Pages

9/10/09

Polish Scout: Experiencing Indonesia

Text and photo Piotrek Zadrozny
Translation by Galih Setyo


________________________________________











Kontributor

Polish Scout Team
Mereka Piotrek, Lukas, Gosia, dan Eliza, tim dari Pramuka Polandia yang gemar
berpetualang. Puncak Kilimanjaro di Tanzania telah mereka taklukkan, Nepal dan India pun pernah mereka kunjungi. Tahun depan mereka berencana untuk mengunjungi Gunung Aconcagua di Chile, Amerika Selatan. Mereka suka dengan budaya, kehidupan dan teman yang baru. Pada tanggal 8-23 Agustus 2009 mereka memutuskan untuk menghabiskan liburan musim panas mereka di Indonesia yang menurut mereka jauh lebih murah jika berlibur ke Eropa Barat. Catatan beserta foto yang dimasukkan di sini ditulis oleh Piotrek Zadrozny.










Alih Bahasa
Galih Setyo adalah seorang penggiat alam bebas. Aktif di kegiatan kepanduan
dan menyukai trekking. Motto hidupnya seperti anak pandu di seluruh dunia; a scout protects nature, a scout is joyful! Sebagai seorang petualang dan fresh enjineer Galih bisa ditemui di blog pribadinya myscoutchemistry.wordpress.com.
________________________________________



Saat ini, di Polandia sedang musim gugur dengan mendung yang selalu bergelayut setiap hari. Bahkan, saat kami berangkat kerja pukul tujuh pagi hari, temperature mencapai 10°C. Walaupun demikian, tak menyurutkan niat kami untuk menceritakan petualangan kami di Indonesia dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Kisah petualangan ini akan terus hidup di benak kami untuk waktu yang lama, bagaimanapun petualangan ini sangat berkesan dengan berbagai alasan.

Pertama-tama, Indonesia sangatlah unik karena keramahan orang-orangnya yang membuat kami merasa bahwa kalian adalah teman kami. Untuk segala keramahan, waktu dan perbincangan hangat sejak pertama di Yogyakarta yang membuat kami tahu bahwa petualangan ini akan sangat mengesankan. Walaupun kami menginap di Sekretariat Dewan Kerja Daerah (DKD) DI Yogyakarta, namun itulah sesuatu yang benar-benar kami cari, suasana lokal, bermain voli di malam hari, berbincang dengan orang lokal yang tak akan pernah kami temui jika kami menginap di hotel berbintang lengkap dengan AC. Persinggahan selanjutnya bahkan lebih mengesankan, terutama di Jember, di sekretariat Pramuka Univesitas Jember, dimana saat malam hari banyak orang bersliweran keluar-masuk ruangan tempat kami tidur.

Sekarang saatnya menceritakan pertemuan kami dengan beberapa Pramuka di Indonesia. Baik saat di Jogja, Surabaya, maupun di Jember semuanya sangat gila dan luar biasa. Walaupun kadang kami terhalang oleh bahasa, hal itu tak menghalangi perbincangan hangat kami, misalnya saat berjalan ke KFC di Jogja mungkin itu adalah hal yang biasa, namun berjalan kaki dengan mengobrol banyak hal selama perjalanan bukanlah hal biasa. Saat di Surabaya, penyambutan yang unexpectable kami terima dari teman-teman Pramuka ITS. Bagaimana tidak, kami sangat menikmati bermacam games tradisonal menarik yang disuguhkan. Misalnya game Walking On The Fire yang sangat menakjubkan, it’s outrageous moment. Mengajak kami untuk mengalahkan rasa takut kami. Tentunya akan kami bawa permainan tradisional Indonesia ini untuk teman-teman kami di Pramuka Polandia.

