Pages

3/31/09

Situ Gintung Tragedy

Teks dan foto: Mochammad Arifin


_______________________________________










Kontributor
Mochammad Arifin adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sangat menc
intai fotografi. Karir jurnalistiknya dimulai sejak SMA saat menangani penerbitan majalah sekolah. Saat ini sedang berkeinginan untuk menjadi seorang traveler dan bapak yang baik.
_______________________________________

Pada tanggal 28 Maret 2009 sekitar pukul 13.30 WIB tepat satu hari setelah peristiwa tragedi Situ Gintung saya langsung menuju tempat kejadian tragedi Situ Gintung. Berangkat dengan menggunakan angkutan umum, firasat saya ternyata benar, mendekat di tempat kejadian jalanan macet total. Saya pun berhenti di Terminal Lebak Bulus. Suasana sudah hiruk pikuk. Tragedi besar ini memang datang tiba-tiba.

Semakin penasaran saya pun berjalan menuju kampus UMJ. Banyak pos dan tenda pengungsian didirikan. Saya pun jalan lagi menuju Fakultas Kedokteran yang berada di belakang, saya melangkah dengan hati penuh tanya; apa yang sudah ditinggalkan air setelah menerjang pemukiman padat di bawah Situ Gintung? Saya pun segera mendapatkan jawabannya, ternyata suasananya memang sungguh berbeda.

***
Dengan perasaan penasaran akan tragedi yang banyak menelan korban jiwa itu, perlahan demi perlahan angkutan yang saya tumpangi hampir mendekati terminal lebak bulus. Pada akhirnya saya turun di Terminal Lebak Bulus yang pada saat itu suasana yang macet total, aku melangkah dengan hati penuh tanya. Ternyata suasananya memang sungguh berbeda.

Memang tidak separah tsunami Aceh, namun tragedi Situ Gintung ini juga menyisakan cerita yang mengerikan. Bau mayat dimana-mana. Baunya sangat menyengat, seperti bau bangkai tikus, kadang tercium kadang hilang. Suatu saat saya melihat beberapa relawan yang mencoba untuk menggeser sebuah bekas jembatan kecil, diperkirakan ada mayat dibaliknya. Karena tidak ada alat berat maka pekerjaan itu dilakukan secara manual, gotong royong. Para petugas baik dari TNI, Tim SAR Jakarta Selatan, Resimen Mahasiswa, Polisi Pamong Praja, dan sejumlah masyarakat sekitar sibuk membersihkan sisa-sisa puing bangunan dan lumpur yang bercampur tanah merah yang tebalnya sekitar 10 cm.

Perjalanan saya mulai dengan menyisiri pinggiran kali, medannya sendiri cukup sulit dilalui karena genangan lumpur yang tebal dan licin, jika salah melangkah bisa terendam lumpur semata kaki. Saya melangkah perlahan dan melihat banak bangunan yang rata dan hanya menyisakan tiang besi pondasi. Beberapa bangunan bahkan memasang tulisan “dikontrakan”. Memang di daerah tersebut banyak rumah yang dikontrakan atau kost.

Saya menemukan sebuah rumah dengan dinding jebol. Tampaknya yang saya lihat adalah bagian belakang rumah. Tampak di dalamnya ada kamar mandi, perabotan dapur, rak piring, mesin cuci, dan kompor gas. Bahkan ada rice cooker dengan seonggok nasi matang di dalamnya. Mungkin nasi itu dipersiapkan untuk sarapan keesokan harinya. Miris.

Anak-anak kecil entah dari mana asalnya sibuk mencari ikan yang terdampar di lumpur atau di kolam air. Jika beruntung mereka bisa dapat ikan patin, tapi dapat ikat sapu-sapu, ikan lele, dan ikan mujair saja juga sudah syukur. Tawa ria dunia anak memang tidak pernah kenal resesi, selalu saja ada hiburan meski berada di tengah tragedi yang mengerikan seperti ini.

Saya sendiri masih saja penasaran, bagaimana air yang sepele itu bisa melumatkan sebuah desa penuh penduduk seperti ini? Seperti semuanya habis tak berbekas. Ada rumah yang hanya menyisakan kusen, sedangkan kacanya bablas. Ada juga bangunan yang masih utuh tapi atapnya hilang disapu arus. Jendela pun hanya menyisakan kain dan daun-daun kelapa yang tersangkut. Mobil juga ada yang nyungsep di ayunan, tapi lebih banyak sepeda motor nahas yang tidak sempat diselamatkan pemiliknya.

