Pages

5/3/09

Anatolia: The Land of Love

Text & photo by Fahmi Machda

______________________________









Kontributor

Fahmi Machda, seorang calon mahasiswa King Abdullah University of Science and Technology. Seorang penikmat kuliner handal dan traveler yang rendah hati. Pengemar batik dan majalah Harvard Business Review.

______________________________


Awal persinggahansaya di Anatolia sebenarnya bermula dari sebuah pertemuan yang mengesankan depan Ka'bah Saat musim haji akbar pada bulan Desember 2006. Saat itu saya dipertemukan oleh Allah dengan empat saudara muslim dari Turki. Mereka adalah Cumhur, Hamza, Luthfu, dan Selman. Peristiwa itu terjadi tepat di lantai tiga Masjidil Haram, dekat Pintu Malik Fahd, yang diapit dua bangunan yang super-duper tinggi; Hotel Hilton Mekkah dan Istana Malik Abdul Aziz Al-Saud. Biasanya para penghuni Misfalah (salah satu nama bagian di kota Mekkah), akan masuk melalui pintu ini untuk ke Baitullah.

Setelah berbincang panjang lebar, saya dan teman Turki saya pun menjadi sangat dekat. Cumhur Abi pun tak segan untuk mengundangsaya ke Turki. “Please come to Turkiye. You only need one ticket to come in and back. I'll cover all the cost when you are in Turkiye.” Ungkapnya kurang lebih. Wah dengan harga minimal saya bisa dapat pengalaman maksimal nih. Akhirnya dengan rasa penasaran yang amat sangat akan indahnya Negri Muhammad Al-Fatih dan jiwa petualang yang berapi-api, akhirnya saya merencanakan untuk pergi ke Turki di bulan September 2008.

Tidak sabar rasanya hati ini untuk menikmati pesona negeri kaum sufi ini. Sedangkan Anatolia sendiri adalah suatu wilayah di Asia Barat, yang hampir seluruhnya ditempati Republik Turki saat ini. Kata tersebut berasal dari bahasa yunani, yang berarti 'tanah tempat matahari terbit', diberi nama seperti itu, karena dulu wilayah tersebut dikuasi Romawi Timur dimana mereka menerima sinar matahari lebih dulu dibanding negeri bagian Romawi yang lain.

Saya juga mau sedikit bicara tentang sejarah Muhammad Al Fatih atau di Barat dikenal dengan sebutan Mehmet The Conqueror. Ia adalah salah satu Khalifah masa Turki Utsmani yang berhasil menjadi orang pertama yang menaklukan Konstatinopel, kota megapolis saat itu, dalam usia sangat muda, sekitar 20 tahun. Dia pun mengubah gereja terbesar saat itu Ayasophia menjadi sebuah masjid yang indah. Muhammad Al Fatih jugalah yang mengubah nama Konstatinopel menjadi Istanbul.

Dengan beberapa usaha akhirnya orang tua saya mau menjadi sponsor total tiket bolak-balik Jakarta-Dubai-Istanbul. Alhamdulillah, tepat satu bulan setelahnya, Allah memperkenankan saya untuk pergi ke Turki. Sesampainya di Turki, saya diterima dengan baik oleh Cumhur, Hamza, Luthfu, dan Selman serta komunitas Sufi dan masyarakat Turki di Istanbul, Karabuk, Ankara, Safranbolu, dan Kurtakoy.

Penerimaan masyarakat Turki membuat saya sangat terharu. Saat itu rasanya menjadi someone, begitu hati ini berbisik. Mulut saya pun tak henti menyanyikan Asma Allah karangan Sami Yusuf selama perjalanan dari Ankara ke Karabuk. Saya melambung manakala dosen-dosen di Karabuk Universitesi mengelu-elukan agar saya dapat mengajar, menjadi profesor di sana. Pengalaman asyik juga hadir saat saya berkunjung ke Sekolah Kejuruan Logam di Karabuk, saya merasakan bagaimana jadi seorang Barrack Obama, di sana orang-orang ingin bersalaman dengan saya, sampai saya masuk mobil pun orang-orang itu masih ingin bersalaman dengan saya! Pada sebuah kesempatan bahkan saya juga sempat menyampaikan kuliah subuh pada para jamaah yang kebanyakan jauh lebih tua daripada saya.

Pada beberapa kesempatan saya sempat diajak untuk bertemu dengan Grand Master Sufi di Istanbul yaitu Usman Nuri Topbas Hoca Efendi. Ini adalah pengalaman yang berharga untuk bisa bertemu dengan beliau, padahal belaiu adalah salah satu tokoh masyarakat yang cukup disegani di Istanbul. Dalam kesempatan lain saya juga sempat berdiskusi dengan Grand Master Sufi di Ankara, Ibrahim Ethem Hoca Efendi. Oh ya, di Turki mayoritas penduduknya mengamalkan hidup tasawuf, sehingga para tokoh sufi menjadi sangat disegani di sana. Mungkin sama seperti pemujaan orang Iran terhadap para mullahnya.

Sebelum pulang saya diberi kenang-kenangan sebuah cincin unik dari seorang gadis kecil bernama Fetime. Sebuah momen yang unik dan kalau diingat bisa membuat saya kangen dengan hangatnya Turki.

Mereka para penduduk Anatolia memang luar biasa istimewa, mereka dengan hangat berkenan menerima saya dengan penuh cinta seperti itu. Saya pun sangat bersyukur karena Allah memberi rezeki pada saya untuk bersilaturrahim di Anatolia, The Land of Love, tanahnya cinta.

***
Menulis artikel ini membuat saya teringat doa syukur nabi Sulayman AS (an Naml ayat 19):

Happy traveling! semoga kita semua selalu dapat mensyukuri nikmat Allah dan selalu dalam lindunganNya. Amin.



NB:
Kisah detail perjalanansaya (dalam bahasa inggris) di Turkey ada di http://itbrother.blogspot.com/search/label/First%20Journey%20in%20Turkey

Foto-foto selama di Turkey bisa di lihat d sini (tidak perlu login):
http://www.facebook.com/album.php?aid=104143&id=1377845424&l=348c425f1d

Blog Pribadi fahmi:
http://fahmimachda.wordpress.com

3 comments:

fajjar_nuggraha said...

ane baru tau nih gan...
kalau mas fahmi dah haji...

lutfiana said...

it's not just travelling! Boi, kapan ya ane bisa dapet beasiswa kayak beliau itu? sampek luar negeri gitu, huuhh jurusanku gada program double degree gini...

aklam said...

@ lutfiana
yoopo masku maknyus yo! yo iku mangkane adike yo melok maknyus...