Pages

7/23/09

Bali Journal


Hifatlobrain special report by Ayos Purwoaji

Pulau Bali sudah dikenal sejak lama sebagai bagian terpenting pariwisata Indonesia. Perpaduan alamnya yang elok berpadu manis dengan budaya yang masih setia dijaga hingga hari ini. Bali modern ditawarkan oleh Denpasar dan kehidupan Kuta, dimana nuansa kosmopolisnya terasa sangat kental. Denpasar pun berubah seperti kota besar lain, Jakarta dan Surabaya. Tapi di sudut Bali yang lain, seperti di desa Sayan, Ubud, Bali menawarkan pesonanya yang lain. Nuansa modern tetap terasa dengan aturan adat yang dijaga ketat. Pesona alamnya yang indah memanjakan siapa saja yang ingin mencari balinya Bali.

Namun Bali Journal tidak hanya menghadirkan tulisan tentang Ubud, dalam beberapa tulisan akan digambarkan mengenai sebuah trip panjang melintasi dataran tertinggi di Bali dan pertemuan tak terduga dengan Jack Timor. Sebuah cerita yang menarik untuk diikuti.

Ayos Purwoaji, editor Hifatlobrain berkesempatan untuk menyelami kehidupan masyarakat Ubud. Tulisannya dirangkum dalam special report yang berjudul Bali Journal. Di dalamnya akan dijabarkan secara mendetail berbagai sudut hidup yang mungkin luput dari pemberitaan mainstream. Bali Journal akan ditulis dalam beberapa tulisan mandiri di bawah ini:

Sayan Living
Awesome Ceramic Experience
Enjoying Kintamani Coffee in Kintamani
Jack Timor
Nungnung: Downstair Paradise
Sacred Monkey van Ubud
Great Odalan Ceremony

Silahkan menikmati, dan selami kehidupan masyarakat Bali dalam berbagai tulisan dan gambar yang menarik dengan perspektif Hifatlobrain yang kental.

Salam traveling,
Hifatlobrain

Sayan Living

Text and photo by Ayos Purwoaji

Tulisan ini akan mengawali catatan perjalanan saya ke Pulau Dewata. Sebenarnya pergi ke Bali bukanlah pengalaman saya yang pertama. Dulu, dulu sekali, saya pernah ke Bali, mengunjungi beberapa tempat wisata mainstream dengan keluarga. Tapi tetap saja bagi saya perjalanan kali ini adalah sebuah perjalanan yang meninggalkan kesan begitu banyak.

Saya pergi ke Bali dengan motor butut saya, ditemani seorang travelmate tambun yang cukup antusias menemani saya menjelajah Bali. Travelmate saya namanya Navan, seorang happy traveler, yang bercita-cita untuk menjadi travel writer handal dan menjadi Menteri Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia kelak. Di Jogja, dia menjadi aktivis sebuah club traveling yang bernama CLR, kepanjangan dari Community of Lampah-Lampah Rajelas. Fortunately Navan adalah adik saya sendiri.

Perjalanan saya dimulai dari Jember, tempat saya tinggal. Sedari selesai subuh saya bersiap. Awalnya saya takut juga, mana bisa motor bebek tua saya melintasi medan berat Gunung Kumitir yang terkenal rawan dengan jalannya yang berkelok itu. Tapi ternyata motor saya memang bebek perjaka, Gunung Kumitir yang terjal pun lewat begitu saja. Menyusuri Banyuwangi pun terasa lebih mudah sekarang. Pelabuhan penyeberangan Ketapang pun saya capai dengan sekitar empat jam perjalanan dari Jember.

***
Sampai di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, kami berdua masih harus menyusuri Negara dan Tabanan untuk menemukan Denpasar. Itu menempuh sekitar lima jam perjalanan. Untungnya pemandangan alami di sepanjang jalan mengiringi kami menuju Denpasar. Tidak banyak hal yang bisa kami catat. Tujuan kami satu, segera menemukan Denpasar dan bertemu dengan teman saya, Yoga, anak ISI Bali yang akhirnya mengantarkan kami menuju Sayan, Ubud.

Awalnya Yoga agak bingung untuk menemukan sebuah desa bernama Sayan di tempat sekeren Ubud. Dengan bantuan Gusman, temannya yang tinggal di Ubud akhirnya kami menemukan desa Sayan dan mendapatkan penginapan di rumah seorang kepala banjar. Harga yang ditawarkan terbilang sangat murah dibandingkan dengan banyak hal yang bisa kita dapat.

Sebenarnya di Ubud sendiri banyak jasa penginapan dan homestay untuk para turis di sekitar Jalan Raya Ubud. Tapi konsekuensinya jelas: harganya mahal! lima kali lipat jika Anda mencari penginapan dan homestay di sekitar Sayan. Padahal jarak dari Sayan dan Ubud cukup dekat. Memang bagi low cost traveler seperti saya harus sedikit susah untuk mendapatkan harga yang jauh lebih murah.

