Pages

9/10/09

Karimunjawa: What We Love About

Text and photo by Dwi Putri

________________________________________________










Kontributor

Dwi Putri adalah seorang traveler dan hiker. Suka membaca buku, khususnya travel
novel. Terobsesi dengan Trinity dengan Naked Travelernya. Sedang menyukai lomografi, dan seorang movie freak sejati. Sebelumnya Putri pernah membagikan pengalamannya yang luar biasa saat traveling ke Kawah Ijen untuk Hifatlobrain.
________________________________________________

Traveling ke Karimunjawa terdengar impossible buat saya. Pertama karena budget yang pernah saya baca nominalnya ‘wah’ banget dan beresiko bikin migrain kalo kebanyakan dipikirin. Kedua, sebagai anak cewek pasti saya susah dapet ijin dari orang tua kalo ndak ada saudara yang ikutan.

Sampai suatu hari saya ngobrol sama Skan (baca: Seken), temen kuliah saya yang ternyata juga kepingin ke Karimunjawa. Sejak itu kami serius nyusun jadwal dan anggaran, kami sepakat berangkat minggu kedua Agustus. Saya pun mulai menyusun alasan untuk meluluhkan hati orang tua dan dosen saya. Alhamdulillah, kami berdua sama-sama sidang cepat dan dinyatakan lulus sesuai rencana.

Rencana awalnya kami satu rombongan sebelas orang, tapi ternayata pada hari H hanya empat orang yang masih teguh memendam rasa travelingnya; Saya, Skan, Yeye, dan Manna. Kami berempat adalah wonderwomen yang buta arah, kami merasa misi ini semakin impossible. Untunglah ada GPS di hape Yeye dan Skan sampe rela pinjem atlas ke adeknya. Hahaha whatever, the show must go on with or without you, boys!

Terakhir kali saya menginjakkan kaki di terminal Bungurasih adalah saat kelas 6 SD. Saya sendiri adalah fans berat kereta api dan susah berpaling ke alat transportasi lain. Apalagi terminal Bungurasih adalah berarti copet dan preman di mata saya. Haha gomen. Just kidding. Malem itu kami nyampe Bungur jam tujuh malam, dan menunggu satu setengah jam untuk bus satu-satunya yang langsung menuju Jepara yaitu Bus Indonesia.

Ketika bus sudah di depan mata, ternyata di dalam sudah banyak makhluk yang duduk manis di kursi. Oh no! Saya tidak terlalu suka plan B; naik Bus jurusan Semarang dan turun di Trengguli, Kudus, which is cuman sebuah pinggiran jalan raya tempat menunggu bus kecil menuju Jepara karena diperkirakan kami akan celingukan di Trengguli jam tiga pagi! Untungnya ada dua wanita yang tiba-tiba batal naek bus, jadi saya dan Manna bisa dapet tempat, pas! Empat kursi kosong! Ini adalah hikmah dari tujuh teman saya yang batal ikut. Hehe we love you, God!

Harus diakui, terminal Jepara begitu sederhana dan sangat sepi. Apalagi kebanyakan penumpang sudah turun di jalan sebelumnya dan waktu baru menunjukkan pukul empat pagi. No angkot, no becak, only us, dan bus indonesia. Bapak kernet bus keliatannya ga tega, lalu menyuruh kami istirahat di mushola sambil menunggu subuh. Mushollanya sendiri serem, gelap, dan mojok lagi. Untung saja ada bapak becak yang tiba-tiba datang dan menawarkan jasanya.

”Monggo pun, penjenengan sedaya... cekap...”

Hahaha, si Bapak separo baya itu mungkin mantan anggota Srimulat! Kami berempat dengan bawaan yang lumayan berat disuruh naek dalam satu becak! Karena kami niat liburan, bukan melakukan pembunuhan, akhirnya si Bapak nyerah juga dan mencarikan satu becak lagi untuk kami. Sip, berangkatlah kami menuju Pelabuhan Kartini. Deket sebenernya, tapi saya tidak menganjurkan untuk jalan kaki.