Banyak juga buku-buku yang berserakan. Ada buku yang berjudul Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif dan Komunikasi Massa. Sepertinya ini buku milik perpustakaan universitas yang diterjang banjir. Tapi yang saya sukai adalah buku warna merah dengan sampul foto seorang ustadz muda kharismatik sedang tersenyum, fontnya warna kuning cerah, judulnya; Kado Panjang Umur...

Akhirnya partai pun banyak yang datang. partai politik mengira ini adalah sebuah kesempatan yang baik untuk membranding diri sebelum pemilu. Partai A hingga Z semua menampakkan batang hidungnya. membagi-bagikan ransum, pakaian hangat, selimut, dan obat-obatan. Para fotografer pun sepertinya tak ingin melepaskan momen tragedi ini, semua media hadir dengan mengirimkan fotografer terbaiknya untuk mendapatkan gambar-gambar eksklusif di Situ Gunung. Situ Gintung pun berubah menjadi sesuatu yang ramai, dan saya pun pulang.


***
Di tengah kehancuran yang hebat itu saya masih bisa melihat beberapa bangunan yang tegak berdiri. Salah satunya adalah Masjid Jabalur Rahman. Puncak masjid masih mengkilap, seakan tak pernah datang banjir malam itu. Beberapa warga dibantu dengan Front Pembela Islam bekerja membersihkan pelataran dan karpet masjid yang penuh lumpur.

Saya jadi merinding sendiri. semoga bencana ini tidak datang lagi.

Nusa Tenggara Barat Travel Report 2009


Teks dan foto: Riki Satrio

_________________________









Kontributor

Riki Sat
rio atau Jambronk adalah seorang mahasiswa ITS pecinta traveling. Jago diving dan snorkeling, membuatnya dipercaya untuk mengetuai UKM Air ITS tahun lalu. Saat ini sedang mendirikan sebuah kelompok pecinta laut yang dinamakan Ocean Tripper.
_________________________


Pantai Kuta Lombok sendiri adalah pantai yang bersih dan berair biru jernih, pantai Kuta Lombok juga sangat tenang, dan merupakan tempat yang asyik untuk melakukan snorkeling. Di sekitar Kuta Lombok banyak sekali hotel dan losmen untuk menginap. Bagi Anda yang lupa membawa dive gear jangan panik karena di sekitar pantai Kuta Lombok banyak tersedia dive shop yang bisa dikunjungi. O ya, jangan heran jika Anda dikerubuti oleh belasan anak kecil saat berkunjung di Kuta Lombok, siapkan uang seribu rupiah dan mereka akan mundur teratur. Banyak pemandangan indah terhampar di sekitar Kuta Lombok, salah satunya yang saya potret adalah seonggok batu besar yang perkasa. Tekstur batu ini memiliki bentuk yang unik, patternya sendiri terbentuk alami akibat gerusan ombak sejak ribuan tahun yang lalu.

Pantai Kuta Bali

Penjual mutiara jalanan,
seandainya nawar bisa bakal dapet harga murah


Salanjutnya saya mengunjungi Desa Sade, sebuah desa adat di Lombok yang ditinggali oleh orang Sasak aseli. Di Desa Sasak ini Anda akan menemukan barisan rumah adat yang masih terpelihara rapi. beberapa lanskap arsitektur yang saya potret adalah balai pertemuan dan rumah kodok. Rumah kodok sendiri adalah rumah yang diperuntukkan bagi sepasang pengantin baru yang belum memiliki rumah sendiri, rumah kodok sangatlah kecil. Lantainya terbuat dari tanah liat dicampur sekam, setiap seminggu sekali dibersihkan dengan dilumuri tahi kerbau yang masih hangat. Atapnya sendiri dari alang-alang, uniknya jika siang tak membuat gerah namun jika malam melindungi rumah dari dingin, sangat fungsional. Secara general arsitektur di desa Sade beatap rendah, jika ingin masuk kita harus merunduk, hal ini mengandung filosofi bahwa orang harus senantiasa mememberi hormat pada sang pemilik rumah.

Balai desa suku Sasak

Lumbung padi suku Sasak

Setiap keluarga yang memiliki anak perawan di desa Sade pasti memiliki bilik khusus untuk menjaga agar anak perempuan ini tidak sembarangan keluar sebelum nikah. Nikahnya pun ada syaratnya; sang perawan harus sudah mahir menenun terlebih dahulu! Anda juga akan menemui banyak penenun kain tradisional di desa Sade. Kain tenunnya pun indah-indah, jika pandai menawar Anda bisa membawa pulang sebuah kain tenun di bawah tigapuluh ribu rupiah. Tapi untuk beberapa kain yang spesial akan diargai hingga jutaan rupiah.

