Pages

6/28/09

Sarangan Lake: Boating on the Wet Floor


Text and photo by Galih Setyo

________________________________________









Kontibutor
Galih Setyo adalah seorang penggiat alam bebas. Aktif di kegiatan kepanduan dan menyukai trekking. Motto hidupnya seperti anak pandu di seluruh dunia; a scout protects nature, a scout is joyfu
l! Sebagai seorang petualang dan fresh enjineer Galih bisa ditemui di blog pribadinya myscoutchemistry.wordpress.com.
________________________________________

Terakhir kali saya ke Telaga Sarangan sekitar enam tahun yang lalu, dalam sebuah studi tour yang diadakan ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) semasa saya SMA dulu. Tapi Telaga Sarangan memang belum banyak berubah, selain akses jalan yang sudah semaki bagus. Bahkan tampaknya juga telah dibangun sebuah jalan tembus melalui Cemoro Sewu menuju daerah wisata di Tawangmangu yang menyediakan panorama air terjun Grojogan Sewu. Tentu saja jalan lintas Cemoro Sewu ini sangat membantu para traveler yang ingin melakukan trip dari Sarangan di Magetan menuju Tawangmangu di Karanganyar.

Setalah enam tahun berselang akhirnya beberapa waktu yang lalu saya akhirnya bisa mengunjungi Sarangan lagi. Kali ini bukan dalam rangka KIR, tapi saya mengikuti rombongan Pramuka dari SMKN I dan SMK PGRI Bojonegoro saat mengadakan outbond. Sarangan memang salah satu tempat yang sangat asyik untuk mengadakan kegiatan alam bebas seperti outbond atau trekking. Udaranya yang segar dan dingin semakin bertambah indah dengan lanskap pegunungan yang bebas kontaminasi.

Telaga Sarangan yang juga dikenal sebagai Telaga Pasir ini terletak di kaki Gunung Lawu. Tepatnya di Kecamatan Plaosan, kira-kira 16 kilo arah barat Kota Magetan. Telaga yang luasnya 30 hektar dengan kedalaman 28 meter ini menawarkan banyak hal menarin yang bisa di ekplorasi bagi para traveler. Begitu banyak pilihan untuk menikmati keindahan Telaga Sarangan. Jalan kaki mengelilingi danau adalah cara terbaik! Dengan begitu berarti Anda memanjakan paru-paru dengan asupan oksigen segar khas pegunungan. Menjadi sehat? Itu pasti! Namun sayangnya itu juga merupakan cara tercepat untuk membuat kaki Anda gempor, kecuali telah meminum susu anti osteoporosis dosis dewa, hehehe.

Namun bagi Anda para traveler urban yang tidak mau capek berjalan mengelilingi telaga, bisa memanfaatkan jasa sewa kuda yang banyak terdapat di sana. Jika ingin merasakan sensasi yang berbeda dalam menikmati keindahan telaga, para hifatlobrainer juga bisa menggunakan jasa sewa speedboat dengan tarif 40 ribu sekali putaran. Tapi empatpuluh ribu itu mungkin akan terlihat percuma, kecepatan speedboat akan membawa Anda berkeliling danau dalam beberapa menit, seperti melakukan seluncur pada lantai basah. Cepat-tidak terasa-namun menyenangkan.

Bagi yang menginginkan jungle tracking, juga disediakan beberapa jalur trekking yang menarik di sebelah barat telaga, alurnya menyusuri indahnya kaki Gunung Lawu. Obyek wisata lain yang dapat ditemuka berupa air terjun Tirtosari, sekitar 3 kilometer dari telaga. Perjalanan menuju air terjun dengan ketinggian 20 meter ini juga sangat menarik; sembari menyusuri jalur irigasi, traveler akan disuguhi pemandangan kebun sayur dengan sistem terasering yang indah dengan latar perbukitan yang tinggi menjulang. Subhanallah.

Telaga Sarangan memiliki beberapa event penting yang diadakan setiap tahunnya; Labuh Sesaji pada Jumat Pon di bulan Sya'ban, Ledug Sura pada tanggal sakral 1 Muharram, dan pesta kembang api di malam pergantian tahun. Bagi Anda para pecinta kuliner, jangan lupa untuk mencicipi nikmatnya sate kelinci Telaga Sarangan yang terkenal. Cukup dengan 6000 rupiah, para hifatlobrainer bisa menikmati 1 porsi sate kelinci yang maknyuss. Tekstur dagingnya pun tidak alot, sangat lembut.

