Pages

5/3/09

Sure Lof, It's Edensor


Text & photo by Bambang Arif Rahman
___________________










Kontributor

Bambang Arif Rahman adalah seorang mahasiswa S2 di Leeds University, UK. Gemar membaca apa saja, termasuk filsafat yang menjadi satu kesukaannya. Tipe traveler yang juga seorang penikmat film dari berbagai macam genre.

___________________

Serial novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov, telah memasuki edisi cetak yang kesekian puluh. Novel yang sangat menggugah semangat para pencari ilmu ini kisahnya memang terasa lebih manusiawi jika dibandingkan dengan novel-novel fiksi karya pengarang Indonesia lainnya. Kenyataan ini semakin dibuktikan dengan box office-nya film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel yang sama beberapa saat yang lalu di bioskop-bioskop seluruh nusantara. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia menyempatkan diri untuk ikut melihat film besutan Riri Reza tersebut.

Penulis yang telah membaca ke-empat novel tersebut, menjadi penasaran dengan sebuah tempat yang bernama Edensor, yang menjadi salah satu judul dalam novel tersebut. Apalagi Andrea Hirata menjelaskan Edensor ini dengan cukup piawai, yakni sebagai sebuah tempat yang indah di Inggris. Saking terkesannya dengan Edensor, Ikal (nama Andrea Hirata dalam ke-empat novel tersebut) mengunjungi Edensor sampai dua kali selama masa belajarnya di Eropa. Kunjungan kedua ke Edensor disinggung dalam novel terakhirnya, Maryamah Karpov.

Inggris sebelah mana Edensor ini gerangan berada? Saya yang kebetulan juga sedang belajar di Inggris menjadi penasaran untuk ikut mengunjungi Edensor ini. Setelah berbincang-bincang dengan beberapa teman Indonesia -yang ternyata juga penasaran dengan Edensor- maka kami cari Edensor di Inggris sesuai dengan gambaran Andrea Hirata. Akhirnya ketemulah tempat tersebut yakni Edensor (baca: Enzer) di Bakewell, Derbyshire County, East Midlands, Inggris. Ini termasuk di daerah Peak Districts. Dengan mengajak teman-teman Indonesia, beberapa saat yang lalu saya mengunjungi Edensor.

Perjalanan
Berangkat dari Leeds, tempat saya studi, pagi hari dengan naik bus National Express, kami menuju ke kota Sheffield. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu jam melalui Motor Way (semacam jalan tol kalau di Indonesia tetapi tidak bayar) antar kota yang mulus khas jalanan Eropa. Dari Interchange Sheffield (bus and train station) perjalanan dilanjutkan dengan bus lokal ke Edensor selama kurang lebih satu jam. Kami membeli tiket bus ke sopir sekalian yang PP, sehingga lebih murah.

Setelah bus berjalan beberapa menit, mulailah terasa indahnya alam pedesaan Inggris yang eksotik. Apalagi waktu itu menjelang musim gugur. Daun-daun yang kemerah-merahan dan kekuning-kuningan khas musim gugur bertebaran dimana-mana sepanjang mata memandang. Kanan-kiri adalah areal pertanian berikut areal peternakan kambing yang luas. Kambing-kambing ini dilepaskan dalam satu areal berpagar seluas kira-kira 2 hektar, dirawat dan dibiarkan sehari-hari disitu hingga tiba waktunya diproduksi. Rumah-rumah abad pertengahan masih banyak yang berdiri gagah di desa-desa di pinggir jalan maupun dikejauhan di lereng-lereng bukit seolah-olah seperti dalam cerita dunia para peri Eropa. Juga sungai-sungai yang berkelok-kelok dengan airnya yang bening di lembah-lembah membuat iri hati karna di Indonesia kita mulai jarang menyaksikan sungai dengan air yang jernih dan bersih.

