Pages

6/5/09

Awesome Trip To Ijen Crater

Text: Dwi Putri
Photo: Ulet Ifansasti (Getty Images)

____________________________________________










Text Contributor
Dwi Putri adalah seorang traveler dan hiker. Suka membaca buku, khususnya travel novel. Terobsesi dengan Trinity dengan Naked Travelernya. Sedang menyukai lomografi, dan seorang movie freak sejati. Status: sedang mencari, tolong carikan.











Photo Contributor
Ulet Ifansasti adalah seorang fotojurnalis Indonesia yang bekerja untuk Getty Images. Karya-karyanya yang berbau human interest banyak dijadikan rujukan banyak media yang menulis tentang Indonesia. Karya-karyanya di bawah ditampilkan di Boston Big Picture. Seluruh foto yang ditampilkan merupakan hak cipta Ulet Ifansasti.
____________________________________________

Akhirnya saya ke Ijen juga. Awalnya, saya berniat ga jadi ikut karena (sok) sibuk mengejar deadline skripsi yang sudah H-30. Tapi friends are like angels... and demons. Semakin banyak yang daftar ikutan ke Ijen, semakin saya merasa diiming-imingi. Yah karena iman saya terhadap kuliah tidak begitu kuat, saya putuskan ikut juga. Akhirnya Sabtu sore, 30 Mei 2009, saya naik Logawa menuju Jember bersama 3 travelmates lainnya.

Esok paginya kami pun berangkat, rombongan trip kali ini dengan komposisi 9 jejaka dan 4 gadis. Kami berangkat ke Bondowoso menggunakan 2 mobil. Kami baru meninggalkan Jember sekitar jam 6 pagi, padahal kesepakatan sebelumnya kami akan bertolak dari Jember setelah subuh. Ini semua akibat Dipta, driver kami yang bangun kesiangan.

Mobil kami melaju mengikuti jalur lupa-lupa-ingat-nya Afrian, memasuki Wonosari-Sempol Bondowoso jalanan semakin sempit dan semakin rusak. Perjalanan terasa semakin lama, apalagi jika di depan ada truk pengangkut sayur, wuih, harus sabar kuadrat!. Tapi kesabaran kami didukung oleh udara segar selama perjalanan, jadi ndak usah khawatir bakal kepanasan selama perjalanan. Selain udara yang segar, mata kita bakal dimanjakan oleh pemandangan hutan pinus yang berjajar rapi di kanan dan kiri jalan.

Akhirnya kita sampai di pos perkebunan Kalisat pukul setengah sembilan pagi. Di sini kita istirahat sebentar, ke toilet dan mengisi data pengunjung. Untuk sekedar mengisi data ternyata tidak gratis, di sini kami ditarik ‘uang sukarela’ sama petugasnya. Setelah registrasi perjalanan pun kami lanjutkan, kali ini jejeran pohon kopi dan vegetasi pakis-pakisan menemani kami di sisi jalan. Padang teletubbies seperti di Bromo juga banyak terlihat di sini. Untungnya jalanan sudah tidak gronjalan seperti awal. Hanya pengemudi harus ekstra hati-hati karena semakin banyak tikungan tajam yang bisa menjadi berbahaya kalo berpapasan dengan kendaraan lain.

Setalah jalan sekitar setengah jam, kami pun sampai di pos kedua. Petugas jagawana meminta kami untuk melakukan registrasi lagi, hanya saja kali ini kami tidak perlu bayar hehe. Ia pun menanyakan tujuan kami, apakah ke Kawah Ijen atau ke Air Terjun Belawan. Setelah semua Urusan beres, kami melanjutkan perjalanan lagi. Kami memasuki pedesaan dengan bentuk rumah yang hampir seragam; halaman depan yang tidak terlalu besar dibagi menjadi beberapa petak dan tiap petak ditanami berbagai sayuran yang berbeda seperti wortel, kubis dan bawang. Beberapa rumah bahkan diberi kolam ikan kecil beserta aksesoris manis pagar bambu selutut. Wah, saya jadi kangen main harvest moon...