Bapak kos saya adalah seorang kepala banjar di desa Sayan. Namanya Subakta, dia adalah seorang pemusik Bali yang bagus. Dalam sebuah pertunjukan ia bermain sebagai peniup seruling Bali, tugasnya memberikan nuansa dan rasa di tengah musik gamelan Bali yang terdengar rancak. Memainkannya sih bagi saya cukup susah, mulut harus digoyang-goyangkan untuk mendapatkan nada dan tempo yang pas. Saya melihatnya memainkan seruling saat saya mengikuti prosesi upacara Odalan di salah satu warga banjar. Pak Subakta setiap minggunya bermain di Four Seasons Resort. Ada dua kamar di rumahnya yang dijadikan kos. Saya tempati kamar yang lebih sederhana. Tempatnya di Bale Dauh, sebutan orang Bali untuk bagian rumah di sebelah barat.

Rumah pak Subakta sangat Bali. Selain dindingnya penuh ornamen khas Bali, setiap pagi saya disuguhi oleh bebunyian gamelan Bali. Sangat kontras dengan musik kesukaan anak pertama pak Subakta, Putu, yang menyenangi SID. Parahnya, kedua musik itu kadang disetel bersamaan dan sama kerasnya. Jadi saya sedikit mengalami gegar budaya. Hahaha. Kalo saya sendiri karena terlalu sering mengunjungi Pandawa, sebuah music store dan film bajakan di Ubud, malah jadi menyukai musik Buddha Bar series. Menurut saya musiknya asyik, perpaduan antara musik etnik suci Timur dipadukan dengan nuansa trance atau house yang lembut. Musiknya jadi chillout.

Intinya keluarga pak Subakta sangat asyik dan baik. Saya jadi betah dibuatnya. Mereka menganggap saya keluarga, dan saya pun bebas menggunakan mesin cuci mereka. Haha. Umm tapi saya agak ilfil sama anjing mereka, Selly. Pernah suatu saat saya pulang larut malam karena harus kerja overtime menyelesaikan desain ornamen keramik. Karena pintu rumah pak Subakta sudah dikunci maka saya terpaksa harus loncat lewat pagar, sepeda pun saya tinggal di luar. Jadilah Selly menggonggong melihat saya, dikira saya maling jemuran. Gak tahu tanpa dikomando akhirnya anjing tangga juga ikut-ikutan menggonggong keras sekali. Mampus. Eh tapi paginya motor saya yang diparkir di luar pagar masih utuh lho. Di Bali aman sekali orang taruh motor di pinggir jalan. Wah kalo di Surabaya udah ilang tuh.

***
Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk beradaptasi dengan masyarakat Sayan. Mereka sangat ramah dan penuh welcome. Mungkin karena itu Bali begitu dicintai para pelancong. Saya pun dalam minggu kedua sudah diajak jalan santai yang diadakan oleh karang taruna setempat. Saya pun ikut, sembari mengamati kebiasaan dan kesukaan anak muda Sayan. Jalan santainya sendiri cukup aneh; dilakukan pada malam hari. Perasaan kalo di Jawa yang namanya jalan santai itu selalu pagi dan Agustus deh.

Seperti yang sudah saya bilang, seperti Putu, kebanyakan anak muda Sayan adalah pecinta punkrock dan rockabilly. Kebanyakan dari mereka adalah Outsiders, para pengemar SID. Itu terpancar jelas dari dandanan dan gaya hidup mereka. Mabuk tuak dan arak Bali adalah hal lumrah yang diadakan anak muda seusia saya setiap saat sebelum tidur. Orang tua mereka pun sudah menerima itu sebagai sebuah bagian dari budaya. Biasanya mereka memulainya sejak umur belasan, sekitar SMP atau SMA awal. Anak muda Sayan juga kebanyakan memilih bekerja di usia muda dan tidak melanjutkan kuliah. Itu artinya mereka bisa membeli arak dengan duit mereka sendiri. Beberapa yang melanjutkan kuliah biasanya mengambil sekolah tinggi pariwisata, beberapa mengambil program sarjana, namun kebanyakan diploma.

Tapi meski begitu, mereka sangat menjaga budaya luhur mereka. Hampir setiap hari di Bali selalu ada upacara agama. Para muda ini pun membantu sebisanya. Kalo laki biasanya jago dekor, mereka mendekor apasaja. Saya pernah tau Putu bikin topeng Rangda, sebuah tokoh jahat dalam mitologi Bali, bagus sekali. Penuh detil, rambutnya dari rambut palsu yang ia beli di pasar Ubud. Saya baru tau ada setan yang rambutnya brownish. Hahaha. Kalo perempuan biasanya bikin hiasan janur. Uuh jangan tanya, sangat bagus. Bahkan cenderung rumit di beberapa bagian. Kalo upacara mereka menjadi seorang person yang berbeda. Dengan sarung dan ikat kepala khas mereka berubah menjadi kelihatan sangat taat.

