Pages

6/21/09

Suramadu at a Glance

Text and photo by Winda Savitri

Pemberitaan di berbagai media masa akhir-akhir ini membuat saya semakin penasaran. Suramadu yang katanya jembatan terpanjang se-Asia Tenggara itu katanya sudah selesai dibangun. Bahkan sudah boleh dilewati oleh para pengendara mobil dan motor. Bahkan saking monumentalnya, Pak Presiden sendiri harus turun tangan untuk meresmikannya. Perasaan curious itu semakin menjadi-jadi ketika diberitakan bahwa dalam masa uji coba jembatan gagah ini bisa dilewati secara gratis! Apa salahnya menjadi bagian dari sejarah, saya pun memprovokasi seluruh keluarga untuk turut serta dalam gegap gempita merayakan jembatan yang menghubungkan Jawa-Madura.

***
Perjalanan menuju Suramadu dari rumah nyatanya juga dihantui ketakutan. Sembari mendengarkan berita dari mobil, radio Suara Surabaya memberitakan bahwa terjadi kemacetan yang luar biasa panjang di Suramadu. Ribuan pengendara antre menyeberang melalui jembatan Suramadu. Wups, rombongan kami pun panik, alamat gak jadi nyeberang nih, daripada ntar macet di tengah. Padahal dari rumah kami sudah membawa peralatan dan amunisi liburan lengkap, bahkan kamera digital pus sudah ready saya bawa.

Berita di radio Suara Surabaya semakin menjadi-jadi. Kabar kontribusi dari warga sekitar pun mengatakan jika antrian menuju Madura panjangnya sampai sebelas kilometer! WTH! Apa-apaan ini. Ternyata yang merasa curious terhadap jembatan ini tidak hanya kami, ribuan orang juga turut penasaran dan ingin mencoba merasakan sensasinya sendiri. Suara Surabaya memberitakan bahawa kemacetan disebabkan oleh banyaknya kendaraan yang berhenti di tengah jembatan hanya karena para pengemudinya ingin narsis dan melakukan photo session di atas jembatan. Petugas Bina Marga dan Polisi pun dibuat sibuk menghimbau warga untuk kembali melaju dengan menggunakan mobil patroli. Paraah.

Tapi dasar bonek, langkah kami tidak surut dengan berita-berita itu. Membayangkan Madura dan tiket gratis membuat passion kami meluap-luap. Tak apalah macet panjang, tak apalah panas siang, tak apalah capek dan otot tegang, yang penting gratiis! Hahaha. Jadi harap maklum saja.

Dalam perjalanan menuju jembatan, kami pun disambut sebuah billboard raksasa yang dipasang pada jembatan penyeberangan yang dibuat menyerupai konstruksi jembatan Suramadu; welcome to Suramadu. Masuk ke pintu tol kami diberi tiket melintas dengan harga yang tertera nol rupiah. Kami pun tambah sumringah. Hahaha Maduraaa here i come!

***
Ketika sampai di tengah jembatan, keheranan saya bertambah. Ternyata berita dari Suara Surabaya benar, saya menyaksikan pemandangan yang bikin kepala pening. Banyak sekali pengendara motor yang dinaiki oleh lima orang dengan formasi bapak-ibu plus anak tiga, seperti sirkus di siang terik. Apalagi kondisi angin di atas jembatan yang kencang membuat para pengendara motor itu rawan jatuh. Haduh gusti kok ya dibelani sampe segitunya ya.

Euforia itu juga sangat terasa ketika melihat suasana macet total di jalur kendaraan roda dua. Apalagi posisinya tepat di bentang tengah jembatan, suasananya jadi ironis; mau maju ke Madura ndak bisa, mau mundur ke Surabaya juga ndak mungkin. Akhirnya beberapa pengemudi pun memiliki inisiatif untuk memindahkan motornya yang ratusan kilo itu ke jalur roda empat, dengan cara diangkut melewati pagar pembatas yang luar biasa tinggi. Memang benar, kemampuan manusia itu bakal optimal ketika kepepet. Hehehe. Saya cuman bisa menghela nafas dan tidak bisa berkomentar lagi.

Adapula pengendara yang memlintas dengan menggunakan motor dengan bak terbuka di belakang untuk mengangkut sanak saudaranya mengunjungi Madura. Walau akhirnya moda transportasi jenis ndak jelas ini dilarang melintasi Suramadu. Tapi itu masih mendingan, nah yang saya lihat ada yang lebih ekstrem lagi; ban motor pecah di tengah Suramadu! mampus gak tuh, walhasil akhirnya pengendara apes itu pun harus menuntun motornya kembali ke Surabaya, menyusuri bentang tengah Suramadu di siang hari yang panasnya naujubilah itu. FYI, panas udara di Suramadu pada siang hari bisa mencapai 35 derajat celcius, itu baru suhu udaranya, nah permukaan aspal panasnya berkali-kali lipat lebih jahat. Sangat cukup untuk membuat orang dehidrasi. Saya pun dapat ide, mungkin jika saya punya usaha tambal ban di Suramadu pasti bakal laku keras! hehehe.

Saran saya sih buat para pengendara motor roda dua kalo mau melintais jembatan Suramadu harap diperhatikan perbekalannya, jangan sampe kehabisan bensin di tengah jembatan. Juga jangan lupa dengan prinsip safety riding. Membawa air minum juga tak kalah pentingnya, karena memang pada siang hari jembatan ini panas pol.

Hmm itu saja cerita ajaib saya dari liputan pembukaan Suramadu Bridge. Kami dari redaksi Hifatlobrain mengucapkan semoga jembatan ini bisa awet sampe seratus tahun sesuai dengan perencanaan konstruksinya. Buat para tangan jahil mbok ya jangan suka nyolong mur dan baut jembatan. Tok keselamatan manusia lebih mahal ketimbang harga mur baut di jual kiloan.

Sekian dan terima kasih.

nb:
Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumentasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!



6 comments:

lutfiana said...

quote of the day:

saya cinta jembatan, saya kagum sama jembatan..
menikmati sunset di jembatan, gak ada duanya..
lagi nunggu jalan tol Surabaya-Mojokerto jadi ni, trus ntar liat sunset disana.. HHmmhh.. mengigau mode on!

didut said...

tetapi baru beberapa hari dibuka lampu dan murnya sudah mulai menghilang :P

aklam said...

@ lutfi
uopoooo leee

@ mas didut
hehe iya mas, nguawur kabeh iku wong ******, tapi mau gimana lagi...
hehehe

winda said...

@lutfi :
lihat sunset dijembatan? ati2 masuk angin fiy :p...
suramadu ganas lho anginnya.

fitri said...

hwaaaaa.. apik ya e suramadu ne? btw, susah jg iku lek moro2 kentekan bensin nang tengah2 :D perlu ada patroli tuh dr DLLAJR

fiz-online said...

Saya sudah tiga kali menyeberangi Suramadu, tapi perasaan bangga sebagai warga Jawa Timur sekaligus takjub, tetap campur aduk jadi satu. Ada sensasi tersendiri saat menyeberangi jembatan seharga 4,5 triliun itu... :)