Para penenun di handycraft center

Jika ingin tahu bagaimana cara menambang emas secara tradisional maka pergilah ke kecamatan Sekotong di Lombok. Di sana banyak penambang emas liar yang menggunakan cara tradisional. Rencananya Sekotong ini akan dijadikan base production oleh Newmont Sumbawa pada tahun 2015 nanti. Perbandingan kandungan emas di tanah Sekotong adalah satu banding seribu. Maksudnya, jika Anda mengeruk satu ton tanah maka Anda akan mendapatkan satu kilogram emas di dalamnya. Ini berarti kandungan emas di Sekotong sangat melimpah.
Budaya orang Lombok sendiri tidak jauh berbeda dengan budaya Bali, masih banyak pura dan arsitektur lokal yang bernuansa Bali. Namun pengaruh Islam di Lombok juga tidak kalah kuat, mayoritas penduduk Lombok adalah Islam. Orang Lombok sangat percaya bahwa tokek adalah pertanda datangnya rejeki.

Oh ya, selama di Nusa Tenggara Barat ini saya gunakan sebagian besar waktu saya untuk melakukan survey hidrografi di Labuhan Lalar. Penduduk yang tinggal di Labuhan Lalar biasanya adalah orang Bajo, suku pelaut yang berasal dari Sulawesi. Namun ada juga yang percaya jika orang Bajo Lalar ini datang dari Filipina. Pantai di sekitar Labuhan Lalar sendiri banyak dihiasi oleh pulau-pulau kecil eksotis. Sayangnya air di sekitar pantai Lalar berwarna coklat, ini akibat sedimentasi pasir. Namun semakin ke tengah airnya semakin jernih. Paling banyak ikan yang ditangkap oleh nelayan Lalar adalah teri hijau, ikan teri yang berukuran sangat besar, seukuran pindang.

Salah satu pulau kecil di sekitar Labuhan Lalar

Orang Bajo di Lalar

Saya juga mecoba merasakan beberapa kuliner lokal dengan citarasa sangat khas. Saya mencoba ayam taliwang yang pedas dengan plecing kangkung yang segar dan besar-besar. Saya juga mencoba snack lokal yang kalo di Jawa dinamakan lepet, hanya saja disini bahannya terbuat dari pisang, sangat enak, dan sangat murah! Bayangkan saja satu ikat yang terdiri sepuluh biji harganya hanya delapan ribu rupiah. Patut dicoba. Beberapa mekanan eksotis lain yang patut dicoba adalah susu kuda liar dan madu tawon liar yang banyak dijual di daerah Sumbawa Besar.

Plecing dan Ayam Taliwang

Lepet pisang?

Oke itu aja trip report saya ke Nusa Tenggara Barat, seminggu yang sangat mengesankan! Have a nice trip!

P.S:
Makasih untuk Pak Murdjito, Pak Joko, Mas Krisna, Mas Imam, Yusa yang mau menjadi travelmate saya, dan tidak lupa my lovely Sony Pocket Digital Camera.


Silahkan nikmati beberapa photoshoot Riki dalam serial Leisure Photographs of Nusa Tenggara Barat

Leisure Photographs of Nusa Tenggara Barat


Photographs by Riki Satrio


Sebuah catatan visual dari sebuah perjalanan ke Nusa Tenggara Barat yang mempesona. Seluruh foto diambil oleh Riki dengan kamera digital poket Sony.

Berikut adalah rute trip yang dilalui oleh Riki dalam lawatannya ke Nusa Tenggara Barat; Surabaya - Mataram - Labuhan Haji - Labuhan Lalar - Mataram - Pantai Senggigi - Pura Batu Bolong - Handwooven and Handycraft Center Lombok Tengah - Pantai Kuta Lombok - Kecamatan Sekotong - Desa Sade - Mataram - Surabaya

3/29/09

Building Great Creativity Seminar


HIMA IDE Desain Produk Industri ITS brings you a seminar that will rock your mind and passion!