***
Oh ya, saya juga mau cerita tentang makanan. Ada sebuah warung langganan saya, namanya warung bu Toyo. Dia orang Situbondo aseli, merantau ke Bali sejak puluhan tahun yang lalu dengan suaminya. Awalnya sang suami adalah kuli bangunan, namun saat ini mereka berdua membuat sebuah warung halal. Karena berada di dekat kos saya, jadi setiap hari saya nongkrong di sana kalo pagi. Kalo saya pikir lagi, ternyata pak Toyo itu mirip Arbain Rambey, hahaha.

Penganan khas yang paling saya sukai adalah tahu tek. Tahu tek bu Toyo beda dengan tahu tek yang ada di Surabaya, yang bikin terasa beda adalah sambel petisnya, khas bu Toyo. Ditambah rajangan lombok ijo yang bikin saya sakit perut, tapi ngangenin. Gorengan di warung ini juga enak. Menurut saya ini adalah warung paling murah di seluruh Sayan. Satu porsi tahu tek bu Toyo harganya empatribuan. Bandingkan dengan makanan padang dan tempe penyet yang rata-rata di Ubud harganya menjadi sekitar sepuluhribuan. Tahu tek di Bali disebut dengan Tahu Tipat, tipat artinya ketupat dalam bahasa Bali.


***
Di chapter terakhir dalam Living Sayan ini saya mau bilang kalo Sayan, desa tempat saya tinggal itu bagus banget viewnya! buat yang hobi foto pasti demen. Kamu mau cari sawah berundak ada, mau rafting juga ada. Di Sayan juga terdapat mata air suci, kalo orang Bali menyebut mata air dengan nama yeh. Banyak juga resor dan villa yang dibangun di Sayan. Salah satu yang paling terkenal di dunia adalah Villa Taman Bebek, interiornya pernah direview dalam buku desain interior dan arsitektur yang berjudul Inside Asia. Lewat pekarangan belakangnya kamu bisa lihat sungai Ayung dan hamparan sawah terasering yang Bali banget. Serong di seberang kos saya ada villa milik Laksamana Sukardi.

Ini saya kasih beberapa foto jepretan saya tentang desa Sayan.

Awesome Ceramic Experience

Text and photo by Ayos Purwoaji

Tidak salah saya pilih kerja praktek di Ubud, inspirasi menghampiri saya dari berbagai sisi. Ubud itu menurut saya setiap sudutnya indah. Dengan mudah Anda menemui banyak art gallery atau museum seni di sekitar jalan Raya Ubud. Ada unsur artistik yang kuat dicampur dengan perasaan merdeka untuk berkarya. Ubud adalah pusat destinasi utama jika anda ingin mencari kerajinan Bali, di sini pusatnya kriya. Jalanan pun tak ubahnya sebagai sebuah galeri bebas yang memanjang eksotis. Praktik kebudayaan juga masih kental di lakukan di Ubud.

Hal itu semakin lengkap dengan kondisi alam Ubud yang masih alami, jauh berbeda dengan Denpasar yang sudah hampir sama kayak Surabaya. Ubud itu kayak Malang saja, jalan menuju ke sana dari Denpasar melewati jalanan menanjak. Pada musim-musim seperti ini Ubud dinginnya nggak ketulungan. Jam 3 pagi adalah saat-saat rawan terbangun dari tidur karena udara bisa menjadi sangat dingin. Katanya, jika musim hujan maka setiap hari di Ubud pasti turun hujan.

Saya sendiri melakukan kerja praktek di Gaya Ceramic and Design, desa Sayan, Ubud. Gaya ini merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keramik, desain, galeri seni, dan villa. Semuanya berada di bawah bendera Gaya Fusion. Awalnya saya pesimis juga bisa diterima magang di perusahaan ini. Selain karena yang punya orang Italia, juga karena selama ini belum ada kakak kelas saya yang pernah praktek di sana. Anak-anak Despro ITS biasanya lebih suka melakukan kerja magang di industri kreatif yang tersebar di Jakarta, Bandung, atau bahkan di Jawa Timur sendiri. Padahal Bali sebagai salah satu dari pusat industri kreatif juga masih menyisakan banyak peluang untuk dijelajahi, apalagi saya punya niatan untuk sekalian traveling, maka tanpa pikir panjang saya pun kirim lamaran di Bali, sendirian. Istilahnya mbabat hutan. Alhamdulillah sampai saat ini saya belum pernah menyesali keputusan tersebut.

Satu hal yang saya mau garisbawahi, waktu magang itu dilakukan saat liburan, padahal liburan adalah saat yang pas untuk traveling. Mengapa tidak keduanya digabung jadi satu paket cerdas yang manis. Kalo saya sih mana mau harus kerja keras di industri dengan segala formalitasnya di hari libur saya. Saya orangnya cepat jenuh dengan hal yang berulang dan sama setiap hari. Dengan magang di Bali pun akhirnya saya mendapatkan tiga hal mendasar: tempat kerja yang santai, experiencing Bali, dan beberapa jaringan internasional. Hehehe.

