Pages

5/25/09

UGM Jazz, Special Invitation

Text and photo by Ayos Purwoaji

Ahh weekend kemarin sungguh menyenangkan, saya harus ke Jogja karena di-invite adik saya untuk nonton pagelaran UGM Jazz. Adik saya memang sedang berbaik hati dan lagi banyak duit, jadi saya ditraktir nonton untuk kelas festival. Tapi ndak papa, saya cukup puas kok.

Memang tidak sebesar Java Jazz, pagelaran musik yang diadakan oleh jurusan Ekonomi UGM ini 'hanya' dihadiri oleh beberapa bintang jazz tanah air. Ada Ireng Maulana dan kakaknya, Kiboud Maulana. Mereka tampil dalam format band yang dilengkapi oleh Didiek SSS pada saxophone dan Yance Manussama pada bass.

Meski didominasi oleh legenda jazz yang tua-tua namun lagu-lagu yang dibawakan tidak melulu oldies. Bahkan di tengah penampilannya Ireng Maulana menghadirkan Marcell dan Andien sebagai singer. Sebuah perpaduan yang unik. Beberapa single milik Andien dan Marcell pun digubah dalam format swing dan bossas yang kental.

Setelah penampilah dari Ireng Maulana and Friend akhirnya tampil si Maylafayza, violinist cantik aseli Indonesia. Kehadiran Maylafayza di UGM Jazz sendiri saya pikir tidak begitu penting dan malah membuat saya mengantuk. Seperti makan pecel dan gethuk sekaligus, sangat tidak matching. Sahabat saya, Bondan, juga tidak begitu antusias ngelihatnya, dia terpengaruh oleh rating majalah Rolling Stones yang ngasih dua bintang untuk album terbaru Maylafayza.

Tetapi kekecewaan saya tidak bertahan lama, menjelang tengah malam para penonton pun diberi pertunjukan pamungkas dari Balawan yang membawa serta Batuan Ethnic Fusionnya. Maknyuus, mata saya langsung kembali bergairah. Screen besar di samping kanan dan kiri panggung pun mengekspose gambar tangan Balawan saat bermain di atas fret gitar dengan detil. Saya jadi kenyang dibuatnya.

Balawan tampil memukau dengan beberapa single seperti Bird Song dan ditutup dengan manis dengan single See You Soon.

Ahh saya puas malam itu. Apalagi saat Navan mengajak saya maem di Sego Teri daerah Gejayan sembari ditemani Bondan dan Bandeng. Malam itu pun jadi semakin hangat.

Sayangnya kehangatan malam itu tidak bisa lama-lama saya nikmati, saya harus mengejar bis ke Surabaya tepat saat tengah malam, ada janji dengan seorang teman untuk riset di Malang Tempo Doeloe, and my journey continued...

NB:
Makasih buat Navan atas invitationya, makasih buat Bondan dan Bandeng yang selalu menginspirasi, makasih buat warung Babe Gue yang menyediakan Nasi Goreng Gulung yang enak sekali (special request untuk Navan: tolong di review dong di KotakCoklat)
Maaf fotonya jelek karena diambil dari kursi festival paling pinggir :p

Malang Tempo Doeloe 2009

Text and photo by Ayos Purwoaji

Berangkat dari Jogja lewat tengah malam akhirnya saya bisa mendapatkan tempat duduk yang leluasa di dalam bus Sumber Kencono malam. Saya memang mencari yang murah meski merek Sumber Kencono sangat lekat dengan imej ugal-ugalan dan kecelakaan. Saya pun menyempatkan diri untuk tidur, memeluk tas yang berisi baju kotor dan tugas kuliah.

Sebelumnya sempat berdiskusi dengan kenek, saya tanyakan dimana jalur tercepat untuk sampai menuju Malang. Kenek pun menyarankan saya untuk berhenti di Jombang dan melanjutkan perjalanan dengan bus domestik jurusan Jombang-Malang.

Setibanya di Jombang jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Setelah turun di terminal Jombang saya pun seegera mencari bus lanjutan ke Malang. Biasanya bus yang digunakan adalah Puspa, perjalanan dua setengah jam menuju Malang pun bisa ditebus dengan 14 ribu rupiah.

Awalnya saya pikir perjalanan ini akan sangat membosankan, namun pandangan saya berubah ketika saya melihat peta. Ternyata perjalanan dari Jombang menuju Malang melewati punggung dua gunung, salah satunya Gunung Kawi. Feeling saya ini perjalanan bakal menyuguhkan banyak pemandangan hebat nantinya.

