Pages

7/23/09

Enjoying Kintamani Coffee in Kintamani

Text and photo by Ayos Purwoaji

Navan memang seorang travel freak. Selama saya melakukan magang di Gaya, dia menggunakan sepeda motor butut saya untuk menjelajahi Bali sepuas-puasnya. Berbekal peta dan majalah travel guide lokal, seharian ia berkeliling Bali seorang diri. Gayanya mudah ditebak: celana pendek khaki, sendal jepit Eiger, backpack yang berisi kamera, dan tas pinggang di depan perut buncitnya. Malamnya ia pun dengan antusias menceritakan perjalanannya hari itu, mulai dari mengunjungi danau Batur dan menemukan Goa Gajah yang eksotik, juga pengalamannya menyusuri indahnya pedesaan Bali hingga melancong ke daerah Uluwatu yang jetset. Semua itu membuat saya ngiler.

Hingga akhirnya saat weekend pertama saya tiba, kami pun merencanakan perjalanan menuju Bedugul melewati Kintamani di daerah Bali Utara. Perjalanan ini nantinya merupakan perjalanan terakhir Navan di Pulau Dewata, namun sekaligus perjalanan yang paling seru bagi kami berdua. Karena ini merupakan perjalanan yang hebat, maka North Bali Road Trip ini akan kami jadikan sebuah tulisan serial. Tulisan dengan judul Enjoying Kintamani Coffee in Kintamani ini merupakan serial pertama, yang nantinya akan dilanjutkan dengan postingan dengan judul Jack Timor dan Nungnung: Downstair Paradise.

***
Meski weekend, namun kami harus bangun sepagi mungkin. Seperti rencana malam sebelumnya, kami akan melewati hari ini dengan perjalanan panjang mengeksplorasi Bali. Navan pun harus packing segala macam barangnya karena ia harus pulang ke Jember pada sore hari. Setelah mandi dan segala sesuatunya beres kami pun siap menjelajah Bali dengan kegantengan kami.

Awalnya motor saya gas lurus menuju utara. Melewati pedesaan Bali lengkap dengan pasar paginya. Menuju Bali Utara adalah sebuah kerja keras bagi motor saya yang reyot, karena merupakan daerah pegunungan maka motor selalu saya gas optimal, apalagi berat tubuh Navan yang overweight menyebabkan motor saya meratap mengapa ia diciptakan ke dunia. Namun karena motor saya adalah belalang tempur -dan saya Kotaro Minami- maka alhamdulillah perjalanan ini pun lancar jaya.

Bali Utara adalah sebuah tempat yang sejuk dan berfungsi sebagai sentra pertanian. Selama perjalanan kami banyak disuguhi pemandangan hijau berupa kebun jeruk, kebun kopi dan sayuran. Udara yang dingin dan daerah yang subur dengan batas yang tinggi dari permukaan laut merupakan sebuah formula yang mantap bagi pertanian. Jalannya juga relatif sepi, jauh berbeda dengan Denpasar. Hingga pada ketinggian tertentu kami pun disuguhi dengan pemandangan indah ngarai dan bukit yang menghiasi Bali.

Kintamani sendiri adalah dataran tertinggi di Bali, letaknya sekitar 1600 meter diatas permukaan laut. Hawanya dingin dan selalu berkabut. Tak salah pada tahun tujuhpuluhan ada film yang berjudul Kabut di Kintamani, yang dibintangi oleh aktor gaek antagonis WD Mochtar. "Dulu filmnya ya dibuat di sini, di jalan ini," ujar pak Wayan menggebu menceritakan bagaimana film itu dibuat. Pak Wayan juga yang memberitahu kami banyak hal tentang Kintamani, sejak jaman dahulu yang masih hutan hingga saat ini. Dia berkata kalo Kintamani itu asalnya dari kata 'cinta money' (baca: cintamani), entah benar atau tidak tapi saya enjoy saja mendengarkan ceritanya.