Tepat pukul setengah sepuluh, rombongan kami sampai di Pos Paltuding (1600 mdpl) yang merupakan pos terakhir sebelum pendakian ke Kawah Ijen. Beberapa teman menyempatkan diri untuk makan. Saran saya sih, jangan terlalu mengisi perut sampai penuh, karena dikhawatirkan akan muntah selama pendakian. Selanjutnya kami memulai perjalanan menuju Kawah Ijen. Sebelum mendaki cuaca sempat berubah, gerimis pun turun, kami berdoa semoga cuaca tidak bertambah buruk. Tiket masuk pendakian 1500 per orang, murah meriah bukan?

Jalanan langsung menanjak tanpa ada pemanasan. Sebenarnya jalanan cukup lebar, tapi jalan paling aman adalah mengikuti jalur setapak bapak-bapak penambang belerang karena cukup banyak pasir di sisi jalan yang bisa membuat kami terpeleset kapan saja. Saran saya kalo Anda berpapasan dengan para penambang, jangan ngotot tetap di jalur setapak, mendingan minggir aja daripada ditubruk.

Setelah kilometer pertama berlalu, wuah, rasanya kaki sudah ndak sanggup jalan, napas juga ngos-ngosan, apalagi buat saya yang jarang olahraga. Padahal jalannya udah sangat santai, tapi naiknya itu ya Allah... Dengan muka pucat, kami pun mantap melanjutkan perjalanan. Padahal perjalanan masih jauh dan jalan semakin nanjak.

Udara memang dingin skali, tapi badan terasa panas dan berat. Kalo kita berhenti, sekujur tubuh pasti terlihat dikelilingi uap. Keren banget yak! hehehe...

Sepanjang perjalanan kita akan banyak berpapasan dengan para penambang belerang. Ndak kebayang gimana rasanya memanggul batu belerang di pundak. Bawa tubuh saya sendiri saja beratnya masyaallah, apalagi nambah yang lain. Para penambang itu, dari yang muda sampai yang tua, paling tidak dua kali bolak-balik mengangkut belerang. Setiap jalannya ngangkut batu belerang seberat 70-80 kg. Wuih, kayak gini nih baru yang namanya The Master! Harganya pun tak sepadan, Setiap kilo belerang dihargai 600 rupiah saja (speechless mode: ON). Untuk menambah penghasilan, mereka menjajakan souvenir kura-kura kecil dari belerang yang dijual seharga seribu rupiah.

Sebaiknya jika ingin mendaki saya sarankan lebih pagi karena semakin siang kabut akan semakin tebal dan suhu akan lebih rendah. Ada yang bilang, kalau malam hari bisa mencapai nol derajat. Uwow.

Sewaktu kita istirahat di pepohonan, ada mas penambang yang menyapa, ”Come on, masih jauh loh, eh rombongan dari mana nih?” Saya melongo melihatnya masih bisa cengar-cengir dengan bawaan 80 kg di pundaknya. ”Dari jember, Mas,” jawab kami ngos-ngosan. ”Oh okey, yang semangat ya! Good bye,” ujar masnya meninggalkan kami cepat. Hehe, gaul banget dah mas itu. Wajahnya juga kayak bintang pilem kung fu lho!

Setelah kilometer kedua kami beristirahat lagi di pos Pondok Bunder. Di sana ada tempat penimbangan belerang juga. Saya melihat sendiri ada bapak penambang yang menimbang belerangnya: 75 kg. Ow yeah! Di pos itu juga jual makanan seadanya, mie goreng, nasi dan air mineral. Siapa tau ada pendaki amatir yang laper mendadak.

Sesampainya di kilometer ketiga kami sudah mendekati kawah, namun kabut smakin tebal. Kami mulai ngomel-ngomel, takut kawahnya tidak terlihat. Sia-sia dong perjalanan gila kami! Padahal kalo langit cerah, di sebelah kiri bakal terlihat jurang-jurang, tapi ini washout! Tidak terlihat apa-apa. Namun kita cukup terhibur dengan jejeran pohon-pohon yang tinggal kerangka rantingnya saja. Berasa syuting video klip. Hehehe.

Setelah melewati berbagai rintangan dan cobaan, akhirnya sampai juga saya di puncak kawah. Benar, nyampe sana ga kelihatan apapun. Ya Allah, padahal kaki kami dah pegel dan gempor kayak gini. Tapi setelah lama-lama diperhatikan kepulan asap dan kabutnya mulai menipis, dan kayak di film-film: pemandangan aslinya mulai terlihat sedikit-sedikit. Yeaaah, kami pun kegirangan! Sebuah kawah belerang cantik dengan warna hijau toska menampakkan diri. Cap cuus! Total hampir 3 jam kita mendaki sampai kawah, capek itu terbayar sudah.

