia sejak setahun yang lalu adalah laporan investigatif dari Suketu Mehta yang berjudul Maximum City; Bombay Lost and Found yang memenangkan penghargaan Pulitzer. Sama seperti Vikas Swarup, Mehta dalam bukunya yang fenomenal ini memotret carut-marut kota Mumbai. Mehta menggambarkan Mumbai sebagai kota yang sudah berada di titik kulminasi dengan ketimpangan sosial dengan elastisitas yang maksimum. Tapi sayangnya kok bukunya belom terbit juga ya, ntar saya coba cari di periplus lah.

Aah sungguh saya jadi penasaran dengan Mumbai. Penasaran dengan kulturnya, penasaran dengan sudut-sudut kotanya, penasaran dengan warna-warninya, penasaran dengan makanannya yang spicy, termasuk penasaran juga untuk tidur di Hotel Oberoi yang beberapa waktu yang lalu jadi target serangan teroris:)

Beberapa foto tentang kota Mumbai dapat dilihat di situs dibawah ini:
http://travel.nationalgeographic.com/places/places-of-a-lifetime/mumbai.html
http://mumbaidailyphoto.blogspot.com/

nb:
ooh iya, Rikian pernah merasakan atmosfer kehidupan di India, semoga ia mau membagikan ceritanya disana, sekalian link untuk foto yang kamu ambil juga boleh Ki, hehehe...

2 comments:

aklam said...

AKU HARUS NONTON SLUMDOG!!!!!!!!!!!!!!!
then,im gonna post it..tentu dengan pengalaman masa lalu..hihihi..
blogmu tambah keren aje mas..salam buat mbak kontributor yg sll mmbuat ak seolah2 ikut dalam perjalanannya..

(ditulis Rikian melalui Facebook)

winda said...

wa'alaikumsalam