Tentang perjalanan kami di Indonesia, kami mulai dari Jogjakarta, sebuah kota yang nyaman, manis dan memorable. Malam hari, pada tanggal 8 September pesawat kami mendarat di Jogja. Kami ditemani oleh Wira Prasetya, lelaki kurus tinggi berkacamata anggota Pramuka UGM yang punya hobi hunting foto, dia adalah seorang arsitek. Dan saat ini, dia baru saja mengawali kuliah S2 di Teknik Lingkungan ITB. Selama dua hari, Wira mengantar kami berputar-putar Jogjakarta dan sekitarnya. Borobudur dan Prambanan menjadi tujuan kami. Benar-benar candi yang luar biasa, bukan hanya karena banyak orang lokal yang berfoto dengan kami, tapi kami juga sangat takjub dengan peradaban Indonesia di masa lampau. Zajebisty! Sangat bagus. Kami pun sempat mencicipi makanan tradisional Indonesia, sate kambing. Sampai sekarang pun kami masih merasakannya, walaupun kami masih belum yakin kalau itu benar-benar daging kambing. Itu bukan isi perut kambing kan? Hahaha.

Perjalanan kami lanjutkan ke Surabaya, 10 Agustus siang kami telah sampai di Stasiun Gubeng, Surabaya. Di kota Pahlawan ini kami disambut oleh Galih Setyo, seorang Pramuka ITS yang Oktober nanti akan diwisuda dari jurusan Kimia ITS setelah 6 tahun kuliah. Hoho what a long time bro! Begitu sampai di Surabaya, kami langsung menanyakan Galih dimana kami bisa menemukan european food karena perut kami masih belum bisa berkompromi dengan makanan Indonesia. Ya, ini mungkin efek samping setelah makan sate kambing di Jogja, hehehe. Maka meluncurlah kami ke Pronto, sebuah resto Italia dengan konsep all you can eat. Benar-benar makan malam yang mengesankan. Kami menemukan masakan Eropa dengan harga murah dan kami bisa ambil sepuasnya. Entah apakah Galih juga menganggapnya murah, maaf kalau harga makanan ini mengganggu isi dompetmu, sorry bro.

Malam itu, setelah makan malam dan pertemuan dengan Pramuka ITS, kami berjalan-jalan ke pasar tradisional Keputran, pusat sayuran terbesar di Surabaya dan beroperasi di malam hari. Pasar ini sungguh luar biasa, orang-orangnya, pekerjaan mereka, ekspresi, aroma dan atmosfer yang kami rasakan saat menjelajahi sisi pasar ini dengan jalan kaki. Saat pulang kami mencoba untuk melewati Jl. Irian Barat dengan jalan kaki pula. Jalan yang remang-remang dan banyak banci yang cukup menaikkan adrenalin hehehe, untunglah kami jalan beramai-ramai, kalau tidak bisa-bisa kami ditawari, gawat.

Keesokannya, kami melakukan Surabaya city tour bersama teman-teman Pramuka ITS dengan naik motor. Sungguh ini pengalaman yang mengesankan, karena di negara kami sangat jarang bepergian dengan naik motor. Tujuan city tour kali ini adalah Museum House of Sampoerna. Di sini, kami menikmati fasilitas Surabaya Heritage Trip dengan bus yang eyecatching, rutenya meliputi HoS - Penjara Kalisosok - Gedung Cerutu - Tugu Pahlawan - Gedung PTPN XI - HoS. Setelah puas menikmati Heritage Trip, kami masuk ke dalam museum yang mengumpulkan koleksi Liem Sien Ting, pendiri Sampoerna. Kami terperangah ketika mengetahui bahwa bagian belakang museum adalah pabrik pelintingan rokok Dji Sam Soe yang terkenal. Kami berkesempatan untuk menyaksikan bagaimana pekerja wanita melinting dan mengemas rokok dengan kecepatan tangan yang mencengangkan. Tak henti-hentinya kami geleng-geleng menyaksikan tangan mereka. Amazing!

Malam harinya, kami meninggalkan Surabaya menuju Bromo. Kami bergegas agar tak ketinggalan sunrise di Bromo yang konon merupakan salah satu sunrise terindah di muka bumi. Beruntung, Galih bersedia menjadi guide kami selama perjalanan ke Bromo hingga Kawah Ijen, perjalanan ini begitu menyenangkan. Jam empat pagi kami sudah sampai di Pos Penanjakan, Bromo, the best spot for sunrise. Kami akui, sunrise di sini benar-benar indah. Bromo bagaikan di bulan dan kami belum pernah melihat yang seperti ini. Awesome!