Tujuh orang dari kami memutuskan turun ke kawah. Padahal setahu saya, jalur itu hanya diperbolehkan untuk penambang saja. Tapi berhubung tidak ada jagawana yang liat akhirnya anak-anak pada nekat. Para gadis ndak ikut turun karena ada yang phobia ketinggian. Heran juga, phobia kok bisa nyampe ke tempat dengan ketinggian 2400 mdpl gini, haha.

Tidak lama setelah para lelaki turun, tiba-tiba angin membawa asap belerang ke tempat kami berpijak. Spontan aja kami lari berhamburan cari perlindungan sambil terbatuk-batuk. Jalanan di depan tidak terlihat, sampai ada bapak ibu yang tiba-tiba memanggil kami dan menyarankan bersembunyi di balik batu besar bersama mereka. Uwo, dan kita pun menggerumbul jadi satu, menutup mata, menahan napas, dan tidak berbicara sama sekali, tapi sibuk komat-kamit berdoa. Atas saran si Bapak, slayer kami dibasahi dengan air dulu sebelum digunakan untuk menutup hidung. Tapi tetap saja terasa gatal di tenggorokan dan batuk-batuk sampe pengen muntah. Bingung, napas ga enak, ga napas lebih ga enak lagi. Hehe.

Ndak berapa lama kemudian serangan asap belerang mulai hilang terbawa angin. Saya sempat bertanya kepada bapak penambang yang baru naik dari kawah di bawah, apakah bertemu teman-teman lelaki saya yang tadi turun. Kata si bapak dengan santai, ”Ada, lagi sekarat di bawah dik,” Uwwoo saya gembira mendengar mereka sekarat. Setelah naik mereka bercerita keadaan di bawah saat serangan asap terjadi. Setiadi yang tadi ikut turun katanya sempet cuci tangan di kawah untuk pesugihan hehehe, nggak ding, iseng aja, ada sensasi gatel katanya.

Si kawah tosca itu muncul lagi perlahan. Kali ini terlihat tambah cap cus. Matahari sedang bersahabat. Riak-riak kawah tampak seperti gelombang emas, dan uap di tengah kawah seperti sedang dipause, berhenti mengambang di atas permukaan. Subhanallah, cakep sekali pokoknya. Meski setelahnya terjadi beberapa kali serangan asap belerang lagi, tapi kami sudah ahli mengatasinya, sudah punya bunker juga. Hehe.

Setelah puas menikmati kawah tosca, dan karena kabut semakin meriah dengan udara dingin menusuk-nusuk maka kita putuskan untuk kembali ke Pos Paltuding. Karena tadi naiknya menanjak, otomatis turunnya meluncur, lari-lari kayak dikejar anjing. Susah mengerem kaki kita sendiri, kecuali bawa tongkat, saya sendiri sempet terpleset. Perjalanan turun hanya memakan kurang lebih satu setengah jam saja. Cepat dan kilat, apalagi kita udah laper sembari membayangkan makanan wajib di Ijen: mie instan kuah panas pake telor plus nasi seharga 6000 rupiah. Krucuk.

Alhamdulillah, walaupun di Jember hujan sedang marah besar, di Ijen kita tidak kebasahan sama sekali kecuali oleh keringat sendiri. Try this trip guys, it’s worth it!

NB:
Thanks to Allah SWT atas keindahan yang telah diciptakan dan kesempatan bagi kami untuk menikmatinya. Esspecially buat 12 sahabat saya yang irreplaceable: Kiki, Githa, Decy, Andre, Dipta, Martha, Irsyad, Rian, Ari, Setz, Nurul, Fajar, hatur nuhun sudah mengajak saya.