Feeling saya tidak salah, selepas perbatasan Jombang maka kita akan disambut dengan sebuah daerah bernama Ngantang dan Pujon. Saya pun takjub akan pemandangannya. Selama perjalanan saya disuguhi banyak view bagus: tekstur tanah yang naik turun dengan sawah berundak pada punggungnya, barisan bukit dengan air terjun kecil di sela-selanya, kanopi bambu dan cemara yang menaungi jalan, riak sungai dengan jeram kecil berbatu, penduduk yang menjemur bawang merah dengan cara lokal yang eksotik, danau Selorejo yang luas nampak dari kejauhan. Semua pemandangan itu akan tampak sangat jelas di pinggir jalan. Suatu saat nanti saya pasti akan membuat postingan yang kira-kira berjudul 'Eksploring Ngantang' hehehe.

Sampai di Malang setelah berbenah saya pun berangkat ke Malang Tempo Doeloe yang digelar di kawasan Ijen. Saya pikir awalnya festival ini tidak seberapa besar venuenya, tapi ternyata saya salah total! Empat ruas jalan di sepanjang Ijen ternyata ditutup dan dipenuhi oleh stan-stan yang menawarkan masa lalu.

Saya ke Malang Tempo Doeloe ditemani sahabat saya, Izza. Dia mengajak saya untuk melakukan riset grafis. Namun kunjungan saya agak sedikit terganggu dengan adanya hujan yang cukup deras, hujannya cukup merata di seluruh Malang. Akhirnya saya pun hanya menghabiskan waktu berdiskusi dengan Izza di sebuah warung yang menjajakan wedang ronde. Ternyata ronde itu menjadi lebih nikmat saat hujan turun. hehehe.

Menunggu huja sebetulnya sangat menjemukan. Hampir dua jam lamanya hujan mengguyur Malang. Sedangkan wedang ronde saya sudah habis dari tadi. Arrrgh.

Menjelang maghrib hujan pun mulai reda. Saya pun kembali meyusuri jalan Ijen dengan Izza. Saya mencoba gulali Jawa yang banyak dijajakan di Malang Tempo Doeloe. Saya pilih rasa jahe, sedangkan Izza memilih rasa mocca. Gulali sendiri adalah semacam karamel yang dibuat dari gula Jawa, sangat kental dan ditambatkan pada sebuah batang bambu. Harganya seribuan, cukup murah untuk sebuah kenangan masa lalu.

Venue Malang Tempo Doeloe memang sangat panjang, ada stan yang menawarkan jamu, ada juga penjaja buku tua, ada pula yang menjajakan lukisan dan cemilan tempo dulu. Di sepanjang jalan banyak orang yang berbaju kolonial, ada juga yang berdandan seperti pejuang. Ada perkumpulan sepeda tua. Ada pula pentas yang disediakan untuk wayangan.

Lama-lama saya kok jadi mengaggumi Malang Tempoe Doeloe ya, padahal kalo saya pikir, Surabaya itu juga punya banyak cerita sejarah yang keren, bahkan perkampungan kuno di Surabaya masih lebih banyak ketimbang Malang. Saya jadi iri dibuatnya.

Saya pun menyempatkan diri mencicipi tebu yang dipotong-potong sekitar lima sentimeter dan ditusukkan ke sebilah lidi. Seperti sate, namun yang ini terasa manis dan menyegarkan. Harganya juga seribu rupiah, dan kita akan mendapatkan sekitar sepuluh tusuk. Diikat melingkar, seperti bunga yang sedang merekah. Mungkin istilah kembang gula berasal dari sini.

Ahh semoga saya bisa kembali mengunjungi Malang Tempoe Doeloe, sembari mengajak mbak kontributor yang tahun ini tidak bisa ikut meski sudah merengek-rengek kepada kedua orang tuanya. Hehehehe. Happy traveling!

NB:
Makasih buat Deri, Yoga, dan Sani atas tumpangannya. Makasih buat Izza atas guidancenya. Makasih buat pak Mardian, teman ngobrol saya di bis, semoga saya bisa mengikuti jejak bapak menjadi vegetarian.