Hifatlobrainer pun tidak perlu khawatir jika ingin membawa oleh-oleh. Ada banyak pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai jenis souvenir. Mulai dari kerajinan kerang, anyaman bambu, sampai rangkaian bunga edelweiss yang indahnya abadi itu.

How to get there:
Traveler dari kawasan Surabaya akan melewati jalur sebagai berikut: Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Madiun/Ngawi-Magetan-Sarangan. Jika menggunakan moda transportasi umum Anda bisa mencari bis dari Bungurasih menuju Madiun, lalu lanjut menuju Magetan. Kalo pake Sumber Kencono jurusan Jogja juga bisa berhenti di Terminal Maospati, terus lanjut naik elf ke Sarangan.

Kalo gak salah sih ada bis jurusan Surabaya-Magetan namanya PO Indrapura. Tapi saya tidak tahu eksistensinya.

Sampai Sarangan juga banyak motel yang bisa menampung Anda para traveler kere. Motel dengan kamar yang lumayan bagus dihargai sekitar kurang dari duaratus ribu semalam. Tapi kalo lagi banyak duit dan mau pesta bujang mending nyewa vila saja :p

Okey, selamat mencoba….

6/21/09

Bulgarian Rose


photo by Surip Mawardi
dituliskan kembali oleh Ayos Purwoaji
____________________________________









Kontributor
Surip Mawardi adalah seorang travel worker yang sudah menjelajahi banyak negara. Beberapa waktu yang lalu diundang untuk menghadiri Worldwide Symposium on Geographical Indications di Sofia Bulgaria. Seorang dengan tipe family person dan juga penikmat kopi.
____________________________________

Menuju Sofia, ibukota negara Bulgaria bukan perkara mudah. Saya harus terbang selama kurang lebih 20 jam dengan rute Surabaya-Jakarta-Singapura-Frankfurt-Sofia. Sangat melelahkan memang, namun Bulgaria dengan segala pesonanya membuat passion saya terus terjaga.

Negara yang pernah jadi bagian dari Uni Sovyet ini merupakan negara yang unik. Termasuk negara yang kecil dengan penduduk yang sangat sedikit, populasinya hanya sekitar delapan juta orang saja. Jauh lebih lengang ketimbang Jakarta. Banyaknya bangunan tua yang masih kokoh berdiri di seantero negeri membuat nuansa masa lalu semakin kental terasa.

Bulgaria sendiri memiliki pengaruh budaya campuran antara Roma dan Ottoman. Hal itu nampak dari bentuk arsitektur bangunan yang mereka miliki, banyak memiliki arch dan paduan warna duotone khas Ottoman namun pada detil relief dan fresco dengan gaya Roma. Kalo melihat pakaian adatnya Anda juga akan mengira itu adalah pakaian adat Turki, pengaruh Ottoman selama 300 tahun memang lekat sekali dengan kehidupan masyarakat Bulgaria.

Namun yang paling menarik dari Bulgaria adalah mawarnya. Jika belanda boleh dikenal dengan tulipnya, maka Bulgaria bolehlah kita sebut dengan negeri mawar karena bunga ini merupakan komoditas nasional Bulgaria. Saya pun sempat mengunjungi Research Institute for Roses Aromatic and Medicinal Plant yang berada di daerah Kazanlak, sekitar tiga setengah jam perjalanan dari Sofia.

Karena mawar begitu penting bagi masyarakat Bulgaria, maka mereka pun banyak menjajakan aneka olahan mawar atau souvenir yang berkaitan dengan mawar. Saya pun memborong banyak souvenir parfum kecil beraroma mawar dengan botol kayu yang diukir cantik seharga limabelasribuan rupiah.

Bulgaria juga merupakan negara penghasil bakteri yoghurt terbesar di dunia. Jepang dan beberapa negara penghasil yoghurt mengimpor bakterinya dari Bulgaria. Bisa jadi minuman Yakult yang sering Anda minum bakterinya juga berasal dari Bulgaria.

Silahkan dinikmati photoshoot saya.

Katedral St Alexander Nevsky, selesai dibangun pada 1912
digunakan sebagai tempat beribadat Kristen Orthodox,
agama mayoritas masyarakat Bulgaria (sekitar 80 persen).


Saya berfoto di depan Research Institute for Roses
Aromatic and Medicinal Plants di Kazanlak.