It's called Creativepreneurship Seminar
"How To Build Our Great Creative Ideas"
Sabtu, 4 April 2009
Gedung Pascasarjana ITS Sukolilo Surabaya
pukul 08.30 - selesai

Pembicara:
M. Arif Budiman (Petakumpet adv. -Yogyakarta, Finalis International Young Creative Enterpreneur of The Year (IYCEY) 2006 & 2007)
Andika Dwi Jatmiko (Syafa'at adv.-Yogyakarta, Dosen ADVY)
Tiket:

Rp 40.000,00 (seminar kit, pin, snack, makan siang, sertifikat)
Rp 20.000,00 for ITS student (100 seat only)


It's time for creative people to change the world!
contact:
Artika 085649430680

3/27/09

Introducing Wedang Cor


Teks: Ayos Purwoaji
Foto: Wendra Ajistyatama


Dari dulu saya selalu bertanya-tanya, apa sih yang sangat khas dari Jember selain tape, suwar-suwir, dan JFC? Akhirnya setelah duapuluh tahun lebih menjadi orang Jember saya pun mampu menguak tabir itu satu persatu, hahaha. No no, saya cuman mau bilang kalo saya kemarin baru saja dikenalkan dengan wedang cor oleh beberapa teman.

Wedang cor sendiri disebut adalah satu-satunya minuman indigenous Jember. Endemik, tidak ada duanya di kota lain. Saya sendiri masih percaya ndak percaya. karena dari komposisinya tampak kalo minuman ini tidak seperti ramuan minuman purba lainnya layaknya temulawak, sinom, dan bir pletok.

Salah satu komposisi yang hadir dalam wedang cor adalah susu, nah susu ini kan barang modern, tapi mungkin saja jika sejak dulu kala orang jember sudah punya budaya minum susu. *mungkin itu sekaligus menjawab pertanyaan kuno saya; mengapa cowok Jember itu ganteng-ganteng? hehehe kabuuur*

Kalo saya coba pecahkan rasanya, wedang cor itu terdiri dari; susu, jahe, gula, dan tape ketan hitam. rasanya nano-nano, menghangatkan badan. tektur pedas jahe dan panasnya susu langsung lumer saat ditimpa dengan rasa tape ketan yang kayak sprite. uaneh pol pokoke.

Kalo menurut teman-teman saya di LPM Tegalboto yang suka minum wedang cor, katanya minuman ini hampir aja amblas ditelan zaman. saat ini saja di jember cuman ada beberapa warung yang menjual wedang cor. salah satu rasa yang paling original bisa ditemukan di warung wedang cor di daerah perhutani jember.

Uh saya kok jadi ketagihan wedang cor ya?
Nge-cor yuuk!

PS:
makasih buat teman-teman LPM Tegalboto yang saya kagumi; nuran, miko, mas wendra, mas romdhi. makasih mas wendra untuk fotonya.

3/25/09

Hifatlobrain Stuff: Budi Anduk Tee


Akhirnya selesai juga kaos budi anduknya :)
semoga para pemesan puas. Sembari terus berdoa hifatlobrain mengeluarkan kaos-kaos dengan desain yang lebih menarik, hehehe.

Oh ya, setelah launching blogger freedom, ternyata banyak sekali blogger yang berminat untuk memilikinya. Ada request cetak ulang dari jogja, bandung, jakarta, dan yang paling banyak dari surabaya. uuh maaf yaa, kami tidak mengeluarkan kaos blogger freedom lagi dengan desain yang sama. kami menjaga orisinalitas dan eksklusifitas.

tapi tenang saja, kami akan mengeluarkan kaos blogger freedom setahun lagi dengan desain yang beda! tentu saja blogger freedom di sini sudah menjadi trademark milik hifatlobrain. oke, oke makasih buat yang sudah pesan barang-barang hifatlobrain.

yang punya usulan desain yang sangat hifatlobrain bisa dikirimkan jpegnya via email dengan alamat punyaku_3@yahoo.com

nb:
model adalah Januar Indra, salah satu pemesan kaos Budi Anduk for Presiden.

3/18/09

The Forgeted Spirit of Bonek


Teks dan foto: Emal Zain MTB
Riset: Ayos Purwoaji



___________________________________







Kontrib
utor
Emal
Zain MTB adalah seorang traveler yang sudah banyak mengunjungi tempat eksotis nan tersembunyi di Jawa, dan masih menabung untuk proyek besarnya mengelilingin Indonesia. Emal juga seorang penulis dan pemikir yang berbakat. Penggemar segala jenis makanan ini tercatat aktif sebagai word editor pada ITS Online.
___________________________________

"...
Yo...ayooo
Ayo Persebaya...
Sore ini...
Kita harus menang!
..."

