Pages

7/23/09

Awesome Ceramic Experience

Text and photo by Ayos Purwoaji

Tidak salah saya pilih kerja praktek di Ubud, inspirasi menghampiri saya dari berbagai sisi. Ubud itu menurut saya setiap sudutnya indah. Dengan mudah Anda menemui banyak art gallery atau museum seni di sekitar jalan Raya Ubud. Ada unsur artistik yang kuat dicampur dengan perasaan merdeka untuk berkarya. Ubud adalah pusat destinasi utama jika anda ingin mencari kerajinan Bali, di sini pusatnya kriya. Jalanan pun tak ubahnya sebagai sebuah galeri bebas yang memanjang eksotis. Praktik kebudayaan juga masih kental di lakukan di Ubud.

Hal itu semakin lengkap dengan kondisi alam Ubud yang masih alami, jauh berbeda dengan Denpasar yang sudah hampir sama kayak Surabaya. Ubud itu kayak Malang saja, jalan menuju ke sana dari Denpasar melewati jalanan menanjak. Pada musim-musim seperti ini Ubud dinginnya nggak ketulungan. Jam 3 pagi adalah saat-saat rawan terbangun dari tidur karena udara bisa menjadi sangat dingin. Katanya, jika musim hujan maka setiap hari di Ubud pasti turun hujan.

Saya sendiri melakukan kerja praktek di Gaya Ceramic and Design, desa Sayan, Ubud. Gaya ini merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keramik, desain, galeri seni, dan villa. Semuanya berada di bawah bendera Gaya Fusion. Awalnya saya pesimis juga bisa diterima magang di perusahaan ini. Selain karena yang punya orang Italia, juga karena selama ini belum ada kakak kelas saya yang pernah praktek di sana. Anak-anak Despro ITS biasanya lebih suka melakukan kerja magang di industri kreatif yang tersebar di Jakarta, Bandung, atau bahkan di Jawa Timur sendiri. Padahal Bali sebagai salah satu dari pusat industri kreatif juga masih menyisakan banyak peluang untuk dijelajahi, apalagi saya punya niatan untuk sekalian traveling, maka tanpa pikir panjang saya pun kirim lamaran di Bali, sendirian. Istilahnya mbabat hutan. Alhamdulillah sampai saat ini saya belum pernah menyesali keputusan tersebut.

Satu hal yang saya mau garisbawahi, waktu magang itu dilakukan saat liburan, padahal liburan adalah saat yang pas untuk traveling. Mengapa tidak keduanya digabung jadi satu paket cerdas yang manis. Kalo saya sih mana mau harus kerja keras di industri dengan segala formalitasnya di hari libur saya. Saya orangnya cepat jenuh dengan hal yang berulang dan sama setiap hari. Dengan magang di Bali pun akhirnya saya mendapatkan tiga hal mendasar: tempat kerja yang santai, experiencing Bali, dan beberapa jaringan internasional. Hehehe.

***
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya mendambakan kerja santai di hari libur saya, dan saya mendapatkannya di Gaya. Awal saya masuk memang saya masih kaku; pake celana panjang, sepatu, dan kemeja. Tapi di hari kedua saya langsung berubah, saya mengenakan setelan celana panjang dan kaos lengkap dengan sandal jepit. Perusahaan kreatif seperti Gaya memang tidak menekankan pakaian dalam bekerja, semua karyawan di sini bebas menggunakan kaos dan sandal. Hanya bagian marketing saja yang tampak keren dengan balutan kemeja dan pantofel.

Setiap pagi ada coffee/tea time, itu yang akhirnya menjerumuskan saya untuk menggilai kopi tubruk sebelum memulai aktivitas saya seharian. Desain kantornya yang tidak biasa dengan berbagai perabotan aneh membuat suasana kantor ini sebagai sebuah playground kreatif bagi saya. Sink wastafel yang digunakan di kantor kami adalah wajan penggorengan yang dimodifikasi. Begitu juga dengan cerminnya yang dipotong selaras dengan bentuk wajan. Kalo dalam dunia desain ini namanya sebuah kesatuan bentuk. Kami pun memodifikasi apa saja menjadi barang apa saja, asbak dari bowl mahal, cangkir dengan pegangan terbalik, membuat tiruan besek bambu dari alumunium dan menjadikannya penghias interior yang keren, atau eksperimen motif dengan bumbu dapur. Semua itu membuat saya terinspirasi, ini kantor memang gila dan dipenuhi orang gila. Semua pekerja di Gaya memang rata-rata masih berusia muda.