***
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya mendambakan kerja santai di hari libur saya, dan saya mendapatkannya di Gaya. Awal saya masuk memang saya masih kaku; pake celana panjang, sepatu, dan kemeja. Tapi di hari kedua saya langsung berubah, saya mengenakan setelan celana panjang dan kaos lengkap dengan sandal jepit. Perusahaan kreatif seperti Gaya memang tidak menekankan pakaian dalam bekerja, semua karyawan di sini bebas menggunakan kaos dan sandal. Hanya bagian marketing saja yang tampak keren dengan balutan kemeja dan pantofel.

Setiap pagi ada coffee/tea time, itu yang akhirnya menjerumuskan saya untuk menggilai kopi tubruk sebelum memulai aktivitas saya seharian. Desain kantornya yang tidak biasa dengan berbagai perabotan aneh membuat suasana kantor ini sebagai sebuah playground kreatif bagi saya. Sink wastafel yang digunakan di kantor kami adalah wajan penggorengan yang dimodifikasi. Begitu juga dengan cerminnya yang dipotong selaras dengan bentuk wajan. Kalo dalam dunia desain ini namanya sebuah kesatuan bentuk. Kami pun memodifikasi apa saja menjadi barang apa saja, asbak dari bowl mahal, cangkir dengan pegangan terbalik, membuat tiruan besek bambu dari alumunium dan menjadikannya penghias interior yang keren, atau eksperimen motif dengan bumbu dapur. Semua itu membuat saya terinspirasi, ini kantor memang gila dan dipenuhi orang gila. Semua pekerja di Gaya memang rata-rata masih berusia muda.

Satu hal yang paling saya sukai dari kantor ini adalah: sebuah rak besar yang berisi berbagai macam buku desain dan dvd film dalam berbagai genre dari berbagai masa! Semua bebas dipinjam, termasuk dvdnya. Source tak terbatas dan selalu bertambah seperti ini yang membuat kantor ini tidak pernah kehabisan ide kreatif. Kami suka sekali memadu-madankan banyak hal menjadi hal baru, menempelkan post it yang warna-warni di banyak tempat, dan membuat benda dengan desain limited sehingga yang dikerjakan selalu desain baru, ini membuat suasana di sini tidak pernah membosankan.

Gaya Ceramic and Design sendiri dimotori oleh sepasang suami istri orang Italia, Marcello Masoni dan Michella Fopiani. Mereka berbicara dengan aksen Italia yang sangat kentara. Selalu mengucap 'ciao' dan 'alora' serta menambahkan aksen 'e' di setiap kata yang diakhiri 't'. Excellent yang seharusnya diucapkan 'ekselen', di lidah mereka berubah menjadi 'ekselente'. Mereka memanggil para pekerjanya dengan sebutan 'ragazzi', artinya 'hey anak-anak'. Saya sendiri kagum dengan Michella, dia bertugas sebagai Art Director di kantor ini, idenya selalu keren. Dia banyak membimbing saya dalam mempelajari desain keramik, dia juga seorang artis yang realistis. Michella mengajarkan pada saya sebuah proses brainstorming desain yang menyenangkan. Desain Michella yang keren membuat perusahaan fashion dan hotel dunia menjadi klien tetap kami; Bvlgari, Zara, Aman, Gervasoni, DMK, dan Antropologie. Ah bersyukur saya bisa kerja magang di kantor desain yang internationally recognized seperti ini. Thanks God!


***
Saya pikir keramik adalah sebuah dunia baru yang mengasyikkan bagi saya. Material clay yang lentur sekaligus kuat menjadi sangat filosofis di mata saya. Untuk menjadi keramik dengan kualitas tinggi, clay harus melewati proses bakaran tinggi, lebih dari seribu derajat dalam tempo berjam-jam lamanya. Bunyi keramik kualitas tinggi kalo kita jentikkan jari di permukaannya maka bunyinya jernih; ting ting. Kalo keramik dengan kualitas dan bakaran rendah bunyinya adalah; tok tok, terdengar dangkal dan bodoh. Selain itu sebenarnya masih banyak hal yang diajarkan keramik kepada saya. Apalagi sistem glaze dan teknik pembakaran dengan banyak hitungan matematis dan penakaran kimiawi membuat saya semakin interes untuk mengenal lebih dalam dunia ini.

Saya turut menyampaikan terimakasih kepada mbak Rizma Shanti, pembimbing saya selama magang. Seorang anak muda lulusan Desain Produk Trisakti ITENAS yang tidak pernah tua. Angkatan dia jauh di atas saya tapi wajahnya seperti anak SMA abadi. Saya menduga dia adalah keluarga Cullen yang tidak dimakan usia. Bagi saya, mbak Rizma adalah seorang pribadi yang menyenangkan. Menyukai seni dan musik bagus. Dia yang memperjuangkan saya untuk bisa magang di sini. Suksma mbak.