Lagu itu bergemuruh menghentakkan stadion. Mengangkat emosi para penonton ke puncak tertinggi. Emosi yang juga dirasakan 11 pemain berbaju hijau,sebuah emosi yang leluap utuk menang! Lagu itu sndiri diambil dari sebuah nada dari Amerika Selatan, Chile tepatnya. Lagu patriotik yang digubah liriknya dan telah meng-Indonesia. Sederhana namun menggetarkan. Lagu inilah yang dibawakan Bonek Mania ketika mendukung laskar Bajul Ijo sore itu.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya; menjejakkan kaki di sebuah stadion. Gak tanggung-tanggung, langsung ke stadion sekelas Gelora Sepuluh Nopember (GSN) yang kabarnya akan diproyeksikan sebagai tuan rumah Piala Dunia. Saya hadir ditemani dua orang teman saya, Fatih dan Ibnu. Bukannya kurang kerjaan di akhir minggu, tapi kami hanya ingin merasakan sebuah sensasi langka yang tidak bisa didapatkan di manapun di seluruh dunia kecuali di Stadion Tambaksari bersama puluhan ribu Bonek yang lain. Sesuatu yang dihindari namun sekaligus ngangeni, sesuatu yang mungkin bakal hilang ditelan zaman, sesuatu yang hanya bisa dirasakan para Green Force.

Aah terlalu seru untuk dituliskan. Datang sajalah dan nikmati...

***
Belum lagi matahari condong ke Barat, jalan Tambaksari sudah sulit dilalui kendaraan. Lautan hijau sudah memenuhi pelataran stadion. Datang dari berbagai penjuru Surabaya, mulai Surabaya bagian utara, selatan, barat, sampai timur semua berkumpul pada satu titik. Beberapa sudah antri di depan pintu masuk kelas ekonomi. Padahal suara peluit dimulainya pertandingan masih 2 jam lagi dibunyikan. Tiket masih saja laris manis. Gerombolan-gerombolan ijo terus saja berdatangan. Semakin menyesakkan Tambaksari. Tak jauh dari kerumunan, puluhan Brimob telah siaga. Mobil watercanon pun terparkir dengan gagahnya. Berjaga.

Selepas Shalat Ashar kami pun turut mengantri di depan pintu tribun utama sisi kanan (SKA). Ada tiga macam tiket di GSN, VIP seharga Rp 50 ribu, Tribun Utama seharga Rp 30 ribu dan kelas ekonomi Rp 15 ribu. Kelas ekonomi memenuhi tiga per empat tempat duduk stadion. VIP dan tribun utama berada di sisi barat dengan bonus atap pelindung dari panas dan hujan. Bedanya, VIP memakai kursi bersandar dari plastik. Sedangkan tribun utama dan ekonomi duduk di lantai berundak. Berbaur dengan penonton lainnya. Bersorak bersama dan melenguh bersama pula.

Sore itu, Persebaya kedatangan lawan dari Persitara Jakarta Utara untuk menjalani Leg I Copa Indonesia babak Perdelapan Final. Wajar jika animo Bonek mania cukup tinggi. Tercatat dalam pengumuman, ada 21 ribu orang memenuhi stadion sore itu. Sebaliknya, hanya ada puluhan suporter Persitara di tengah kami. Seperti sebuah noktah biru kecil di belantara hijau stadion. Sepertinya 11 pemain Persitara di lapangan pun dibuat ciut nyalinya. Siapa sih yang tidak kenal Bonek?

Pertandingan cukup keras di awal babak pertama. 4 kartu kuning sudah keluar. Bonek pun mulai memanas, kecewa dengan kinerja wasit dengan meneriaki ”wasiit ngantuuuk", juga kecewa karena kinerja pemain Persebaya yang tidak sesuai harapan mereka. Di sinilah chemistry berada di stadion bersama puluhan ribu orang benar-benar terasa. Diiringi yel-yel Bonek mania, semua menjadi melodi yang mengguncang emosi. Emosi yang hanya di dapat di stadion, tidak saat menonton di televisi, tidak pula saat menikmati film action di bioskop. Maka datang sajalah dan nikmati sendiri...

Para Bonek akan spontan berdiri saat muncul peluang di depan gawang. Semua akan kecewa saat peluang tersiakan. Semua akan marah saat pemain di langgar. S.E.M.U.A; tidak ada yang tidak. Ribuan orang tersebut pun mampu membuat orang yang tidak suka sepakbola untuk bangkit melonjak meninju udara dan berteriak kegirangan saat gol tercipta. Berteriak sejadinya....emosi pun terpuaskan. ”

OOoooooOOOooooooo...OoOooOOoOoooooOO...oooo

Inilah sebuah hiburan yang tidak banyak diminati kaum muda masa kini di Surabaya. Sebuah tempat yang tidak dimasukan dalam "objek yang wajib dikunjungi di Surabaya" oleh dinas Pariwisata. Meski tidak bagus tempatnya namun indah dilihat mata. Kumuh berjubel terlihat namun nyaman terasa. Bukankah hijau adalah warna yang nyaman dan menentramkan. Saat Persebaya bermain, tidak hanya lapangan, stadion akan berubah menjadi hijau. Emosi itu semakin terasa. maka datang sajalah dan nikmati...!