Sebuah perkebunan mawar yang luas di Kazanlak,
mawar adalah komoditas penting di Bulgaria. Difoto dengan
latar belakang landscape negeri Balkan yang indah.


Seorang wanita dengan pakaian adat menawari saya kue selamat datang
yang bertekstur manis. Lagi-lagi diatasnya diberi hiasan mawar.


Penari pria ini membawakan tarian selamat datang.
Gaya busana mereka sangat dipengaruhi oleh budaya Turki Ottoman.
Mereka membawa sekeranjang besar mawar.

Penari cilik dengan pakaian adat. Memperagakan sebuah tarian
dengan gerak melingkar. Peci mereka meningatkan saya pada
Mustafa Kemal Ataturk, bapak pembaharuan bangsa Turki.


Tradisi kuno tolak bala. Sebagai bagian dari rangkaian tari
selamat datang. Masyarakat Bulgaria masih memegang
teguh mistisme dalam hidup mereka.


Sheraton Sofia Hotel Balkan adalah bangunan 2-in-1.
Siapa sangka dibalik hotel tempat saya menginap ini juga
berfungsi sebagai Istana Kepresidenan.


Sebuah ritual pengusir setan. Sang shaman menggunakan
kostum khas berbulu dan menabuh kendi-kendi besi
yang dililit di pinggangnya.


Bunga mawar yang habis dipanen. Bunga-bunga ini
selanjutnya diekstrak dan dibuat berbagai macam hal,
salah satunya parfum mawar khas Bulgaria.


Museum of History. Di dalamnya banyak hal menarik yang menjelaskan
asal usul bangsa Bulgaria. Bangsa Bulgaria adalah keturunan bangsa
penunggang kuda Madara yang hidup sekitar abad ke-8.

Hifatlobrain Call For Contributor


Untuk Anda para traveler yang ingin membagi kisah perjalanan selama liburan, maka Anda bisa menjadi kontributor kami. kami menerima berbagai artikel yang berhubungan dengan traveling, kuliner, dan fotografi. Syaratnya mudah, objek dan destinasi Anda haruslah unik dan sebisa mungkin belum pernah diangkat menjadi sebuah tulisan di Hifatlobrain. Lalu;

1. Tuliskan pengalaman Anda dalam format word atau notepad.
2. Panjang tulisan maksimal 2000 kata.
3. Sertakan foto yang paling menarik disertai keterangan gambar.
4. Foto yang dikirimkan haruslah dalam keadaan high resolution.
5. Tuliskan profil Anda dan foto wajah yang jelas.
6. Lampirkan link atau sumber terkait (optional)
7. Kirimkan ke redaksi Hifatlobrain: punyaku_3@yahoo.com

Kami akan mengedit tulisan Anda terlebih dahulu sehingga memiliki citarasa Hifatlobrain. Oke gan, ada pertanyaan?

Salam,
Hifatlobrain

Suramadu at a Glance

Text and photo by Winda Savitri

Pemberitaan di berbagai media masa akhir-akhir ini membuat saya semakin penasaran. Suramadu yang katanya jembatan terpanjang se-Asia Tenggara itu katanya sudah selesai dibangun. Bahkan sudah boleh dilewati oleh para pengendara mobil dan motor. Bahkan saking monumentalnya, Pak Presiden sendiri harus turun tangan untuk meresmikannya. Perasaan curious itu semakin menjadi-jadi ketika diberitakan bahwa dalam masa uji coba jembatan gagah ini bisa dilewati secara gratis! Apa salahnya menjadi bagian dari sejarah, saya pun memprovokasi seluruh keluarga untuk turut serta dalam gegap gempita merayakan jembatan yang menghubungkan Jawa-Madura.

***
Perjalanan menuju Suramadu dari rumah nyatanya juga dihantui ketakutan. Sembari mendengarkan berita dari mobil, radio Suara Surabaya memberitakan bahwa terjadi kemacetan yang luar biasa panjang di Suramadu. Ribuan pengendara antre menyeberang melalui jembatan Suramadu. Wups, rombongan kami pun panik, alamat gak jadi nyeberang nih, daripada ntar macet di tengah. Padahal dari rumah kami sudah membawa peralatan dan amunisi liburan lengkap, bahkan kamera digital pus sudah ready saya bawa.

