Pages

3/18/09

The Forgeted Spirit of Bonek


Teks dan foto: Emal Zain MTB
Riset: Ayos Purwoaji



___________________________________







Kontrib
utor
Emal
Zain MTB adalah seorang traveler yang sudah banyak mengunjungi tempat eksotis nan tersembunyi di Jawa, dan masih menabung untuk proyek besarnya mengelilingin Indonesia. Emal juga seorang penulis dan pemikir yang berbakat. Penggemar segala jenis makanan ini tercatat aktif sebagai word editor pada ITS Online.
___________________________________

"...
Yo...ayooo
Ayo Persebaya...
Sore ini...
Kita harus menang!
..."

Lagu itu bergemuruh menghentakkan stadion. Mengangkat emosi para penonton ke puncak tertinggi. Emosi yang juga dirasakan 11 pemain berbaju hijau,sebuah emosi yang leluap utuk menang! Lagu itu sndiri diambil dari sebuah nada dari Amerika Selatan, Chile tepatnya. Lagu patriotik yang digubah liriknya dan telah meng-Indonesia. Sederhana namun menggetarkan. Lagu inilah yang dibawakan Bonek Mania ketika mendukung laskar Bajul Ijo sore itu.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya; menjejakkan kaki di sebuah stadion. Gak tanggung-tanggung, langsung ke stadion sekelas Gelora Sepuluh Nopember (GSN) yang kabarnya akan diproyeksikan sebagai tuan rumah Piala Dunia. Saya hadir ditemani dua orang teman saya, Fatih dan Ibnu. Bukannya kurang kerjaan di akhir minggu, tapi kami hanya ingin merasakan sebuah sensasi langka yang tidak bisa didapatkan di manapun di seluruh dunia kecuali di Stadion Tambaksari bersama puluhan ribu Bonek yang lain. Sesuatu yang dihindari namun sekaligus ngangeni, sesuatu yang mungkin bakal hilang ditelan zaman, sesuatu yang hanya bisa dirasakan para Green Force.

Aah terlalu seru untuk dituliskan. Datang sajalah dan nikmati...

***
Belum lagi matahari condong ke Barat, jalan Tambaksari sudah sulit dilalui kendaraan. Lautan hijau sudah memenuhi pelataran stadion. Datang dari berbagai penjuru Surabaya, mulai Surabaya bagian utara, selatan, barat, sampai timur semua berkumpul pada satu titik. Beberapa sudah antri di depan pintu masuk kelas ekonomi. Padahal suara peluit dimulainya pertandingan masih 2 jam lagi dibunyikan. Tiket masih saja laris manis. Gerombolan-gerombolan ijo terus saja berdatangan. Semakin menyesakkan Tambaksari. Tak jauh dari kerumunan, puluhan Brimob telah siaga. Mobil watercanon pun terparkir dengan gagahnya. Berjaga.

Selepas Shalat Ashar kami pun turut mengantri di depan pintu tribun utama sisi kanan (SKA). Ada tiga macam tiket di GSN, VIP seharga Rp 50 ribu, Tribun Utama seharga Rp 30 ribu dan kelas ekonomi Rp 15 ribu. Kelas ekonomi memenuhi tiga per empat tempat duduk stadion. VIP dan tribun utama berada di sisi barat dengan bonus atap pelindung dari panas dan hujan. Bedanya, VIP memakai kursi bersandar dari plastik. Sedangkan tribun utama dan ekonomi duduk di lantai berundak. Berbaur dengan penonton lainnya. Bersorak bersama dan melenguh bersama pula.

Sore itu, Persebaya kedatangan lawan dari Persitara Jakarta Utara untuk menjalani Leg I Copa Indonesia babak Perdelapan Final. Wajar jika animo Bonek mania cukup tinggi. Tercatat dalam pengumuman, ada 21 ribu orang memenuhi stadion sore itu. Sebaliknya, hanya ada puluhan suporter Persitara di tengah kami. Seperti sebuah noktah biru kecil di belantara hijau stadion. Sepertinya 11 pemain Persitara di lapangan pun dibuat ciut nyalinya. Siapa sih yang tidak kenal Bonek?

Pertandingan cukup keras di awal babak pertama. 4 kartu kuning sudah keluar. Bonek pun mulai memanas, kecewa dengan kinerja wasit dengan meneriaki ”wasiit ngantuuuk", juga kecewa karena kinerja pemain Persebaya yang tidak sesuai harapan mereka. Di sinilah chemistry berada di stadion bersama puluhan ribu orang benar-benar terasa. Diiringi yel-yel Bonek mania, semua menjadi melodi yang mengguncang emosi. Emosi yang hanya di dapat di stadion, tidak saat menonton di televisi, tidak pula saat menikmati film action di bioskop. Maka datang sajalah dan nikmati sendiri...