Juga saya menghaturkan terimakasih buat Bli Neker dan Bli Juned yang membantu menyelesaikan self project saya. Terimakasih Gaya, magang saya begitu menyenangkan dengan kalian :)

Enjoying Kintamani Coffee in Kintamani

Text and photo by Ayos Purwoaji

Navan memang seorang travel freak. Selama saya melakukan magang di Gaya, dia menggunakan sepeda motor butut saya untuk menjelajahi Bali sepuas-puasnya. Berbekal peta dan majalah travel guide lokal, seharian ia berkeliling Bali seorang diri. Gayanya mudah ditebak: celana pendek khaki, sendal jepit Eiger, backpack yang berisi kamera, dan tas pinggang di depan perut buncitnya. Malamnya ia pun dengan antusias menceritakan perjalanannya hari itu, mulai dari mengunjungi danau Batur dan menemukan Goa Gajah yang eksotik, juga pengalamannya menyusuri indahnya pedesaan Bali hingga melancong ke daerah Uluwatu yang jetset. Semua itu membuat saya ngiler.

Hingga akhirnya saat weekend pertama saya tiba, kami pun merencanakan perjalanan menuju Bedugul melewati Kintamani di daerah Bali Utara. Perjalanan ini nantinya merupakan perjalanan terakhir Navan di Pulau Dewata, namun sekaligus perjalanan yang paling seru bagi kami berdua. Karena ini merupakan perjalanan yang hebat, maka North Bali Road Trip ini akan kami jadikan sebuah tulisan serial. Tulisan dengan judul Enjoying Kintamani Coffee in Kintamani ini merupakan serial pertama, yang nantinya akan dilanjutkan dengan postingan dengan judul Jack Timor dan Nungnung: Downstair Paradise.

***
Meski weekend, namun kami harus bangun sepagi mungkin. Seperti rencana malam sebelumnya, kami akan melewati hari ini dengan perjalanan panjang mengeksplorasi Bali. Navan pun harus packing segala macam barangnya karena ia harus pulang ke Jember pada sore hari. Setelah mandi dan segala sesuatunya beres kami pun siap menjelajah Bali dengan kegantengan kami.

Awalnya motor saya gas lurus menuju utara. Melewati pedesaan Bali lengkap dengan pasar paginya. Menuju Bali Utara adalah sebuah kerja keras bagi motor saya yang reyot, karena merupakan daerah pegunungan maka motor selalu saya gas optimal, apalagi berat tubuh Navan yang overweight menyebabkan motor saya meratap mengapa ia diciptakan ke dunia. Namun karena motor saya adalah belalang tempur -dan saya Kotaro Minami- maka alhamdulillah perjalanan ini pun lancar jaya.

Bali Utara adalah sebuah tempat yang sejuk dan berfungsi sebagai sentra pertanian. Selama perjalanan kami banyak disuguhi pemandangan hijau berupa kebun jeruk, kebun kopi dan sayuran. Udara yang dingin dan daerah yang subur dengan batas yang tinggi dari permukaan laut merupakan sebuah formula yang mantap bagi pertanian. Jalannya juga relatif sepi, jauh berbeda dengan Denpasar. Hingga pada ketinggian tertentu kami pun disuguhi dengan pemandangan indah ngarai dan bukit yang menghiasi Bali.

Kintamani sendiri adalah dataran tertinggi di Bali, letaknya sekitar 1600 meter diatas permukaan laut. Hawanya dingin dan selalu berkabut. Tak salah pada tahun tujuhpuluhan ada film yang berjudul Kabut di Kintamani, yang dibintangi oleh aktor gaek antagonis WD Mochtar. "Dulu filmnya ya dibuat di sini, di jalan ini," ujar pak Wayan menggebu menceritakan bagaimana film itu dibuat. Pak Wayan juga yang memberitahu kami banyak hal tentang Kintamani, sejak jaman dahulu yang masih hutan hingga saat ini. Dia berkata kalo Kintamani itu asalnya dari kata 'cinta money' (baca: cintamani), entah benar atau tidak tapi saya enjoy saja mendengarkan ceritanya.

Saya dan Navan bertemu pak Wayan di sebuah warung di daerah pasar Kintamani. Kami memesan segelas kopi Kintamani yang terkenal itu. Kopi Kintamani sendiri adalah jenis specialty coffee, jenis kopi spesial dengan rasa enak yang endemik di sebuah daerah. Di Indonesia sendiri selain kopi Kintamani ada juga kopi Toraja dan kopi Flores. Saya tahu banyak karena bapak saya sedang memperjuangkan patennya sebagai kopi endemik di tingkat internasional. Namun saya sendiri nggak tahu dimana kita bisa menemukannya di Surabaya, mungkin di Tator Cafe atau Grazia Cafe ada, kalo di Coffee Corner saya nggak yakin. Tapi mungkin kamu akan menemukannya dengan harga yang berlipat mahalnya. Sedangkan segelas kopi Kintamani yang kami temui di warung itu hanya seharga seribu rupiah! hahaha

Menyeruput kopi Kintamani di Kintamani merupakan sebuah pengalaman yang menarik. Udara Kintamani yang berkabut dan orang-orang yang bersahabat membuat segelas kopi Kintamani ini semakin nikmat diseruput. Kopi Kintamani yang saya minum teksturnya agak keras, pahitnya tahan agak lama, sedikit-sedikit muncul earthen taste. Sangat khas. Hah ini nih yang saya cari, pengalaman lidah dan batin yang bersatu. Nggak cuman ngopi tapi juga ngeblur sama suasana. Ini yang nggak bisa dibuat sama Starbucks sekalipun.