Saya dan Navan bertemu pak Wayan di sebuah warung di daerah pasar Kintamani. Kami memesan segelas kopi Kintamani yang terkenal itu. Kopi Kintamani sendiri adalah jenis specialty coffee, jenis kopi spesial dengan rasa enak yang endemik di sebuah daerah. Di Indonesia sendiri selain kopi Kintamani ada juga kopi Toraja dan kopi Flores. Saya tahu banyak karena bapak saya sedang memperjuangkan patennya sebagai kopi endemik di tingkat internasional. Namun saya sendiri nggak tahu dimana kita bisa menemukannya di Surabaya, mungkin di Tator Cafe atau Grazia Cafe ada, kalo di Coffee Corner saya nggak yakin. Tapi mungkin kamu akan menemukannya dengan harga yang berlipat mahalnya. Sedangkan segelas kopi Kintamani yang kami temui di warung itu hanya seharga seribu rupiah! hahaha

Menyeruput kopi Kintamani di Kintamani merupakan sebuah pengalaman yang menarik. Udara Kintamani yang berkabut dan orang-orang yang bersahabat membuat segelas kopi Kintamani ini semakin nikmat diseruput. Kopi Kintamani yang saya minum teksturnya agak keras, pahitnya tahan agak lama, sedikit-sedikit muncul earthen taste. Sangat khas. Hah ini nih yang saya cari, pengalaman lidah dan batin yang bersatu. Nggak cuman ngopi tapi juga ngeblur sama suasana. Ini yang nggak bisa dibuat sama Starbucks sekalipun.

Selama ngopi di warung saya dan Navan diceritain banyak hal tentang Kintamani. Salah satunya adalah anjing Kintamani yang berekor cantik. Sudah lama saya mengagumi anjing lokal ini karena gesturnya yang tegap, bulunya halus, dan ekornya cakep, nggak kalah sama anjing-anjing impor. Orang Kintamani sendiri percaya kalo anjing Kintamani itu lebih pintar dan lebih resisten terhadap penyakit. Saya sih iya iya aja. Suatu saat nanti saya mau kembali ke Kintamani, saya ingin melihat pasar anjing yang digelar tiga hari sekali. Semoga saya bisa memotretnya dalam sebuah esai foto.

Kampong Madoera

...Mas, saya memang belum pernah ke Madura, tapi saya orang Madura...
Dari bapak-bapak yang nongkrong di warung saya dan Navan mendapatkan informasi adanya kampung Madura di selatan pasar Kintamani. Wah saya tertarik nih, saya pikir bakal banyak hal yang saya peroleh di sana. Awalnya saya sendiri heran, setahu saya perkampungan Madura yang saya temui kebanyakan di daerah pesisir pantai, kalau di Bali di daerah Gilimanuk banyak sekali etnis Madura yang tinggal di sana. Orang Madura memang etnis pelaut. Nah yang membuat saya bingung ini kok di dataran paling tinggi di Bali juga ada kampung Madura.

Akhirnya saya dan Navan pun menuju kesana, jaraknya sekitar tigaratus meter dari pasar. Sekalian saya kebelet pipis. Karena masjid Al Muhajirin itu dikunci saya pun menumpang pipis di rumah warga, nah dari situlah saya banyak bertanya. Nama guide saya Saipul, dia seorang anak muda kelas dua SMA. Saya menumpang pipis di rumahnya. Saipul adalah seorang anak yang lahir dan tumbuh besar di kampung Madura di Kintamani. Sehari-hari ia berbahasa campuran, antara bahasa Bali dan Madura.

Saya diajak Saipul berkeliling kampung Madura, melewati gang-gang sempit dengan kontur berundak membuat saya membayangkan kota-kota di Rio de Janeiro kayak di film City of God. Sesekali temboknya dihiasi graffiti seadanya, juga suram karena sinar matahari hanya masuk dari sela-sela atap. Sambil berjalan Saipul bercerita banyak hal; kakeknya datang dari Madura puluhan tahun lalu, Saipul dan bapaknya lahir di kampung ini, seumur hidupnya Saipul belum pernah menginjakkan kaki di Madura. Ia sangat antusias ketika saya bercerita tentang jembatan Suramadu yang menghubungkan Madura dengan Surabaya. Saipul bilang ia ingin sekali ke Madura suatu waktu nanti.