Para Bonek akan spontan berdiri saat muncul peluang di depan gawang. Semua akan kecewa saat peluang tersiakan. Semua akan marah saat pemain di langgar. S.E.M.U.A; tidak ada yang tidak. Ribuan orang tersebut pun mampu membuat orang yang tidak suka sepakbola untuk bangkit melonjak meninju udara dan berteriak kegirangan saat gol tercipta. Berteriak sejadinya....emosi pun terpuaskan. ”

OOoooooOOOooooooo...OoOooOOoOoooooOO...oooo

Inilah sebuah hiburan yang tidak banyak diminati kaum muda masa kini di Surabaya. Sebuah tempat yang tidak dimasukan dalam "objek yang wajib dikunjungi di Surabaya" oleh dinas Pariwisata. Meski tidak bagus tempatnya namun indah dilihat mata. Kumuh berjubel terlihat namun nyaman terasa. Bukankah hijau adalah warna yang nyaman dan menentramkan. Saat Persebaya bermain, tidak hanya lapangan, stadion akan berubah menjadi hijau. Emosi itu semakin terasa. maka datang sajalah dan nikmati...!

Dua gol tercipta sore itu untuk keunggulan Persebaya. Tidak sia-sia. Rp 15 ribu untuk satu gol yang kami lihat dari Tribun Utama plus kepuasan batin yang membuat kami bergelora hingga kos.

***
Bonek sendiri adalah akronim dari bondo nekat atau modal nekat dalam bahasa Indonesia. Sebutan ini dialamatkan kepada para pendukung Persebaya karena banyak cerita yang muncul dari ulah mereka. Bonek sendiri sangat identik dengan kekerasan, kerusuhan, naik kereta api gratis, semangat, dan kenekatan yang luar biasa. Hampir sama dengan suporter hooligan yang ada di Eropa. Menurut sebuah sumber, asal muasal kata bonek sendiri lahir dari surat kabar Jawa Pos di tahun 1989, begitu juga dengan logo bonek yang berupa seorang pria garang gondrong berteriak dengan ikat kepala mirip rambo yang katanya lahir dari koran ini. Entah benar atau tidak memang dibutuhkan penelusuran lebih lanjut.

Sebagai salah satu suporter fanatik, tentu saja Bonek memiliki kawan dan lawan. Salah satu lawan legendaris dari Bonek adalah Bobotoh Bandung pendukung Persib atau disebut juga The Viking. Salah satu analisis menarik malah dilontarkan bung Andreas Harsono –kalau saya tidak lupa- dalam blognya, bahwa permusuhan Bonek dan Bobotoh bisa dirunut sejarahnya sebagai permusuhan abadi antara Majapahit dan Pajajaran. Darah permusuhan itu memang menjadi sebuah kisah epik yang sangat masyhur selama berabad lamanya.Namun tampaknya mitos itu berakhir sejak Liga Indonesia diselenggarakan. Saat ini Bonek Persebaya dan Bobotoh Persib menjadi sebuah aliansi yang solid.

Salah satu cerita yang paling terkenal dari Bonek terjadi pada tahun 90an. Dimana saat itu ada sebuah pertandingan melawan Persija di Jakarta, tercatat ratusan ribu bonek datang berduyun-duyun ke Jakarta menggunakan ratusan armada bis yang dikoordinir oleh CEO Jawa Pos saat itu Pak Dahlan Iskan. Konon katanya, arak-arakan bis yang ditumpangi Bonek dari Surabaya menuju Jakarta saat itu adalah pawai bis paling panjang dan akbar di Indonesia hingga saat ini. Jakarta pun berubah menjadi lautan hijau. Para ’Arek’ (sebutan untuk perantau yang berasal dari Jawa Timur) di Jakarta pun menyambut kedatangan saudara-saudara mereka dengan sukacita. Pesta di jalanan pun diselenggarakan, dan selebihnya adalah sejarah.

Beberapa rujukan film yang patut ditonton adalah Green Street Hooligan yang dibintangi oleh Elijah Wood yang bercerita tentang kehidupan para suporter fanatik sepakbola yang rela tawuran dan ngaco demi timnya. Film apik lain yang bisa menjadi rujukan adalah film The Conductor yang mengisahkan kehidupan seorang Yuli 'Sumpil' konduktor lapangan dari Aremania yang mempu membuat ribuan orang bergerak dalam sebuah harmoni yang spontan dan menggelora.

***

Di tengah pertandingan situasi memanas saat masih saja ada Bonek mania melempar barang ke tenga lapangan karena kecewa pada wasit. Suporter Persitara yang hanya puluhan itu pun mengeluarkan yel-yelnya;

"...
Kami tidak suka rusuh
Rusuh itu tiada guna
Kita ini satu bangsa
Bangsa Indonesia
..."


Sumber:
wikipedia.com
google.com
http://bonek-suroboyo.blogspot.com/
http://bonex-cyber.web.id/


NB:
Gambar untuk kover kali ini diambil dari sebuah foto legendaris tentang bonek yang diambil oleh Solihudin, seorang wartawan Jawa Pos. Foto ini sempat menjadi salah satu pemenang dalam ajang World Press Photo, sebuah event fotojurnalisme paling prestise di dunia.

Catatan perjalanan Emal yang lain dapat anda temukan di blog pribadinya; http://bizesha.blogspot.com/

Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumen
tasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!

1 comment:

sacharosa said...

Syiip... Syiip... Keren...
gitu lah sekali-kali nulis tentang sport.
Kayaknya bukan cuma pertama kali datang ke stadion, tapi juga pertama kali nonton sepak bola...