Kami sholat subuh di musholla taman Kartini di sebelah pelabuhan Kartini, jadi konsepnya kayak Taman Ria Kenjeran gitu tapi dengan tambahan pelabuhan. Di sini mushollanya ndak seram seperti di terminal, terang benderang, walaupun di sekililingnya banyak pepohonan tinggi dan besar yang bikin saya ndak berani nengok ke atas. Krik. Krik.

Pelabuhan Kartini adalah sebuah pelabuhan mini. Hanya ada dua jalur jalan; menuju kapal cepat Kartini atau kapal ferry Muria. Pagi itu saya cukup dibuat terpana karena banyak orang-orang keren yang mau nyebrang, ini Jepara apa Sutos sih? Banyak bule ganteng setipe Robert Pattinson. Malah ada yang 99% mirip Hiro Nakamura-nya Heroes, tapi ternyata produk pribumi, hahaha. Ada juga rombongan bus dari Jakarta yang lagi sarapan KFC. Dapet KFC dari mana tuh orang-orang?

Kami sendiri sarapan di sebuah warung sederhana yang lodehnya uenaaakkk banget, murah lagi, sampai saya berjanji saat pulang dari Karimunjawa saya pingin makan lodeh ini lagi di sini. Loket Ferry dibuka sekitar pukul setengah delapan. Selembar tiket ekonomi dihargai 28500. And here we goes Karimun.

Kenyataannya, antusiasme kami menaiki kapal Muria yang bermotto Bangga Menyatukan Nusantara ini, tidak berlangsung lama. Kapal meninggalkan pelabuhan Kartini pukul sembilan tepat, dan satu-dua jam kemudian, kami dilanda kebosanan tingkat internasional. Kami memang sudah minum antimo satu jam sebelum kapal berangkat, dan sesuai dengan mekanisme kerjanya, dimenhidrinat ini sudah mulai memblokade sistem saraf pusat, memaksa kami ngantuk. Sementara tidur dengan posisi duduk di kursi biru kaku adalah bukan pilihan yang menyenangkan. Saya malah ngiri sama orang-orang yang keleleran beralaskan koran karena ndak kebagian kursi. Paling tidak posisi tidur mereka normal.

Kadang kami terbangun, mencari alternatif posisi lain, menggeser pantat yang mulai kaku, atau mendengarkan celoteh Bapak mantan kapten KM Muria, yang sudah berumur tapi rokoknya tetep ngejoss. Beliau duduk di sebelah Yeye dan berbagi cerita tentang gugusan pulau-pulau yang kami tunjukkan dari brosur Karimunjawa. Betapa karimun sudah mulai kotor karena membludaknya wisatawan kata si Bapak, bahkan ada pulau yang biasa dibuat dugem sama bule.

Di depan kami juga duduk seorang polisi hutan yang ternyata kenal dengan Bu Pupek, pemilik rumah tempat kami menginap nanti. Tidak berapa lama, secara tidak sengaja kami bertemu dengan Mas Januar, keponakan Bu Pupek yang kebetulan juga sedang di dalam ferry. Nantinya Mas Januar ini yang akan mengantar kami ke rumah Bu Pupek. Enam jam yang bikin kami mati gaya, betapa Karimun itu sangat jauh ternyata. Sampai saya sempet berhalusinasi liat lumba-lumba lewat dan membuat tiga teman saya terbangun sia-sia, hahaha. Saya sarankan kalo Anda punya uang lebih, bolehlah naik kapal cepat Kartini, wuzzzz tinggal tidur bangun-bangun pasti dah nyampe Karimunjawa. Tapi saya jamin ndak bakal ada cerita seru yang dibawa pulang kalo cuman nyebrang dua jam saja.

Pukul tiga sore kapal mulai merapat di pelabuhan Karimunjawa. Antusiasme kami mulai menjalar datang lagi. Dari pelabuhan ini, kami masih harus menempuh setengah jam perjalanan untuk sampai ke Kemujan. Ini merupakan pengalaman pertama saya naik pickup bersama tumpukan beras. Awalnya kami disarankan Mas Januar duduk di bagian depan saja, tapi males ah, kapan lagi bisa ngerasain sensasi syuting video klip I’m yours-nya Jason Mraz kayak gini, pokoknya seru banget lah!