Berita di radio Suara Surabaya semakin menjadi-jadi. Kabar kontribusi dari warga sekitar pun mengatakan jika antrian menuju Madura panjangnya sampai sebelas kilometer! WTH! Apa-apaan ini. Ternyata yang merasa curious terhadap jembatan ini tidak hanya kami, ribuan orang juga turut penasaran dan ingin mencoba merasakan sensasinya sendiri. Suara Surabaya memberitakan bahawa kemacetan disebabkan oleh banyaknya kendaraan yang berhenti di tengah jembatan hanya karena para pengemudinya ingin narsis dan melakukan photo session di atas jembatan. Petugas Bina Marga dan Polisi pun dibuat sibuk menghimbau warga untuk kembali melaju dengan menggunakan mobil patroli. Paraah.

Tapi dasar bonek, langkah kami tidak surut dengan berita-berita itu. Membayangkan Madura dan tiket gratis membuat passion kami meluap-luap. Tak apalah macet panjang, tak apalah panas siang, tak apalah capek dan otot tegang, yang penting gratiis! Hahaha. Jadi harap maklum saja.

Dalam perjalanan menuju jembatan, kami pun disambut sebuah billboard raksasa yang dipasang pada jembatan penyeberangan yang dibuat menyerupai konstruksi jembatan Suramadu; welcome to Suramadu. Masuk ke pintu tol kami diberi tiket melintas dengan harga yang tertera nol rupiah. Kami pun tambah sumringah. Hahaha Maduraaa here i come!

***
Ketika sampai di tengah jembatan, keheranan saya bertambah. Ternyata berita dari Suara Surabaya benar, saya menyaksikan pemandangan yang bikin kepala pening. Banyak sekali pengendara motor yang dinaiki oleh lima orang dengan formasi bapak-ibu plus anak tiga, seperti sirkus di siang terik. Apalagi kondisi angin di atas jembatan yang kencang membuat para pengendara motor itu rawan jatuh. Haduh gusti kok ya dibelani sampe segitunya ya.

Euforia itu juga sangat terasa ketika melihat suasana macet total di jalur kendaraan roda dua. Apalagi posisinya tepat di bentang tengah jembatan, suasananya jadi ironis; mau maju ke Madura ndak bisa, mau mundur ke Surabaya juga ndak mungkin. Akhirnya beberapa pengemudi pun memiliki inisiatif untuk memindahkan motornya yang ratusan kilo itu ke jalur roda empat, dengan cara diangkut melewati pagar pembatas yang luar biasa tinggi. Memang benar, kemampuan manusia itu bakal optimal ketika kepepet. Hehehe. Saya cuman bisa menghela nafas dan tidak bisa berkomentar lagi.

Adapula pengendara yang memlintas dengan menggunakan motor dengan bak terbuka di belakang untuk mengangkut sanak saudaranya mengunjungi Madura. Walau akhirnya moda transportasi jenis ndak jelas ini dilarang melintasi Suramadu. Tapi itu masih mendingan, nah yang saya lihat ada yang lebih ekstrem lagi; ban motor pecah di tengah Suramadu! mampus gak tuh, walhasil akhirnya pengendara apes itu pun harus menuntun motornya kembali ke Surabaya, menyusuri bentang tengah Suramadu di siang hari yang panasnya naujubilah itu. FYI, panas udara di Suramadu pada siang hari bisa mencapai 35 derajat celcius, itu baru suhu udaranya, nah permukaan aspal panasnya berkali-kali lipat lebih jahat. Sangat cukup untuk membuat orang dehidrasi. Saya pun dapat ide, mungkin jika saya punya usaha tambal ban di Suramadu pasti bakal laku keras! hehehe.

Saran saya sih buat para pengendara motor roda dua kalo mau melintais jembatan Suramadu harap diperhatikan perbekalannya, jangan sampe kehabisan bensin di tengah jembatan. Juga jangan lupa dengan prinsip safety riding. Membawa air minum juga tak kalah pentingnya, karena memang pada siang hari jembatan ini panas pol.

Hmm itu saja cerita ajaib saya dari liputan pembukaan Suramadu Bridge. Kami dari redaksi Hifatlobrain mengucapkan semoga jembatan ini bisa awet sampe seratus tahun sesuai dengan perencanaan konstruksinya. Buat para tangan jahil mbok ya jangan suka nyolong mur dan baut jembatan. Tok keselamatan manusia lebih mahal ketimbang harga mur baut di jual kiloan.

Sekian dan terima kasih.

nb:
Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumentasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!