Selama ngopi di warung saya dan Navan diceritain banyak hal tentang Kintamani. Salah satunya adalah anjing Kintamani yang berekor cantik. Sudah lama saya mengagumi anjing lokal ini karena gesturnya yang tegap, bulunya halus, dan ekornya cakep, nggak kalah sama anjing-anjing impor. Orang Kintamani sendiri percaya kalo anjing Kintamani itu lebih pintar dan lebih resisten terhadap penyakit. Saya sih iya iya aja. Suatu saat nanti saya mau kembali ke Kintamani, saya ingin melihat pasar anjing yang digelar tiga hari sekali. Semoga saya bisa memotretnya dalam sebuah esai foto.

Kampong Madoera

...Mas, saya memang belum pernah ke Madura, tapi saya orang Madura...
Dari bapak-bapak yang nongkrong di warung saya dan Navan mendapatkan informasi adanya kampung Madura di selatan pasar Kintamani. Wah saya tertarik nih, saya pikir bakal banyak hal yang saya peroleh di sana. Awalnya saya sendiri heran, setahu saya perkampungan Madura yang saya temui kebanyakan di daerah pesisir pantai, kalau di Bali di daerah Gilimanuk banyak sekali etnis Madura yang tinggal di sana. Orang Madura memang etnis pelaut. Nah yang membuat saya bingung ini kok di dataran paling tinggi di Bali juga ada kampung Madura.

Akhirnya saya dan Navan pun menuju kesana, jaraknya sekitar tigaratus meter dari pasar. Sekalian saya kebelet pipis. Karena masjid Al Muhajirin itu dikunci saya pun menumpang pipis di rumah warga, nah dari situlah saya banyak bertanya. Nama guide saya Saipul, dia seorang anak muda kelas dua SMA. Saya menumpang pipis di rumahnya. Saipul adalah seorang anak yang lahir dan tumbuh besar di kampung Madura di Kintamani. Sehari-hari ia berbahasa campuran, antara bahasa Bali dan Madura.

Saya diajak Saipul berkeliling kampung Madura, melewati gang-gang sempit dengan kontur berundak membuat saya membayangkan kota-kota di Rio de Janeiro kayak di film City of God. Sesekali temboknya dihiasi graffiti seadanya, juga suram karena sinar matahari hanya masuk dari sela-sela atap. Sambil berjalan Saipul bercerita banyak hal; kakeknya datang dari Madura puluhan tahun lalu, Saipul dan bapaknya lahir di kampung ini, seumur hidupnya Saipul belum pernah menginjakkan kaki di Madura. Ia sangat antusias ketika saya bercerita tentang jembatan Suramadu yang menghubungkan Madura dengan Surabaya. Saipul bilang ia ingin sekali ke Madura suatu waktu nanti.

Saat berbincang dengan Saipul saya iseng menanyakan sesuatu,"Pul, kamu itu lahir dan besar di Kintamani, sehari-hari juga kamu pake bahasa Bali, jadi kamu itu orang Bali atau orang Madura?" ternyata pertanyaan iseng saya ini berbuah serius, mimik wajah Saipul langsung berubah, sembari mengernyit dia mengatakan,"Mas, saya memang belum pernah ke Madura, tapi saya orang Madura." Mampus, makjlebb buat saya. Pengakuan Saipul akan identitasnya merupakan sebuah perasaan asing sekaligus mengharukan. Orang Madura, mau ditaruh di mana saja di muka bumi ini ya tetap orang Madura. Itu yang ingin ia sampaikan, sebuah perasaan bangga atas identitas darah. Saya jadi malu sendiri, saya ini orang Jember yang terbiasa ngomong sok gaul, nggak cinta sama akar saya sendiri. Ah tapi so what gitu wlooh...

Kebanyakan orang Madura yang ada di Kintamani menjadi pengusaha. Biasanya mereka menjual sate dan bakso. Tapi jangan remehkan pekerjaan mereka, dengan itu mereka bisa membeli banyak tanah dan mobil. Mantep ya. Akhirnya saya mau dikenalkan sama sesepuh desa oleh Saipul, namanya ustadz Hamzah. Sayangnya beliau sedang bepergian ke Bangli. Akhirnya saya pamit pulang, melanjutkan perjalanan menelusuri Bali Utara.

Navan sendiri katanya sempat masuk ke dalam Masjid Al Muhajirin. Kata Navan ada sebuah balkon di timur masjid yang menghadap langsung ke arah gunung Agung dan danau Batur. Arrgh lagi-lagi saya melewatkannya...

