Pages

7/23/09

Great Odalan Ceremony

Text and photo by Ayos Purwoaji

How lucky me! Setelah hampir sebulan saya tinggal di Sayan, Ubud, akhirnya saya bisa melihat sebuah pagelaran besar yang berulang satu dekade sekali. Ubud memang kota budaya, ritual Hinduisme masih sangat kuat tertanam. Hampir setiap hari selalu ada upacara keagamaan di Sayan, entah itu pernikahan, kematian, atau purnama. Saya ingin ikut menyaksikan, tapi saya takut mengganggu ritual mereka.Hingga suatu saat, di hari terakhir saya tinggal di Sayan, saya berkesempatan menyaksikan pagelaran besar bernama Upacara Odalan Besar, upacara ini langka dan membuat saya banyak dapet foto bagus. Upacara Odalan Besar yang saya liput kali ini adalah milik keluarga besar I Wayan Japa, setiap keluarga rata-rata memiliki uparanya sendiri.

***
Semua dimulai pada H-2 sebelum kerja magang saya berakhir, sore itu saya memutuskan untuk pulang tepat waktu dan tidak mengambil jatah overtime. Saat berjalan pulang dengan motor butut saya, di depan homestay Sayan Terrace saya menemukan sebuah iring-iringan orang dalam jumlah besar. Wuah ada upacara besar nih pikir saya, detik itu juga saya langsung putar haluan motor saya untuk diparkir di sebuah emperan toko. Kamera yang nangkring di tas pun saya keluarkan. Saya ikuti iring-iringan itu.

Tampang sayang yang dekil dengan jeans dan kaos Blogger Freedom membuat banyak orang mengira saya wartawan. Penduduk Sayan yang ramah pun mempersilahkan saya untuk mengikuti ritual ini dan mengambil gambarnya. Saya pun semakin getol untuk mengambil gambar dengan sadis dan saya potret setiap geraknya, saya merasa dikuasai antusiasme plus kegembiraan yang meluap.

Defile besar itu terdiri dari anak-anak hingga orang tua. Remaja putri biasanya berjalan rapi dengan baju adat warna-warni dengan banten atau sesajen di atas kepala mereka. Kelaurga besar membawa benda-benda keramat peninggalan leluhur. Remaja lelaki yang bisa musik akan mengiringi dengan membentuk sebuah orkestra berjalan dan mendendangkan gamelan Bali yang enerjik. Anak-anak kecil sih biasanya ditugasi untuk bawa bendera bersimbol. Di dalam iringan itu juga ada beberapa pemuka agama Hindu, pedanda dan pemangku, menggunakan hem putih khas Hindu.

Akhirnya mereka tiba di sudut desa Sayan yang lain yang belum pernah saya kunjungi, dan saya melongo karena sangat indah. Meski tidak yakin bisa, tapi coba akan saya gambarkan dalam kata-kata: Kami menuju sebuah perbukitan dengan sabana rumput setinggi pinggang, rerumput itu akan bergoyang mengikuti arah angin. Di baliknya ada Sungai Ayung dan anak sungainya yang berair jernih, berkelok-kelok membelah perbukitan. Sawah terasering menghiasi lereng-lerengnya. Pohon kelapa dan pisang menghiasi lanskapnya. Subhanallah. Apa yang saya bayangkan tentang pedesaan Bali ternyata selama ini sangat dekat dengan saya. Oh ya, sungai Ayung adalah salah satu spot rafting yang cukup terkenal di Bali. Sayang saya sendiri belum pernah mencobanya.

Iring-iringan kami terus naik turun bukit, menyeberangi sebuah sungi kecil anak dari Sungai Ayung. Saya heran, banyak diantara anggota iring-iringan kami adalah kakek nenek, tapi mengapa mereka bisa dengan lincahnya naik turun bukit, sewaktu masih muda mereka makan apa sih? Hingga akhirnya rombongan kami tiba di sebuah mata air, orang Bali menyebutnya beji. Mereka pun melakukan sebuah ritual yang dinamakan Mebejian, sebuah prosesi mengambil air suci yang akan digunakan untuk memberkati seluruh anggota keluarga. Sedangkan anak-anak kecil malah asyik main air di sekitar telaga kecil di samping mata air.

