Pages

7/23/09

Jack Timor


Text and photo by Ayos Purwoaji

Setelah puas menyesap kopi Kintamani, saya dan Navan pun melanjutkan perjalanan menuju Bedugul. Namun pembicaraan kami dengan mas-mas di kampung Madura membuat kami sedikit merubah arah perjalanan, Navan diberitahu tentang adanya jembatan tertinggi di Asia Tenggara, letaknya tidak jauh dari Bedugul. Hmm okelah, kami pun berencana menambahkan jembatan tersebut dalam itinerary kami.

Sama seperti sebelumnya, perjalanan kami dihiasi oleh hawa dingin dan hamparan kebun di lereng-lereng gunung. Saya dan Navan sangat menikmati perjalanan ini. Beberapa truk dan mobil hanya sesekali melintas, selebihnya hening, hanya suara mesin motor dan roda yang beradu dengan aspal. Kami pun ngobrol, ngobrol tentang apa saja. Salah satunya adalah rencana saya untuk membuat feature tentang anjing Kintamani dan sebuah desa muslim dengan adat Hindu yang kental di Bali Utara. Navan pun tampaknya juga punya sebuah keinginan yang sama, ia ingin mencoba serius untuk menjadi seorang travel writer handal. Semoga.


Tidak seperti bayangan kami, jembatan yang kami tuju tak kunjung muncul. Kami jadi khawatir, apakah jalan yang kami lalui ini benar adanya. Namun setelah tanya sana sini ternyata memang arah yang kami tuju sudah benar, hanya saja ada kekacauan metrik antara saya dan penduduk sekitar. Orang lokal sih ngomong jarak yang puluhan kilo itu dekat, tapi bagi saya itu jauh sekali.

***
Masih menyusuri jalan kami pun liat kanan kiri. Tak disangka sekitar lima kilometer sebelum jembatan inceran kita ada sebuah hal yang menarik. Kami melihat sebuah bangunan seperti pendopo dengan bentuk arsitektur campuran, atapnya dari seng, beberapa sudah karatan di sana sini. Di depan pelatarannya yang luas ada sebuah gapura besi yang bertuliskan: Candradimuka Tinju Indonesia. Wuah saya dan Navan dengan rasa curious yang tinggi pun tanpa pikir panjang segera memasuki pelataran bangunan itu. Ternyata bangunan itu adalah sebuah sasana legendaris yang bernama Cakti Bali.

Sasana ini punya seorang promotor tinju nasional yang bernama Daniel Bahari. Bagi para pecinta tinju pasti sudah tidak asing lagi dengan nama ini. Dia adalah orang yang melejitkan potensi petinju-petinju besar seperti Adi Swandana, Fransisco Lisboa, Yulianus Bunga, dan Daud Cino Jordan. Bahkan ketiga anaknya juga sukses sebagai petinju nasional dan internasional, sebut saja Pino Bahari, Nemo Bahari, dan Daudy Bahari. Daniel juga pernah menangani mantan juara IBF kelas bantam junior Ellyas Pical dan Chris John.

Sayangnya Daniel saat itu tidak ada di sasananya. Saya pun ditemui oleh seorang petinju muda bernama Jack Timor. Saya pernah mendengar namanya di Indosiar dalam sebuah pertandingan pembuka. Tak disangka saya saat ini bertatapan langsung dengannya. Umurnya masih muda, seumuran sama Navan, namun bedanya jelas; badan Jack Timor keras dan liat dengan perut sixpack, sedangkan Navan adalah pemuda happy traveler dengan lemak yang menghiasi seluruh tubuh.

Jack berasal dari Sumba. Ia menyenangi tinju akibat pengaruh Yosi Emnifu, paman Jack yang merupakan seorang petinju terkenal pada zamannya. Sedari kecil setiap hari Jack berlatih memukuli sansak pasir buatan sendiri. Hingga akhirnya pada umur 13 tahun ia harus lari dari keluarganya untuk mengadu nasib di Surabaya. Sampai di Surabaya, talenta Jack sebagai seorang petinju dilihat oleh temannya. Saat itu lah Jack mulai masuk dalam sebuah sasana amatir untuk kali pertama dalam hidupnya.

Karena tidak mendapat kepastian untuk bertanding, Jack muda yang tidak puas pun akhirnya merantau menuju Jakarta. Ia berharap ada sasana profesional yang mau untuk menampung bakatnya. Tapi ternyata kehidupan Jakarta yang keras membuat Jack harus berpikir lain. Ia sempat menjadi kaki tangan Hercules, penguasa Tanah Abang yang legendaris. Kekerasan dan darah sudah menjadi kesatuan hidup dalam diri seorang Jack Timor.

Hingga akhirnya ia masuk dalam sebuah sasana profesional dan akhirnya turun bertanding. Sayangnya sasana profesional pertama Jack Timor kurang memberikan perhatian dan aturan yang jelas. Hal ini membuat Jack limbung, ambisinya sebagai juara dunia terlalu mahal untuk dihabiskan dalam sebuah sasana yang tidak disiplin. Tapi Tuhan memang selalu memberikan jalan pada siapapun yang bersungguh-sungguh, ketekunan Jack akhirnya mempertemukan dia dengan Daniel Bahari.

Sekarang di bawah asuhan Daniel Bahari, Jack pun mulai optimis menggantungkan cita-citanya sebagai petinju kelas dunia. "Saya harus jadi juara dunia sebelum pulang kampung, itu janji saya pada papa," ujar Jack. Ah saya sih berdoa semoga sasana Cakti Bali bisa mewujudkan impian besar Jack Timor.


***
Cangkrukan di Cakti Bali memang mengasyikkan. Saya pun hampir saja melupakan tujuan kami untuk menuju Bedugul. Akhirnya setelah saya pamit dan bertukar nomor kepada Jack, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Dari sasana Cakti Bali tidak perlu waktu lama untuk menemukan jembetan Tukad Bangkung yang tertinggi di Asia Tenggara. Tingginya mencapai 71,14 meter, rencananya jembatan iniakan dipakai sebagai salah satu spot bungee jumping.

Jembatan Tukad Bangkung mempunyai panjang 360 meter, lebar 9,6 meter, dan pondasi pilar 41 meter di bawah tanah. Jembatan ini menggunakan teknologi balanced cantilever dengan perkiraan usia pakai selama 100 tahun. Untuk membangunnya dibutuhkan biaya 49 milyar dengan pengerjaan memakan kurun waktu yang cukup lama yaitu sejak tahun 2001 dan diresmikan pada tanggal 19 Desember 2006.

Jembatan ini menawarkan pemandangan yang cukup indah dengan panorama perbukitan hijau dan udara lumayan dingin ditambah mengalir sebuah sungai di bawahnya. Ah saya yang orang Surabaya ini sudah pernah ke Jembatan Tukad Bangkung tapi malah belom pernah menyeberangi Jembatan Suramadu yang katanya paling panjang di Asia Tenggara. Hmm next time aja lah, hehe..

5 comments:

dinidini said...

majalah bokep? wkakakakaaaa...

anak semeru said...

ntu FHM sp yak...mungkin stelh sparing ma "guling"...dilanjutin ke kasur...hahahaha...

aklam said...

hahah itu namanya simple dream din. Kalo kamu tahu, diatas kasurnya cuman ada empat hal: CD MP3 bajakan, majalah tinju, majalah dewasa, dan foto pribadinya.
How simple life!
hehe, cuman yang saya ekspose yang paling 'menarik' aja...

aklam said...

@ anaksemeru
hahaa iyo paling vic...

giriprasetyo said...

hercules itu siapa ya??