Awalnya kami memang rencana menginap di Karimun. Tapi setelah menghubungi beberapa hotel, ternyata full-booked sampe akhir Agustus. Tarif per malam hotel di Karimun juga ndak cocok sama budget kami yang kere ini. Yasudah, berbekal informasi dari pemilik Hifatlobrain, kami disaranin ke pulau sebelahnya saja; Pulau Kemujan, dimana biaya penginapan dan makan lebih murah.

Sesampainya di rumah panggung Bu Pupek, kami ngobrol, sholat, dan ngemil jajanan yang sudah disiapkan. Sorenya kami jalan-jalan di bibir pantai Kemujan yang sepi dan mulai berwarna oranye karna refleksi sunset. Pukul tujuh malam kami sudah tertidur, capek campur senang karena ndak nyangka bisa nyampe sejauh ini.


***
Keesokan paginya, kami sudah disuguhi roti anget pake isi gula ijo yang uenaknya ngalahin breadtalk! Haha serius, Bu Pupek memang jago banget bikin kue. Pagi itu kami ngobrol dengan adik Bu Pupek, beliau menceritakan tentang usaha tani rumput laut yang sedang dirintis warga Desa Kemujan. Beliau juga mempersilahkan kami mampir di resort apung milik keluarga dan dipinjami alat snorkle gratis, makasih banyak, Om. Wejangan terakhirnya adalah; jangan buang sampah sembarangan, karena terumbu karang sudah banyak yang mati dan rusak. Saya pun kembali teringat tugas bombastis kuliah kimia lingkungan mengenai coral bleaching.

Kemudian kami dipertemukan pada Pak Mis dan Pak Pren yang akan menemani kami buat islands hopping. Pak Mis, orang Jawa yang kalem dan polos, tetapi sekali nyeletuk bikin kami ketawa ngakak. Kalo Pak Pren a.k.a Pak Mindo, beliau orang asli Jepara yang omongannya ngelantur dan wajahnya mirip banget sama Tukul.

Saya kira hanya Pak Pren dan Pak Mis yang menemani, ternyata ada satu bintang tamu lagi. Well, awalnya saya agak serem melihat si Mas yang rambutnya mirip Sujiwo Tejo itu. Tapi setelah berkenalan dengan Mas Ambon, ternyata gayanya mengingatkan kami sama Jack Sparrow yang slengekan. Mas Ambon diutus langsung oleh adik Bu Pupek untuk jadi guide kami. Mas Ambon ini tau persis seluk beluk kepulauan Karimunjawa, nama-nama biota laut yang kami temukan pas snorkeling, plus sejarah Sunan Nyamplungan. Satu lagi, Mas Ambon membawa senjata utama buat mengabadikan kenangan snorkeling yaitu kamera underwater yang boleh kami pinjam sesuka hati! Hoho, assssiik.

Yap, island hopping dimulai dengan menyusuri ladang rumput laut yang membentang luas. Pak Mis sangat terlatih menghindari untaian ladang rumput laut agar kapal tidak menabrak dan merusaknya. Kata Mas Ambon, usaha rumput laut ini baru tiga tahun berjalan, sebenarnya tidak terlalu menguntungkan, yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Heran juga, padahal katanya rata-rata dua ton rumput laut yang ditanam bisa menghasilkan tujuh ton pada saat panen di hari keempatpuluhlima. Mungkin karena harga jualnya rendah. Saya jadi teringat seaweed skin care dari The Body Shop yang dipatok 30 USD per paketnya, padahal palingan ekstrak rumput lautnya juga cuman sedikit persen. That’s why bisnis kosmetik dari bahan alam adalah bisnis yang begitu menggiurkan. Slurrp.

Limabelas menit berlayar, ombak mulai heboh menggoyang kapal kecil ini. Mas Ambon bilang perairan di Karimunjawa malah tenang pada musim peralihan yaitu Oktober-November. Konon, setiap tanggal 17 Agustus ombak di kepulauan Karimunjawa selalu meninggi seakan ikut merayakan hiruk pikuk dirgahayu Indonesia. Great, kami datang pada saat yang tepat.

