Pages

4/16/09

The Children of Malawi by Kristen Ashburn


Semalam saya mendapatkan informasi dari Fajjar kalo ada yang aneh dengan sebuah foto yang diambil oleh Kristen Ashburn, fotografer TIME magazine. Ternyata setelah saya cek langsung di situsnya TIME saya pun menemukan kejanggalan itu, dan saya tersenyum dibuatnya. Ada kaos PDI Perjuangan dengan nomor urut 18 disitu! WTH! Kok bisa? saya juga ndak tahu. Mungkin tim suksesnya PDIP kelewat bersemangat sampe harus nyebar kaos di Malawi, meski jelas-jelas tidak ada TPS dan pemilih tetap di sana...

Kristen Ashburn sendiri adalah sesosok fotografer wanita yang tangguh. Ia memotret penyebaran AIDS di negera-negara di Afrika selama bertahun-tahun. Beberapa waktu yang lalu ia melaunching sebuah buku fotografinya dengan judul 'I Am Because We Are', sebelumnya ia juga meluncurkan kumpulan fotonya dengan judul 'Bloodline'. Foto-fotonya sendiri sangat menggugah dan keren. Bagi Anda penyuka foto jurnalistik tak ada salahnya untuk Googling.

Kristen Ashburn pernah diundang untuk berbicara di forum kreatif TED Talk untuk mempresentasikan perkembangan penderita AIDS di Afrika yang sangat tinggi populasinya.

Foto:
Merupakan salah satu foto yang dirangkum dalam The Children of Malawi yang diterbitkan TIME, oleh Kristen Ashburn.

4/7/09

Festival Wonderful Thailand

Teks dan foto: Winda Savitri


Sabtu kemarin, tanggal 4-5 April 2009, diselenggarakan acara pameran pariwisata yang berjudul Wonderful Thailand yang bertempat di Tunjungan Plasa. Para reporter hifatlobrain sendiri tahu adanya acara ini jauh hari sebelumnya melalui milis Indobackpacker, sebagai pecinta travel kami pikir acara ini tidak boleh dilewatkan. Apalagi di milis dikatakan kalo acara ini akan ada festival jajan Thailand yang free of charge alias gratis! Hoho duo reporter hifatlobrain yang selalu lapar ini pun bersemangat untuk datang. Acara ini sendiri kerjasama antara Embassy Thailand in Indonesia, Tourism Authority of Thailand, dan Thai Airlines.

Meskipun kecil tapi acara ini sangat semarak. Ada banyak stan yang memajang budaya dan kerajinan Thailand. Pariwisata Thailand cukup memukau dengan eksotisme alam yang disuguhkan. Kami mengetahuinya dari katalog panduan wisata gratis yang diberikan selama pameran, kami rasa, you have to come! No doubt! Bukannya promo dan tidak mendukung pariwisata negeri sendiri, tapi dari fotonya saja sudah jelas tergambar, akan keindahan pantai-pantai bening negeri gajah putih dan durian monthong itu.

Awalnya sih kita cuman mau sightseeing aja. Hanya berbekal kamera pocket, tampang ala kadarnya, no make up, dan no dress up, sangat teramat santai, khas duo reporter hifatlobrain. Dengan wajah nan innocent, kami berdua menjelajahi berbagai stan yang ada. Tampak ada stan yang memajang kain sutra Thailand yang mirip sama kain songket, ada juga pijat Thai yang gratis menjadi favorit para manula, ada yang jual souvenir dengan harga cukup miring. Beberapa stan tour dan travel yang menawarkan paket murah ke Thailand juga tidak mau kalah, bahkan Air Asia memberikan harga yang cukup gila untuk siapapun yang mau menjelajahi Thailand dengan budget yang seadanya.

Salah satu stan milik kerajaan Thailand juga hadir, nama stannya Royal of Thailand. Mereka memperlihatkan beberapa budaya yang dimiliki oleh kerajaan Thailand. Salah satunya yang cukup mempesona adalah keahlian mengukir buah (fruit carving) yang mempesona. Sangat detil dan geometris. Indah sekali. Kata guide yang mendampingi sih keahlian ini hanya dimiliki oleh anggota abdi dalem kerajaan saja, dan ini menjadi salah satu kebanggan yang dimiliki oleh kerajaan Thailand selain koleksi gajah albino mereka yang langka.