Saat berbincang dengan Saipul saya iseng menanyakan sesuatu,"Pul, kamu itu lahir dan besar di Kintamani, sehari-hari juga kamu pake bahasa Bali, jadi kamu itu orang Bali atau orang Madura?" ternyata pertanyaan iseng saya ini berbuah serius, mimik wajah Saipul langsung berubah, sembari mengernyit dia mengatakan,"Mas, saya memang belum pernah ke Madura, tapi saya orang Madura." Mampus, makjlebb buat saya. Pengakuan Saipul akan identitasnya merupakan sebuah perasaan asing sekaligus mengharukan. Orang Madura, mau ditaruh di mana saja di muka bumi ini ya tetap orang Madura. Itu yang ingin ia sampaikan, sebuah perasaan bangga atas identitas darah. Saya jadi malu sendiri, saya ini orang Jember yang terbiasa ngomong sok gaul, nggak cinta sama akar saya sendiri. Ah tapi so what gitu wlooh...

Kebanyakan orang Madura yang ada di Kintamani menjadi pengusaha. Biasanya mereka menjual sate dan bakso. Tapi jangan remehkan pekerjaan mereka, dengan itu mereka bisa membeli banyak tanah dan mobil. Mantep ya. Akhirnya saya mau dikenalkan sama sesepuh desa oleh Saipul, namanya ustadz Hamzah. Sayangnya beliau sedang bepergian ke Bangli. Akhirnya saya pamit pulang, melanjutkan perjalanan menelusuri Bali Utara.

Navan sendiri katanya sempat masuk ke dalam Masjid Al Muhajirin. Kata Navan ada sebuah balkon di timur masjid yang menghadap langsung ke arah gunung Agung dan danau Batur. Arrgh lagi-lagi saya melewatkannya...

11 comments:

dinidini said...

wah mas, nabun jangan dikutuk2 laah.. biar tambun, nabun bisa dijadiin bantal *lho?*
yaa,biar tambun,asik diajak jalan2 kan?hoho

anak semeru said...

ayo carokkk!
mon be'en ngejek agih...
nek lanang carok cong!


waduh! bahasane kok amburadul gitu yo...
ati2 nyos...org madura sensi...qt baik2 aj. tp g smua gtu sih...

aklam said...

Nabun is empuk travelmate, love him so :)

aklam said...

@ anaksemeru
hehe alhamdulillah gak ditodong clurit. orang madura di kampung madura punya spirit bisnis seperti moyangnya tapi santun seperti orang bali. mereka baik-baik.

noekriwil said...

hahaha mampus! coba nanti ble tanyaono gitu yos? "sampeyan asli arudam mas?" apa sama tar jawabannya ama bang ipul?hehehe

aklam said...

@ Noe
haha yo embuh, ntar aja kalo di Sby tak tanyakno :p

Rudi B. Prakoso said...

wee kopi kintamani??!!! pasti rasanya siippp.
Kita di Jember punya kopi yang siipp juga lho.. Kopi Luwak, memang sih kalau menikmati udah bisa di Luwak Cafe di PTP Jl. Gajah mada.

Memang kalau di jember g ada tempat2 eksotik kayak di bali, andaikan di Gunung Gambir ada Tea & Coffee Cafe yang buka tiap hari pasti lebih seru lagi.

bayu said...

deep love coffe........whatever...black will bee

kopi kintamani...?.....sama kompi kebon Jampit..enak mana mas??

rulidegreat said...

mbut.. saya blom pernah ke madura, tapi saya stengah madura!!!
piye iki....???

Kang Eko said...

dimana-mana dan yang menjadi ke irian saya, madura selalu bagus untuk spirit ekonominya....

aku malah tertarik sama anjing kintamaninya, sayang ndak ada fotonya....

RIYADI ARIYANTO said...

saya orang jember, perkenankan saya bertemu panjenengan, kapan ya, di mana bisa ditemui. . riyadi ariyanto, muktisari