Secara umum sebenarnya ada empat tahapan dalam melakukan sebuah upacara Odalan. Prosesi itu memakan waktu hingga dua bulan lamanya. Ritual pertama yang dilakukan adalah Penyucian, saya tidak begitu jelas bagaimana jalan ritualnya. Selanjutnya adalah ritual Mendak Tirta, yaitu beberapa anggota keluarga senior mengambil air suci yang ada di Pura Besar Besakih. Ritual ketiga adalah Mebejian yan sudah saya jelaskan sebelumnya. Ritual terkahir adalah Odalan, jadi odalan adalah acara puncak yang mengakhiri rangkaian upacara besar ini. Jangan tanya biaya yang harus dikeluarkan, rata-rata setiap keluarga menghabiskan puluhan juta rupiah untuk menghelat acara akbar seperti Odalan ini, makanya upacara ini langka dan diadakan dalam jangka puluh tahun. Dari satu ritual satu ke ritual lain dipisahkan oleh hari, sebuah ritual memang diadakan dengan menunggu instruksi hari baik yang dihitung oleh pedanda.

Setelah upacara Mebejian selesai, saya pun diundang oleh keluarga I Wayan Japa untuk memotret kegiatan puncak Odalan pada esok harinya. Ah senang rasanya, ini yang saya bilang sebagai sebuah aspek ekowisata, kita tidak hanya datang ke sebuah destinasi sebagai turis, tapi juga ngeblur dengan masyarakat sekitar dengan segenap norma adatnya.

***
Hari selanjutnya, karena merupakan hari terakhir saya magang, saya pun undur diri dua jam lebih awal. Saya langsung memacu sepeda saya menuju rumah I Wayan Japa, dimana saat itu segala perlengkapan upacara sedang dipersiapkan. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ini memang upacara besar, segalanya pun terlihat wah. Dekorasinya sangat Bali; janur kuning, payung upacara, rerumbai merah, besek bambu, sesajian warna-warni, kain putih glossy, kain kuning keemasan, nampan berukir yang -oh shit- sangat bagus sekali, dan babi guling! hahaha ya setiap upacara besar selalu ada sajian istimewa bernama Babi Guling, dari beberapa sumber yang saya baca katanya babi guling yang paling enak di seluruh Bali adalah babi guling Ubud.

Kali ini kokinya bernama I Wayan Kerta, dia adalah koki spesialis upacara keagamaan sekaligus jagal bagi hewan-hewan malang itu. Orangnya kekar dengan tinggi standar, perutnya njemblung kebanyakan minum tuak. Dia mengaku tidak tidur selama tiga hari untuk prosesi besar Odalan ini. Dia membuat apapun, babi guling, sate babi, lawar, dan beberapa masakan ayam. Wayan Kerta bilang kalo Odalan, yang digunakan adalah anak babi yang beratnya sekitar limapuluh kilogram. Dimasak diatas api kecil seama berjam-jam, kulitnya akan coklat mengering renyah dan lemaknya akan keluar dari sela-sela sayatan yang dibuat di sekujur tubuh sang babi belia. Katanya rasanya sangat gurih, tapi maaf om saya tidak bisa makan. Hehehe.

Semua orang yang hadir menggunaka baju adat lengkap berupa sarung dan ikat kepala. Untuk menghormati mereka dan sebagai akses bebas masuk saya pun harus menggunakan pakaian adat serupa. Sarung saya dipasangkan oleh seorang mbak yang-saya-tidak-tahu-namanya sedangkan penutup kepala saya dibuatkan langsung oleh Bli Wayan Kerta. Saya pun menjelma menjadi orang Bali saat itu, hehehe.

Upacara odalan pun dimulai, penuh dengan kegembiraan dan makanan. Awalnya ada sebuah tarian yang dinamakan Tari Rejang Dewa, sebuah tarian suci yang hanya boleh dibawakan saat Odalan. Karena merupakan tari yang sakral, yang boleh membawakannya hanya anak-anak cewek sekelas SD atau malah wanita yang sudah sangat sepuh. Hal ini melambangkan kesucian dan kejernihan. Di sisi lain beberapa sesepuh yang bisa membaca abjad Sanskrit dan Jawa Kuno akan bergantian membaca kisah Ramayana dari buku-buku lama. Kegiatan ini dinamakan Miwirama, tidak banyak orang yang bisa, salah satu yang paling jadi di desa Sayan adalah Pak Jero. Dia menguasai bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Beliau juga membacakan sebuah kitab bernama Geguritan Dalem Sidhakarya yang dalam upacara Odalan menjadi puncak acara dengan divisualisasikan dalam sebuah tari topeng.