6/9/09

Home Project


"...The price to pay is high, but it is too late to be a pessimist..."
(Home Film)

Sudah tau ada film baru di bioskop dengan judul Home? Ada beberapa ramuan yang membuat saya merekomendasikan Anda sekalian untuk nonton: gambarnya luar biasa indah, narasinya menggugah, musiknya dahsyat, dan gratisan! Ya, film ini disediakan secara gratis oleh produsernya, Yann Arthus-Bertrand, di Youtube. Dan serentak diputar pada tanggal 5 Juni yang lalu di seluruh dunia secara gratis pula. Keren bukan.

Awalnya saya tahu Yann Arthus-Bertrand dari forum TEDtalks, dia diundang untuk memamerkan koleksi alamnya yang ndak biasa. Baru setelahnya saya diberitahu sama Yoppi kalo Home ini adalah filmnya Yann Arthus-Bertrand saya langsung cari di Youtube. Niat awalnya sih mau cari trailernya, eh malah disuruh download full-length filmnya. Siip! Apalagi download rate di ITS Online lagi tinggi ya udah saya download aja.

Sembari nunggu download yang selama satu-setengah jam, saya pun sempatkan untuk nonton filmnya via streaming langsung dari Youtube. Wah gambarnya memang luar biasa. Kebanyakan diambil dari aerial angle. Jadi bumi keliahatan patterned gitu. Saya sih ngelihatnya kalo Home itu seperti kumpulan footage indah yang dijadikan satu dan diberi musik serta narasi. Kualitas footagenya ciamik, diambil dengan angle yang tapat dan tidak biasa. Itu yang jadi kelebihan mendasar dari film ini. At least saya harus kasih lima bintang buat kualitas fotografisnya. Super!

Home sendiri menurut saya merupakan ramuan yang cantik dari The Inconvenient Truth dan Earth. Ditambah lagi gambarnya sekualitas National Geographic. Maknyuuus pemirsaaa. Saya memang suka banget sama film-film kayak Home, film yang berkampanye tentang kehidupan di planet bumi yang luar biasa indah.

Aah saya sih ndak bisa berkata banyak kecuali bilang kalo ini film: remarkable!

Home dalam angka:
14 bahasa terjemahan
87 negara bakal muter Home
217 hari syuting dalam 18 bulan
733 video kaset sepanjang 500 jam shoot
54 negara dan 120 lokasi pengambilan gambar

NB:
All the photograph is taken from Home official page

Langsung aja download filmnya di:
http://www.youtube.com/user/homeproject

6/5/09

Awesome Trip To Ijen Crater

Text: Dwi Putri
Photo: Ulet Ifansasti (Getty Images)

____________________________________________










Text Contributor
Dwi Putri adalah seorang traveler dan hiker. Suka membaca buku, khususnya travel novel. Terobsesi dengan Trinity dengan Naked Travelernya. Sedang menyukai lomografi, dan seorang movie freak sejati. Status: sedang mencari, tolong carikan.











Photo Contributor
Ulet Ifansasti adalah seorang fotojurnalis Indonesia yang bekerja untuk Getty Images. Karya-karyanya yang berbau human interest banyak dijadikan rujukan banyak media yang menulis tentang Indonesia. Karya-karyanya di bawah ditampilkan di Boston Big Picture. Seluruh foto yang ditampilkan merupakan hak cipta Ulet Ifansasti.
____________________________________________

Akhirnya saya ke Ijen juga. Awalnya, saya berniat ga jadi ikut karena (sok) sibuk mengejar deadline skripsi yang sudah H-30. Tapi friends are like angels... and demons. Semakin banyak yang daftar ikutan ke Ijen, semakin saya merasa diiming-imingi. Yah karena iman saya terhadap kuliah tidak begitu kuat, saya putuskan ikut juga. Akhirnya Sabtu sore, 30 Mei 2009, saya naik Logawa menuju Jember bersama 3 travelmates lainnya.

Esok paginya kami pun berangkat, rombongan trip kali ini dengan komposisi 9 jejaka dan 4 gadis. Kami berangkat ke Bondowoso menggunakan 2 mobil. Kami baru meninggalkan Jember sekitar jam 6 pagi, padahal kesepakatan sebelumnya kami akan bertolak dari Jember setelah subuh. Ini semua akibat Dipta, driver kami yang bangun kesiangan.

