Pages

3/10/09

Antara Java Jazz dan Gaya Baru Malam


Teks dan foto: Ayos Purwoaji

Sebelumnya kami selaku redaksi Hifatlobrain mengucapkan selamat merayakan Maulud Nabi Muhammad SAW. Semoga kita selaku kaumnya selalu diberikan hidayah dan tetap berada di jalan uswahnya yang lurus. Amien.

Oke, beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk pergi ke jakarta karena sebuah urusan. Alhamdulillah blog ini menghasilkan juga, meski tidak besar namun saya tetap bersyukur dan akan selalu menjadikan blog ini menjadi lebih baik, lagi dan lagi. Lalu ada cerita apa di Jakarta? wah buanyaaak! haha selalu ada hal baru dalam hidup saya, tentu saja penglaman dan perjalanan mengajarkan kita akan banyak hal. tentang hidup, dan tentang mati sekaligus. Tentang kesenangan, dan tentang penderitaan dalam waktu yang sama. tentang cinta, sekaligus juga tentang keserakahan. hwahahaha gwaya yo!

Ya di Jakarta saya bisa merasakan paradoks itu. Saya merasakan dua dunia yang jauh berbeda. Dunia yang pertama adalah Java Jazz Festival. Kebetulan tahun ini saya bisa hadir di pagelaran musik yang memang berkelas ini. Memang menjadi kebutuhan bagi saya yang memang suka jazz untuk hadir di acara ini. Java Jazz itu ibaratnya sebagai sebuah perpustakaan besar yang ramai dan menyenangkan! Saya jadi bisa melihat banyak musisi kelas dunia di acara ini; Harvey Mason Quartet, Oleta Adams, Prasana dari India, Cristian Cuturuffo Quinteto, Sensual, Matt Bianco yang groovy, Karizma feat David Garfield, dan Mike Stern feat David Wreckl! Sebetulnya masih banyak lagi, contohnya Kamal Musallam yang jauh dateng dari Dubai, dia memainkan musik yang unik, sebuah jazz fusion yang diramu dari musik kontemporer dan etnik. Bahkan pas nge-jams dia nyanyi kayak tilawah! mantap. Juga ada Quasimode yang dateng dari Jepang, dari intro saja saya sudah jatuh cinta, musiknya asyik ditambah pakaian mereka yang khas, jas Jepang pas zaman restorasi Meiji. Kalo yang lokal saya nonton Ecoutez, Eclairs, Pandji, Drew, 21st Night, Jazzmint Bigband, Syahrani, dan Tohpati feat Dewa Budjana. tapi yang paling aku puji ya penampilan drummer cilik Rafi dan kelompoknya dalam The Young Prodigies yang talented! bayangin aja, anak-anak kecil itu baru sekelas SMP tapi udah gape main jazz, asem! Saya pikir kedepannya band ini bakal hype. Mereka juga ndak canggung nge-jams bareng Ello dengan memainkan single "music is my aeroplane"...

Di dalam Java Jazz sendiri penuh dengan para socialita ibukota. Para pria yang bersepatu mahal jalan dengan gaya dandy. elegan. Para wanita dengan tas jinjing bermerek, dan setelan yang bodyshape. menawan. Mereka sadar, ini semua prestise, ya java jazz, ya orang di dalamnya, ya pakaian yang harus dikenakan. Ndak penting musik yang dibawakan, atau parahnya malah; apa sih itu jazz? yang penting dateng, pake fedora hat, ketemu sama temen lama, ikut dance, foto bareng Tyas Mirasih, mejeng di depan wallpaper java jazz, minta tanda tangan Tohpati, sing-a-long bareng Tompi, liat RAN, haha-hihi, flirting, dan pulang. Semua mengkilat, seakan dunia tidak pernah krisis. enak aja makan di foodcourt yang burgernya sepotong limapuluh ribuan, yang minuman kalengnya belasanribu. Ah mana bisa saya kayak mereka. menyimak musik sajalah, sama foto-foto tentu, hihihi. Tentu saja Java Jazz adalah surga bagi para penikmatnya dan saya pun pulang ke Bogor tepat sebelum subuh dalam keadaan teler berat...