Jack Timor


Text and photo by Ayos Purwoaji

Setelah puas menyesap kopi Kintamani, saya dan Navan pun melanjutkan perjalanan menuju Bedugul. Namun pembicaraan kami dengan mas-mas di kampung Madura membuat kami sedikit merubah arah perjalanan, Navan diberitahu tentang adanya jembatan tertinggi di Asia Tenggara, letaknya tidak jauh dari Bedugul. Hmm okelah, kami pun berencana menambahkan jembatan tersebut dalam itinerary kami.

Sama seperti sebelumnya, perjalanan kami dihiasi oleh hawa dingin dan hamparan kebun di lereng-lereng gunung. Saya dan Navan sangat menikmati perjalanan ini. Beberapa truk dan mobil hanya sesekali melintas, selebihnya hening, hanya suara mesin motor dan roda yang beradu dengan aspal. Kami pun ngobrol, ngobrol tentang apa saja. Salah satunya adalah rencana saya untuk membuat feature tentang anjing Kintamani dan sebuah desa muslim dengan adat Hindu yang kental di Bali Utara. Navan pun tampaknya juga punya sebuah keinginan yang sama, ia ingin mencoba serius untuk menjadi seorang travel writer handal. Semoga.


Tidak seperti bayangan kami, jembatan yang kami tuju tak kunjung muncul. Kami jadi khawatir, apakah jalan yang kami lalui ini benar adanya. Namun setelah tanya sana sini ternyata memang arah yang kami tuju sudah benar, hanya saja ada kekacauan metrik antara saya dan penduduk sekitar. Orang lokal sih ngomong jarak yang puluhan kilo itu dekat, tapi bagi saya itu jauh sekali.

***
Masih menyusuri jalan kami pun liat kanan kiri. Tak disangka sekitar lima kilometer sebelum jembatan inceran kita ada sebuah hal yang menarik. Kami melihat sebuah bangunan seperti pendopo dengan bentuk arsitektur campuran, atapnya dari seng, beberapa sudah karatan di sana sini. Di depan pelatarannya yang luas ada sebuah gapura besi yang bertuliskan: Candradimuka Tinju Indonesia. Wuah saya dan Navan dengan rasa curious yang tinggi pun tanpa pikir panjang segera memasuki pelataran bangunan itu. Ternyata bangunan itu adalah sebuah sasana legendaris yang bernama Cakti Bali.

Sasana ini punya seorang promotor tinju nasional yang bernama Daniel Bahari. Bagi para pecinta tinju pasti sudah tidak asing lagi dengan nama ini. Dia adalah orang yang melejitkan potensi petinju-petinju besar seperti Adi Swandana, Fransisco Lisboa, Yulianus Bunga, dan Daud Cino Jordan. Bahkan ketiga anaknya juga sukses sebagai petinju nasional dan internasional, sebut saja Pino Bahari, Nemo Bahari, dan Daudy Bahari. Daniel juga pernah menangani mantan juara IBF kelas bantam junior Ellyas Pical dan Chris John.

Sayangnya Daniel saat itu tidak ada di sasananya. Saya pun ditemui oleh seorang petinju muda bernama Jack Timor. Saya pernah mendengar namanya di Indosiar dalam sebuah pertandingan pembuka. Tak disangka saya saat ini bertatapan langsung dengannya. Umurnya masih muda, seumuran sama Navan, namun bedanya jelas; badan Jack Timor keras dan liat dengan perut sixpack, sedangkan Navan adalah pemuda happy traveler dengan lemak yang menghiasi seluruh tubuh.

Jack berasal dari Sumba. Ia menyenangi tinju akibat pengaruh Yosi Emnifu, paman Jack yang merupakan seorang petinju terkenal pada zamannya. Sedari kecil setiap hari Jack berlatih memukuli sansak pasir buatan sendiri. Hingga akhirnya pada umur 13 tahun ia harus lari dari keluarganya untuk mengadu nasib di Surabaya. Sampai di Surabaya, talenta Jack sebagai seorang petinju dilihat oleh temannya. Saat itu lah Jack mulai masuk dalam sebuah sasana amatir untuk kali pertama dalam hidupnya.

Karena tidak mendapat kepastian untuk bertanding, Jack muda yang tidak puas pun akhirnya merantau menuju Jakarta. Ia berharap ada sasana profesional yang mau untuk menampung bakatnya. Tapi ternyata kehidupan Jakarta yang keras membuat Jack harus berpikir lain. Ia sempat menjadi kaki tangan Hercules, penguasa Tanah Abang yang legendaris. Kekerasan dan darah sudah menjadi kesatuan hidup dalam diri seorang Jack Timor.

Hingga akhirnya ia masuk dalam sebuah sasana profesional dan akhirnya turun bertanding. Sayangnya sasana profesional pertama Jack Timor kurang memberikan perhatian dan aturan yang jelas. Hal ini membuat Jack limbung, ambisinya sebagai juara dunia terlalu mahal untuk dihabiskan dalam sebuah sasana yang tidak disiplin. Tapi Tuhan memang selalu memberikan jalan pada siapapun yang bersungguh-sungguh, ketekunan Jack akhirnya mempertemukan dia dengan Daniel Bahari.