Setelah hampir satu jam berlayar, sampai juga kami di Pulau Tengah. Di sini kami sibuk snorkeling, dan memotret koral. Take nothing but picture, kata Mas Ambon. Jujur saja di sini banyak koral cantik yang mati, malah banyak tergeletak di pasir pantai, sangat menggoda untuk dibawa pulang sebetulnya.

Tidak ada watersport di Pulau Tengah ini. Tapi kalau memang pingin main jet ski dan watersport lain mending ke Pulau Menyawakan, satu-satunya pulau yang fasilitasnya lengkap karena yang punya pulau itu adalah warga negara asing. Sudah pasti mahal, dollar-minded. Menurut saya sih, diving dan snorkeling adalah kegiatan yang wajib di lakukan di Karimun, coret saja aktivitas bananaboat dari itinerary Anda daripada semakin banyak duit yang keluar.

Namun ada yang luput dari anggaran kami. Ternyata di tiap pulau berlaku hukum sandar-bayar. Lumayan, parkir satu kapal sama dengan parkir tigapuluh motor di Tunjungan Plaza. Untungnya kami cuman punya rencana untuk mengunjungi dua pulau, kalo lebih dari itu, bisa-bisa kami bangkrut di parkiran.

Pulau kedua merupakan pulau yang lebih saya sukai. Namanya Pulau Cilik, kondisi sesuai namanya. Jalan mengitari pulau ini ndak sampe satu jam. Pulaunya sangat bersih, pasirnya putih dan empuk, warna terumbunya benar-benar terlihat jelas saking beningnya air laut. Berasa menjadi Chuck Noland, pegawai FedEx yang terdampar di film Cast Away.

Di sana kami dan bapak penjaga pulau sempet makan kelapa muda sampai kembung, Pak Pren memanjatkannya untuk kami. Rombongan tour sebelah pada ngiri ngeliat kami pesta kelapa hingga akhirnya seorang cowok datang menanyakan berapa harga per buah kelapa.
“Limabelas ribu mas, tapi manjat sendiri ya,” kata si Bapak Penjaga Pulau dengan sadisnya. Si cowok melongo, kemudian kembali ke peradabannya. Haha kasihan juga, tapi memang ini guna koneksi orang dalam, agar birokrasi lebih lancar dan dikasih gratisan.

Meninggalkan Pulau Cilik, kapal dihentikan di tengah laut karena Pak Mis dan Pak Pren pengen banget mancing. Kapal pun digoyang ombak yang lumayan tinggi, membuat saya dan Skan mual mendadak. Padahal Skan suka banget mancing, tapi mual-muntah mengalihkan dunianya sebagai fisherwomen. Saya sendiri ngiri liat Mas Ambon asik tiduran di ujung kapal, ndak bereaksi meski kapal meleyat meleyot kayak mau ngguling. Hal ini juga yang bikin saya ndak pernah beli takjil es kelapa pada puasa Ramadhan ini, karena saya masih keinget sensasi mual yang rasanya ndak banget itu.

Tempat ketiga yang kami tuju adalah resort Indonor. Rumah apung sederhana ini membangkitkan kembali hasrat snorkeling kami. Kebetulan di Pulau Cilik tadi kami ndak snorkeling karena sibuk menjemur badan saking ademnya air laut. Kami pun langsung menceburkan diri ke air yang laut yang ndak sampe semeter itu. Kami pun bisa menemukan rombongan Nemo celingukan diantara anemon laut. Huaaa!

Sore hari kami pun balik ke rumah Bu Pupek. Kulit kami juga sudah pada beautifully-gosong, badan sudah capek, tapi hati kami puas luar biasa. Walaupun begitu kami masih penasaran sama pulau Gundul, sayangnya kami ndak bisa kesana karena ombak terlalu tinggi. Kata Mas Ambon, pulau Gundul itu tempat sasaran latihan tembak Marinir, separo bukit batunya sudah hancur karena terlalu sering ditembaki. Sebenernya tidak ada apapun di pulau ini, kapal juga ndak bisa bersandar karena memang pantainya berupa tebing-tebing besar. Tapi Pak Pren sangat antusias saat bercerita tentang pulau Gundul, bikin kami kepikiran pengen ke sana, yasudah someday we’ll go there!