Setelah tidur abis subuh saya pun balik lagi ke Jakarta, menuju stasiun untuk mengejar kereta ekonomi Gaya Baru Malam Selatan dari Stasiun Senen jam satu siang, lalu beli tiket pulang ke Surabaya tercinta. Ternyata saya kehabisan tempat duduk, oh my! saya baru sadar kalo hari ini ada arus balik. Kereta ekonomi yang ndak bisa melar itu pun dipenuhi daging manusia yang berdesakan pulang. Ada yang bawa ayam dimasukkan kardus, ada yang bawa sepeda roda tiga untuk anaknya, ada yang bawa anak kecil yang nangis mulu, ada ibu-ibu yang tertindih, ada bapak yang ngerokok pake kretek murahan, ada yang kencing tapi ndak ditutup, ada yang cuman pake singlet dan mengumbar bau ketek, ada yang iseng bikin jepitan pintu, ada yang baca koran seks, ada yang jual pecel dan mizone, ada yang jual dodol garut, ada yang jual nasi bungkus limaribuan, ada yang menjual kehangatan kopi dalam termos dan nescafe sachet, ada yang lepas sendal, ada yang pake kaos tulisannya 'Indonesia negeri rukun lan tentrem', ada ibu setengah baya yang ngomel sama penjaja bantal, ada pengemis yang tidur di kaki saya. Semua jadi satu. Mana siang itu jakarta terik sekali, jadilah kami menu sedap 'orang panggang khas kereta ekonomi'!

Sebuah mural sederhana
yang saya foto di perkampungan Cipete


Saya sendiri berdiri di bordes, berhimpitan dengan mas arogan yang naruh barang di lorong kereta. Kaki saya sudah sangat capek pas kereta memasuki daerah Jatibarang, Indramayu. Tapi keadaan tidak memungkinkan saya duduk. Saya jadi tahu apa arti; homo homini lupus, sebuah adagium kuno yang selalu relevan. Ah tentu saja orang-orang ini bukan orang-orang yang saya temui di Java Jazz semalam. mereka para penumpang kereta ekonomi ini adalah rakyat yang berkeringat untuk makan. mereka ini adalah rakyat yang muak dengan janji pemerintah, tapi lantas terbuai lagi pada pemilu selanjutnya karena selembar rupiah berwarna hijau. Tapi yaa itulah dunia, semua-muanya harus dirasakan. kalo pernah merasakan Java Jazz yang monggo ayo ikut naik kereta ekonomi, kalo pernah di atas ya ayolah ikut turun ke bawah. kalo sedang di bawah ya jangan terlena, tidur mulu, judi ayam, dan mabuk. Mari pakdhe, berusaha. hidup itu perjuangan, hidup itu proses. mau kaya ya harus survive. Masak hidup itu statis, ndak bergerak, kasian deh. saya sih percaya pada sebuah proverb Vietnam yang mengatakan; "venture all, and see what fate brings..."

Masak hidup itu statis, ndak bergerak, kasian deh. saya sih percaya pada sebuah proverb Vietnam yang mengatakan; "venture all, and see what fate brings..."


Bagi saya, dua dunia di atas adalah sama-sama unik, sama-sama harus dirasakan. Apalagi merasakannya dalam satu hari, superb! hahaha.

Ami dan Dito

Seblumnya saya harus mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dua teman baik saya: Ami dan Dito. Mereka berdua adalah host saya di Jakarta. Tanpa mereka mana bisa saya hidup di jakarta. Ami sendiri adalah pemuda berdarah Betawi dan ia sangat bangga dengan budayanya. Selain aktif kuliah, ami juga aktif mengajar teater betawi di sebuah sanggar budaya. Sedangkan Dito, ooh dia adalah seorang jazzlover sejati, seorang yang humble dan penuh humor. Sangat menyenangkan berteman dengan Ami dan Dito, love u guys!

