Pages

9/10/09

Fashionable Jember

Text & photo by Efi Trisning

_____________________________________________










Kontributor

Efi Trisning, seorang mahasiswi semester akhir di Teknik Kimia ITS. Memiliki jiwa enterpreneur dan sukses mengembangkan beberapa buah bisnis, salah satunya adalah usaha aksesoris w
anita dengan label Eve Accesories. Wanita mungil ini juga seorang koki yang baik dan traveler nekat. Suatu saat ia pernah melakukan short trip ke Lampung seorang diri, sebuah perjalanan yang tidak mungkin dilakukan oleh wanita normal.
_____________________________________________

Halo Hifatlobrainer, untuk pertamakalinya saya menulis untuk blog ini, setelah sebelumnya hanya menjadi silent reader bermacam-macam cerita asyik yang disuguhkan para kontributor setia blog ini. Kali ini saya akan membagi perjalanan saya saat mudik liburan ke Jember beberapa waktu lalu. Kebetulan saya pulang saat di Jember diadakan sebuah acara besar dengan grand theme Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ), sebuah program tourism yang gencar digalakkan oleh pemerintah kota dalam beberapa tahun terakhir.

Awalnya perjalanan saya dimulai saat saya menghadiri resepsi pernikahan teman lama. Saya pergi berdua bersama seorang sahabat kecil saya. Selesai menghadiri resepsi, saat pulang kami pun mampir ke alun-alun jember, hehehe lama sekali saya tidak mengnjungi alun-alun, rindu sekali rasanya. Alun-alun yang menjadi pusat kota pun saat ini bersolek lebih manis. Banyak hal yang yang berubah, menjadi semakin ramai saja. Saat sedang asyik berputar mengelilingi alun-alun, ditengah perjalanan akses jalan ditutup total, terpaksa kami berdua berjalan kaki mengelilingi alun-alun.

Bulan Agustus memang puncak dari segalanya, begitu juga keramaian di alun-alun ini bertambah berkali lipat di bulan Agustus. Wuihh saya lihat ribuan orang berkumpul memadati dan memenuhi ruang kosong yang tersisa. Di alun-alun diselenggarakan banyak acara, mulai dari festival jajanan, pesta rakyat, pertunjukan, atraksi kembang api, dan orkes dangdut yang aduhaai. Semua disuguhkan ditempat ini. Pada sisi lain saya melihat banyak spanduk yang bertuliskan “JFC, 2 Agustus” dipasang berputar mengelilingi alun-alun yang luas itu. Wah ini acara tahunan yang paling heboh di Jember, sayangnya saya belum pernah nonton sebelumnya. Kali ini saya harus nonton! saya bela-belain ndak pulang ke Surabaya walau hape saya selalu berdering, sebuah pertanda panggilan darurat oleh dosen tercinta.

Esoknya, saat hari H, saya kembali ke alun-alun. Kali ini saya bertemu dengan seorang karyawan telekomunikasi di Surabaya. Dia sangat amat penasaran dengan event JFC, dia bahkan rela memesan tiket kereta Mutiara Timur untuk hadir di acara ini. Hahaha hidup ini penuh perjuangan dan pengorbanan, saya sepakat itu. Ternyata JFC jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya; ribuan orang berkumpul berderet sepanjang jalan 3.6 km dari alun-alun Kota Jember hingga GOR Kaliwates, penuh sesak dan tentu saja panasss, semua akses jalan ditutup, ratusan orang berseragam ijo siap menjaga keamanan dan ketertiban, pedagang kakilima pada sumringah jajanan mereka laris manis. Subhanallah, pantas saja banyak wartawan media internasional yang datang kemari, seperti Reuters dan Associated Press. Acara ini memang luar biasa besar dan penuh gegap gempita.

Kali ini, JFC yang sudah menginjak tahun ke delapan mengangkat tema World Unity. Entah apa yang melatarbelakangi pemilihan tema itu. Tapi sejak tahun pertama, yang saya tahu sih tema-tema yang disuguhkan sangat humanis dan punya pesan tersendiri. Menurut kabar yang saya dapatkan, acara ini diikuti oleh 600 model dengan balutan busana yang menurut saya super aneh! Bayankan saja, busana-busana yang dipakai oleh model-model amatir itu bukan couture yang didesain oleh Elie Saab atau Christian Lacroix, tapi itu murni bikinan mereka sendiri. Konon mereka bekerja keras untuk itu, mengumpulkan uang, beli bahan, menggunting pola, menjahitnya, dan menambah detail aksesoris. Berbulan-bulan mereka mengerjakannya. Namun saya akui mereka berhasil membuat saya terpesona. Kegilaan ini ternyata begitu dekat, di Jember, sebuah kota kecil di ujung timur Jawa saya merasakan atmosfer yang sama sekali berbeda. Sebuah nuansa kreativitas yang asing, membuat saya seperti terbang ke Rio de Jeneiro.

Diawali dengan rombongan marching band yang unik. Seluruh anggota marching band ini dibalut dengan busana merah dan putih, panampilan mereka membuat jiwa patriotisme saya muncul tanpa permisi. Patriotisme itu kembali hadir ketika beberapa model memperagakan busana-busana yang mengangkat kekayaan khasanah bangsa Indonesia, meraka mengenakan busana yang bercirikan khas Minangkabau yang dikombinsikan dengan sesuatu yang unik, meski mempesona menurut saya sih bajunya malah terlihat aneh. Hehehe. Keanehan itu tidak berhenti sampai disitu, dibelakangnya serombongan model berjalan dengan baju penuh sayuran! Ohhh wortel, tomat, salad, strawberry, hingga terong! Sesi ketiga ini memang mengambil tema Upper Ground yang inspirasi fesyennya berasal dari kekayaan alam yang muncul dari perut bumi. Warna hijau mengusai sesi ini, saya merasa menjadi seorang vegetarian.

Seruan untuk menyayangi hewan muncul pada defile selanjutnya yang mengambil tema Animal Plants. Pada sesi ini busana yang dikenakan memiliki banyak elemen hewan dan tumbuhan. Selanjutnya defile-defile besar bergantian; Off Life adalah rombongan yang menenakan busana yang menggambarkan tentang ketersisihan dan defile Hard Soft yang membawakan tema paradoks dalam busana mereka. Putih-hitam, dingin-panas, keras-lembut. Ada seorang peraga yang jalan dengan mengenakan busa yang aneh dan gila; bawahan model army look sedangkan atas adalah baju rumbai dengan aksesoris suntikan. Hahaha. Ediaaan.

Tiga rombongan terakhir adalah defile bertema Container yang bercerita tentang globalisasi, Techno Earth yang ingin menyampaikan batas antara modern dan tradisional, serta Rythm yang mengangkat musik sebagai isu utama busana mereka. Kegilaan pun masih berlanjut, ada seorang wanita yang menggunakan sanggul dari gedhek atau anyaman bambu, ada pula sosok model yang menggantung alat-alat musik di tubuh mereka. Ahh JFC ternyata memang bisa membawa suasanya hati yang berbeda, melihat segala kegilaan da kreativitas ini saya jadi lega, meski udara panas tak kunjung reda.

No comments: