Pages

7/23/09

Nungnung: Downstair Paradise


Text and photo by Ayos Purwoaji

Selepas mengagumi Jembatan Tukad Bangkung, saya dan Navan langsung tancap gas menuju selatan. Kami masih punya asa untuk mengunjungi Air Terjun Nungnung lalu menuju Bedugul. Perjalanan menuju Nungnung dari Jembatan Tukad Bangkung seingat saya tidak begitu lama, tidak seperti perjuangan kami saat harus menemukan Jembatan Tukad Bangkung dari pasar Kintamani.

Setelah jauh berjalan akhirnya kami temukan juga lokasi air terjun ini. Tempatnya adem ayem dan jauh dari polusi. Saking ayemnya malah terkesan sepi. Hanya ada segerombol muda mudi yang kecapekan setelah kembali dari air terjun Nungnung. Awalnya saya mengira untuk menuju air terjun kita hanya membutuhkan anak tangga yang tidak terlalu banyak, seperti air terjun Grojogan Sewu di Solo lah, tidak begitu panjang tangganya. Ternyata dugaan saya salah besar -entah mengapa saya ini kalo berpikir tentang sesuatu selalu salah, Tuhan ampuni hambamu ini- untuk menikmati keindahan air terjun Nungnung anda harus melawati ribuan anak tangga yang sangat sedap untuk membuat anda keringetan.

Saat melewati anak-anak tangga tersebut anda akan dihibur oleh lanskap hutan hujan tropis yang asri dan adem. Coba kalo di situ gak ada kanopi pepohonan, maka paparan sinar matahari langsung akan membuat perjalanan anda semakin berat. Developernya juga baik, selama perjalanan menyusuri tangga kita akan dihadapkan pada tiga gazebo untuk beristirahat. Duduklah sesekali dan coba dengarkan kicauan burung liar, maka kepenatan yang anda rasakan saat ditinggal pacar akan hilang seketika.

Saat mencapai air terjun Nungnung, pegalnya kaki karena harus menuruni ribuan anak tangga terbayar sudah. Nungnung cukup bagus untuk dilewatkan. Air terjunnya gede dan lega. Kompleks air terjunnya juga eksotik, dindingnya memutar seperti gelas raksasa yang dituang air ribuan galon setiap menit. Kebetulan saya dan Navan kesana pas tengah hari, sinar-sinar matahari menerobos masuk lewat celah-celah memberikan nuansa yang berbeda. Seperti di surga, holy feeling gitu. Tapi saya tahu, di surga tidak ada tangga.

Nungnung memang worth untuk dikunjungi oleh para traveler seperti saya dan Navan. Apalagi situs wisata ini juga termasuk free and easy site, maksudnya gratisan gituu. Kan lumayan tuh, hemat budget tapi hasil maksimal. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Air Terjun Nungnung, Navan harus segera diantarkan ke terminal Ubung sebelum petang. Kami pun kembali menyusuri tangga jahannam itu lagi. Anjrit, ternyata baliknya lebih membuat kita ngos-ngosan. Setiap gazebo saya dan Navan harus berhenti, uuh sudah saya bilang, di surga tempat kita tinggal nanti tidak akan ada tangga!

But anyway, konklusinya jelas: Nungnung adalah sebuah spot yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke kawasan Bali Utara.

5 comments:

dinidini said...

kebayang deh gimana ngos-ngos an nya kalian... terutama nabun, meheheheee

aklam said...

hahaha sumpah cuapek! sangat efektif untuk diet ketat.

noekriwil said...

subhanallah! keren yos! liat airnya aja krasa adem (lebay)

rulidegreat said...

rulidegreat, like this gan!!!

ririn said...

asik deh baca tulisan dan liat gambar ini.. jd pgn berwisata ke tempat2 yg gak biasa mcm ini..
thanks for sharing ^_^