Selama beberapa hari di Jakarta saya bermalam di rumah Ami di bilangan Kemang dan di rumah Dito di Bogor. Ami mengajak saya untuk berputar mengitari banyak tempat baru Jakarta yang belum saya sambangi. Ia menunjukkan saya perkampungan Betawi di Setu Babakan, merasakan Bir Pletok dan kerak telor yang khas jakarta, juga merasakan nikmatnya gudeg ceker panglima polim yang uenak dan mengenyangkan. Sedangkan Dito mengajak saya ke Java Jazz, menemani saya dalam sebuah acara, dan mengajak saya makan nasi timbel bogor M11 di deket kampus IPB.

Hmm segitu aja ya! Thank you all, happy travelling!

P.S:
Terima kasih yang sedalam-dalamnya buat Ami dan keluarga, Dito dan keluarga, Adit (posternya beres dit?), Opi (kapan maen ke sby?), Mas Arifin atas obrolannya, Mbak Ara, Mbak Rosa Bean, Fuji dan Encik (temen Dito), Resta (u're nice guy!), dan tentu saja 'vendornya Luna Maya' hehehe...

10 comments:

goban said...

boi jangan kapok2 lagi men ke jakarte ye....

goban said...

tong jangan kapok-kapok ye men ke jakarte ye...

aklam said...

hahaha gobaaan, tenkyu yak, semoga hubungannya lancar jaya!

anak semeru said...

ancrit lu nyos...
kemane aje lu...
minggat g ngajak2...
piye iki ttg audiensi nang JEMBER...
dul...kowe tak hubungi kok ora iso?
smso aq...tak enteni.
penting dodol!

aklam said...

Ayos said:
Di dalam Java Jazz sendiri penuh dengan para socialita ibukota. Para pria yang bersepatu mahal jalan dengan gaya dandy. elegan. Para wanita dengan tas jinjing bermerek, dan setelan yang bodyshape. menawan. Mereka sadar, ini semua prestise, ya java jazz, ya orang di dalamnya, ya pakaian yang harus dikenakan. Ndak penting musik yang dibawakan, atau parahnya malah; apa sih itu jazz? yang penting dateng, pake fedora hat, ketemu sama temen lama, ikut dance, foto bareng Tyas Mirasih, mejeng di depan wallpaper java jazz, minta tanda tangan Tohpati, sing-a-long bareng Tompi, liat RAN, haha-hihi, flirting, dan pulang. Semua mengkilat, seakan dunia tidak pernah krisis. enak aja makan di foodcourt yang burgernya sepotong limapuluh ribuan, yang minuman kalengnya belasanribu. Ah mana bisa saya kayak mereka. menyimak musik sajalah, sama foto-foto tentu, hihihi.

Pyut said:
Haduh, mas ayos, kamu sinis amat siii...
dosa apa orang yang haha-hihi di situ, plus pake smuw yg mengkilat?? daripada dateng k jjf trus ngebacok2 orang...??

Ayos said:
bukannya sinis pyut, saya cuman iri ndak bisa beli burger yang limapuluhan itu...
hehehe...

*pyut via FB*

Si Kotak Coklat said...

WHATTTT!!!

menang xl and ke java jazz???

what a lucky boy you are!

aklam said...

@kotakcoklat
hahaha menabunglah dan pergi bersamaku sayang...
mau?

noekriwil said...

jare nang jember, ternyata minggat ke jakarta!edan koen boi,hehehe

aklam said...

@noekriwil: hoho biar tidak membiarkanmu resah tentu saja...

nisapsychology said...

aku udah baca beberapa tulisanmu.
gantian kunjungin blogku ya..