Satu hal yang paling saya sukai dari kantor ini adalah: sebuah rak besar yang berisi berbagai macam buku desain dan dvd film dalam berbagai genre dari berbagai masa! Semua bebas dipinjam, termasuk dvdnya. Source tak terbatas dan selalu bertambah seperti ini yang membuat kantor ini tidak pernah kehabisan ide kreatif. Kami suka sekali memadu-madankan banyak hal menjadi hal baru, menempelkan post it yang warna-warni di banyak tempat, dan membuat benda dengan desain limited sehingga yang dikerjakan selalu desain baru, ini membuat suasana di sini tidak pernah membosankan.

Gaya Ceramic and Design sendiri dimotori oleh sepasang suami istri orang Italia, Marcello Masoni dan Michella Fopiani. Mereka berbicara dengan aksen Italia yang sangat kentara. Selalu mengucap 'ciao' dan 'alora' serta menambahkan aksen 'e' di setiap kata yang diakhiri 't'. Excellent yang seharusnya diucapkan 'ekselen', di lidah mereka berubah menjadi 'ekselente'. Mereka memanggil para pekerjanya dengan sebutan 'ragazzi', artinya 'hey anak-anak'. Saya sendiri kagum dengan Michella, dia bertugas sebagai Art Director di kantor ini, idenya selalu keren. Dia banyak membimbing saya dalam mempelajari desain keramik, dia juga seorang artis yang realistis. Michella mengajarkan pada saya sebuah proses brainstorming desain yang menyenangkan. Desain Michella yang keren membuat perusahaan fashion dan hotel dunia menjadi klien tetap kami; Bvlgari, Zara, Aman, Gervasoni, DMK, dan Antropologie. Ah bersyukur saya bisa kerja magang di kantor desain yang internationally recognized seperti ini. Thanks God!


***
Saya pikir keramik adalah sebuah dunia baru yang mengasyikkan bagi saya. Material clay yang lentur sekaligus kuat menjadi sangat filosofis di mata saya. Untuk menjadi keramik dengan kualitas tinggi, clay harus melewati proses bakaran tinggi, lebih dari seribu derajat dalam tempo berjam-jam lamanya. Bunyi keramik kualitas tinggi kalo kita jentikkan jari di permukaannya maka bunyinya jernih; ting ting. Kalo keramik dengan kualitas dan bakaran rendah bunyinya adalah; tok tok, terdengar dangkal dan bodoh. Selain itu sebenarnya masih banyak hal yang diajarkan keramik kepada saya. Apalagi sistem glaze dan teknik pembakaran dengan banyak hitungan matematis dan penakaran kimiawi membuat saya semakin interes untuk mengenal lebih dalam dunia ini.

Saya turut menyampaikan terimakasih kepada mbak Rizma Shanti, pembimbing saya selama magang. Seorang anak muda lulusan Desain Produk Trisakti ITENAS yang tidak pernah tua. Angkatan dia jauh di atas saya tapi wajahnya seperti anak SMA abadi. Saya menduga dia adalah keluarga Cullen yang tidak dimakan usia. Bagi saya, mbak Rizma adalah seorang pribadi yang menyenangkan. Menyukai seni dan musik bagus. Dia yang memperjuangkan saya untuk bisa magang di sini. Suksma mbak.

Juga saya menghaturkan terimakasih buat Bli Neker dan Bli Juned yang membantu menyelesaikan self project saya. Terimakasih Gaya, magang saya begitu menyenangkan dengan kalian :)

3 comments:

dinidini said...

udah selese apa magangnya mas?

aklam said...

hampir.

rulidegreat said...

begh... sangar yos..
toyota gk enek opo2 ne!! brarti judul TA craft cramic iki...