Pages

3/31/09

Situ Gintung Tragedy

Teks dan foto: Mochammad Arifin


_______________________________________










Kontributor
Mochammad Arifin adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sangat menc
intai fotografi. Karir jurnalistiknya dimulai sejak SMA saat menangani penerbitan majalah sekolah. Saat ini sedang berkeinginan untuk menjadi seorang traveler dan bapak yang baik.
_______________________________________

Pada tanggal 28 Maret 2009 sekitar pukul 13.30 WIB tepat satu hari setelah peristiwa tragedi Situ Gintung saya langsung menuju tempat kejadian tragedi Situ Gintung. Berangkat dengan menggunakan angkutan umum, firasat saya ternyata benar, mendekat di tempat kejadian jalanan macet total. Saya pun berhenti di Terminal Lebak Bulus. Suasana sudah hiruk pikuk. Tragedi besar ini memang datang tiba-tiba.

Semakin penasaran saya pun berjalan menuju kampus UMJ. Banyak pos dan tenda pengungsian didirikan. Saya pun jalan lagi menuju Fakultas Kedokteran yang berada di belakang, saya melangkah dengan hati penuh tanya; apa yang sudah ditinggalkan air setelah menerjang pemukiman padat di bawah Situ Gintung? Saya pun segera mendapatkan jawabannya, ternyata suasananya memang sungguh berbeda.

***
Dengan perasaan penasaran akan tragedi yang banyak menelan korban jiwa itu, perlahan demi perlahan angkutan yang saya tumpangi hampir mendekati terminal lebak bulus. Pada akhirnya saya turun di Terminal Lebak Bulus yang pada saat itu suasana yang macet total, aku melangkah dengan hati penuh tanya. Ternyata suasananya memang sungguh berbeda.

Memang tidak separah tsunami Aceh, namun tragedi Situ Gintung ini juga menyisakan cerita yang mengerikan. Bau mayat dimana-mana. Baunya sangat menyengat, seperti bau bangkai tikus, kadang tercium kadang hilang. Suatu saat saya melihat beberapa relawan yang mencoba untuk menggeser sebuah bekas jembatan kecil, diperkirakan ada mayat dibaliknya. Karena tidak ada alat berat maka pekerjaan itu dilakukan secara manual, gotong royong. Para petugas baik dari TNI, Tim SAR Jakarta Selatan, Resimen Mahasiswa, Polisi Pamong Praja, dan sejumlah masyarakat sekitar sibuk membersihkan sisa-sisa puing bangunan dan lumpur yang bercampur tanah merah yang tebalnya sekitar 10 cm.

Perjalanan saya mulai dengan menyisiri pinggiran kali, medannya sendiri cukup sulit dilalui karena genangan lumpur yang tebal dan licin, jika salah melangkah bisa terendam lumpur semata kaki. Saya melangkah perlahan dan melihat banak bangunan yang rata dan hanya menyisakan tiang besi pondasi. Beberapa bangunan bahkan memasang tulisan “dikontrakan”. Memang di daerah tersebut banyak rumah yang dikontrakan atau kost.

Saya menemukan sebuah rumah dengan dinding jebol. Tampaknya yang saya lihat adalah bagian belakang rumah. Tampak di dalamnya ada kamar mandi, perabotan dapur, rak piring, mesin cuci, dan kompor gas. Bahkan ada rice cooker dengan seonggok nasi matang di dalamnya. Mungkin nasi itu dipersiapkan untuk sarapan keesokan harinya. Miris.

Anak-anak kecil entah dari mana asalnya sibuk mencari ikan yang terdampar di lumpur atau di kolam air. Jika beruntung mereka bisa dapat ikan patin, tapi dapat ikat sapu-sapu, ikan lele, dan ikan mujair saja juga sudah syukur. Tawa ria dunia anak memang tidak pernah kenal resesi, selalu saja ada hiburan meski berada di tengah tragedi yang mengerikan seperti ini.

Saya sendiri masih saja penasaran, bagaimana air yang sepele itu bisa melumatkan sebuah desa penuh penduduk seperti ini? Seperti semuanya habis tak berbekas. Ada rumah yang hanya menyisakan kusen, sedangkan kacanya bablas. Ada juga bangunan yang masih utuh tapi atapnya hilang disapu arus. Jendela pun hanya menyisakan kain dan daun-daun kelapa yang tersangkut. Mobil juga ada yang nyungsep di ayunan, tapi lebih banyak sepeda motor nahas yang tidak sempat diselamatkan pemiliknya.

Banyak juga buku-buku yang berserakan. Ada buku yang berjudul Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif dan Komunikasi Massa. Sepertinya ini buku milik perpustakaan universitas yang diterjang banjir. Tapi yang saya sukai adalah buku warna merah dengan sampul foto seorang ustadz muda kharismatik sedang tersenyum, fontnya warna kuning cerah, judulnya; Kado Panjang Umur...

Akhirnya partai pun banyak yang datang. partai politik mengira ini adalah sebuah kesempatan yang baik untuk membranding diri sebelum pemilu. Partai A hingga Z semua menampakkan batang hidungnya. membagi-bagikan ransum, pakaian hangat, selimut, dan obat-obatan. Para fotografer pun sepertinya tak ingin melepaskan momen tragedi ini, semua media hadir dengan mengirimkan fotografer terbaiknya untuk mendapatkan gambar-gambar eksklusif di Situ Gunung. Situ Gintung pun berubah menjadi sesuatu yang ramai, dan saya pun pulang.


***
Di tengah kehancuran yang hebat itu saya masih bisa melihat beberapa bangunan yang tegak berdiri. Salah satunya adalah Masjid Jabalur Rahman. Puncak masjid masih mengkilap, seakan tak pernah datang banjir malam itu. Beberapa warga dibantu dengan Front Pembela Islam bekerja membersihkan pelataran dan karpet masjid yang penuh lumpur.

Saya jadi merinding sendiri. semoga bencana ini tidak datang lagi.

6 comments:

Sobaya said...

aku suka Fin....bagus foto2nya...
Satu hal yg baru aku sadari...setelah baca tulisan kamu...
hmm...mungkin....hanya mungkin loohh....tragedi situ gintung terjadi agar para konglomerat ibu kota melihat sendiri soal kuasa-Nya...dan mau sekedar menyisihkan rasa empati dari sekelumit hartanya....
Ga ada alasan lagi sekarang....
ga perlu jauh jauh ke aceh (tsunami), ga usah capek-capek ke Jogja (gempa)...atau ke Semarang (banjir)...cukup ke kawasan tanggerang, belakang UMJ....orng dah bisa merasakan 'sensasi kematian'.....
Cukup sudah....

aklam said...

mas arifin, it's a great job! thanks for contribution...
:)

chie_luv_benzema said...

bencaNa situ giNtung iNi haRusx bisa meMbuaT qTha lbH awaRE lg terhadaP lingkungan daN sekitaR qTha..

aLam juGa bs muRka..

noekriwil said...

ini suatu ujian apa peringatan ya?? memang seharusnya alam yang indah ini perlu dijaga baik-baik...

jeckedabitz said...

buat mas aripin 5 jempol dah. bagus banget nih ulasannya..aku suka banget ama miniatur motorcrossnya yang nyangsang...he2

be creative only said...

nice pictur n nice tulisannya..... trus nulis n motret key...