Pages

7/13/09

Healthy & Ngeri

Text by Hesti Kartikasari
Photo by Winda Savitri


___________________________________










Kontributor

Hesti Kartikasari, seorang calon dokter muda yang tengah sibuk bergulat de
ngan masa akhir kuliah dan Facebook. Ayahnya yang bekerja di industri gula tidak pernah menyangka mendapatkan anak semanis dia. Masih jomblo dan berharap mendapatkan seorang pendamping dalam waktu dekat ini. Yang berminat bisa PM mbak kontributor sebagai agen.
___________________________________

Beberapa waktu yang lalu, saya dan mbak kontributor mengunjungi Museum Kesehatan dr. Adhyatma MPH di Jalan Indrapura no. 17, Surabaya. Karena daripada liburan hanya menyandang gelar sebagai ‘pengacara’ dirumah, setidaknya mengunjungi museum adalah suatu hal yang asyik untuk dilakukan, apalagi menambah pengetahuan saya yang niscaya bisa berguna bagi profesi saya nantinya.

Museum kesehatan yang dirintis oleh seorang peneliti yaitu DR. dr. Hariyadi Soeparto, DOR, M.Sc. ini menurut sejarahnya dibangun pertama kali berupa Rumah Sakit yaitu “Lembaga Penjakit Kelamin” pada tahun 1951-1965. Hingga akhirnya rumah sakit tersebut dipindahkan ke Karang Menjangan karena sudah dianggap kurang memadai lagi, sehingga oleh Depkes dijadikan Museum Kesehatan, dan diberi nama sama dengan menteri kesehatan yang menjabat pada masa itu, dr. Adhyatma MPH.

***
Pertama kali masuk ke pelataran museum, suasananya sangat sepi, hanya ada beberapa kendaraan bermotor dan dua orang petugas yang baru datang dan tengah berbenah, seakan melirik kami dengan enggan. Bisa jadi karena kami hanya berdua saja ya? Okeilah mungkin hanya perasaan kami saja. Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya kami baru dipersilahkan masuk ke dalam ruangan.

Kesan pertama adalah menyenangkan. Kenapa? Karena selain ditemani oleh seorang pemandu museum, kami juga dimanjakan dengan suasana museum yang cukup sejuk dirasakan dan dipandang mata. Koleksinya tertata rapi, ada banyak dokumen penting yang dengan mudahnya kita baca dalam satu folder kit. Misalnya saja, koleksi piagam-piagam penghargaan ilmu kedokteran dan kebidanan yang sudah berusia senja, dimana hampir semua warnanya sudah kecoklatan, hingga koleksi cetakan huruf Braille dengan bentuknya saya kagumi. Disana pun kami bebas bertanya apa saja, kami juga boleh mendokumentasikan koleksi museum sepuasnya hehe. Serasa menjadi turis dirumah sendiri.

Nah, di museum ini juga tidak melulu menyediakan beberapa dokumen penting yang saya sebutkan tadi, namun ada banyak benda-benda menarik yang berhubungan dengan dunia kesehatan tentunya. Sejak awal pertama kali memasuki museum ini, kami disambut oleh patung Ganesha yang berdiri gagah ditengah ruangan serta lukisan dr. Adhyatma MPH, selaku menteri kesehatan, sekaligus sang penggagas ide. Lalu secara beriringan, kami disuguhi referensi sejarah akan perkembangan ilmu kedokteran, yang tentunya dibidani oleh manusia-manusia cerdas negeri ini pada eranya. Foto-foto beliau tersebut dipajang berderet megah menghiasi dinding. Saya pun berkhayal kapan bisa dipajang diantara mereka. Ini lukisan dr. Adhyatma MPH, menkes pada masa itu.

Tak lama kemudian mata ini tertuju pada toga lulusan pertama Indische Art atau Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga versi jadul, lengkap dengan jas dinas dokter spesialisnya. Hwm, ngiler dan membuat saya semakin termotivasi untuk segera mendapatkannya juga. Amin. Oh ya, hampir lupa, ruangan ini disebut juga Sasana Pendidikan dan Organisasi Kesehatan.

Ruangan ke dua, yaitu Sasana Alat Non-Medis. Dalam ruangan ini kami menjadi saksi bisu koleksi sarana dan prasarana kesehatan, baik dari lingkup transportasi, dokumentasi dan komunikasi. Ada mesin ketik, mesin fotokopi, kalkulator, motor kuno, ada juga sepeda angin, kamera jadul, laptop jaman bahula dan masih banyak lainnya. Meski tidak berhubungan langsung dengan dunia medis namun alat-alat ini sangat mendukung para dokter untuk menjalankan profesinya.