Tari Topeng Sidokarya ini memiliki nilai filosofis amat tinggi di kalangan penganut Hindu. Bercerita tentang dewa-dewa yang turun dan mensucikan ritual Odalan. Tari Topeng Sidokarya diperankan oleh sebuah pemain tunggal bernama Topeng Pajegan, ia akan bergantian memerankan empat tokoh yang berbeda; Sidokarya, Penasar, Tua, dan Peranda. Masing-masing adalah dewa dengan watak dan fungsi yang berbeda. Penarinya sendiri bernama Sangade Aribudi, ia sudah memerankan topeng-topeng ini bertahun-tahun lamanya. Sebelum dan sesudah melakukan tarian, Bli Sangade melakukan sebuah ritual kecil, tampaknya dia menari dalam keadaan trance.

Saya sendiri melihat seluruh seremoni Odalan sebagai sebuah prosesi yang indah dan agung. Saya pikir Hinduisme Bali malah jauh lebih kompleks ketimbang praktik Hinduisme di India sebagai asal dari agama Hindu Kuno. Saya sendiri tidak tahu mengapa. Saya jadi ngeri membayangkan sebuah praktik upacara besar di zaman Majapahit ketika Hindu menjadi agama mayoritas, mungkin jauh lebih suangar dan muahal. Sekaligus saya bersyukur karena saya akhirnya sadar bahwa Islam adalah adalah agama yang sederhana dengan pelaksanaan yang mudah. Alhamdulillah.

Setelah berbagai ritual penyucian dilakukan dan prosesi pemberkatan kepada seluruh keluarga selesai maka it's time to dinner! Hahaha babi guling yang tadi dijadikan sesajian pun dipotong-potong dan disajikan bersama dengan sambel bosowangen, sate babi, ayam bumbu, tempe goreng, dan plecing. Saya pun ditawari untuk makan, saya sih cuma mringas-mringis saja, dilema. Orang-orang kok keliahatannya makan dengan sangat lahap, sedangkan saya sendiri keroncongan belom makan dari siang. Tapi saya urungkan niat busuk untuk mencicipi lezatnya babi guling yang dari visualnya saja kelihatan enak -apalagi dimakan, hehe.

Karena rasa sungkan saya pun hanya mengambil beberapa jajanan sejenis cenil dan lupis. Kalo di Bali namanya Jaja Bali. Dikemas dalam wadah plastik, yang menarik adalah tidak ada tusuk gigi atau sendok plastik sebagai mana biasa digunakan untuk makan cenil, sebagai gantinya ada sebuah sendok kecil yang terbuat dari janur. Waduuh ini nih yang namanya eco-design! Sangar ya orang Indonesia.

Upacara diakhiri dengan Tari Gabor atau lebih populer dengan nama Tari Pendet. Sejumlah enam pasang wanita dari berbagai umur melakukannya berpasangan, indah. Setelahnya saya pun langsung pamit pulang, waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Saya kembali ke rumah, sholat, lalu terbirit-birit menuju terminal Ubung, Denpasar. Saya harus kembali ke Surabaya malam ini. Saya pun meninggalkan Bali dengan berjuta kenangan dan inspirasi.

NB: Makasih buat keluarga besar I Wayan Japa, Bli Wayan Kembra, Bli Nyoman Mariyasa, Bli Ketut Nyantung, Pak Jero.

4 comments:

dinidini said...

saya suka foto nomor lima dari bawah! lek dis :p

aklam said...

hehehe, banyak foto seperti itu yang lebih bagus din, tapi maaf ndak saya 'keluarkan' disini. hehehe

Anonymous said...

Two thumbs up :)
keep the good work

Lutfiana Binti Marwan said...

MasyaAlloh Gan, tambah maknyuss ae karyamu!
kapan yo aku ngetrip ke Bali (lagi)..? tentunya low cost travel Gan.