Negara Kelima: Sebuah Upaya Memburu Atlantis

Jujur saya terlambat sekali baca buku ini. Saya tahu sebenernya sudah lama, di akhir 2007, diberitahu oleh mas Tommy. Awalnya saya pikir ini novel biasa dengan remah sejarah, tetapi setelah baca buku ini ternyata saya salah besar. Buku ini cukup menarik bila dibandingan novel lain dengan tema cinta yang banyak menghiasi rak-rak toko buku dewasa ini.

Novel brilian ini karangan Es Ito, seorang novelis yang baru saya kenal. Negara Kelima ini menurut saya masuk dalam genre thriller sejarah, seperti Angel and Demons dan The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Kronik sejarah menjadi tulang punggung dari novel dahsyat ini. Saya akui, Es Ito sebagai pengarangnya cukup jeli dan pandai dalam merangkai fakta sejarah minor yang jarang dilirik orang. Pembaca pun digiring kepada sebuah pertanyaan besar: benarkah Atlantis adalah Indonesia?

Es Ito memang banyak menyinggung Atlantis dalam novelnya ini. Pada beberapa bab terakhir dia menyimpulkan bahwa Atlantis, benua yang selama ini hilang tidak lain dan tidak bukan adalah Indonesia. Hal itu didasarkan dari beberapa argumentasi, beberapa diantaranya adalah percakapan Plato yang dirangkum dalam buku Timaeus dan Critias, lalu dihubungkan dengan apik pada tambo atau cerita rakyat dari Minangkabau.

Beberapa argumen memang sudah saya baca lewat sebuah situs yang memajang tesis yang disampaikan oleh Arysio Nunes Santos, seorang ilmuwan yang mendedikasikan 30 tahun hidupnya untuk mencari keberadaan Atlantis. Dalam bukunya; Atlantis The Lost Continent Finally Found , dia menyimpulkan bahwa letak benua yang hilang itu adalah di Indonesia saat ini. Santos mendasarkan argumennya pada definisi Atlantis menurut Plato.

Saya sendiri sudah tergila-gila dengan Atlantis sejak SD. Saya tahu dari majalah langganan saya, Bobo. Terus pas ada film kartunnya terbitan Disney saya pun menggilainya. Sejak kecil saya terus dilanda rasa penasaran dimanakah sebenernya Atlantis berada. Legenda ini juga yang menggiring saya untuk menyukai film-film petualangan seperti Tin-Tin dan Indiana Jones.

Dewasa ini kegemaran saya akan legenda-legenda seperti Atlantis tidak juga berkurang. Bahkan saya menyempatkan diri untuk membeli buku bekas World Mysteries terbitan BBC yang didalamnya mengunggkap keberadaan beberapa budaya dunia yang hilang seperti legenda Atlantis, keberadaan Eldorado, misteri garis Nazca dan sebagainya. hehehe.

Saya sendiri sih percaya saja kalo Atlantis itu di Indonesia. Bukan karena pembelaan nasionalistik, tapi karena ada beberapa bukti lain yang meyakinkan saya. Sebelum membaca Negara Kelima beberapa saat sebelumnya saya membaca buku Robert Dick-Read yang berjudul Phantom Voyager. Sebuah buku yang memberikan bukti bahwa Indonesia adalah bangsa dengan peradaban laut tertua di dunia. Bahkan pelaut Indonesia sudah bisa berkeliling dunia di abad-abad awal. Sedangkan dalam naskahnya, Plato memberikan gambaran bahwa Atlantis adalah sebuah kota dengan pelabuhan-pelabuhan raksasa dan megah.

Well, menarik bukan. Say sendiri masih penasaran, bener gak ya Atlantis itu di Indonesia? Seandainya memang benar Atlantis itu berada di Indonesia pun saya pikir tidak akan ada pengaruhnya di tengah kondisi bangsa yang carut marut ini. Hmm yo wis.

NB:
Maksih buat Nisa yang sudah ngasih buku ini, tengkyu boi, bukumu menemani perjalanan saya ke Jogja :)
Buat yang pengen tahu tentang Arysio Nunes Santos bisa berkunjung di situs ini http://www.atlan.org

5/12/09

I Will Pay For Good Design


Sebuah foto candid yang saya ambil di Gresik. Sebuah pernyataan singkat yang menohok bagi orang Indonesia kebanyakan yang belom begitu menghargai desain. Aah semoga dalam sepuluh tahun kedepan orang Indonesia sudah terbiasa dengan desain yang bagus dan mereka bisa menghargainya.