Buat Mas Aklam dan Mbak Winda, maafkan kalo my first debut ini biasa-biasa aja rasanya, ayo kita ke Ijen bareng. U have to see it with ur own eyes, biar afdol :)

Terimakasih buat mas Ulet Ifansasti atas foto-foto penambang belerangnya yang cakep luarbiasa. Saya ambil dari koleksi Big Picture:
http://www.boston.com/bigpicture/2009/06/sulfur_mining_in_kawah_ijen.html

Sebuah fakta menarik kalo Kawah Ijen adalah danau asam terbesar di dunia!
http://news.softpedia.com/news/The-Largest-Acid-Lake-on-Earth-81388.shtml

18 comments:

kin2 ^^ said...

sanget inspiratif!!! dan saya cinta mati sama foto-fotonya :)

Agitha said...

Putrekkkkk...kok ga ada cerita waktu insiden kentutnya teman kita yang narsis itu ( aku takut kalo aku posting namanya, bisa turun pasaran dia....hehehehe)........
Emang bagus Ijen dahhh...ga rugi aku plinplan...ga rugi lupa skripsi...ga rugi kita ikut...hehehe

misstyzha said...

uhh fotonya memang maknyus pemirsaa..

sacharosa said...

selain 'cap nyuss' kata-kata yang sering dipake putri adalah 'uwo', sayang sudah diedit sama empunya blog.. hehe..

next trip?? ditunggu ibu ketua rombongan..

pyut said...

@ githa: irsyad ta?? hoho tersebutlah sudah tersangka utamanya... baguslah kalo pasarannya turun *ratu tega*
@ setz: sbnernya saya susa menggambarkan the beauty of ijen carter yang uwoo... 1000x dan cap nyuss... 1000x =D
monggo,, saya suda punya nomer hape orang yang biasa nyewain hardtop k sukamade...

didut said...

cool *ngiri sama ngeces*

noekriwil said...

setuju setz, mungkin kata "uwo" bisa menjadi ciri khasnya si putri, hehe

Navan said...

Saya tahu harus kemana liburan ini...

winda said...

woho, tempat yang menyenangkan :) tp kontras sekali pas nglihat foto pak2nya yang lagi manggul belerang swuper berat itu. jadi mesakke banget, sampe tulang belikatnya melorot, ditempat yang tidak semestinya.
indonesia...indonesia...
(geleng2 mode:ON)
hmm...

lutfiana said...

ijen, satu tempat yang harus saya kunjungi suatu saat nanti. InsyaAlloh Bang!

cokelatkeju said...

foto-fotonya bagus-bagus. yang jilbaban juga cantik. :hammer:

cokelatkeju said...

foto-fotonya bagus-bagus gan. yang jilbaban juga cantik. :hammer:

pyut said...

ow, ada suara mbak winda.. hehe.. beginilah kalo ga bawa fotografer,, 13 orang keren gagal nampang di blog cap nyus ini,, diganti ama foto miris bapak2 penambang...
(knapa si yos? kan ndak cocok ama tulisane.. hehe...)

@ cokelatkeju: hatur nuhun, sat.. suda mampir sungguhan.. hahaha.. see y @ yK..

sulih said...

hemm.apik ya PyuT...
ijonya eh toscanya mantaaafb kye...
ntar mw ah ksana,,
kapan yaaa..hehe,,

.sulih. said...

apik ya PyuT...
ijonyaaaa eh toscanyaaa..mantaaaafb..
mw ah ksana..
tapii kpan yaaa..hehe,,
ditunggu di jgj ya..

bayu said...

gile fotona.....stunnned.

mataku gak bisa lepas dari pikulan si bapak yang masuk ke punggung itu.

bayaran mereka satu hari nyampe cemban gak ya......
mana gak pake masker O2...byuh

up..up...

Anonymous said...

Ijen...jd inget perjalanan tahun 2007 lalu..
lwt jalur Bondowoso menembus hutan yg makin lama makin g jelas ujungnya...
ketemu titik terang pas di Pos Penjaga Hutan..

Jalur pulang melalui Banyuwangi...
Hutannya msh alami coy...lepas dr hutan langsung disambut peternakan lebah dg lanskap maknyuss..berbukit-bukit dg tanaman perdu..

Sampai akhirnya masuk ke sebuah perkampungan dg tata letak yg rapi dan simetris..pagar kayu yg hampir sama dan serasi...hmm sangat memanjakan mata..

Ren_D said...

weh keren fotone.... gak nyangka klo foto itu hasil jepretan fotografer cewek... karakternya dapet banget.... kayaknya perlu jempol orang sekampung buat beri kata salut buat foto2nya.

ren_d