Dua gol tercipta sore itu untuk keunggulan Persebaya. Tidak sia-sia. Rp 15 ribu untuk satu gol yang kami lihat dari Tribun Utama plus kepuasan batin yang membuat kami bergelora hingga kos.

***
Bonek sendiri adalah akronim dari bondo nekat atau modal nekat dalam bahasa Indonesia. Sebutan ini dialamatkan kepada para pendukung Persebaya karena banyak cerita yang muncul dari ulah mereka. Bonek sendiri sangat identik dengan kekerasan, kerusuhan, naik kereta api gratis, semangat, dan kenekatan yang luar biasa. Hampir sama dengan suporter hooligan yang ada di Eropa. Menurut sebuah sumber, asal muasal kata bonek sendiri lahir dari surat kabar Jawa Pos di tahun 1989, begitu juga dengan logo bonek yang berupa seorang pria garang gondrong berteriak dengan ikat kepala mirip rambo yang katanya lahir dari koran ini. Entah benar atau tidak memang dibutuhkan penelusuran lebih lanjut.

Sebagai salah satu suporter fanatik, tentu saja Bonek memiliki kawan dan lawan. Salah satu lawan legendaris dari Bonek adalah Bobotoh Bandung pendukung Persib atau disebut juga The Viking. Salah satu analisis menarik malah dilontarkan bung Andreas Harsono –kalau saya tidak lupa- dalam blognya, bahwa permusuhan Bonek dan Bobotoh bisa dirunut sejarahnya sebagai permusuhan abadi antara Majapahit dan Pajajaran. Darah permusuhan itu memang menjadi sebuah kisah epik yang sangat masyhur selama berabad lamanya.Namun tampaknya mitos itu berakhir sejak Liga Indonesia diselenggarakan. Saat ini Bonek Persebaya dan Bobotoh Persib menjadi sebuah aliansi yang solid.

Salah satu cerita yang paling terkenal dari Bonek terjadi pada tahun 90an. Dimana saat itu ada sebuah pertandingan melawan Persija di Jakarta, tercatat ratusan ribu bonek datang berduyun-duyun ke Jakarta menggunakan ratusan armada bis yang dikoordinir oleh CEO Jawa Pos saat itu Pak Dahlan Iskan. Konon katanya, arak-arakan bis yang ditumpangi Bonek dari Surabaya menuju Jakarta saat itu adalah pawai bis paling panjang dan akbar di Indonesia hingga saat ini. Jakarta pun berubah menjadi lautan hijau. Para ’Arek’ (sebutan untuk perantau yang berasal dari Jawa Timur) di Jakarta pun menyambut kedatangan saudara-saudara mereka dengan sukacita. Pesta di jalanan pun diselenggarakan, dan selebihnya adalah sejarah.

Beberapa rujukan film yang patut ditonton adalah Green Street Hooligan yang dibintangi oleh Elijah Wood yang bercerita tentang kehidupan para suporter fanatik sepakbola yang rela tawuran dan ngaco demi timnya. Film apik lain yang bisa menjadi rujukan adalah film The Conductor yang mengisahkan kehidupan seorang Yuli 'Sumpil' konduktor lapangan dari Aremania yang mempu membuat ribuan orang bergerak dalam sebuah harmoni yang spontan dan menggelora.

***

Di tengah pertandingan situasi memanas saat masih saja ada Bonek mania melempar barang ke tenga lapangan karena kecewa pada wasit. Suporter Persitara yang hanya puluhan itu pun mengeluarkan yel-yelnya;

"...
Kami tidak suka rusuh
Rusuh itu tiada guna
Kita ini satu bangsa
Bangsa Indonesia
..."


Sumber:
wikipedia.com
google.com
http://bonek-suroboyo.blogspot.com/
http://bonex-cyber.web.id/


NB:
Gambar untuk kover kali ini diambil dari sebuah foto legendaris tentang bonek yang diambil oleh Solihudin, seorang wartawan Jawa Pos. Foto ini sempat menjadi salah satu pemenang dalam ajang World Press Photo, sebuah event fotojurnalisme paling prestise di dunia.

Catatan perjalanan Emal yang lain dapat anda temukan di blog pribadinya; http://bizesha.blogspot.com/

Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumen
tasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!