Oh ya kalo mau liat cerita-cerita lain tentang kaos bisa dilihat disitus ini ceritakaos.com
Saya share soalnya saya pikir situsnya cukup inspiratif bagi anda penggemar kaos...

5/3/09

Sure Lof, It's Edensor


Text & photo by Bambang Arif Rahman
___________________










Kontributor

Bambang Arif Rahman adalah seorang mahasiswa S2 di Leeds University, UK. Gemar membaca apa saja, termasuk filsafat yang menjadi satu kesukaannya. Tipe traveler yang juga seorang penikmat film dari berbagai macam genre.

___________________

Serial novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov, telah memasuki edisi cetak yang kesekian puluh. Novel yang sangat menggugah semangat para pencari ilmu ini kisahnya memang terasa lebih manusiawi jika dibandingkan dengan novel-novel fiksi karya pengarang Indonesia lainnya. Kenyataan ini semakin dibuktikan dengan box office-nya film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel yang sama beberapa saat yang lalu di bioskop-bioskop seluruh nusantara. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia menyempatkan diri untuk ikut melihat film besutan Riri Reza tersebut.

Penulis yang telah membaca ke-empat novel tersebut, menjadi penasaran dengan sebuah tempat yang bernama Edensor, yang menjadi salah satu judul dalam novel tersebut. Apalagi Andrea Hirata menjelaskan Edensor ini dengan cukup piawai, yakni sebagai sebuah tempat yang indah di Inggris. Saking terkesannya dengan Edensor, Ikal (nama Andrea Hirata dalam ke-empat novel tersebut) mengunjungi Edensor sampai dua kali selama masa belajarnya di Eropa. Kunjungan kedua ke Edensor disinggung dalam novel terakhirnya, Maryamah Karpov.

Inggris sebelah mana Edensor ini gerangan berada? Saya yang kebetulan juga sedang belajar di Inggris menjadi penasaran untuk ikut mengunjungi Edensor ini. Setelah berbincang-bincang dengan beberapa teman Indonesia -yang ternyata juga penasaran dengan Edensor- maka kami cari Edensor di Inggris sesuai dengan gambaran Andrea Hirata. Akhirnya ketemulah tempat tersebut yakni Edensor (baca: Enzer) di Bakewell, Derbyshire County, East Midlands, Inggris. Ini termasuk di daerah Peak Districts. Dengan mengajak teman-teman Indonesia, beberapa saat yang lalu saya mengunjungi Edensor.

Perjalanan
Berangkat dari Leeds, tempat saya studi, pagi hari dengan naik bus National Express, kami menuju ke kota Sheffield. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu jam melalui Motor Way (semacam jalan tol kalau di Indonesia tetapi tidak bayar) antar kota yang mulus khas jalanan Eropa. Dari Interchange Sheffield (bus and train station) perjalanan dilanjutkan dengan bus lokal ke Edensor selama kurang lebih satu jam. Kami membeli tiket bus ke sopir sekalian yang PP, sehingga lebih murah.

Setelah bus berjalan beberapa menit, mulailah terasa indahnya alam pedesaan Inggris yang eksotik. Apalagi waktu itu menjelang musim gugur. Daun-daun yang kemerah-merahan dan kekuning-kuningan khas musim gugur bertebaran dimana-mana sepanjang mata memandang. Kanan-kiri adalah areal pertanian berikut areal peternakan kambing yang luas. Kambing-kambing ini dilepaskan dalam satu areal berpagar seluas kira-kira 2 hektar, dirawat dan dibiarkan sehari-hari disitu hingga tiba waktunya diproduksi. Rumah-rumah abad pertengahan masih banyak yang berdiri gagah di desa-desa di pinggir jalan maupun dikejauhan di lereng-lereng bukit seolah-olah seperti dalam cerita dunia para peri Eropa. Juga sungai-sungai yang berkelok-kelok dengan airnya yang bening di lembah-lembah membuat iri hati karna di Indonesia kita mulai jarang menyaksikan sungai dengan air yang jernih dan bersih.

Ketika menjelang satu jam perjalanan, kami menanyakan Edensor kepada sopir. Oh, rupanya sudah dekat. Namun, ketika sudah sampai dan kita akan turun, Pak Sopir agak sedikit heran dan ragu, kenapa kami turun di Edensor. Dia bilang; “Bukankah Chatsworth Castle masih di depan ?” O la la, kita juga baru tahu bahwa ternyata di sekitar situ, yang terkenal sebagai tempat wisata tujuan para pelancong yang berkunjung adalah sebuah kastil tua dari abad ke 15, tempat tinggal keluarga ningrat The Duke of Devonshire dengan keluarga The Cavendish-nya, yaitu kastil Chatsworth. Sementara, Edensor hanyalah desa kecil dengan beberapa penduduk dan sebuah gereja tua.

