Pages

7/23/09

Sacred Monkey van Ubud

Text and photo by Ayos Purwoaji

Selama tinggal di Bali, saya menghabiskan sebuah novel klasik yang berjudul Ramayana. Cerita ini sudah saya dengar sejak saya masih kecil, sebuah perburuan Rama untuk mencari Sita yang diculik oleh Rahwana. Namun saya baru membaca lengkap kisahnya saat ini, dalam sebuah buku apik yang ditulis oleh sastrawan India, RK Narayan. Ternyata memang epos besar seperti Ramayana dan Mahabarata sangatlah menarik untuk dibaca dan dikaji. Ramayana yang saya baca memberikan beberapa wawasan baru, ceritanya juga sangat seru untuk dibayangkan. Creature yang ada sangat banyak, saya bayangkan sebuah dunia seperti Warcraft atau Narnia dimana manusia bukan makhluk tunggal, ada banyak jenis makhluk cerdas lainnya. Rahwana mewakili makhluk besar seperti Orc, ada juga bangsa hewan seperti Jatayu, dan bangsa manusia seperti Rama.

Salah satu tokoh sentral dalam epos Ramayana adalah sosok kera cerdas dari klan wanara yang bernama Hanuman. Dikisahkan Hanuman adalah sesosok kera yang memiliki kekuatan supraalami yang luar biasa dan sangat cerdas serta santun. Saya terpesona oleh sosok Hanuman. Aksinya dalam memporakporandakan Alengka merupakan salah satu klimaks yang tampil dalam Ramayana. Kalo dulu saya waktu kecil suka sekali dengan lagu Jawa yang berjudul Anoman Obong.

***
Sosok Hanuman inilah yang membuat hewan remeh seperti kera menjadi komponen penting dalam agama Hindu. Dalam beberapa hal kera menjadi hewan suci yang dilindungi dalam aturan ketat agama. Kera pun diperlakukan egaliter seperti manusia, dan harus dikasihi. Itu yang saya dapatkan ketika saya berkunjung ke Monkey Forest, sebuah lokasi wisata yang cukup penting di Ubud. Saya berangkat ke sana ditemani oleh kawan lama saya, Becik dan Aris, dua wanita Bali asli yang jauh-jauh datang dari Singaraja.

Kawasan Monkey Forest adalah sebuah kompleks hutan yang luas. Di dalamnya terdapat habitat Kera Bali yang masuk dalam jenis kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Kera ini dangat dilindungi di kawasan hutan ini, kita boleh berinteraksi namun tidak boleh menjahili. Di dalam kompleks ini terdapat juga beberapa pura suci dan sumber mata air yang jernih. Tiga pura yang tersebar di areal Monkey Forest adalah: Pura Dalem Agung, Pura Beji, dan Pura Prajapati. Pada beberapa event Anda akan melihat beberapa upacara adat yang dilaksanakan di areal hutan kera ini, yaitu upacara Tumpek Ngandang untuk memberi sesaji pada hewan dan upacara Tumpek Nguduh yang ritualnya ditujukan untuk tumbuh-tumbuhan yang ada. Hanya membayar sebesar limabelas ribu kita sudah dapat sebuah paket wisata lengkap: alam dan budaya.

Kera-kera di Monkey Forest menurut saya termasuk santun, tidak seperti saudaranya di Sangeh yang buas dan suka ngambil kamera. Memperhatikan segala tingkah laku kera yang lucu ini juga menjadi salah satu treatment yang sangat pas untuk melepas penat. Kera-kera ini cuek aja banyak wisatawan yang melihat ulah mereka. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, saya mengabadikannya salah sebuah photoshot, silahkan dinikmati.

2 comments:

dinidini said...

saya takut monyet, wewww

anak semeru said...

yos...si becik ntu monyet juga ga? hehehe....becik2..kangen neh ma kawan lama....!!!