3/10/09

Antara Java Jazz dan Gaya Baru Malam


Teks dan foto: Ayos Purwoaji

Sebelumnya kami selaku redaksi Hifatlobrain mengucapkan selamat merayakan Maulud Nabi Muhammad SAW. Semoga kita selaku kaumnya selalu diberikan hidayah dan tetap berada di jalan uswahnya yang lurus. Amien.

Oke, beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk pergi ke jakarta karena sebuah urusan. Alhamdulillah blog ini menghasilkan juga, meski tidak besar namun saya tetap bersyukur dan akan selalu menjadikan blog ini menjadi lebih baik, lagi dan lagi. Lalu ada cerita apa di Jakarta? wah buanyaaak! haha selalu ada hal baru dalam hidup saya, tentu saja penglaman dan perjalanan mengajarkan kita akan banyak hal. tentang hidup, dan tentang mati sekaligus. Tentang kesenangan, dan tentang penderitaan dalam waktu yang sama. tentang cinta, sekaligus juga tentang keserakahan. hwahahaha gwaya yo!

Ya di Jakarta saya bisa merasakan paradoks itu. Saya merasakan dua dunia yang jauh berbeda. Dunia yang pertama adalah Java Jazz Festival. Kebetulan tahun ini saya bisa hadir di pagelaran musik yang memang berkelas ini. Memang menjadi kebutuhan bagi saya yang memang suka jazz untuk hadir di acara ini. Java Jazz itu ibaratnya sebagai sebuah perpustakaan besar yang ramai dan menyenangkan! Saya jadi bisa melihat banyak musisi kelas dunia di acara ini; Harvey Mason Quartet, Oleta Adams, Prasana dari India, Cristian Cuturuffo Quinteto, Sensual, Matt Bianco yang groovy, Karizma feat David Garfield, dan Mike Stern feat David Wreckl! Sebetulnya masih banyak lagi, contohnya Kamal Musallam yang jauh dateng dari Dubai, dia memainkan musik yang unik, sebuah jazz fusion yang diramu dari musik kontemporer dan etnik. Bahkan pas nge-jams dia nyanyi kayak tilawah! mantap. Juga ada Quasimode yang dateng dari Jepang, dari intro saja saya sudah jatuh cinta, musiknya asyik ditambah pakaian mereka yang khas, jas Jepang pas zaman restorasi Meiji. Kalo yang lokal saya nonton Ecoutez, Eclairs, Pandji, Drew, 21st Night, Jazzmint Bigband, Syahrani, dan Tohpati feat Dewa Budjana. tapi yang paling aku puji ya penampilan drummer cilik Rafi dan kelompoknya dalam The Young Prodigies yang talented! bayangin aja, anak-anak kecil itu baru sekelas SMP tapi udah gape main jazz, asem! Saya pikir kedepannya band ini bakal hype. Mereka juga ndak canggung nge-jams bareng Ello dengan memainkan single "music is my aeroplane"...

Di dalam Java Jazz sendiri penuh dengan para socialita ibukota. Para pria yang bersepatu mahal jalan dengan gaya dandy. elegan. Para wanita dengan tas jinjing bermerek, dan setelan yang bodyshape. menawan. Mereka sadar, ini semua prestise, ya java jazz, ya orang di dalamnya, ya pakaian yang harus dikenakan. Ndak penting musik yang dibawakan, atau parahnya malah; apa sih itu jazz? yang penting dateng, pake fedora hat, ketemu sama temen lama, ikut dance, foto bareng Tyas Mirasih, mejeng di depan wallpaper java jazz, minta tanda tangan Tohpati, sing-a-long bareng Tompi, liat RAN, haha-hihi, flirting, dan pulang. Semua mengkilat, seakan dunia tidak pernah krisis. enak aja makan di foodcourt yang burgernya sepotong limapuluh ribuan, yang minuman kalengnya belasanribu. Ah mana bisa saya kayak mereka. menyimak musik sajalah, sama foto-foto tentu, hihihi. Tentu saja Java Jazz adalah surga bagi para penikmatnya dan saya pun pulang ke Bogor tepat sebelum subuh dalam keadaan teler berat...