Sekarang di bawah asuhan Daniel Bahari, Jack pun mulai optimis menggantungkan cita-citanya sebagai petinju kelas dunia. "Saya harus jadi juara dunia sebelum pulang kampung, itu janji saya pada papa," ujar Jack. Ah saya sih berdoa semoga sasana Cakti Bali bisa mewujudkan impian besar Jack Timor.


***
Cangkrukan di Cakti Bali memang mengasyikkan. Saya pun hampir saja melupakan tujuan kami untuk menuju Bedugul. Akhirnya setelah saya pamit dan bertukar nomor kepada Jack, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Dari sasana Cakti Bali tidak perlu waktu lama untuk menemukan jembetan Tukad Bangkung yang tertinggi di Asia Tenggara. Tingginya mencapai 71,14 meter, rencananya jembatan iniakan dipakai sebagai salah satu spot bungee jumping.

Jembatan Tukad Bangkung mempunyai panjang 360 meter, lebar 9,6 meter, dan pondasi pilar 41 meter di bawah tanah. Jembatan ini menggunakan teknologi balanced cantilever dengan perkiraan usia pakai selama 100 tahun. Untuk membangunnya dibutuhkan biaya 49 milyar dengan pengerjaan memakan kurun waktu yang cukup lama yaitu sejak tahun 2001 dan diresmikan pada tanggal 19 Desember 2006.

Jembatan ini menawarkan pemandangan yang cukup indah dengan panorama perbukitan hijau dan udara lumayan dingin ditambah mengalir sebuah sungai di bawahnya. Ah saya yang orang Surabaya ini sudah pernah ke Jembatan Tukad Bangkung tapi malah belom pernah menyeberangi Jembatan Suramadu yang katanya paling panjang di Asia Tenggara. Hmm next time aja lah, hehe..

Nungnung: Downstair Paradise


Text and photo by Ayos Purwoaji

Selepas mengagumi Jembatan Tukad Bangkung, saya dan Navan langsung tancap gas menuju selatan. Kami masih punya asa untuk mengunjungi Air Terjun Nungnung lalu menuju Bedugul. Perjalanan menuju Nungnung dari Jembatan Tukad Bangkung seingat saya tidak begitu lama, tidak seperti perjuangan kami saat harus menemukan Jembatan Tukad Bangkung dari pasar Kintamani.

Setelah jauh berjalan akhirnya kami temukan juga lokasi air terjun ini. Tempatnya adem ayem dan jauh dari polusi. Saking ayemnya malah terkesan sepi. Hanya ada segerombol muda mudi yang kecapekan setelah kembali dari air terjun Nungnung. Awalnya saya mengira untuk menuju air terjun kita hanya membutuhkan anak tangga yang tidak terlalu banyak, seperti air terjun Grojogan Sewu di Solo lah, tidak begitu panjang tangganya. Ternyata dugaan saya salah besar -entah mengapa saya ini kalo berpikir tentang sesuatu selalu salah, Tuhan ampuni hambamu ini- untuk menikmati keindahan air terjun Nungnung anda harus melawati ribuan anak tangga yang sangat sedap untuk membuat anda keringetan.

Saat melewati anak-anak tangga tersebut anda akan dihibur oleh lanskap hutan hujan tropis yang asri dan adem. Coba kalo di situ gak ada kanopi pepohonan, maka paparan sinar matahari langsung akan membuat perjalanan anda semakin berat. Developernya juga baik, selama perjalanan menyusuri tangga kita akan dihadapkan pada tiga gazebo untuk beristirahat. Duduklah sesekali dan coba dengarkan kicauan burung liar, maka kepenatan yang anda rasakan saat ditinggal pacar akan hilang seketika.

Saat mencapai air terjun Nungnung, pegalnya kaki karena harus menuruni ribuan anak tangga terbayar sudah. Nungnung cukup bagus untuk dilewatkan. Air terjunnya gede dan lega. Kompleks air terjunnya juga eksotik, dindingnya memutar seperti gelas raksasa yang dituang air ribuan galon setiap menit. Kebetulan saya dan Navan kesana pas tengah hari, sinar-sinar matahari menerobos masuk lewat celah-celah memberikan nuansa yang berbeda. Seperti di surga, holy feeling gitu. Tapi saya tahu, di surga tidak ada tangga.

Nungnung memang worth untuk dikunjungi oleh para traveler seperti saya dan Navan. Apalagi situs wisata ini juga termasuk free and easy site, maksudnya gratisan gituu. Kan lumayan tuh, hemat budget tapi hasil maksimal. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Air Terjun Nungnung, Navan harus segera diantarkan ke terminal Ubung sebelum petang. Kami pun kembali menyusuri tangga jahannam itu lagi. Anjrit, ternyata baliknya lebih membuat kita ngos-ngosan. Setiap gazebo saya dan Navan harus berhenti, uuh sudah saya bilang, di surga tempat kita tinggal nanti tidak akan ada tangga!

But anyway, konklusinya jelas: Nungnung adalah sebuah spot yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke kawasan Bali Utara.