Setelah puas memandangi koleksi alat non medis, kami menuju Sasana Alat Medis. Ruangan ini beraroma sangat medical; ada alat reproduksi (yg paling banyak macemnya kebetulan IUD), alat hemodialisa (bahasa kerennya cuci darah), berbagai alat penimbang (mulai bayi sampe dewasa), alat optik dan beragam alat laboratorium lainnya. Ada juga alat P3K yang dipakai dulu waktu jaman perang ala Bung Tomo, Lidokain (pengurang rasa sakit/obat bius) juga ada.

Selanjutnya kami menuju Sasana Daur Ulang Alat Kesehatan. Ruangan yang bisa dibilang paling sempit ini, dipenuhi berbagai alat-alat daur ulang dari alat kedokteran seperti spuit, selang infus, dan lainnya yang dibuat menjadi prakarya oleh adek2 kecil. Kemudian disusul dengan Sasana Flora dan Fauna, yang lebih tepatnya fokus pada dunia farmasi. Ada beberapa contoh-contoh tanaman obat yang berkhasiat yang berasal dari tanaman beracun. Pada bagian faunanya ada beberapa hewan awetan asli yang disebut vector penyakit atau penyebab penyakit, seperti sapi yang menyebarkan Anthrax dan kupu-kupu yang serbuk sayapnya bisa mengakibatkan alergi. Sayang, kenapa hewan bersel satu sejenis Amoeba atau bakteri lain yang kasat mata, tidak dipublikasikan :p

Akhir dari perjalanan kami kali ini ditutup oleh sebuah pertunjukan menarik dari Sasana penyembuhan tradisional. Hehe, Ini dia nih yang ditunggu-tunggu. Terpisah tidak jauh dari gedung utamanya, gedung ini dijamin tak kalah menarik dari gedung sebelumnya.

Sesampainya disana, ada sedikit kesan mistis yang saya tangkap. Karena dari pertama kali masuk saya sudah disambut dengan sepasang boneka kayu yang sangat fenomenal itu. Please welcome, Mr. Jailangkung dan Mrs. Nini Thowok. Tahukah anda, boneka kayu inilah yang sering digunakan masyarakat awam untuk ditugaskan mengusir apapun yang mengganggu keselamatan desa. Mengerikan bukan. Ya tapi itulah khazanah pengobatan dalam negeri yang ajaib ini.

Ada pula beberapa lemari kaca yang berisikan benda-benda klenik, seperti jimat dan berbagai benda aneh yang dikeluarkan dari tubuh pasien post-santet. Meski banyak benda yang ndak masuk nalar, tapi memang aneh juga bisa ada di perut manusia. Subhanallah. Saya sendiri memberikan standing ovation ajalah buat para dukun, hehehe. Oh ya, dari beberapa jimat yang dipajang, guide saya mengatakan bahwa ada beberapa diantaranya yang masih 'aktif', hoho gawat nih!

Di seberang lemari kaca tersebut, berdiri sebuah lemari kaca lainnya yang berisikan beberapa botol air yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit: Ponari Sweat! Hahaha. Dipajang pula wayang kulit, yaitu beberapa tokoh pewayangan yang menjadi ikon kesehatan karena mereka adalah klan ksatria yang bisa menyembuhkan penyakit dari ilmunya masing-masing. Sisi lainnya ada beberapa pohon keluarga dari silsilah kerajaan yang kuno. Mungkin aja nama nenek moyang kita ada di situ. Sayangnya, saya sendiri tidak tertarik untuk meniliknya lebih jauh. Ruwet :p

Huaaaa... akhirnya selesai sudah perjalanan kali ini, cukup dengan mengeluarkan Rp 1500,- dari dompet tapi dapet banyak pengetahuan baru yang saya dapat. Sayangnya mulai pertama kali kita datang sampai kita pulang hanya kita berdua pengunjungnya, no one else. Apa mall dan twentyone lebih menggiurkan daripada mengunjungi museum yang manfaatnya luar biasa? Ya itulah Indonesia.

nb:
Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumentasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!

1 comment:

Anonymous said...

Teilweise ziemlich verwirrend!