Benarkah Andrea Hirata ke Edensor yang satu ini? Kalau membaca deskripsi dalam novelnya, sepertinya tidak salah, Edensor inilah yang dimaksud. Memang indah, sebagaimana kebanyakan desa-desa di Inggris yang memang indah. Tetapi, kenapa tidak terlalu terkenal? Saya baru menyadarinya bahwa kebanyakan kita pun baru tahu Edensor dari novelnya Andrea Hirata tersebut. Sehingga orang-orang Inggris sendiri tidak terlalu merasakan hal itu. Edensor terkenal bagi turis-pelajar Indonesia di Inggris, tapi tidak bagi orang lain.

Edensor
Pada mulanya, Edensor merupakan desa ditepi sungai Derwent, tidak jauh dari Edensor yang sekarang. Lebih tepatnya, berdampingan dengan kastil Chatsworth ini. Akan tetapi, pada abad ke 18, penghuni kastil Chatsworth, yakni para ningrat, karena merasa pemandangan dari dalam kastil terhalang oleh desa Edensor. Oleh karena itu, atas titah mereka, maka Edensor dipindah ke tempatnya yang sekarang. Kira-kira1 km dari kastil Chatsworth.

Edensor memang hanya sebuah desa kecil. Satu jam berkeliling barangkali sudah selesai. Selain gereja tua St. Peter yang dibangun pada tahun 1800-an, ada juga coffee shop dan rumah-rumah penduduk yang letaknya naik turun mengikuti kontur tanah Edensor yang sedikit berbukit. Dipinggir desa, ada padang-padang rumput hijau khas Inggris. Dan di kejauhan adalah pohon-pohon dan hutan seperti pinus yang daun-daunnya merah, kuning, hijau menyolok cukup indah. Di halaman gereja St. Peter di Edensor ini terdapat komplek pemakaman kecil. Diantara yang dimakamkan di sini adalah saudara perempuan dari Presiden John F. Kennedy dari Amerika Serikat, yaitu Kathleen Kennedy yang juga merupakan istri dari anak The Duke of Devonshire ke-10. John F. Kennedy selama masa kepresidenannya, pernah mengunjungi makam saudara perempuannya di Edensor ini.

Chatsworth House
Setelah kurang lebih satu jam berkeliling Edensor sambil foto-foto, maka berkunjung ke kastil Chatsworth sepertinya menjadi wajib. Karna sudah nanggung, jaraknya cukup dekat, sementara waktunya masih cukup. Kami berjalan kaki ke kastil Chatsworth sambil menikmati indahnya pemandangan alam di sekitar Edensor. Di suatu lereng dalam perjalanan ini kami menemukan banyak pohon apel liar di sana sini dengan buahnya yang berjatuhan di tanah, ndak ada yang peduli. Tanpa dikomando, kami segera ambil buah apel yang masih segar dan memakannya. Lumayan, untuk ganjal perut sambil menunggu makan siang.


Setelah sampai kastil, pemandangan yang kami dapatkan memang jauh lebih indah. Ini bisa dipahami karna kastil ini terawat rapi dan bersih. Kastil ini besar dan megah khas bangunan abad 17. Ada biaya tersendiri kalau masuk ke dalam kastil bagi yang berminat untuk melihat-lihat suasana kediaman para ningrat Inggris di masa lalu.

Di dalam kastil kami saksikan segala macam kemewahan khas para raja. Lukisan-lukisan, ruang-ruang pribadi, kamar-kamar tidur, lorong-lorong antar kamar dan antar lantai, maupun tempat ibadah individual yang tentu tidak akan dinikmati oleh rakyat kebanyakan. Diluar kastil, taman-taman yang luas dan ditata rapi terbentang mengelilingi kastil. Bahkan ada air terjun atau jeram kecil yang diciptakan untuk menambah eloknya kastil ini. Air dari atas bukit, diatur mengalir lirih menuju ke arah kastil, yang selanjutnya bermuara pada kolam air mancur dipinggir kastil sekaligus untuk mengairi tanam-tanaman di seluruh taman. Tidak heran kalau kastil Chatsworth ini terkenal juga dengan nursery-nya. Berbagai hal yang terkait dengan pertamanan dijual di kastil ini; pupuk, bibit bunga, alat-alat pertamanan, cara menanam dan merawat bunga, dan sebagainya.