Ketika menjelang satu jam perjalanan, kami menanyakan Edensor kepada sopir. Oh, rupanya sudah dekat. Namun, ketika sudah sampai dan kita akan turun, Pak Sopir agak sedikit heran dan ragu, kenapa kami turun di Edensor. Dia bilang; “Bukankah Chatsworth Castle masih di depan ?” O la la, kita juga baru tahu bahwa ternyata di sekitar situ, yang terkenal sebagai tempat wisata tujuan para pelancong yang berkunjung adalah sebuah kastil tua dari abad ke 15, tempat tinggal keluarga ningrat The Duke of Devonshire dengan keluarga The Cavendish-nya, yaitu kastil Chatsworth. Sementara, Edensor hanyalah desa kecil dengan beberapa penduduk dan sebuah gereja tua.

Benarkah Andrea Hirata ke Edensor yang satu ini? Kalau membaca deskripsi dalam novelnya, sepertinya tidak salah, Edensor inilah yang dimaksud. Memang indah, sebagaimana kebanyakan desa-desa di Inggris yang memang indah. Tetapi, kenapa tidak terlalu terkenal? Saya baru menyadarinya bahwa kebanyakan kita pun baru tahu Edensor dari novelnya Andrea Hirata tersebut. Sehingga orang-orang Inggris sendiri tidak terlalu merasakan hal itu. Edensor terkenal bagi turis-pelajar Indonesia di Inggris, tapi tidak bagi orang lain.

Edensor
Pada mulanya, Edensor merupakan desa ditepi sungai Derwent, tidak jauh dari Edensor yang sekarang. Lebih tepatnya, berdampingan dengan kastil Chatsworth ini. Akan tetapi, pada abad ke 18, penghuni kastil Chatsworth, yakni para ningrat, karena merasa pemandangan dari dalam kastil terhalang oleh desa Edensor. Oleh karena itu, atas titah mereka, maka Edensor dipindah ke tempatnya yang sekarang. Kira-kira1 km dari kastil Chatsworth.

Edensor memang hanya sebuah desa kecil. Satu jam berkeliling barangkali sudah selesai. Selain gereja tua St. Peter yang dibangun pada tahun 1800-an, ada juga coffee shop dan rumah-rumah penduduk yang letaknya naik turun mengikuti kontur tanah Edensor yang sedikit berbukit. Dipinggir desa, ada padang-padang rumput hijau khas Inggris. Dan di kejauhan adalah pohon-pohon dan hutan seperti pinus yang daun-daunnya merah, kuning, hijau menyolok cukup indah. Di halaman gereja St. Peter di Edensor ini terdapat komplek pemakaman kecil. Diantara yang dimakamkan di sini adalah saudara perempuan dari Presiden John F. Kennedy dari Amerika Serikat, yaitu Kathleen Kennedy yang juga merupakan istri dari anak The Duke of Devonshire ke-10. John F. Kennedy selama masa kepresidenannya, pernah mengunjungi makam saudara perempuannya di Edensor ini.

Chatsworth House
Setelah kurang lebih satu jam berkeliling Edensor sambil foto-foto, maka berkunjung ke kastil Chatsworth sepertinya menjadi wajib. Karna sudah nanggung, jaraknya cukup dekat, sementara waktunya masih cukup. Kami berjalan kaki ke kastil Chatsworth sambil menikmati indahnya pemandangan alam di sekitar Edensor. Di suatu lereng dalam perjalanan ini kami menemukan banyak pohon apel liar di sana sini dengan buahnya yang berjatuhan di tanah, ndak ada yang peduli. Tanpa dikomando, kami segera ambil buah apel yang masih segar dan memakannya. Lumayan, untuk ganjal perut sambil menunggu makan siang.


Setelah sampai kastil, pemandangan yang kami dapatkan memang jauh lebih indah. Ini bisa dipahami karna kastil ini terawat rapi dan bersih. Kastil ini besar dan megah khas bangunan abad 17. Ada biaya tersendiri kalau masuk ke dalam kastil bagi yang berminat untuk melihat-lihat suasana kediaman para ningrat Inggris di masa lalu.