Oh ya, guide stan dari Royal of Thailand ini cukup unik. Dia adalah seorang wanita berjilbab dengan wajah yang sangat Jawa Timur, bahasa Indonesianya juga relatif lancar. Kami berdua mengira dia adalah orang Surabaya yang disewa oleh embassy untuk jadi guide, eh ternyata tebakan kami salah besar. Mbaknya itu memang aseli orang Thailand Selatan, lancar bahasa Indonesia karena daerah Thailand Selatan berbatasan langsung dengan Malaysia, jadi bercakap dengan bahasa Indonesia tidak jadi masalah bagi mereka.

Dari mbaknya itu kami berdua pun tahu kalo sorenya akan ada upacara pembukaan dengan diselingi parade budaya Thailand. Kami berdua pun sumringah, kita tidak melewatkan acara ini. Voila! We move on and get the sit to enjoy the show. Masalahnya adalah: deretan kursi yang disediakan itu adalah tempat yang disediakan untuk tamu dari embassy! Semakin mendekati acara dimulai semakin banyak orang penting datang. Tampak ibu-ibu socialita dengan high heel dan tas jinjing elegan dan bapak-bapak eksekutif yang datang dari pemerintahan dan pengusaha. Kami berdua yang udah terlanjur pewe sama kursinya semakin tegang, namun tetap saja malas pindah. Haha jadi boleh dibilang kami adalah penyusup saat acara pembukaan. Tapi sorry ya, bukannya kami lancang karena bukan undangan, kami juga harus dihormati dong, kami kan dari hifatlobrain, kami merasa kami merupakan wisatawan potensial bagi Thailand di masa yang akan datang. Hahaha.

Tak lama kemudian acara pembukaan pun berlangsung. Rentetan sambutan dibacakan oleh Pak Duta Besar Thailand untuk Indonesia, Mr. Akrasid Amatayakul, Ibu Ony selaku kedutaan kehormatan di Surabaya dan seorang Bapak perwakilan dari Pemkot Surabaya. Acara pun berlangsung sangat elegan dan mengenyangkan. Hahaha. Karena duduk di tempat undangan, kami pun mendapatkan segala previlege yang disediakan. Salah satu yang menjadi favorit kami adalah; kuliner Thailand gratis yang dibagikan tanpa harus mengantri seperti pengunjung biasa.

Kulinernya cukup unik. Sebagai apetizer kami disuguhi sejenis camilan ala Thai yang berupa bakso udang yang gurih. Bakso yang digoreng dengan tepung bumbu ini dipadukan dengan sebuah saus mayonaisse yang rasanya manis, sip! Sedangkan main coursenya disajikan makanan kotak ala Thai yang isinya saya gak tau, pokoknya ada tofu di dalamnya. Rasanya sih biasa aja, masih kalah sama Bebek Kayutangan. Nah yang menarik lagi adalah minumnya yang berupa teh tarik ala Thailand. Warnanya kuning emas, tidak seperti teh tarik lainnya yang berwarna coklat. Rasa tehnya cukup terasa, sangat berbeda dengan tekstur teh tarik yang ada di Ampel.

Akhir acara, saya sempat terkagum-kagum oleh pertujukkan seni musik perkusi dan tari khas Thailand. Alat musiknya unik-unik, tapi secara garis besar musik Thailand itu dikontrol oleh melodi yang berupa ketukan-ketukan yang berasal dari alat semacam kentongan namun solid dan tidak berongga. Pertunjukkan seni lainnya yang ditampilkan adalah puppet show alias wayang Thai yang dimainkan oleh sebuah komunitas seni, karena sangat tertarik kami pun menyempatkan diri untuk sedikit melakukan interogasi dengan sang dalang. Dia bilang kalo kesenian wayang Thai ini sudah hampir punah dan hanya ada dua komunitas di seantero Thailand yang bisa memainkannya. Mereka memiliki situs, kalo pengen tahu infonya bisa dilihat langsung di www.tookkatoon.com.

Salah satu atraksi yang cukup membuat si Aklam berteriak-teriak kegirangan adalah kesenian Muaythai atao boxing Thailand. Katany sih si Aklam sangat terinspirasi oleh film dengan judul Ong Bak yang menampilkan berbagai trik boxing Thailand. Aah ada-ada saja...


Foto dibawah ini kasih judul, "Monk and The Monkey"


PS:
foto kover adalah backdrop dari pertunjukkan wayang Thai.