Setelah tidur abis subuh saya pun balik lagi ke Jakarta, menuju stasiun untuk mengejar kereta ekonomi Gaya Baru Malam Selatan dari Stasiun Senen jam satu siang, lalu beli tiket pulang ke Surabaya tercinta. Ternyata saya kehabisan tempat duduk, oh my! saya baru sadar kalo hari ini ada arus balik. Kereta ekonomi yang ndak bisa melar itu pun dipenuhi daging manusia yang berdesakan pulang. Ada yang bawa ayam dimasukkan kardus, ada yang bawa sepeda roda tiga untuk anaknya, ada yang bawa anak kecil yang nangis mulu, ada ibu-ibu yang tertindih, ada bapak yang ngerokok pake kretek murahan, ada yang kencing tapi ndak ditutup, ada yang cuman pake singlet dan mengumbar bau ketek, ada yang iseng bikin jepitan pintu, ada yang baca koran seks, ada yang jual pecel dan mizone, ada yang jual dodol garut, ada yang jual nasi bungkus limaribuan, ada yang menjual kehangatan kopi dalam termos dan nescafe sachet, ada yang lepas sendal, ada yang pake kaos tulisannya 'Indonesia negeri rukun lan tentrem', ada ibu setengah baya yang ngomel sama penjaja bantal, ada pengemis yang tidur di kaki saya. Semua jadi satu. Mana siang itu jakarta terik sekali, jadilah kami menu sedap 'orang panggang khas kereta ekonomi'!

Sebuah mural sederhana
yang saya foto di perkampungan Cipete


Saya sendiri berdiri di bordes, berhimpitan dengan mas arogan yang naruh barang di lorong kereta. Kaki saya sudah sangat capek pas kereta memasuki daerah Jatibarang, Indramayu. Tapi keadaan tidak memungkinkan saya duduk. Saya jadi tahu apa arti; homo homini lupus, sebuah adagium kuno yang selalu relevan. Ah tentu saja orang-orang ini bukan orang-orang yang saya temui di Java Jazz semalam. mereka para penumpang kereta ekonomi ini adalah rakyat yang berkeringat untuk makan. mereka ini adalah rakyat yang muak dengan janji pemerintah, tapi lantas terbuai lagi pada pemilu selanjutnya karena selembar rupiah berwarna hijau. Tapi yaa itulah dunia, semua-muanya harus dirasakan. kalo pernah merasakan Java Jazz yang monggo ayo ikut naik kereta ekonomi, kalo pernah di atas ya ayolah ikut turun ke bawah. kalo sedang di bawah ya jangan terlena, tidur mulu, judi ayam, dan mabuk. Mari pakdhe, berusaha. hidup itu perjuangan, hidup itu proses. mau kaya ya harus survive. Masak hidup itu statis, ndak bergerak, kasian deh. saya sih percaya pada sebuah proverb Vietnam yang mengatakan; "venture all, and see what fate brings..."

Masak hidup itu statis, ndak bergerak, kasian deh. saya sih percaya pada sebuah proverb Vietnam yang mengatakan; "venture all, and see what fate brings..."


Bagi saya, dua dunia di atas adalah sama-sama unik, sama-sama harus dirasakan. Apalagi merasakannya dalam satu hari, superb! hahaha.

Ami dan Dito

Seblumnya saya harus mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dua teman baik saya: Ami dan Dito. Mereka berdua adalah host saya di Jakarta. Tanpa mereka mana bisa saya hidup di jakarta. Ami sendiri adalah pemuda berdarah Betawi dan ia sangat bangga dengan budayanya. Selain aktif kuliah, ami juga aktif mengajar teater betawi di sebuah sanggar budaya. Sedangkan Dito, ooh dia adalah seorang jazzlover sejati, seorang yang humble dan penuh humor. Sangat menyenangkan berteman dengan Ami dan Dito, love u guys!

Selama beberapa hari di Jakarta saya bermalam di rumah Ami di bilangan Kemang dan di rumah Dito di Bogor. Ami mengajak saya untuk berputar mengitari banyak tempat baru Jakarta yang belum saya sambangi. Ia menunjukkan saya perkampungan Betawi di Setu Babakan, merasakan Bir Pletok dan kerak telor yang khas jakarta, juga merasakan nikmatnya gudeg ceker panglima polim yang uenak dan mengenyangkan. Sedangkan Dito mengajak saya ke Java Jazz, menemani saya dalam sebuah acara, dan mengajak saya makan nasi timbel bogor M11 di deket kampus IPB.

Hmm segitu aja ya! Thank you all, happy travelling!

P.S:
Terima kasih yang sedalam-dalamnya buat Ami dan keluarga, Dito dan keluarga, Adit (posternya beres dit?), Opi (kapan maen ke sby?), Mas Arifin atas obrolannya, Mbak Ara, Mbak Rosa Bean, Fuji dan Encik (temen Dito), Resta (u're nice guy!), dan tentu saja 'vendornya Luna Maya' hehehe...