Selepas dari Bromo, kami menuju Kawah Ijen di Bondowoso, namun karena khawatir terlalu malam sampai Kawah Ijen, kami memutuskan menginap di Sekretariat Pramuka Universitas Jember. Benar-benar momen yang tak terlupakan karena disini kami memasak. Kami menyebut momen ini “Galih’s Cooking Show” dan kami sempat mengabadikannya dengan handycam. Masakannya merupakan makanan ternikmat selama di Indonesia. Walaupun kami memasak di dapur yang kondisinya sangat menyedihkan, namun acara memasak kali ini sangat istimewa dan kami akan mengingatnya untuk waktu yang lama. Mengapa? Karena ini nyata dan tidak dibuat-buat seperti untuk turis-turis kulit putih yang biasanya mengunjungi Indonesia. Namun, kali ini saya akan menuliskan sebagai makanan internasional karena kami memasak kentang goreng, corned beef, pasta spaghetti dengan sedikit sayuran dan ini lebih tampak sebagai masakan internasional. Terimakasih Galih, mungkin tanpamu kami tidak akan pernah merasakan makanan ringan dari Indonesia dan hanya memakan hamburger McD atau ayam goreng KFC hanya karena khawatir dengan kondisi perut kami.

Keesokan harinya, tanggal 13 Agustus, kami menuju Kawah Ijen bersama teman-teman dari Pramuka Universitas Jember dan baru sampai di Pos Pendakian Paltuding siang harinya. Kawah Ijen benar-benar menakjubkan. Kami sungguh salut dengan pekerja pengambil belerang yang tiap kali naik turun membawa beban sekitar 80 kilogram. Selepas Ijen, kami langsung menuju Pelabuhan Ketapang untuk menyeberang ke Bali dan kami sampai disana malam hari. Setelah sampai di Gilimanuk, kami menyewa taksi ke Lovina. Karena terlalu malam, biaya taksi agak sedikit mahal, tetapi tak jadi soal karena kami tak ingin kehilangan waktu untuk perjalanan selanjutnya. Kami hanya menginap sehari di Lovina dan hanya berjalan-jalan di sekitar pusat keramaian. Keesokan harinya kami menyewa dua skuter dan menuju Ubud, kami mendengar bahwa Ubud adalah pusat kerajinan. Selama perjalanan ke Ubud, kami menjumpai dua pura dan mata air panas. Saat perjalanan, hujan turun sangat deras dan ini cukup mengherankan bagi kami. Di Ubud, kami tidak bisa menemukan satu penginapan pun karena semuanya penuh dengan turis asing. Setelah dua jam, kami hanya mengunjungi Monkey Forest dan hari mulai malam. Keesokannya, kami kembali ke Lovina dengan mengunjungi Pura Besakih lebih dulu.

Besoknya, kami memulai perjalanan panjang ke Gili Meno. Dan ini tidak mudah seperti saat di Jawa bersama Galih dan Wira, karena semua orang mendapatkan banyak uang dari kami sehingga kami harus menawar untuk mendapatkan harga yang bagus. Di Gili, kami tiba pukul 6 malam, sehingga tidak ada kamar yang bisa disewa dan kami tidur di emperan sebuah restoran. Esok paginya baru kami menyewa dua bungalow dan memulai liburan kami di surga. Kami berenang dengan penyu besar, melihat batu koral dan mencoba scuba diving. Kami menghabiskan liburan di surga ini selama empat hari. Malam keempat, kami meninggalkan pulau dan menuju Desa Senaru –pos awal pendakian ke Rinjani. Kami memilih ke Rinjani karena kami dengar jika Rinjani sedang mengeluarkan lahar dan sangat menakjubkan. Dalam enam jam pendakian, kami mencapai titik tertinggi yang paling memungkinkan untuk melihat keluarnya lahar di Rinjani, sebuah fenomena yang jarang terjadi.