Mungkin karena bagusnya kastil ini, maka beberapa film yang dibintangi oleh aktor kondang pernah dibuat dengan latar kastil Chatsworth ini seperti; Pride and Prejudice (2005), The Duchess (2008) yang dibintangi oleh Keira Knightley dan Ralph Fiennes, dan The Wolfman (2009) yang dibintangi oleh Benicio del Toro dan Anthony Hopkins. Inggris memang selalu serius dalam menjual tempat-tempat wisatanya. Termasuk wisata masa lalu yang sangat mudah kita temukan di seantero negeri ini. Kebersihan, Kenyamanan, keindahan, yang terwujud dalam toko-toko souvenir, café, toilet yang bersih, keterangan yang jelas, selalu terdapat di setiap tempat wisata. Demikian halnya di kastil Chatsworth. Sehingga, dengan membayar 5 pound (Rp 75.000,- kurs 1 pound = Rp 15.000,-) untuk masuk ke dalam area kastil terasa tidak terlalu mahal.

Setelah berkeliling selama hampir 3 jam di kastil Chatsworth, kami menunggu jam keberangkatan bus dari halte di depan kastil Chatsworth untuk kembali ke Sheffield. Salah satu keunggulan wisata dan sekaligus transportasi di Inggris adalah adanya angkutan umum yang nyaman, terjangkau dan tepat waktu ke berbagai tempat wisata. Para turis, termasuk kami, selalu diuntungkan dengan keadaan ini. Karena bisa mengatur waktu dengan efisien dan tepat. Demikian juga sore itu, bus yang membawa kami kembali ke Sheffield datang tepat waktu di halte kastil Chatsworth sebagaimana yang tertera di jadwal. Selanjutnya, dari Sheffield kami pulang kembali ke Leeds.

Rekaman perjalanan ini jadinya lebih banyak bercerita tentang kastil Chatsworth dibandingkan dengan cerita tentang Edensor. Dalam kenyataannya memang demikian. Edensor sangat terkenal bagi warga Indonesia lewat novel Laskar Pelangi, sementara kastil Chatsworth di dekatnya lebih terkenal bagi turis selain Indonesia. Mereka barangkali malah tidak ambil pusing dengan Edensor. Namun demikian, seperti kata teman-teman di Indonesia, kalau ke Inggris kok belum ke Edensor rasanya kurang afdhol.

Anatolia: The Land of Love

Text & photo by Fahmi Machda

______________________________









Kontributor

Fahmi Machda, seorang calon mahasiswa King Abdullah University of Science and Technology. Seorang penikmat kuliner handal dan traveler yang rendah hati. Pengemar batik dan majalah Harvard Business Review.

______________________________


Awal persinggahansaya di Anatolia sebenarnya bermula dari sebuah pertemuan yang mengesankan depan Ka'bah Saat musim haji akbar pada bulan Desember 2006. Saat itu saya dipertemukan oleh Allah dengan empat saudara muslim dari Turki. Mereka adalah Cumhur, Hamza, Luthfu, dan Selman. Peristiwa itu terjadi tepat di lantai tiga Masjidil Haram, dekat Pintu Malik Fahd, yang diapit dua bangunan yang super-duper tinggi; Hotel Hilton Mekkah dan Istana Malik Abdul Aziz Al-Saud. Biasanya para penghuni Misfalah (salah satu nama bagian di kota Mekkah), akan masuk melalui pintu ini untuk ke Baitullah.

Setelah berbincang panjang lebar, saya dan teman Turki saya pun menjadi sangat dekat. Cumhur Abi pun tak segan untuk mengundangsaya ke Turki. “Please come to Turkiye. You only need one ticket to come in and back. I'll cover all the cost when you are in Turkiye.” Ungkapnya kurang lebih. Wah dengan harga minimal saya bisa dapat pengalaman maksimal nih. Akhirnya dengan rasa penasaran yang amat sangat akan indahnya Negri Muhammad Al-Fatih dan jiwa petualang yang berapi-api, akhirnya saya merencanakan untuk pergi ke Turki di bulan September 2008.