Mobil kami melaju mengikuti jalur lupa-lupa-ingat-nya Afrian, memasuki Wonosari-Sempol Bondowoso jalanan semakin sempit dan semakin rusak. Perjalanan terasa semakin lama, apalagi jika di depan ada truk pengangkut sayur, wuih, harus sabar kuadrat!. Tapi kesabaran kami didukung oleh udara segar selama perjalanan, jadi ndak usah khawatir bakal kepanasan selama perjalanan. Selain udara yang segar, mata kita bakal dimanjakan oleh pemandangan hutan pinus yang berjajar rapi di kanan dan kiri jalan.

Akhirnya kita sampai di pos perkebunan Kalisat pukul setengah sembilan pagi. Di sini kita istirahat sebentar, ke toilet dan mengisi data pengunjung. Untuk sekedar mengisi data ternyata tidak gratis, di sini kami ditarik ‘uang sukarela’ sama petugasnya. Setelah registrasi perjalanan pun kami lanjutkan, kali ini jejeran pohon kopi dan vegetasi pakis-pakisan menemani kami di sisi jalan. Padang teletubbies seperti di Bromo juga banyak terlihat di sini. Untungnya jalanan sudah tidak gronjalan seperti awal. Hanya pengemudi harus ekstra hati-hati karena semakin banyak tikungan tajam yang bisa menjadi berbahaya kalo berpapasan dengan kendaraan lain.

Setalah jalan sekitar setengah jam, kami pun sampai di pos kedua. Petugas jagawana meminta kami untuk melakukan registrasi lagi, hanya saja kali ini kami tidak perlu bayar hehe. Ia pun menanyakan tujuan kami, apakah ke Kawah Ijen atau ke Air Terjun Belawan. Setelah semua Urusan beres, kami melanjutkan perjalanan lagi. Kami memasuki pedesaan dengan bentuk rumah yang hampir seragam; halaman depan yang tidak terlalu besar dibagi menjadi beberapa petak dan tiap petak ditanami berbagai sayuran yang berbeda seperti wortel, kubis dan bawang. Beberapa rumah bahkan diberi kolam ikan kecil beserta aksesoris manis pagar bambu selutut. Wah, saya jadi kangen main harvest moon...

Tepat pukul setengah sepuluh, rombongan kami sampai di Pos Paltuding (1600 mdpl) yang merupakan pos terakhir sebelum pendakian ke Kawah Ijen. Beberapa teman menyempatkan diri untuk makan. Saran saya sih, jangan terlalu mengisi perut sampai penuh, karena dikhawatirkan akan muntah selama pendakian. Selanjutnya kami memulai perjalanan menuju Kawah Ijen. Sebelum mendaki cuaca sempat berubah, gerimis pun turun, kami berdoa semoga cuaca tidak bertambah buruk. Tiket masuk pendakian 1500 per orang, murah meriah bukan?

Jalanan langsung menanjak tanpa ada pemanasan. Sebenarnya jalanan cukup lebar, tapi jalan paling aman adalah mengikuti jalur setapak bapak-bapak penambang belerang karena cukup banyak pasir di sisi jalan yang bisa membuat kami terpeleset kapan saja. Saran saya kalo Anda berpapasan dengan para penambang, jangan ngotot tetap di jalur setapak, mendingan minggir aja daripada ditubruk.

Setelah kilometer pertama berlalu, wuah, rasanya kaki sudah ndak sanggup jalan, napas juga ngos-ngosan, apalagi buat saya yang jarang olahraga. Padahal jalannya udah sangat santai, tapi naiknya itu ya Allah... Dengan muka pucat, kami pun mantap melanjutkan perjalanan. Padahal perjalanan masih jauh dan jalan semakin nanjak.

Udara memang dingin skali, tapi badan terasa panas dan berat. Kalo kita berhenti, sekujur tubuh pasti terlihat dikelilingi uap. Keren banget yak! hehehe...

Sepanjang perjalanan kita akan banyak berpapasan dengan para penambang belerang. Ndak kebayang gimana rasanya memanggul batu belerang di pundak. Bawa tubuh saya sendiri saja beratnya masyaallah, apalagi nambah yang lain. Para penambang itu, dari yang muda sampai yang tua, paling tidak dua kali bolak-balik mengangkut belerang. Setiap jalannya ngangkut batu belerang seberat 70-80 kg. Wuih, kayak gini nih baru yang namanya The Master! Harganya pun tak sepadan, Setiap kilo belerang dihargai 600 rupiah saja (speechless mode: ON). Untuk menambah penghasilan, mereka menjajakan souvenir kura-kura kecil dari belerang yang dijual seharga seribu rupiah.