***
Hari ketiga, 17 Agustus 2009, it’s time to say good bye. Kami naik KM Muria lagi, meski hampir ketinggalan kapal karena kami ndak tahu kalo kapal berangkat jam delapan pagi dari Karimun, kirain jam sembilan. Sampai di loket juga hampir kehabisan tiket, saya pun langsung pasang tampang memelas pada Pak Petugas Penjaga Loket, akhirnya dapat! Kami pun berlari menuju ferry kayak seleb dikejar paparazzi, sampe lupa bilang makasi ke Mas Aris, driver pickupnya.

Kursi biru kaku juga udah pada laku semua, terpaksa kami ke dek tiga, dek paling atas tanpa atap. Impian saya buat tidur dengan posisi normal tercapai sudah, jadi pindang bersama penumpang bule. Tapi berita buruknya sodara-sodara, enam jam terpapar matahari langsung sukses membuat wajah kami makin eksotis, hahaha. Pada pukul 10 tepat para penumpang diajak mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan dan bel kapalpun berbunyi keras di tengah laut, selamat hari lahir, Indonesia.

Menuju Surabaya kembali kami memutuskan untuk memutar lewat Semarang dulu, sebenarnya nongkrong di Kudus nunggu bus lewat juga bisa, tapi hari itu long weekend. Kami ndak mau gambling lagi kayak di ferry tadi. Dari Jepara kami naik bus kecil dengan tarif sebelas ribu per orang menuju Semarang.

Don’t judge a book by its cover, ternyata berlaku juga buat bus yang kami tumpangi. Kata Skan, walopun busnya ekonomi tapi casing-nya bagus, gambar anime jepang sangat mudah menggaet kami berempat yang memang maniak komik. Tapi ternyata casing tidak menentukan kualitas pelayanan, satu jam berjalan kami diberhentikan di pom bensin dan dipaksa oper ke bus lain, penumpang pada protes tapi si Driver diem aja. Setelah capek protes, kami masuk juga ke bus laen yang katanya bus terakhir ke Semarang itu. No seat for us! Walopun banyak yang berdiri dan sudah umpel-umpelan gitu, si kenek masih aja masukin penumpang.

Sampe di depan terminal kami ndak perlu masuk ke terminal karena di depan sudah ada bus Patas Jawa Indah yang menuju Surabaya. Lima menit setelah duduk nyaman, Skan mulai kasak-kusuk sibuk mengecek keuangan yang makin tipis di dompet. Karena setelah dinikmatin baru terasa kalo busnya kok enak banget, AC-nya pas, ada pijakan kaki di bawah, dan TV juga hidup memutar sinetron Indosiar yang layak mendapat award sebagai most sucking dubbed TV series! Skan takut kalo bus ini ternyata bus premium dengan harga selangit. Skan pun menjadi semakin tegang begitu dia melihat kenek lagi bagi-bagi tiket.

Haha, ternyata apa yang ditakutkan Skan salah, harga tiketnya murah meriah, lebih mahal bus Indonesia malah. Padahal busnya nyaman sekali, bahkan selama perjalanan pulang, Pak Sopir menyuguhkan sealbum full Ebiet G. Ade yang bikin saya inget bapak dan abang saya yang suka nyanyi-nyanyi di rumah. Saya pun mendadak homesick.

Akhir kata, harus saya akui kalo traveling itu addictive: meet someone new, feel something new. Alhamdulillah, matur sembah nuwun Gusti Allah untuk segala keberuntungan selama empat hari itu, saya pun sadar kalo Indonesia emang dahsyat cantiknya.

Special thanks to:
Skan for being my first travel mate, seneng ketemu temen satu visi kayak kamu di kelas. Manna for being our photographer, aku selalu waspada melihat tas Kappa-mu, deg-degan karena gadget yang kamu bawa buanyak banget. Yeye, kamulah artis sesungguhnya hehe, jatuh, kecebur dan hampir menggulingkan perahu jukung full digicam, ow yeah you rroocks! Really proud of you, girls! Terima kasih banyak.