Tidak sabar rasanya hati ini untuk menikmati pesona negeri kaum sufi ini. Sedangkan Anatolia sendiri adalah suatu wilayah di Asia Barat, yang hampir seluruhnya ditempati Republik Turki saat ini. Kata tersebut berasal dari bahasa yunani, yang berarti 'tanah tempat matahari terbit', diberi nama seperti itu, karena dulu wilayah tersebut dikuasi Romawi Timur dimana mereka menerima sinar matahari lebih dulu dibanding negeri bagian Romawi yang lain.

Saya juga mau sedikit bicara tentang sejarah Muhammad Al Fatih atau di Barat dikenal dengan sebutan Mehmet The Conqueror. Ia adalah salah satu Khalifah masa Turki Utsmani yang berhasil menjadi orang pertama yang menaklukan Konstatinopel, kota megapolis saat itu, dalam usia sangat muda, sekitar 20 tahun. Dia pun mengubah gereja terbesar saat itu Ayasophia menjadi sebuah masjid yang indah. Muhammad Al Fatih jugalah yang mengubah nama Konstatinopel menjadi Istanbul.

Dengan beberapa usaha akhirnya orang tua saya mau menjadi sponsor total tiket bolak-balik Jakarta-Dubai-Istanbul. Alhamdulillah, tepat satu bulan setelahnya, Allah memperkenankan saya untuk pergi ke Turki. Sesampainya di Turki, saya diterima dengan baik oleh Cumhur, Hamza, Luthfu, dan Selman serta komunitas Sufi dan masyarakat Turki di Istanbul, Karabuk, Ankara, Safranbolu, dan Kurtakoy.

Penerimaan masyarakat Turki membuat saya sangat terharu. Saat itu rasanya menjadi someone, begitu hati ini berbisik. Mulut saya pun tak henti menyanyikan Asma Allah karangan Sami Yusuf selama perjalanan dari Ankara ke Karabuk. Saya melambung manakala dosen-dosen di Karabuk Universitesi mengelu-elukan agar saya dapat mengajar, menjadi profesor di sana. Pengalaman asyik juga hadir saat saya berkunjung ke Sekolah Kejuruan Logam di Karabuk, saya merasakan bagaimana jadi seorang Barrack Obama, di sana orang-orang ingin bersalaman dengan saya, sampai saya masuk mobil pun orang-orang itu masih ingin bersalaman dengan saya! Pada sebuah kesempatan bahkan saya juga sempat menyampaikan kuliah subuh pada para jamaah yang kebanyakan jauh lebih tua daripada saya.

Pada beberapa kesempatan saya sempat diajak untuk bertemu dengan Grand Master Sufi di Istanbul yaitu Usman Nuri Topbas Hoca Efendi. Ini adalah pengalaman yang berharga untuk bisa bertemu dengan beliau, padahal belaiu adalah salah satu tokoh masyarakat yang cukup disegani di Istanbul. Dalam kesempatan lain saya juga sempat berdiskusi dengan Grand Master Sufi di Ankara, Ibrahim Ethem Hoca Efendi. Oh ya, di Turki mayoritas penduduknya mengamalkan hidup tasawuf, sehingga para tokoh sufi menjadi sangat disegani di sana. Mungkin sama seperti pemujaan orang Iran terhadap para mullahnya.

Sebelum pulang saya diberi kenang-kenangan sebuah cincin unik dari seorang gadis kecil bernama Fetime. Sebuah momen yang unik dan kalau diingat bisa membuat saya kangen dengan hangatnya Turki.

Mereka para penduduk Anatolia memang luar biasa istimewa, mereka dengan hangat berkenan menerima saya dengan penuh cinta seperti itu. Saya pun sangat bersyukur karena Allah memberi rezeki pada saya untuk bersilaturrahim di Anatolia, The Land of Love, tanahnya cinta.

***
Menulis artikel ini membuat saya teringat doa syukur nabi Sulayman AS (an Naml ayat 19):

Happy traveling! semoga kita semua selalu dapat mensyukuri nikmat Allah dan selalu dalam lindunganNya. Amin.



NB:
Kisah detail perjalanansaya (dalam bahasa inggris) di Turkey ada di http://itbrother.blogspot.com/search/label/First%20Journey%20in%20Turkey

Foto-foto selama di Turkey bisa di lihat d sini (tidak perlu login):
http://www.facebook.com/album.php?aid=104143&id=1377845424&l=348c425f1d

Blog Pribadi fahmi:
http://fahmimachda.wordpress.com