Sebaiknya jika ingin mendaki saya sarankan lebih pagi karena semakin siang kabut akan semakin tebal dan suhu akan lebih rendah. Ada yang bilang, kalau malam hari bisa mencapai nol derajat. Uwow.

Sewaktu kita istirahat di pepohonan, ada mas penambang yang menyapa, ”Come on, masih jauh loh, eh rombongan dari mana nih?” Saya melongo melihatnya masih bisa cengar-cengir dengan bawaan 80 kg di pundaknya. ”Dari jember, Mas,” jawab kami ngos-ngosan. ”Oh okey, yang semangat ya! Good bye,” ujar masnya meninggalkan kami cepat. Hehe, gaul banget dah mas itu. Wajahnya juga kayak bintang pilem kung fu lho!

Setelah kilometer kedua kami beristirahat lagi di pos Pondok Bunder. Di sana ada tempat penimbangan belerang juga. Saya melihat sendiri ada bapak penambang yang menimbang belerangnya: 75 kg. Ow yeah! Di pos itu juga jual makanan seadanya, mie goreng, nasi dan air mineral. Siapa tau ada pendaki amatir yang laper mendadak.

Sesampainya di kilometer ketiga kami sudah mendekati kawah, namun kabut smakin tebal. Kami mulai ngomel-ngomel, takut kawahnya tidak terlihat. Sia-sia dong perjalanan gila kami! Padahal kalo langit cerah, di sebelah kiri bakal terlihat jurang-jurang, tapi ini washout! Tidak terlihat apa-apa. Namun kita cukup terhibur dengan jejeran pohon-pohon yang tinggal kerangka rantingnya saja. Berasa syuting video klip. Hehehe.

Setelah melewati berbagai rintangan dan cobaan, akhirnya sampai juga saya di puncak kawah. Benar, nyampe sana ga kelihatan apapun. Ya Allah, padahal kaki kami dah pegel dan gempor kayak gini. Tapi setelah lama-lama diperhatikan kepulan asap dan kabutnya mulai menipis, dan kayak di film-film: pemandangan aslinya mulai terlihat sedikit-sedikit. Yeaaah, kami pun kegirangan! Sebuah kawah belerang cantik dengan warna hijau toska menampakkan diri. Cap cuus! Total hampir 3 jam kita mendaki sampai kawah, capek itu terbayar sudah.

Tujuh orang dari kami memutuskan turun ke kawah. Padahal setahu saya, jalur itu hanya diperbolehkan untuk penambang saja. Tapi berhubung tidak ada jagawana yang liat akhirnya anak-anak pada nekat. Para gadis ndak ikut turun karena ada yang phobia ketinggian. Heran juga, phobia kok bisa nyampe ke tempat dengan ketinggian 2400 mdpl gini, haha.

Tidak lama setelah para lelaki turun, tiba-tiba angin membawa asap belerang ke tempat kami berpijak. Spontan aja kami lari berhamburan cari perlindungan sambil terbatuk-batuk. Jalanan di depan tidak terlihat, sampai ada bapak ibu yang tiba-tiba memanggil kami dan menyarankan bersembunyi di balik batu besar bersama mereka. Uwo, dan kita pun menggerumbul jadi satu, menutup mata, menahan napas, dan tidak berbicara sama sekali, tapi sibuk komat-kamit berdoa. Atas saran si Bapak, slayer kami dibasahi dengan air dulu sebelum digunakan untuk menutup hidung. Tapi tetap saja terasa gatal di tenggorokan dan batuk-batuk sampe pengen muntah. Bingung, napas ga enak, ga napas lebih ga enak lagi. Hehe.

Ndak berapa lama kemudian serangan asap belerang mulai hilang terbawa angin. Saya sempat bertanya kepada bapak penambang yang baru naik dari kawah di bawah, apakah bertemu teman-teman lelaki saya yang tadi turun. Kata si bapak dengan santai, ”Ada, lagi sekarat di bawah dik,” Uwwoo saya gembira mendengar mereka sekarat. Setelah naik mereka bercerita keadaan di bawah saat serangan asap terjadi. Setiadi yang tadi ikut turun katanya sempet cuci tangan di kawah untuk pesugihan hehehe, nggak ding, iseng aja, ada sensasi gatel katanya.