Related post
Karimunjawa: Diving.Harvesting.Hening
http://hifatlobrain.blogspot.com/2008/08/karimunjawa-divingharvestinghening.html

18 comments:

Anonymous said...

hohoho...ini skan...
prtama2,,thanx jg for being my travelmate pyut....

o ya, bwt ayos..met kenal..

btw,,aq surprice klo aq yg jadi model di foto2nya..hehe..bayar!!!

overall,pgn balik lg ksana....

Anonymous said...

Hiks..hiks..

Pyot dirimuw membuat kuw tergiur..penyesalan krn g ikud..

Next trip..ikuddddd!!!harus bin wajib.

winda said...

salut buat gadis-gadis wonderwomen nih. jadi tergiur melakukan long trip sejauh ribuan kilometer. hwm, :> pulau gundul, here we come. soon. hehe.
:p ayo put!

Indari said...

Putri dkk keren euy..
wonderwomen sejati ^^
Selamat ya Pyut. Jadi pengin nih.. (membulatkan tekad setelah lulus nanti..)

Indari said...

Putri dkk keren euy..
wonderwomen sejati ^^
Selamat ya Pyut. Jadi pengin nih.. (membulatkan tekad setelah lulus nanti..)

nuran said...

hahaha, ini tulisan keren... aku bolak balik ketawa ngakak..

btw, sing endi sing single?

aklam said...

sing single aku...

nuran, i just plan some trip around us; you, putri and me. any suggestion?

pyut said...

terima kasih skali lagi sudah membaca postingan ini sodara2...

special 4 indari: tak kusangka tak kuduga, kamu tiba2 muncul :)

siska herwinda said...

pyut,,,sbenernya ada yg kurang..
kmu blm cerita ttg bapak upacara kmerdekaan...penting itu..

Fathul said...

nice...
Indonesia-ku, aku ingin pulang...
Ayos, Putri, Nuran, dan Indari, mohon maaf lahir bathin ya?
Taqobbalallahu minna wa minkum.
Ohya, weekend ini aku ada trip ke Boston. Aku jadi berpikir untuk memosisikan diriku sebagai seorang traveler.^^

Fathul said...

makasih, Yos, sudah mampir ke blog-ku. Nih, aku baru saja sampai dari Boston. Cukup melelahkan. OK, tunggu saja laporannya. Tapi aku minta kamu jadi editornya;P
Mungkin nanti kubanyakin foto2nya aja daripada tulisannya, terutama 'foto diri':D

bayu said...

ayoh.....bang ayos......mana liputan karimunjawa punyake penno....ditunggu loh

Febrian said...

wah. da pada bikin blog ne temen kecil SD ku. monggo klo mau nyoba di ternate.. hehe ^^

Fathul said...

Yos, 'partial' report perjalanan ke Boston-nya sudah ku-post. Baru bagian pendahuluan...hehehe. Isinya cuma dua-tiga kalimat. Yang penting mulai dulu;P

Ayos Purwoaji said...

@ bayu
hehehe laporan perjalanan karimun saya digantikan oleh laporannya dwi putri mas :)

@ fathul
tulis yang panjang dan runut thul, kami siap menerima catatan perjalananmu...

@ febri
lama di ternate feb, kita bakal kesana!

pyut said...

wih wih....opo iki rek, reuni esde ta iki??

-fathul: ga asik kamu tul, ga ajak2 kita ke boston! taun depan gathering disana ae wes...

-bing: suda makan sushi di pinggir lautan ternate? eh, kapan kmu ke jepang? aku nitip shinichi kudo satu... heiji hatori satu juga... shinchan ga usa, wes akeh...

-ayos: hidih, knp karimun versimu ga dipost jg?? pengen tau ak... *eh, fotoin wisudaku dong gehehehe*

-skan: bapak-upacara-kemerdekaan-yang-melekat-di hati, taruh di blogmu ae.. di sini banyak aturan hahaha *piss, ma men*

Anonymous said...

Coach Julian:
to: lovely hunnie, putri dkk.

Hmmh hmmhm hhmm *ktawa menggumam* si cewek2 bolang... salute for karimunjawa trip.... great story. full naked brain, full under estimate idea, full survive...

Girl power... is dengerous. this is fact.. but this story, is positive fact.

Tekno a.k.a Bolang said...

seru petualangane mbak yu..karimun selalu ngangenin :)