Di dalam kastil kami saksikan segala macam kemewahan khas para raja. Lukisan-lukisan, ruang-ruang pribadi, kamar-kamar tidur, lorong-lorong antar kamar dan antar lantai, maupun tempat ibadah individual yang tentu tidak akan dinikmati oleh rakyat kebanyakan. Diluar kastil, taman-taman yang luas dan ditata rapi terbentang mengelilingi kastil. Bahkan ada air terjun atau jeram kecil yang diciptakan untuk menambah eloknya kastil ini. Air dari atas bukit, diatur mengalir lirih menuju ke arah kastil, yang selanjutnya bermuara pada kolam air mancur dipinggir kastil sekaligus untuk mengairi tanam-tanaman di seluruh taman. Tidak heran kalau kastil Chatsworth ini terkenal juga dengan nursery-nya. Berbagai hal yang terkait dengan pertamanan dijual di kastil ini; pupuk, bibit bunga, alat-alat pertamanan, cara menanam dan merawat bunga, dan sebagainya.

Mungkin karena bagusnya kastil ini, maka beberapa film yang dibintangi oleh aktor kondang pernah dibuat dengan latar kastil Chatsworth ini seperti; Pride and Prejudice (2005), The Duchess (2008) yang dibintangi oleh Keira Knightley dan Ralph Fiennes, dan The Wolfman (2009) yang dibintangi oleh Benicio del Toro dan Anthony Hopkins. Inggris memang selalu serius dalam menjual tempat-tempat wisatanya. Termasuk wisata masa lalu yang sangat mudah kita temukan di seantero negeri ini. Kebersihan, Kenyamanan, keindahan, yang terwujud dalam toko-toko souvenir, café, toilet yang bersih, keterangan yang jelas, selalu terdapat di setiap tempat wisata. Demikian halnya di kastil Chatsworth. Sehingga, dengan membayar 5 pound (Rp 75.000,- kurs 1 pound = Rp 15.000,-) untuk masuk ke dalam area kastil terasa tidak terlalu mahal.

Setelah berkeliling selama hampir 3 jam di kastil Chatsworth, kami menunggu jam keberangkatan bus dari halte di depan kastil Chatsworth untuk kembali ke Sheffield. Salah satu keunggulan wisata dan sekaligus transportasi di Inggris adalah adanya angkutan umum yang nyaman, terjangkau dan tepat waktu ke berbagai tempat wisata. Para turis, termasuk kami, selalu diuntungkan dengan keadaan ini. Karena bisa mengatur waktu dengan efisien dan tepat. Demikian juga sore itu, bus yang membawa kami kembali ke Sheffield datang tepat waktu di halte kastil Chatsworth sebagaimana yang tertera di jadwal. Selanjutnya, dari Sheffield kami pulang kembali ke Leeds.

Rekaman perjalanan ini jadinya lebih banyak bercerita tentang kastil Chatsworth dibandingkan dengan cerita tentang Edensor. Dalam kenyataannya memang demikian. Edensor sangat terkenal bagi warga Indonesia lewat novel Laskar Pelangi, sementara kastil Chatsworth di dekatnya lebih terkenal bagi turis selain Indonesia. Mereka barangkali malah tidak ambil pusing dengan Edensor. Namun demikian, seperti kata teman-teman di Indonesia, kalau ke Inggris kok belum ke Edensor rasanya kurang afdhol.

8 comments:

Zayn Zesha said...

Edensor itu novel paling kurang ajar yang pernah kubaca....

aklam said...

Kalo paling bagus sih enggak mal, cuman novel edensor itu cukup menggetarkan saya, damn!

fajjar_nuggraha said...

ehehehe
aku belum baca?

XpresiKu said...

salam kenal..

fotonya keren2....salut, mohon
pencerahannya
visit my blog : www.andysphotoartwork.blogspot.com
( maaf kl blogku krg berkenan, fotona diambil sr kamera hp ato kamera digital aja ?

aklam said...

@ XpresiKu

hehe oke, sering2 berkunjung saja. oke gan menuju blog anda :)

lutfiana said...

seperti postingan2 sebelumnya, jangan ASEM iku rasane seger.....!

ria said...

kekuatan imajinasi andrea yang bikin edensor indah.. keren ya..

hihi.salam kenal. nice blog!!
:)

aklam said...

@ ria
hoho iya, salam kenal juga!