Si kawah tosca itu muncul lagi perlahan. Kali ini terlihat tambah cap cus. Matahari sedang bersahabat. Riak-riak kawah tampak seperti gelombang emas, dan uap di tengah kawah seperti sedang dipause, berhenti mengambang di atas permukaan. Subhanallah, cakep sekali pokoknya. Meski setelahnya terjadi beberapa kali serangan asap belerang lagi, tapi kami sudah ahli mengatasinya, sudah punya bunker juga. Hehe.

Setelah puas menikmati kawah tosca, dan karena kabut semakin meriah dengan udara dingin menusuk-nusuk maka kita putuskan untuk kembali ke Pos Paltuding. Karena tadi naiknya menanjak, otomatis turunnya meluncur, lari-lari kayak dikejar anjing. Susah mengerem kaki kita sendiri, kecuali bawa tongkat, saya sendiri sempet terpleset. Perjalanan turun hanya memakan kurang lebih satu setengah jam saja. Cepat dan kilat, apalagi kita udah laper sembari membayangkan makanan wajib di Ijen: mie instan kuah panas pake telor plus nasi seharga 6000 rupiah. Krucuk.

Alhamdulillah, walaupun di Jember hujan sedang marah besar, di Ijen kita tidak kebasahan sama sekali kecuali oleh keringat sendiri. Try this trip guys, it’s worth it!

NB:
Thanks to Allah SWT atas keindahan yang telah diciptakan dan kesempatan bagi kami untuk menikmatinya. Esspecially buat 12 sahabat saya yang irreplaceable: Kiki, Githa, Decy, Andre, Dipta, Martha, Irsyad, Rian, Ari, Setz, Nurul, Fajar, hatur nuhun sudah mengajak saya.

Buat Mas Aklam dan Mbak Winda, maafkan kalo my first debut ini biasa-biasa aja rasanya, ayo kita ke Ijen bareng. U have to see it with ur own eyes, biar afdol :)

Terimakasih buat mas Ulet Ifansasti atas foto-foto penambang belerangnya yang cakep luarbiasa. Saya ambil dari koleksi Big Picture:
http://www.boston.com/bigpicture/2009/06/sulfur_mining_in_kawah_ijen.html

Sebuah fakta menarik kalo Kawah Ijen adalah danau asam terbesar di dunia!
http://news.softpedia.com/news/The-Largest-Acid-Lake-on-Earth-81388.shtml

6/4/09

VIDEO:WRK Surabaya International Video Festival 2009


Festival ini akan dilaksanakan pada tanggal 9 sampai 13 Juni 2009 bertempat di Galeri Surabaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya. Ini adalah sebuah festival video art internasional pertama yang diadakan di Surabaya tercinta. Pesertanya meski masih didominasi oleh seniman nasional tapi ada juga beberapa artist internasional yang bakal memamerkan karyanya.

Perlu diketahui yang dimaksud artist internasional di sini bukanlah Beyonce atau Tom Hanks, melainkan para pelaku seni dari mancanegara. Salah satunya adalah Denis Brun, seorang visual artist dari Perancis yang akan membuka workshop pada tanggal 9 Juni di STIKOM Surabaya sebagai salah satu rangkaian acara VIDEO:WRK Surabaya International Video Festival 2009.

Sebagai sebuah festival, program-program yang diadakan selama VIDEO:WRK berlangsung adalah, pameran, workshop, diskusi (artist talk), VJ gathering dan performance act.Semua program terbuka untuk umum dan tidak dikenakan biaya apapun.

Untuk pameran video, festival membuka kesempatan bagi peserta yang mengajukan karya (open call) dan peserta undangan yang telah dipilih sebelumnya oleh pihak panitia.

Untuk karya video yang akan dipamerkan, festival ini menitikberatkan pendekatan kekaryaan: karya bebas (medium video) dengan penekanan experimentasi terhadap medium video baik penggunaan software maupun hardware, strategi visual, narasi/anti narasi dan penuh rangsangan keberanian melakukan eksplorasi dalam konteks mencari atau menggali sekaligus menghancur-leburkan kemungkinan-kemungkinan baru (video art).

Ayo-ayo para pecinta seni dan video silahkan dateng, mari kita ramaikan acara kebanggan arek-arek Suroboyo iki. Sekaligus memompa pertumbuhan industri kreatif di kota metropolis bengis ini.

Contact Person:
guntur rekso pati (bjouw) 031-60340508
gunturreksopati@gmail.com
salah1majukedepan@yahoo.com
aghastyoghalis@yahoo.com