Esoknya, kami kembali ke Kuta, Bali dan tiba pukul dua pagi, tentu semua orang di hotel sedang tidur. Kami pun menghabiskan malam di gerai McD yang buka duapuluhempat jam. Beruntung, kami segera menemukan penginapan keesokan harinya. Di Kuta kami menikamti momen terakhir di Indonesia, terakhir kali mandi di laut dan merupakan kesempatan terakhir untuk mencoba durian yang rasanya sangat menakutkan. Kami masih heran bagaimana kalian bisa memakannya.

Indonesia sangat menakjubkan. Tak ada salahnya jika kami menulis tentang Muslim. Kami kagum dengan ketaatan kalian pada Tuhan. Kalian bisa bermain dan terlibat dengan semua aktivitas namun masih bisa menemukan waktu dalam sehari untuk berdoa kepadaNya. Kami belajar dari kalian. Begitu juga dengan orang Buddha dan Hindu, begitu banyak tempat untuk mereka berdoa tidak seperti di Eropa. Orang Indonesia dengan segala keramahan dan sikap bersahabat membuat kami terkesan. Setiap orang selalu siap menolong, mereka selalu menunjukkan pada kami jalan yang benar tanpa memperlakukan kami sebagai mesin uang seperti yang kami jumpai di Nepal dan India. Selain itu, kami rasa di Indonesia tak ada orang yang tak bekerja, setiap orang punya hal yang dikerjakan. Beberapa menjual sesuatu di jalan, menjual batik, lukisan, bahkan ada yang sekedar menutupi jok sepeda motor dengan kardus agar tak terkena sinar matahari. Dengan kata lain, setiap orang mengerjakan sesuatu dan tidak hanya duduk termangu.

Pada akhirnya, kami juga ingin menuliskan kekecewaan terbesar kami. Kuta merupakan kekecewaan kami. Mengapa? Karena Kuta terlalu Eropa dan sunguh disana tak ada sesuatu yang terasa Indonesia bahkan Asia. Faktanya, terlalu banyak hal yang Eropa daripada Indonesia yang kami rasakan di Kuta. Itu sungguh bukan tempat kami. Bagaimanapun, perjalanan ini penuh kejutan, perbedaan budaya, perbedaan agama, bahkan makanan. Semuanya adalah apa yang kita cari. Terima kasih untuk semuanya, semoga travel report ini bisa menggambarkan perasaan kami tentang Indonesia. Terimalah salam hangat dari kami untuk semua Pramuka dan orang-orang yang kami temui. Kami akan sangat merindukan Indonesia. Czuwaj and it was zajebisty. And please come to Poland, Dobra?

Untuk melihat koleksi foto Piotrek Zadrozny saat mengunjungi Indonesia bisa dilihat di gallery Picasa miliknya:
http://picasaweb.google.com/zadrapz/Indonezja2009#

6 comments:

galih setyo p said...

see..turis aja gak suka dg yg touristic...
hahaha..
VIVA Backpacking..

winda said...

hwm,indonesia memang eksotis luar biasa :>

wiraprasetya said...

Hm, artikel itu memang ditulis Piotr sendiri atau rekaan penulis? Haha...

aklam said...

@ wiraprasetya
haduh yo ndak tau yo mas, ketoke sih mas piotrnya sendiri deh, tapi nggak tau kalo dah di markup sama om Galih :)

Galih said...

@ Wira : he..km khan jg dpt emailnya piotr to..??? tp emang ada misi pribadi sich..hehe
@ Aklam : emang sdikit dimodif...cz email aslinya agak ribet...kenalin yos, wira...seorang traveller 'n maniak foto...my soulmate in scout...hahaha

bayu said...

saya setuju bwanget dg Galih, Indera saya bergejolak waktu baca Piotr bilang " KUTA TERLALU EROPAH..." saya usul, mulai sekarang tempelkan tanda dimana2 :
" stop Globalize my Village.....!